Tari Pwah Aci

oleh Dheka Dwi Agusti N.
Pwah Aci atau yang biasa dikenal sebagai Pohaci, atau Dewi Sri, merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya di Tatar Sunda. Dihormati sebagai Dewi Kesuburan dan kemakmuran yang mencurahkan welas asih yang melimpah dalam bentuk pangan bagi keberlangsungan hidup manusia.
Getaran rasa yang menguatkan raga, yang berasal dari makanan dan minuman (nabati dan hewani) yang diterima oleh tubuh telah membawa sifat-sifat asal yang memengaruhi manusia secara tidak langsung. Ada pengaruh positif dan negatif, serta pengaruh pancarasa dan saptawarna yang terdapat dalam berbagai jenis pangan.

Menguatkan pengaruh positif bukan berarti menghapuskan pengaruh negatif, tetapi menyempurnakannya sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan.
Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni spiritual yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi. Gambaran dari proses penyempurnaan daya yang dihasilkan dari pengaruh positif dan negatif. Serta pengaruh warna yang meresap ke dalam tubuh manusia, menjadi sifat, cara, dan ciri manusia, sehingga dapat menghasilkan gaya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

TARI BUYUNG, Tarian Khas dalam Upacara Seren Taun

TARI BUYUNG, Tarian Khas dalam Upacara Seren Taun

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam maupn tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam. Bagi Ibu Emalia Djatikusumah, seorang koreografer yang berdomisili di Cigugur, gerak lembut dan nuansa alam di kala bulan purnama mengilhami lahirnya karya cipta tari yang mengisahkan gadis desa yang turun mandi dengan teman-temannya dan mengambil air di pancuran Ciereng dengan buyung.

Setiap gerakan dalam tari Buyung memiliki makna yang tersirat. Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat relevansinya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”. Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Pergelaran tari buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Tuhan diyakini sebagai Kausa Prima dari segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Alam penuh dengan energi. Alam selalu bereaksi dengan tingkah laku manusia, dan ikut mempengaruhi karakter manusia. Eksistensi dalam alam makrokosmos dilihat sebagai sesuatu yang tersusun secara hierarkis. Sehingga, secara moral manusia dituntut untuk menyelaraskan hidupnya dengan alam, yaitu antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam raya) untuk membuahkan kesadaran mengenai penghayatan iman terhadap keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta.

SEREN TAUN: Sebuah Ritual Syukur Masyarakat Sunda

SEREN TAUN, Sebuah Ritual Syukur Masyarakat Sunda

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Upacara Seren Taun adalah ungkapan syukur  dan do’a masyarakat Sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama tahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang.  Selain ritual-ritual yang bersifat sakral digelar pula berbagai atraksi kesenian dan hiburan. Dengan kata lain, upacara ini tak hanya meliputi kegiatan spiritual dalam kaitan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dengan sesama mahluk dan juga alam.

“Tundukkan Kepala Satukan Hati dalam Keberagaman Demi Kedamaian Semesta Alam”, demikian tema Seren Taun 1940 Saka yang bertepatan dengan hari pertama di tahun 2008 ini. Meskipun upacara ini hanya diselenggarakan di sebuah kecamatan kecil, tetapi Seren Taun di Cigugur ini berhasil menjadi  festival seni tradisi Sunda  dan pertemuan tahunan masyarakat adat di tatar Sunda dan Nusantara.

“Upacara ini sangat penting bagi masyarakat agraris Sunda sebagai tanda mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa atas hasil panen dan segala daya upaya. Upacara seperti ini mungkin serupa dengan acara Thanks Giving yang ada di luar negeri.” Demikian papar Pangeran Djatikusumah selaku Ketua Yayasan Tri Mulya.

Seren taun adalah upaya dalam mengekpresikan rasa syukur masyarakat agraris Sunda yang masih digelar di beberapa  wilayah Jawa Barat seperti di Garut, Sukabumi, Cimahi, dan Cigugur. Seren berarti menyerahkan dan Taun adalah tahun yang terdiri atas dua belas bulan. Sehingga jika diartikan, Seren Taun adalah upacara penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang sudah berlalu dan memohon berkah serta pelindunganNya untuk tahun yang akan datang.

Upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 22 bulan Rayagung  dalam perhitungan Saka. Hal tersebut dimaksudkan karena bulan Rayagung tersebut merupakan bulan terakhir dari rangkaian 12 bulan, yakni: Muharam atau Sura- Sapar- Mulud- Silih Mulud- Jumadil Awal- Jumadil Ahir- Rajab- Ruwah- Puasa- Syawal- Hapit- Rayagung. Sebagai bulan terakhir, Rayagung juga juga mengandung makna merayakan keagungan Tuhan yang Mahaesa.
“Rayagung merupakan keagungan Sang Pencipta, 22 terdiri dari 20 dan 2. Duapuluh sebagai sifat ilahi yang mengacu kepada tumbuhnya kesadaran diri selaku manusia dan kesadaran pribadi sebagai suatu bangsa.  Sedangkan bilangan dua melambangkan adanya sifat berpasangan, adanya baik dan buruk, siang dan malam, laki-laki dan perempuan” Papar Pangeran Gumirat Barna Alam selaku Ketua Umum Kegiatan Seren Taun.

“Dalam pelaksanannya, Seren Taun di Cigugur dilaksanakan oleh masyarakat multi agama, adat dan kepercayaan, yang merupakan pula wujud kebhinekaan yang menyadari ketunggalikaan dalam bersyukur kehadirat Tuhan” P. Djatikusumah menjelaskan upaya pelaksanaan acara yang memang dihadiri berbagai etnis, di antaranya dari Indramayu, Baduy-Kanekes, Bandung, Batak, Bali, hingga Flores.

“Inilah yang membuat kami, Yayasan Trimulya, berjuang untuk terus memelihara dan melestarikan Upacara Syukuran Seren Taun dari waktu ke waktu sebagai amanat Leluhur, yang tentunya bukanlah sesuatu yang tanpa makna. Terbukti dengan adanya tradisi seperti ini, kami mampu berdampingan dan harmonis dalam banyak perbedaan. Cigugur sendiri merupakan desa yang bernuansa multiagama. Ada Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan masyarakat adat Sunda dengan kepercayaannya masing-masing.” P. Djatikusumah menerangkan kondisi Daerah Cigugur sebagai tempat Seren Taun digelar.

Kemudian, Pangeran Djatikusumah juga menjelaskan bahwa upacara ini juga mengandung makna yang filosofis, di antaranya adalah prosesi ngajayak (menjemput padi). Ngajayak dalam bahasa Sunda berarti menerima dan menyambut.  Ngajayak merupakan prosesi pertama yang dilaksanakan. Prosesi ini terdiri dari barisan muda-mudi yang membawa hasil bumi dari empat penjuru mata angin, menggambarkan kemurahan dan cinta kasih Tuhan ada di setiap dan segenap penjuru alam. Digambarkan dalam prosesei, barisan terdepan membawa buah-buahan, umbi-umbian, dan padi yang dipeuntukkan untuk penanaman di tahun yang akan datang. Makna yang lebih dalam lagi adalah bahwa generasi muda yang kita harapkan dapat menjadi penerus hidup dan kehidupan manusia. Jumlah yang sebelas pasang, mengandung arti sawelas yang artinya saling memiliki rasa cinta kasih sebagai karakter manusia yang senantiasa mengharapkan hidup damai. Di belakang barisan pemuda, ada ibu-ibu yang nyuhun padi. Hal ini bermakna memohon agar generasi berikutnya juga dapat melaksanakan kehendak yang Maha Kuasa yang telah tersirat dalam cara ciri manusia. Sementara bapak-bapak yang memikul dan mengusung padi, buah-buahan serta umbi-umbian bermakna bahwa kaum pria memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam membina dan mengayomi keluarga.

Ketika barisan hampir tiba di tempat upacara, sejenak barisan berhenti  untuk menyaksikan tari Buyung yang merupakan tarian khas Cigugur-Kuningan. Tarian ini diangkat dari kebiasaan masyarakat Cigugur dahulu dalam mengambil air dari mata air yang ada. Tarian ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa mencintai tanah air dan memaknai peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Setelah itu, disusul dengan pergelaran angklung buncis yang juga khas dari Cigugur, di mana angklung tersebut berbahan dasar bambu hitam, juga bersama angklung Baduy dengan suaranya yang menggambarkan kebahagiaan dan sukacita bersama.

Dalam upacara Seren Taun yang menjadi objek utama adalah padi. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah Sunda pada umumnya merupakan daerah pertanian yang subur. Makna padi bagi masyarakat petani Sunda seperti tercermin dalam berbagai kisak klasik sastra Sunda, seperti kisah Pwah Aci, Sanghyang Asri, yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan jabaning langit yang turun ke bumi. (dheka, red)

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PEMEROLEHAN MAKNA AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PEMEROLEHAN MAKNA AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Dalam serat Centhini aksara Ha-na-ca-ra-ka digunakan untuk membahas nama seseorang dengan kiasan sifat dan tabiatnya, dimulai dari nama orang yang bermula dengan aksara ha hingga nama orang yang diawali dengan aksara nga.

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ha

Sifatnya:

- pendapatnya tidak dapat diatur

    • selalu ingin disayangi

    • enggan dicela

    • banyak berlagak

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara na

Sifatnya:

- pemberani

    • tidak takut pada keluarga (kakak, ayah, ibu)

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ca

Sifatnya: (untuk wanita)

    • jahat dan bengis

    • selalu ingin diperhatikan suami

    • senang memerintah dan mengatur suami

    • mudah akrab dan bersahabat, tetapi tidak abadi

    • berani kepada orang tua

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ra

Sifatnya:

    • pandai, tetapi tidak sabar

    • mudah marah, dan berhati lembek seperti lilin

    • jika marah, akan cepat reda

    • bila berdebat mudah marah

    • sedikit keinginan

    • berani, tetapi setengah-setengah

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ka

Sifatnya:

    • kata-kata yang diucapkannya keras

    • berani bertanggung jawab

    • senang dipuji

    • tidak tahan bekerja keras

    • kaku dan canggung

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara da

Sifatnya:

    • berkata sambil tersenyum

    • lapang dada

    • banyak akal

    • berpendirian teguh

    • tegur sapanya manis

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ta

Sifatnya:

    • ramah

    • banyak akal

    • tidak suka mendengar ucapan yang buruk

    • suka bertegur sapa

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara sa

Sifatnya:

    • cerdas

    • sadar akan resiko

    • berbudi lembut

    • luas pengetahuannya

    • baik terhadap bawahan

    • berpikiran tajam

    • keberaniannya sedang

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara wa

Sifatnya:

    • angkuh dan jika marah berkobar-kobar

    • tidak setia kawan

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara la

Sifatnya:

    • sangat suka disayang dan disanjung

    • sombong

    • jika bersahabat akan setia kawan

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara pa

Sifatnya:

    • mudah marah dan patah hati

    • keinginannya tidak berlangsung terus

    • ceroboh

    • persahabatannya tidak kekal

    • tidak perhatian kepada ayah

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara dha

Sifatnya:

    • mudah bersedih

    • pandai dan tenang

    • jarang mengatakan sanggup

    • cerdas dan berpikiran tajam

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ja

Sifatnya:

    • lembut pikir

    • tidak mudah marah

    • egois

    • sombong dan enggan bergaul

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ya

Sifatnya:

    • pemalu

    • tidak kenal bahaya

    • mudah bersedih

    • mudah menaruh curiga

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara nya

Sifatnya:

    • berlagak pujangga

    • pandai berkata-kata

    • sulit mengikuti pendapat orang lain

    • sering enggan dan cemas

    • suka menjadi korban orang lain

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ma

Sifatnya:

    • mudah panas hati

    • sulit menerima nasehat orang lain

    • senang mencari perhatian

    • senang menyendiri, tidak suka tempat ramai

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ga

Sifatnya:

    • pandangan luas

    • berjiwa pemimpin

    • teguh pendirian

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ba

Sifatnya:

    • besar amarah

    • tidak banyak bicara

    • kata-katanya halus dan manis, namun berbahaya

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara tha

Sifatnya:

    • pikirannya tumpul

    • bodoh, tetapi berlagak pandai

    • tidak tahu tugas

    • enggan bekerja

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara nga

Sifatnya:

    • cekatan

    • pandai berbuat dan rendah hati

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PALEOGRAFI AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PALEOGRAFI AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo. Itulah salah satu semboyan sebagai tanda harapan pemerintah akan negeri ini. Sebagai generasi penerus sekaligus pewaris kebudayaan, seharusnya telah memiliki pengertian dan pemahaman atas ajaran para leluhur tentang kawruh kasampurnaan atau kautama. Di mana mereka meninggalkan suatu kekayaan yang sangat mahal dan adi luhung, yaitu aksara Jawa, atau aksara ha-na-ca-ra-ka. Sebuah karya sastra dan kebudayaan yang di dalamnya terkandung berbagai rahasia dan ajaran-ajaran hidup. Salah satunya adalah penggunaan aksara ha-na-ca-ra-ka berikut pemberian atas makna yang terdapat dalam serat Centhini.

Serat Centhini adalah suatu buku berbahasa Jawa, yang isinya merupakan sumber kesempurnaan hidup orang Jawa. Naskah aslinya berhuruf Jawa. Terdiri dari 12 jilid, dan 3500 halaman. Serat Centhini ini ditulis atas gagasan Sri Sunan Paku Buwana V (pada saat itu masih berstatus sebagai Pangeran Adipati Anom) dari Surakarta. Dibantu oleh Rangga Sutrasana, Yasadipura II, dan Ngabehi Sastradipura. Lalu disalin ke huruf Latin oleh Kamadjaya yang diterbitkan oleh Yayasan Centhini di Yogyakarta tahun 1985. Pada awalnya buku ini dinamakan suluk Tambang Raras, namun kemudian diganti menjadai serat Centhini. Nama Centhini ini diambil dari Niken Tambang Raras istri Syekh Among Raga.

Naskah yang ditulis pada Sabtu Pahing tanggal 26 Suro dengan Cadra Sengkala “paksa suci sabda ji” yaitu tahun 1742 atau tahun1814 Masehi ini, di dalamnya termuat dialog-dialog, kisah dan aksara ha-na-ca-ra-ka yang mengungkapkan pandangan, sikap serta ajaran mengenai hidup manusia. Hubungannya dengan diri sendiri, dengan sesama, masalah keluarga, hubungan suami istri, dan mengenai hubungan Tuhan yang Maha Esa. Di dalamnya terkandung pula refleksi religius yang sifatnya popular, walaupun tidak jarang mendalam dan mendasar sifatnya.

Serat Centhini ini bagi orang Jawa sudah tidak asing lagi selain karena mengandung kisah dan ajaran-ajaran hidup, juga menerangkan ilmu pengetahuan mengenai kebudayaan Jawa baik yang lahir maupun yang batin. Maka sudah sepantasnyalah jika serat Centhini ini disebut sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa.

Paleografi bermakna sebagai ilmu yang mempelajari tulisan aksara atau huruf kuno. Secara etimologis kata paleografi berasal dari paleos = kuno, dan grafein = tulisan. Paleografi berkaitan erat dengan epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari aksara-aksara yang digunakan dalam penulisan prasasti. Di Indonesia penelitian paleografi telah diawali oleh A. B. Cohen Stuart (1875), dengan bukunya yang berjudul “kawi Oorkoden in Fasimile, Mer Inleiding en Transcriptie”. Ia mencontohkan aksara Jawa Kuno, di samping contoh-contoh aksara dari prasasti dan tembaga. Rintisan Stuart dilanjutkan oleh Holle pada tahun1882 dengan bukunya yang berjudul ‘tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten”, yang mengetengahkan beberapa contoh aksara Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah Jawa Timur, Bali, Lampung, Bima, dan lain-lain (Holle, 1882).

Berikutnya, penelitian tentang paleografi ini secara berturut-turut dilakukan oleh penulis-penulis lain, antara lain: Kern yang menulis “Verspreide Geschriften” 1917, J. G. de Casparis menulis buku karangannya yang berjudul “Indonesian Paleography 1975”. Beberapa nama lain untuk bidang paleographyyang sempat dicatat Atmodjo diantaranya adalah Brandes, Stein Callenfels, Krom, Bosch, Stutterheim, Poerbatjaraka, Pigeaud, Buchari, Ktut Ginarsa, A. S. Wibobo dan Sukarto K. Atmodjo (Atmodjo, 1994: 3)

Aksara ha-na-ca-ra-ka dari segi paleografis merupakan kelanjutan dari perkembangan aksara dari masa ke masa, yang tidak diketahui secara pasti sejak kapan mulai dikenal dan dipergunakan sebagai sarana penulisan. Sebelum dikenal sebagai cacarakan atau yang saat ini disebut juga dengan ha-na-ca-ra-ka, orang telah menggunakan aksara yang lebih tua beredarnya yang dikenal denan aksara Jawa Kuno (Soebalidinata, 1994: 9).

Soebalidinata menyampaikan beberapa contoh aksara Jawa Kuno yang merupakan mata rantai perkembangan aksara menuju ke aksara ha-na-ca-ra-ka, dengan sistem ejaan yang lain untuk alih aksara.

  1. Tulisan Kawi Jawa Timur

  2. Tulisan Kawi masa Airlangga

  3. Tulisan Kawi masa Kerajaan Kediri

  4. Tulisan Kediri Kwadrat

Perkembangan aksara Jawa Kuno ke Jawa Baru juga terkait dengan perubahan bahasa. Menurut Brandes perkembangan bahasa Jawa yang melampaui empat tingkatan menjadi bervariasi. Masing-masing tingkatan itu adalah:

  1. Masa Jawa Kuno yang tertua.

  2. Masa Jawa Kuno.

  3. Masa Jawa Madya atau Jawa Tengahan.

  4. Masa Jawa Baru.

de Casparis di dalam “Indonesian Paleography” yang dikutip Atmodjo (1994: 8) mengolompokkan perkembangan aksara (Jawa) atas beberapa tahap, dimulai dari aksara Pallawa:

  1. Aksara Pallawa awal, sebelum tahun 700 M.

  2. Aksara Pallawa tahap akhir, abad VII dan pertengahan abad VIII M.

  3. Aksara Kawi awal, 750 – 925 M.

  4. Aksara Kawi akhir, 925 – 1250 M.

  5. Aksara Majapahit dan aksara daerah, 1250 – 1450 M.

  6. Aksara Jawa Baru, tahun 1500 hingga sekarang.

Aksara Jawa Baru yang merupakan kelanjutan perjalanan aksara Jawa Kuno di dalam perkembangannya mengalami perbedaanPerbedaan antara aksara Jawa Kuno dan Jawa Baru cukup banyak. Aksara Jawa Baru ha-na-ca-ra-ka mengalami penambahan garis tegak (kaki) di sebelah kiri dan kanan aksara bersangkutan. Demikian juga tanda vokal [i] dan [e].

Di dalam aksara Jawa Kuno tidak ada periodesasi secara khusus. Namun hanya ditandai secara umum adanya model bentuk penulisan aksara. Bentuk tulisan gaya Mataram I yang berbentuk bulat berbeda dengan aksara gaya Jawa Timur yang bentuknya agak kurus dan runcing (Atmodjo, 1994: 9). Di samping gaya-gaya bentuk tulisan pada taraf local.

Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian memuat berita tentang kreasi budaya masyarakat lama yang berupa jenis

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Dalam budaya sunda, profesionalisme begitu dijunjung. Dalam setiap garapan ada seorang yang menjadi ahli, biasanya disebut juru.Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, naskah Sunda yang mempunyai Candrasangkala yang berbunyi nora catur sagara wulan, dibuat tahun 1440 Saka /1518 M; atau awal abad ke-16. Naskah ini leboh bersifat sebgai mempunyai isi semacam ensiklopedi masyarakat Sunda, yang di dalamnya memuat berita tentang kreasi budaya masyarakat lama yang berupa jenis-jenis kesenian. Di sanalah berkumpulnya anggota masyarakat yang mempunyai maksud mencari pengetahuan. Dalam hal ini sang Darma Pitutur menye­butkan jenis kesenian dan penggarapnya, yaitu:

  1. seni cerita/wayang, dimainkan oleh memen/ dalang;

  2. seni kawih, dikuasai oleh paraguna;

  3. seni pamaceuh (permainan), dikuasai oleh hempul;

  4. seni pantun, dimainkan oleh prepantun;

  5. seni tulis (lukis), dikuasai oleh lukis;

  6. seni tempa (pande senjata), dikuasai oleh panday;

  7. seni ukir, dikuasai oleh maranggay/maranggi;

  8. seni oolahan (masak), dikuasai oleh hareup catra;

  9. seni boeh (kain batik), dikuasai oleh pangeuyeuk;

Di samping itu ada beberapa lagi keahlian dan sebutan peng­garapnya:

  1. ahli agama dan parigama, dikuasai oleh pratanda;

  2. ahli ilmu prang (berperang), dikuasai oleh sang hulu jurit;

  3. ahli aji mantra, dikuasai oleh sang brahmana;

  4. ahli puja di sanggar, dikuasai oleh ja(ng)gan;

  5. ahli dunuah nalika (menghitung waktu), dikuasai oleh buranyga;

  6. ahli darmasiksa (yang mengetahui tentang kewajiban hidup), dikuasai oleh pandita;

  7. ahli pemerintahan, dikuasai oleh ratu;

  8. ahli ilmu tanah (patitis bumi), dikuasai oleh mangkubumi;

  9. ahli berlayar yang ban,ak tahu tentang pelabuhan, dikuasai oleh puhawang; (dampuawang)

  10. ahli menghitung harga (sawatek arega), dikuasai oleh citrik byapari;

  11. ahli sandi (rasia), tata kadewataan dan kahyangan, dikuasai oleh sang wiku;

ahli yang menguasai bahasa-bahasa (carek para purusa), disebut sang jurubasa darumamurcay

Purwakanti Sastra

Purwakanti Sastra

Oleh Dheka Dwi Agusti N.

Purwakanti sastra adalah salah satu jenis perulangan bunyi alias repetisi yang terdapat dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Istilah purwakanti sastra diungkapkan oleh Satjadibrata dalam bukunya yang berjudul Rusiah Tembang Sunda pada tahun 1951. Satjadibrata mengungkapkan bahwa di tanah Sunda purwakanti tersebut digunakan untuk menghapal lagu. Sebuah cara menghapal yang berbeda dengan cara menghapal ala Belanda yang menggunakan aturan si-do-sol (do-re-mi-fe-so-la-si-do). Yaitu kata yang menjadi penutup kalimat sebelumnya, menjadi kata pembuka dalam kelimat selanjutnya. Salah satu contoh aplikasi purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh kinanti dan sinom, yaitu :

Kinanti

Sok emut jaman kapungkur

Kapungkur nalika abdi

Abdi nuju dipiara

Dipiara dipupusti

Dipupusti ku indung bapa

Bapa nu kalangkung asih.

Sinom

Ti barang engkang paturay

Paturay jeung buah ati

Ati teu weleh nalangsa

Nalangsa anu nunggelis

Nunggelis tur prihatin

Prihatin taya nu nulung

Nulung ngahegar-hegar

Hegar saperti bihari

Bihari mah asa kumpul lelembutan

Meskipun purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh, tetapi menurut Muhammad Moesa purwakanti seperti ini hanya dipakai dalam kakawihan Ayang-ayang gung.

Purwakanti sastra tersebut memang sangat nampak dalam lagu Ayang-ayang Gung. Adjan Sudjana dalam tulisannya yang berjudul Ayang-ayang Gung, Gasibu Bukan Gazebo memaparkan bahwa lagu ini merupakan lagu zaman perjuangan melawan Belanda. Adanya irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sementara itu lagu Oyong-oyong Bangkongpun memiliki latar belakang kesejarahan yang mirip dengan Ayang-ayang Gung. Seperti yang diungkapkan oleh oleh Nandang Rusnandar dalam Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda (Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak tahun 2000, nyanyian ini merupakan wujud rasa kecewa orang Baduy terhadap kompeni Belanda yang datang ke daerah Jawa Barat.

Purwakanti dalam kedua lagu tersebut menjadi sebuah media khas dalam sebuah proses pendidikan, yaitu melalui efektifitas yang muncul dari pola purwakanti tersebut. Purwakanti sastra yang diungkapkan oleh Satjadibrata ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa sebagai repetisi anadiplosis, yaitu berupa perulangan bunyi, suku kata, kata, atau frasa terakhir dalam suatu lirik atau baris menjadi kata atau frasa pertama pada larik selanjutnya. Dalam kesusatraan moderen repetisi anadiplosis ini sering juga disebut epanadiplosis atau epanastrofa.

Dalam permainan anak-anak Sunda atau yang lebih dikenal dengan istilah kaulinan budak, repetisi ini ternyata cukup banyak terkandung dalam lagu yang biasa mereka nyanyikan ketika permainan tengah berlangsung. Permainan paciwit-ciwit lutung misalnya, di mana saat anak-anak bermain dengan saling mencubit punggung tangan temannya mereka menyanyikan menyanyikan lagu

Paciwit-ciwit lutung

Si Lutung pindah ka luhur.

Permainan lainnya yang juga masih menggunakan media tangan dan jari serta lagu berpurwakanti sastra adalah Cingciripit.

Cing ciripit tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu paré,

Bulu paré seuseukeutna,

jol padalang mawa wayang,

Jrék jrék nong

Permainan lainnya adalah Caca Burange dan Leho Sapi yang masing-masing lagunya adalah

caca burange

burange tali gobang

gobang pancarange

anak gajah papayungan

boti botem..

boti botem..

Lého sapi pi,

Pindang gobang bang,

Bangkong hejo jo,

Jolijopak jojoli ong

Adapula lagu-lagu yang dinyanyikan oleh ibu kepada anaknya yang masih bayipun mengandung purwakanti semacam ini. Pada usia 4-5 bulan, bayi dapat seuri ngabarakatak (tertawa) jika diajak bercanda. Candaan tersebut biasanya dengan dikauk-kauk. Ketika Ibu menyanyikan lagu kauk-kauk, sang Bayipun memperhatikannya seakan ia mengerti. Di akhir kalimat yang juga menjadi akhir lagu sang Ibu lalu pura-pura mencari sambil menggelitiki anaknya.

Kauk-kauk

Kauk-kauk si julang

Si julang ka mana enteupna

Enteupna… kadieu

(bari ngélékéték budak)

Di samping kauk-kauk, ada permainan lain yang juga dimainkan oleh orang tua yaitu sursar. Dalam permainan ini, si anak diajak duduk berjajar dengan orang tuanya sambil kaki diselonjorkan (nanghunjar), sambil bernyanyi tangannya silih berganti mengusap-usap kaki mulai dari pangkal paha hingga mata kaki dan terus dilakukan bolak-balik, sambil melagukan:

sur sar sur sar,

angeun kacang atah keneh,

disuluhan ku baketes,

baketes meunang meulahan,

meulahan ku peso raut,

peso raut gagang tanduk,

ari gog-gog cungunguk

Ketika si orang tua menyebutkan kata-kata ari gog-gog cungunguk, dengkul si anak seolah-olah dipijit-pijit oleh orang tuanya, dan si anak akan tertawa karena kegelian.

Lagu-lagu kaulinan budak tersebut memiliki pola yang estetis, juga menunujkkan sebagai alur yang saling berkait tanpa putus yang memuat tekanan terhadap sebuah konteks. Pangeran Djatikusumah di sela hari-hari menyambut upacara Seren Taun 1940 Saka yang di gelar di Cigugur, Kuningan, Januari 2008 kemarin, mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan Siloka yang mengandung panganteb yang juga dapat mencerminkan bagaimana cara karuhun Sunda dalam mendidik anak.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, purwakanti tersebut merupakan sebuah media untuk mempermudah seorang anak dalam menghapal dan menguatkan ingatan. Hal ini sejalan dengan banyaknya penelitian yang mengungkapkan bahwa perulangan dapat mempercepat terhubungnya milyaran sambungan otak anak. Melalui purwakanti ini pula seorang anak belajar berbicara (capetang). Dalam tradisi Baduy, seperti yang dituturkan oleh Jaro Sawitri dan Aki Darseuni, sesepuh masyarakat Baduy Luar, biasanya ketika anak-anak mulai bisa berbicara mulut si Anak dimantrai terlebih dahulu. Kemudian mantra ini diajarkan untuk dihafalkan dan dilafalkan sedikit demi sedikit oleh si Anak. Masyarakat Baduy menyebutnya sebagai poko jampé atau mantra pokok, yang berbunyi:

Capit cuit cangkorélang

Manuk daun mobok liang

Liang keuyeup

Keuyeup sekar

Sekar cai

Cai haneut

Haneut kuku

Kuku peusing

Peusing cala

Cala bunar

Bunar ropoh

Ropoh jalan

Jalan gedé

Gedé bulan

Bulan silih

Silih ogan

Ogan kotok

Kotok hurik

Hurik amis

Amis gula

Gula léngkét

Léngkét dagé

Dagé dungkuk

Dungkuk lutung

Lutung puntang

Ountang dahan

Dahan peucung

Peucung céléng

Céléng bonténg

Bonténg lilin

Lilin odéng

Odéng paré

Paré konéng

Konéng tinggang

Tinggang anak

Anak buwu

Buwu séksék

Séksék nombék di karéés

Salam.

Pupuh

Kinanti jejer Amarta lagu Renggong Bandung

Nagri subur tur kamasur

Aman tentrem sepi tingtrim

Jauh tina panca baya

Ka mana-mana kawangi

Koncara mancanagara

Sugih ku harta jeung harti

Tawis yasana pangurus

Pupuhu di eta nagri

Raja nagara amarta

Nu jenengan Samiaji

Nu alim Darmakusuma

Prabu linuhung pinuju

Nu sagedengeun pupuhu

Sadaya sakulawargi

Nakula reujeung Sadewa

Wrekodara anu sakti

Lan Danajaya Arjuna

Sajiwa sarta saati


Sinom dalam lagu Konperensi Asia-Afrika

Bandung kaimpungan semah

Daratang ti mana-mendi

Seja nyumponan pangondang

Pangajak panca nagara

Babarengan tur ngahiji

Ngudag cita-cita luhur

Nempuh jalan nu utama

Sangkan dunya repeh-rapih

Nyungsi harti tiis dingin paripurna

Bandung seja rek rumaksa

Ngaraketkeun tali batin

Silih rojong jeung tatangga

Bangsa sarasa sanasib

Gulung tangan sabeungkeutan

Silih asih hirup rukun

Ngajauhkeun pasendatan

Disimpayan ku pasini

Henteu arek pagirang-girang tampian

Salam.

Dheka Dwi Agusti N.

KAWIH saat MEPENDE MURANGKALIH

KAWIH MURANGKALIH

oleh Dheka Dwi Agusti N


Apabila bayi akan tidur, biasanya sang Ibu mepende anaknya. Dengan penuh kasih, bayi tersebut dieyong sambil dihariringan (dilantunkan sebuah nyanyian) agar sang bayi cepat tidur. Biasanya lagu yang dihariringkeun adalah lagu néléngnéngkung, dengkleung dan ayun ambing.

Néléngnéngkung

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Geura gede geura jangkung

Geura sakola ka Bandung

Geura makayakeun indung

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Geura gede geura jangkung

Geura bisa talang tulung

Ka bapa reujeung ka indung

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Geura gede geura jangkung

Geura sakola sing jucung

Manggih kapusing tong bingung

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Geura gede geura jangkung

Nagara kudu dijungjung

Dihormat dipunjung-punjung

Nilingningnang-nilingningnang

Ulah waka senang-senang

Diajar ulah kapalang

Kabéh sualan sing beunang

Ku indung dipunjung-punjung

Ku bapa didama-dama

Reup deungdeung talaga tisuk

Reup sakeudeung nepi ka isuk

Terjemahan

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Cepat besar cepat tinggi

Agar dapat bersekolah di Bandung

Agar dapat berterimakasih kepada ibu

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Cepat besar cepat tinggi

Agar cepat dapat menolong

Kepada bapak dan ibu

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Cepat besar cepat tinggi

Cepat sekolah hingga selesai

Mendapat masalah jangan bingung

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Cepat besar cepat tinggi

Negara harus dijunjung

Dihormati dan dijunjung

Nilingningnang-nilingningnang

Jangan mendahulukan untuk bersenang-senang

Belajar jangan putus di tengah jalan

Agar semua ilmu dapat diraih

Ibu yang menjunjung

Bapak yang menjaga

Reupdeungdeung talaga tisuk

Tertidur hingga pagi hari

Ayun ambing

Ayun ambing- ayun ambing

Diayun-ayun ku samping

Jampéna jampé harupat

Geura géde geura lumpat

Kuruli jampé kuruli

Kuruli jampé pamali

Turunna di gunung puntang

Buru-buru kulem ujang

Terjemahan

Ayun ambing

Diayun dengan kain

Jampenya jampe harupat

Cepat besar agar bisa cepat berlari

Kuruli jampé kuruli

Kuruli jampe pamali

Turunnya di gunung Puntang

Cepat tidur anak lelakiku

Dengkleung

Dengkleung déngdék

Buah kopi raranggeuyan

Engkeun budak dewek

Ulah pati diheureuyan

Reup dengdeung talaga tisuk

Reup sakeudeng nepi ka isuk

Terjemahan

Dengkleung déngdék

Buah kopi raranggeuyan

Biarkan anakku

Jangan dipermainkan

Reup dengdeung talaga tisuk

Tidur sebentar sampai pagi.

SUNDA, HARMONIKU

SUNDA, HARMONIKU

oleh Dheka Dwi Agusti N

Kira-kira kriya apa saja dari kebudayaan Sunda yang saat ini mengalami degradasi nilai, Pa?”

Maaf, untuk “Sunda” di sini, saya batasi pada kebudayaannya di era 1920 ke bawah, Pa.

Mengingat setelah tahun tersebut Sunda telah mengalami kelunturan. Terlebih pada tahun 1928, ketika sumpah pemuda tercetus, dan menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia.”

Demikian ungkapan seorang teman ketika kami sedang mencari informasi pada narasumber yang sama. Dia membuat sebuah definisi operasional terhadap istilah “Sunda”. Ya, jika berbicara mengenai Sunda tanpa dibatasi memang akan sangat panjang jadinya. Bisa-bisa sampai menyentuh kawasan “proto sundanic”, yang jika ditelusuri lebih jauh tentunya sangat menarik, tetapi sayang telah banyak “slot” yang hilang.

Sunda yang menurut R. Mamun Atmamihardja dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat ada sebanyak 25 arti kata Sunda yang didasarkan pada berbagai kamus bahasa, seperti bahasa Sansekerta, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda. Dari kekayaan arti kata Sunda itu saja kita dapat menggali “Siapa Sunda itu?”. Salah satu arti kata Sunda yang dalam bahasa Sanksekerta SUNDA itu berasal dari kata Çuddha, yang berarti putih. Hal ini sejalan dengan pendapat Gonda (1973: 345-346), yang menyatakan bahwa pada mulanya kata suddha dalam bahasa Sansekerta diterapkan pada sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung tersebut. Dan, Gunung Sunda itu terletak di sebelah barat Gunung Tangkuban Parahu. Ya, gunung itu terletak di Bandung Utara, seperti arti kata Sunda dalam bahasa Sanksekerta.

Juga sejalan dengan pendapat Rouffaer (1905: 16) yang menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, kemungkinan dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).

Dalam bahasa Jawa, Sunda dapat diartikan sebagai penyusun. Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti, naskah, dan sejenisnya yang menjadi media adanya budaya tulis yang cukup baik pada masyarakata Sunda. Prasasti Cibadak (1006-1016) yang berdasarkan sejarah Sunda dinilai sebagai prasasti tertua, peninggalan seorang raja Sunda Sri Jaya- bhupati. Di mana dalam prasasti tersebut tersuratlah konsep geografis-etnis dalam budaya Sunda, yaitu dengan ditetapkan Sungai Sang Hyang Tapak sebagai kabuyutan yaitu tempat yang disakralkan untuk ditaati oleh segenap rakyatnya. Salah satu terjemahan kutipan Prasasti Cibadak tersebut adalah :


Selamat, dalam tahun saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang hariyang-Kliwon-ahad wuku Tambir. Inilah saat raja sunda Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti samarawijaya Sakalabuana Mandaleswaranindita Harogowardana Wikramotungga-dewa membuat di sebelah timur Sanghyang Tapak dibuat oleh Sri Jayabhupati raja Sunda dan jangan ada yang melanggar ketentuan di sungai ini. Jangan ada yang menangkap ikan di bagian sungai ini mulai dari batas daerah kabuyutan Sanghyang Tapak di bagian hulu ...”

Naskah kuno ”Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian” (Tahun 1518 M), yang dikenal pada masa pemerintahan Sang Prabu Siliwangi (Jaya Dewata, Sri Baduga Maharaja, Keukeumbingan Raja Sunu, Sang Pamanah Rasa – 1482 – 1521 M) di kerajaan Pajajaran, terdapat satu kalimat yang mungkin agak asing bagi telinga kita yaitu ”Ngertakeun Bumi Lamba” yang dapat diterjemahkan dengan ”mensejahterakan kehidupan di dunia”. Jadi para leluhur sunda sebenarnya telah mengajarkan kepada kita bahwa salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah untuk mensejahterakan seluruh makhluk hidup di dunia ini.

Dari catatan sejarah budaya tersebut, tatar sunda dinilai banyak memiliki warisan kabuyutan dari para leluhur baik berupa hutan lindung yang meliputi gunung dan bukit, situs purbakala dan peninggalan sejarah serta sungai-sungai strategis dan lingkungannya. Para leluhur Sunda telah mengingatkan agar seluruh kabuyutan di Tatar Sunda dilindungi, dijaga kelestariannya sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya.

Pesan-pesan para leluhur Sunda tersebut menunjukkan bahwa makna dari kabuyutan memiliki nilai yang tinggi dan strategis serta sangat dihormati oleh masyarakatnya. Pesan moral yang awalnya terbatas hanya untuk masyarakat kerajaan sunda ternyata memiliki nilai yang bersifat universal yang dapat juga dijadikan panutan oleh masyarakat di luar etnis sunda agar kita selalu bersikap arif memperlakukan alam. Karena secara nurani setiap komunitas makhluk hidup termasuk manusia, siapa dan seberapapun kecilnya selalu membutuhkan tatanan kehidupan yang seimbang, selaras dan harmonis.

Menyimak realitas kondisi keempat daya hidup (yang menurut pendapat budayawan WS Rendra, setidaknya harus terdapat tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan untuk dapat mempertahankan eksistensinya), kebudayaan Sunda menghadapi berbagai bentuk tantangan. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespon berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing.

Sebagai contoh yang paling jelas adalah bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”, untuk tidak dikatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda tidak kalah memprihatinkan.

Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, tetapi seberapa jauh upaya yang dilakukan untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap “membumi” di masyarakat Sunda.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.