Bahasa; Lambang, Arbitrer, dan Konvensional

Oleh Dheka Dwi Agusti N

Ternyata ketidakmudahan berbahasa Indonesia tidak hanya dialami oleh orang asing yang sedang belajar bahasa kita, tetapi juga warga Indonesia sendiri yang notabene telah menjadikan sebagai bahasa persatuannya. Ironis memang, namun ternyata itulah fakta yang terjadi. Meskipun bahasa Indonesia telah menjadi mata pelajaran pokok di setiap jenjang pendidikan, tetapi belum juga dapat menuai keberhasilan.

Bahasa merupakan bagian dari hasil “collective mind” yang pada dasarnya merupakan sistem lambang lisan dan tulisan suatu kebudayaan. Maka berbicara tentang bahasa Indonesia yang membingungkan ini tidak dapat lepas dari proses berbudaya yang juga sudah pincang dan banyak terjadi pergeseran.

Bahasa kita adalah bahasa yang kaya. Bukan kaya akan kosakata yang mampu mewakili apa yang ingin diungkapkan. Namun, kaya akan pertanyaan dan pengecualian. Terlebih jika meneliti tentang proses pembentukan katanya. Seribu pertanyaan akan terlahir dari proses tersebut. Tetapi bukanlah sesuatu yang bijak, bila menjadikan ketidaknormalan bahasa kita sebagai kambing hitam terhadap kebingungan dan ketidakpahaman yang kita alami.

Misalnya saja keberadaan kata “tegar” dalam lingkup bahasa kita. Makna –perlu dibedakan antara penggunaan istilah arti dan makna dalam konteks berbahasa- yang telah diutarakan oleh Goenawan Mohamad yang berasal dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) yaitu “keras kaku,” “keras hati”; “keras kepala” ; “tidak mau menurut”, lebih sempit daripada makna ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2002) yaitu ; “keras dan kering,” “keras kaku” ; “tidak dapat dilenturkan” ; “tidak dapat diubah” ; “tidak mau menurut” dan “tabah”. Hal ini menunjukkan satu keistimewaan, di mana dalam memperoleh arti kita harus mengetahui konteksnya terlebih dahulu. Karena tidak semua kata dalam bahasa Indonesia dapat diartikan secara mutlak. Polisemi istilahnya, bagi bentuk bahasa yang memiliki makna lebih dari satu. Diperlukan wawasan serta ketelitian tentang di mana bentuk itu terletak dan berfungsi. Sebagai kata kah? Istilah? Frasa? Atau kalimat? Termasuk konotasi atau denotasikah kata tersebut? Mungkin ini adalah salah satu fragmen yang menyebabkan bahasa Indonesia menjadi sulit dipahami dan membingungkan. Banyak hal yang tidak sekedar harus dihapalkan namun harus dinikmati penggunaannya. Hal ini seharusnya menjadi tantangan bagi para bahasawan untuk membedah pola-pola yang terjalin dalam proses bentukan bahasa ini. Adapun banyaknya pengguna yang memadankan sekaligus menggeser makna kata, seperti kata “tegar” terhadap “teguh” tidak dapat disalahkan. Inilah realisasi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup. Bahasa ada, berkembang, berubah, bahkan mati. Kegelisahan terpadanankannya kata “tegar” membuat kecemasan tersendiri terhadap representasi kata “rigid” ke dalam bahasa Indonesia. Inilah salah satu ketidakmapanan bahasa kita. Di mana banyak ungkapan tidak dapat terwakilkan. Parahnya lagi, Indonesia tidak produktif terhadap bahasanya. Indonesia lebih senang mengadopsi dan mengadaptasi bahasa asing, walaupun nyatanya lebih banyak yang bersifat imitasi. Misalnya morfem (satuan bahasa) maha-, mono-, bi-, catur-, tuna-, a-, non-, -logi, dll. Morfem tersebut pada bahasa Indonesia diklasifikasikan dalam afiks (imbuhan). Meskipun memenuhi syarat sebagai afiks karena keharusannya bergabung pada morfem lain untuk mendapatkan makna yang sempurna. Namun, morfem tersebut memiliki telah makna leksikal sebelumya. Tidak seperti afiks yang baru bermakna jika hanya telah terjadi afiksasi (proses pengimbuhan). Sayangnya di Indonesia hal ini enjadi suatu anomali dari klasifikasi yang sudah ada. Padahal kenapa tidak, kita buat istilah baru sebagai wadah morfem-morfem yang baru lahir. Seperti kata yang baru terlahir dari sebuah ungkapan yang ingin dilambangkan, tanpa adanya adopsi dan adaptasi.

Semua yang membingungkan ini adalah sebuah kewajaran dalam dunia bahasa. Namun, tidak juga dapat dikatakan sebagai bangunan yang “salah” kaprah. Karena kekaprahan justru timbul dari proses berbahasa itu sendiri. Sesuatu dapat dikatakan kaprah bukan karena bersumber dari benar atau salah. Banyak pengertian bahasa telah diungkapkan. Namun intisarinya tidak jauh berbeda, yaitu bahasa adalah lambang, arbitrer dan konvensional. Kata arbitrer dapat diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Di mana dengan istilah ini tidak diperlukannya hubungan wajib antara lambang bahasa (mis : kata) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Meskipun lambang tersebut tidak memberi “saran” atau “petunjuk” apa pun mengenai konsep yang diwakilinya. Umpamanya, antara [anjing] dengan yang dilambangkannya, yaitu “binatang berkaki empat yang dapat menggonggong”. Kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi [anjing] bukan [jingan] atau [nginja].

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu, bersifat konvensional. Artinya semua masyarakat bahasa tersebut mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya tersebut. Misalnya “anjing” yang telah secara konvensional digunakan sebagai lambang binatang berkaki empat yang dapat menggonggong.

Indonesia harus mulai mencintai bahasanya, sebelum ‘badai’ kearbitreran dan ‘arus’ konvensionalitas mengobrak-abrik tatanan bahasa yang dianggap sudah kaprah. Kebiasaan dan sikap profesionalitas berbahasa yang baik harus dijaga.

Nasib bahasa ini, tergantung pada kita semua sebagai masyarakat pengguna.

salam.

Dheka Dwi agusti N

About these ads

4 Komentar

  1. 14 Oktober 2009 at 06:51

    Sdri Dheka Dwi Agusti N yang baik, saya dari penerbit buku di jakarta, jika berkenan kita bisa mengontak via email, ada yg ingin dibicarakan, terima kasih.

    salam

    chris v

  2. dumari situmorang said,

    21 Oktober 2010 at 14:16

    saya sangat suka,karena menarik dan juga memiliki kaidah bahasa yang baik dan benar

  3. elman said,

    16 Mei 2011 at 18:39

    trims


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: