Mencium bau yang sama…

Mencium bau yang sama…

Akang sareng Eceu, saya hendak berbagi cerita… Sabtu, 24 Januari 2009 lalu saya berkesempatan hinggap di Lapas KLAS II A Anak Pria, Tangerang. Turun dari kendaraan dan mulai menginjakan kaki di tanah Lapas mengingatkan saya pada Kebon Waru. Entah kenapa, rasanya ada sensasi yang sama. Sesekali teringat, di bawah pohon (yang juga ada di halaman depan Lapas Anak) itu saya biasa menunggu dan berkumpul sebelum dan setelah pendampingan, hehe..

Mulai masuk ke dalam Lapas, saya melihat sesuatu yang berbeda, barangkali karena ingatanku kadung teranalogi dengan Kebon Waru. Para sipir mengenakan pakaian batik, entah, mungkin karena hari Sabtu. Tak ada penjagaan yang begitu ketat. Saya dengan lengang masuk ke dalamnya. Kondisi Lapas terlihat lebih kondusif, dengan pagar dicat putih, dan tembok bercat warna-warni, warna-warnanya segar. Banyak tanaman, taman-taman kecil yang dibuat sendiri oleh para anak didik (demikian anak berkonflik hukum disebut). Bahkan, ada tanaman pendek berwarna merah hati yang dibentuk simbol love.

Ada juga pagar tinggi yang atasnya dibuat lancip, berderet hingga menyerupai bunga yang kelopaknya sedang mekar.

Aku duduk di dalam aula, lalu melihat anak didik masuk satu persatu memenuhi ruang aula. Ya Tuhan, ternyata banyak juga. Berdasarkan informasi yang kuperoleh di sana terdapat 257 anak didik.

Jumlah Anak

Usia

4

8-12 tahun

66

13-15 tahun

185

16-18 tahun

2

> 19 tahun

Jumlah Anak

Masa Hukuman

128

> 1 tahun

76

3 bulan- 1 tahun

8

Hukuman pengganti denda

2

Anak Negara

34

Belum mendapat vonis

Mereka semua masuk Lapas dengan latar belakang yang berbeda. Status mereka diklasifikasikan menjadi anak tahanan, anak pidana, dan anak sipil. Anak tahanan adalah anak-anak yang belum mendapatkan vonis hukuman. Anak pidana adalah mereka yang telah mendapatkan vonis dan harus menjalani hukuman. Anak Negara adalah anak yang dititipkan pada Negara (melalui Lapas) hingga anak tersebut mencapai usia 18 tahun. Di Lapas Anak ini ada 2 anak yang berstatus anak Negara yang saat ini masih berusia 8 tahun. Bayangkan, hanya pada saat ia berulang tahun yang ke-18 lah, dia baru bisa keluar dari Lapas tersebut. 10 tahun lagi baru dia akan melihat dunia yang sesungguhnya. Satu lagi yaitu anak sipil, mereka adalah anak yang “dititipkan” di Lapas berdasarkan gugatan dari orang tua mereka. Waktu yang harus dihabiskan di dalam Lapas yaitu hingga ia berusia 18 tahun, kecuali jika orang tua mencabut gugatannya dan menginginkan anakny dikembalikan. Sekitar 3 bulan yang lalu, baru saja 2 anak keluar dan terbebas dari status anak sipil ini.

Di aula ini, aku melihat anak-anak berekspresi. Ada yang bermain teater, dan ada yang membentuk grup band. Ternyata di sini tersedia berbagai kegiatan dan fasilitas untuk anak didik. Di dalam Lapas ada sekolah. SD untuk kelas 4-6. SMP kelas 1-3, juga PKBM Paket C yang setingkat SMA. Semuanya lengkap dengan kantor juga mading masing-masing. Ada Rumah Pintar dan perpustakaan, Pojok Curhat yang nyaman, tanpa bangku yang membuat mereka harus duduk saling berhadapan, tanpa atmosfir introgasi. Ada gereja dan masjid untuk beribadah.

Ada kamar, kamar tersebut dinamakan wisma. Wisma gaharu, herba, akasia, blimbing, cemara, delima, enau, flamboyan, dan teratai. Trus ada ruang tahanan yang belum dapat vonis. Satu kamarnya dihuni 25-30 orang. Mereka tidur menggunakanranjang. Satu ranjang 2 orang. Di satu kamar sel ada satu kamar mandi (2 toilet 3 bak mandi), ada juga wc umum diluar kamar. Ada dapur tempat masak anak-anak, ada ruang tahanan untuk anak yang belum dapat vonis, ada bengkel otomotif lengkap dengan peralatan las dan beberapa jenis motor yang dipakai untuk praktik, ada salon, ada blok buat anak-anak dengan masa hukuman yang pendek. Ada studio musik, ada ruang jahit, ada koperasi, ada ruang data, ada klinik, tentunya ada sel untuk pelanggaran khusus.

Anak-anak disana diberi pengertian, bahwa di sana mereka sedang dididik, disadarkan bahwa keberadaan mereka di sana bukanlah kesialan tapi merupakan arena perenungan untuk masa depan yang lebih baik. Oleh seban itu, di sana tak terdengar kata napi, yang ada hanyalah anak didik. Sepintas begitulah kondisi lapas anak Tangerang, yang menurutku cukup berbeda dengan rutan Kebon Waru di Bandung, tempat kita biasa berkegiatan dulu. Yah, apapun lah yang kita lakukan demi kepentingan terbaik anak itu juga berarti untuk kepentingan terbaik bangsa.

Salam.

Dheka Dwi agusti N.

Drama dalam Penjara sebagai Media Pembuka Mimpi

Drama dalam Penjara sebagai Media Pembuka Mimpi

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Sastra dapat memainkan peranan secara dramatis dalam pengembangan konsep pribadi atau konsep diri dan perasaan harga diri. Melalui sastra, anak-anak dapat menemukan berbagai kemampuan yang mereka miliki. Di samping itu, mereka akan mengetahui bahwa untuk memperoleh berbagai keterampilan selalu membutuhkan waktu.

Drama sebagai upaya menyentuh hati anak-anak. Drama dalam peranannya sebagai media pembuka mimpi narapidana anak yaitu sebagai berikut:

1) Drama tentunya dapat memberi kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan bagi anak-anak. Dalam proses latihannnya, drama dapat membuat anak tertawa senang, meriah dengan imajinasi dan dialog yang dilakukannya. Kesenangan ini tentunya membuat anak lebih merasa santai, tenang, dan memunculkan ide-ide kreatif, juga berbagai alternatif. Munculnya ide kreatif dan alternatif ini dapat menjadi motivasi tersendiri bagi anak-anak. Contohnya ketika anak mengeluarkan ekspresinya, dia berekspresi tentang dirinya sendiri maupun memainkan peran orang lain. Juga ketika mereka berdiskusi dengan teman-temannya yang kerap mengundang tawa dan kesenangan tersendiri.

2) Drama mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. Drama dapat membantu anak mengenali berbagai gagasan yang belum bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Contohnya: penggunaan teknik dramatik kreatif. Drama kreatif merupakan sebuah model pembelajaran bagi anak-anak untuk mampu berbicara. Teknik ini dilakukan dengan cara meminta mereka untuk membayangkan mereka bertemu dengan keluarga, kemudian mereka mengatakan atau menceritakan apa yang ada dalam bayangan mereka.

Perluasan dari teknik ini adalah napi anak mulai untuk membuat satu penceritaan yang logis dan runut. Hal ini dikemas melalui penggabungan bayangan dari masing-masing napi anak. Kemudian, napi anak membuat penceritaan baru berdasarkan bayangan tiap napi anak, sehingga menjadi sebuah penceritaan yang beralur serta logis.

Bayangan-bayangan yang dijadikan penceritaan itu, adalah pengalaman terbaik para napi anak yang akan memunculkan nilai-nilai positif. Hal ini akan menjadi pembuka mimpi bagi napi anak, karena napi anak bisa menemukan nilai-nilai yang terbaik dalam diri mereka.

3) Ketiga, drama dapat memberikan pengalaman-pengalaman ‘aneh’ yang seolah-olah dialami sendiri oleh para napi anak. Seperti petualangan, dan perjuangan melawan unsur-unsur pengalaman-pengalaman ‘aneh’ tersebut.

Contohnya: ketika mereka membuat sebuah cerita fantasi, seperti pernikahan di bulan. Dapat dilihat bagaimana napi anak memerankan tokoh yang jauh dari dirinya, seperti memerankan tokoh camat.

Hal ini merupakan media untuk mengasah fantasi napi anak. Sebuah tahapan yang sudah lebih jauh daripada imajinasi. Karena, imajinasi berfokus pada hal-hal yang masih mungkin terjadi. Sementara, fantasi merupakan hal-hal mungkin tidak akan terjadi (lebih sulit dijangkau). Dengan fantasi akan merangsang dan menjadi jalan bagi terbentuknya imajinasi yang lebih liar. Apa yang bagi napi anak pada awalnya terpikir tidak mungkin untuk dilakukan, padahal mungkin saja bisa dilakukan.

4) Keempat, drama dapat mengembangkan wawasan sang anak menjadi perilaku insani. Dengan kekayaannya, drama mempunyai daya yang ampuh dan unggul untuk membayangkan dan memberinya bentuk yang indah dan memberi koherensi atau hubungan yang serasi kepada pengalaman insani.

Drama sudah tidak disangsikan lagi, dapat menjadi media katarsis diri. Dalam hal ini, drama dapat merangsang pembentukan nilai dan mimpi yang positif. Misalnya, dengan cara napi anak membayangkan hal-hal positif yang pernah terjadi dalam hidup mereka. Kemudian memerankannya. Kalaupun, peran yang dibayangkan dan diperankannya itu antagonis, maka keantagonisan tersebut tetap menjadi suatu bahan pemikiran mereka untuk tidak menjadi tokoh tersebut.

5) Kelima, drama dapat menyajikan dan dapat memperkenalkan kesemestaan pengalaman atau universalitas pengalaman kepada anak. Drama terus-menerus mengemukakan masalah-masalah universal mengenai makna kehidupan dan hubungan-hubungan manusia dengan alam dan orang lain. Sastra memungkinkan kita menghidupi berbagai kehidupan dan mulai melihat keberagaman, kesemestaan pengalaman insani.

Contohnya melalui penghayatan. Napi anak diajak untuk memainkan peran yang jauh dari kehidupan dirinya. Misalnya bagaimana dia harus menjadi raja, padahal dirinya hanya seorang manusia biasa. Penghayatan ini dilakukan dengan latihan berkonsentrasi, berimajinasi, berfantasi, mengeksplorasi apa yang ada di dalam diri mereka. Setelah melalui tahapan penghayatan, napi anak diajak untuk belajar mengomunikasikan peran yang telah dihayatinya tersebut. Hal ini dilakukan mulai dari olah suara, berdialog (sebagai tokoh), berlatih gerakan-gerakan teatrikal, dan segala sesuatu yang dapat diekpresikan yang ke luar dari dalam dirinya sebagai perannya untuk dapat dilihat oleh orang lain.

Bagi anak-anak, pemahaman tentang pribadi itu sangat penting. Jika seorang anak tidak memahami dirinya maka mereka tidak akan dapat menilai dan memahami orang lain. Pengalaman bersastra, seperti membaca, berkreasi, mengapresiasi, berekspresi, dan mendiskusikan atau memerankan karya sastra (drama) dapat memupuk perkembangan pribadi anak.

Tentunya, banyak cara yang mungkin, yang bisa, untuk kita amini mampu mengubah paradigma berpikir kita bahwa mimpi telah mati. Berkesenian misalnya, walau sebagian orang menganggap berkesenian hanyalah pelarian atau hiburan sementara, spirit yang hadir dalam perjalanannya atau prosesnya mampu membuat kunci untuk membuka mimpi yang tertutup.

Sebutlah drama, salah satu cara berkesenian yang oleh sebagian orang dianggap murah tetapi oleh sebagian orang dianggap bisa menjadi alat untuk membuka ruang mimpi lain, karena drama diyakini sebagai miniatur kehidupan.

Idealnya memang untuk berdrama kita harus memiliki teknik dasar. Seperti keaktoran, pemahaman tentang pemeranan, atau hal teknis lain; seperti artistik atau proses produksi. Bagaimana menghadirkan properti, tata lampu, kostum, yang ideal untuk sebuah pertunjukkan drama. Tapi dalam hal ini, kami bertujuan untuk memberi semacam motivasi bahwa ada hal dalam drama yang bisa merangsang narapidana anak untuk merancang mimpi yang mereka miliki.

Untuk pemula hal yang paling mendasar dan yang paling mungkin dihadirkan adalah motivasi bahwa sebagai aktor kita bisa menjadi siapa saja, apa saja, yang terpenting adanya kemauan dan totalitas dalam mencapai apa yang diharapkan. Pengalaman setiap orang berbeda maka cara menginterpretasinya pun akan berbeda. Hal ini tentunya baik karena bisa merangsang pikiran kreatif meraka.

Terdapat beberapa proses yang kami yakini bisa dijadikan media dasar para narapidana anak agar mereka mulai menumbuhkan mimpi mereka lagi. seperti proses bedah naskah yang harus dilakukan, aktor, penata kostum, penata lampu, properti, dan tentu saja sutradara. Di dalamnya para narapidana anak dipaksa untuk merekonstruksi pikiran mereka menjadi bagian dari naskah drama. Setelahnya dilakukan pula pendalaman tokoh dan karakter.

Hal ini lebih menarik lagi, karena kami mempunyai tujuan untuk memotivasi mereka, maka tokoh dan karakter yang dihadirkan pun haruslah tokoh dan karakter yang bisa menghadirkan spirit atau motivasi untuk bisa diteladani oleh mereka. Drama adalah salah satu cara untuk membangun rasa percaya diri, kerjasama, dan imajinasi ataupun mimpi-mimpi para narapindana anak. Narapidana anak akan belajar mengembangkan potensi diri, emosi, dan perasaannya dalam berdrama.

Bandung, 5 Juni 2008

Catatan Pendampingan Drama di Rutan Kelas 1 Kebon Waru Bandung

Catatan Pendampingan Drama di Rutan Kelas 1 Kebon Waru Bandung

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Seni, seperti apa yang dikatakan Horatius hendaknya bersifat menghibur dan mendidik (dulce et utile). Seperti itulah drama hendak hadir dalam ruang penuh jeruji, mengisi jamak mata yang kosong menatap masa, menuntun rasa meninggalkan derita untuk mengejar asa yang bersimpul dalam sebuah doa.

Drama adalah salah satu bidang seni yang digunakan dalam proses pendampingan anak-anak berkonflik hukum di rutan Klas 1 Kebon Waru Bandung di samping dua bidang seni lainnya yaitu kriya dan musik.

Pada awal pertemuan saya mulai mengamati mereka. Tak banyak dari diri mereka yang berbeda dengan anak pada umumnya (anak tidak berkonflik hukum). Kesan kriminal, penjahat, garang, dan sebagainya tidaklah nampak, seperti apa yang dibayangkan orang awam (orang yang belum atau baru pertama berkunjung ke rumah tahanan). Secara fisik, tubuh mereka bertiga memang relatif kurus dan kurang bersih. Di badan mereka banyak bekas gigitan nyamuk, panu, kutu air, dan berbagai penyakit kulit lainnya. Tak heran jika dalam satu menit saja mereka bisa menggaruk tubuh mereka berkali-kali. Mereka tak banyak bicara. Merekapun tak tersenyum. Bibirnya seperti bulan sabit tertelunggkup malam. Pandangan mereka lebih banyak tertuju ke arah bawah.

Dua di antara mereka bertiga rupanya sang Pemilik pasal 170 dengan vonis 2 tahun 6 bulan. Mereka memaparkan bahwa vonis yang mereka dapatkan adalah buah dari pengeroyokan yang berujung pada kematian si Korban. Seorang lagi berpasal 285 dengan vonis 5 tahun penjara. Vonis ini diterimanya karena kasus pemerkosaan.

Bintang dan Awan (bukan nama sebenarnya), dua anak sekasus ini ternyata bersaudara. Bintang memilih drama karena ia pernah bermain kabaret bersama teman-temannya untuk pentas seni tujuhbelasan di lingkungan rumahnya. Sementara Awan memilih drama agar dapat lebih intensif membaca. Dia memang senang membaca. Pernah saya coba memberinya dua buah antologi cerpen pilihan Kompas, dan ternyata ia melahapnya dengan apresiatif. Ilham, anak pendiam yang cenderung penurut ini menurutku adalah seorang pembelajar yang giat. Ia yang paling sering mengulang-ulang membaca naskah drama, hingga ia menjadi orang yang paling hapal dialog para tokoh.. Langit, anak lelaki pemurung yang tak pernah menengadahkan muka. Entah apa yang sering dilihatnya di bawah sana. Jangankan untuk berbicara sepatah kata, menatappun tidak dilakukannya. Seperti anak-anak pada umumnya, ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Persamaan mereka adalah kondisi sehari-hari yang harus dijalani di dalam penjara dengan masa vonis yang lama. Juga, energi besar yang berasal dari bongkahan kerinduan mereka belum banyak termanfaatkan.

Saat pertama kami bertemu tak ada yang mau bicara, terlebih Langit. Sayapun tak mau lebih lama memanjakan sepinya waktu. Kami berkenalan, saling berjabat tangan. Kami membuat kesepakatan bahwa kami berempat adalah sebuah tim drama. Proses dialog sangat kami ke depankan.

Ide pertama muncul dari kenyataan pengalaman mereka, kami membuat cerita tentang kondisi anak berkonflik hukum dan penjara, tetapi kemudian hal itu kami hentikan. Sambil membuang muka Langit mengatakan bahwa ia sudah bosan dengan kenangannya tentang “masuk penjara”, tak ada gunanya mengingat pengalaman buruk dan rasa sakit. Ide pun beralih menjadi sebuah pertaubatan seorang manusia, tetapi sayang cerita yang telah dibuat tetap dominan dengan unsur-unsur kekerasaan (bertengkar, mabuk-mabukan, membunuh, rasa sakit, dan sebagainya). Bosan dengan ide-ide yang berkutat dalam arena negatif, anak-anak berseloroh untuk membuat drama komedi.

Si Asep Jadi Raja, sebuah judul yang mereka usung tetapi lagi-lagi masih dengan cerita mengenai penculikan, kekerasan dan sebagainya. Kami mulai kehabisan energi. Mereka meminta saya untuk mencarikan ide cerita yang bagus menurut tenggang rasa saya. Atas dasar pertimbangan waktu dan proses yang telah dijalani sayapun membuat sebuah naskah untuk didiskusikan bersama.

Pertemuan selanjutnya saya membawa sebuah naskah drama jadi. Kamipun mulai membedah naskah. Naskah drama yang kutulis merupakan gubahan dari sebuah cerpen berjudul Wabah karya sastrawan perempuan Indonesia, Nenden Lilis Aisyah. Cerpen bertema sindiran terhadap pemerintah ini merupakan cerpen pilihan Kompas tahun 2003. Seloroh anak-anak untuk memilih genre komedi, membuat saya mengambil cerita ini.

Setelah bersama-sama kami membedah naskah, merekapun sepakat dengan naskah yang saya buat dengan melakukan beberapa perubahan tentunya. Proses “bedah naskah” tak berjalan seperti biasanya. Tak efektif bagi kami jika harus setiap orang membaca sendiri-sendiri apalagi dalam hati. Kami melakukannya pembacaan dengan cara bergantian. Secara tidak langsung kami melakukan casting, karena kami semua mencoba memilih tokoh yang kemudian akan kami bacakan dialognya. Proses pembacaan berlangsung secara bergantian, selain agar satu sama lain sama-sama memperhatikan, juga karena kondisi ruangan belajar yang kecil dan diisi oleh banyak orang, serta kebisingan dari anak-anak lain yang sedang berlatih musik.

Melalui “bedah naskah” ini banyak hal baru yang memperkaya proses pendampingan ini. Anak-anak mulai dapat terdengar suaranya, meskipun belum lantang. Satu hal yang menyedihkan bagi saya adalah ketika mengetahui mereka terbata-bata dalam membaca, sepertinya sudah lama sekali mereka tak membaca. Di samping itu, sayapun bahagia karena dalam proses pembacaan naskah anak-anak dapat tertawa. Inilah kali pertama saya melihat senyum mereka. Senyum mereka yang indah. Selesai kami membaca naskah, satu persatu anak mengatakan pendapatnya. Tanggapan mereka mengenai tema cerita. Jumlah tokoh yang ada dalam naskah, Watak para tokohnya. Latar cerita. Kemungkinan pementasan, dan sebagainya. Tak kusangka mereka dapat mengerti cerita ini dengan baik. Sesuatu yang sempat kusangsikan. Adanya kata-kata terbalik yang diujarkan oleh tokoh Andareweng rupanya bukanlah hal baru bagi mereka. Kondisi yang pada awalnya menurutku hanyalah sebuah imajinasi dalam cerita ternyata benar adanya. Berbicara dengan kalimat dan kata yang terbalik rupanya merupakan sebuah sosiolek (dialek dari suatu kelompok sosial) geng motor tertentu di Bandung. Hal tersebut membuka ruang diskusi bagi kami. Konsep untuk sama-sama belajarpun kami usung. Kami sepakat akan membawakan naskah ini.

Setiap kami akan berlatih, kami melakukan pemanasan. Kali ini saya melakukan rangsangan, meminta mereka mengingat hal terbaik yang pernah mereka lakukan lalu menuliskannya. Selesai menuliskan, kami meminta menceritakannya secara lisan. Tidak muluk-muluk, hal baik yang terindah bagi Bintang adalah ketika ia memancing kemudian ada sesuatu yang menyangkut di kailnya. Setelah ditarik ternyata itu hanya sandal yang sudah jelek. Sementara Awan, ia berhasil memasukkan bola ke dalam gawang dalam sebuah permainan sepak bola yang dimainkan ia ketika ia SMP. Langit tidak ada karena hari itu ia bertugas menjadi korpe. Setelah bercerita aku meminta mereka memperagakannya (ber-akting) tetapi mereka tidak mau dengan alasan masih malu.

Dalam latihan membaca naskah, intonasi mereka sangat datar untuk sebuah kalimat, tak ada ekspresi, membaca pun belum begitu lancar. Belajar berintonasi kami dilakukan dengan cara mengubah- ubah logat bicara seperti menjadi orang Jawa, Sunda, Batak, Bali dan Padang, anak kecil, remaja, dewasa, dan orang tua. Kemudian mencoba beberapa intonasi tentang sebuah kalimat. Hingga kami mendapatkan dan memilih intonasi yang dianggap paling tepat untuk sebuah dialog.

Pertemuan selanjutnya masuk dua orang baru. Mereka semua menjadi satu tim yang solid. Dalam urusan membaca naskah mereka berdua lebih memprihatinkan dari sebelumnya. Bukan terbata-bata lagi tetapi masih mengeja satu-persatu, tak ada ekspresi, titik dan komapun seakan mereka tak melihatnya. Tetapi, kawan lainnya yang sudah mengalami proses pendampingan terlebih dahulu mereka membantu mereka untuk belajar membaca dan berintonasi, dan beradaptasi dengan kondisi kami.

Pertemuan kami yang hanya satu minggu sekali selama 2 jam menjadi kendala yang cukup berarti. Biasanya untuk sebuah pementasan drama, intensitas latihan akan semakin memadat. Semangat yang memadatpun ditunjukkan anak-anak. Mereka mengusulkan untuk menambah waktu latihan. Ada raut muka kecewa, setiap kali kami sedang asyik berlatih, bel apel berbunyi. Terpaksa mereka harus kembali ke dalam sel. Langit secara tegas pernah mengemukakan “Teh, beginilah hidup di penjara. Semua serba terpenjara. Kami tak punya kebebasan. Saya masih ingin berlatih, tapi mau tidak mau saya harus masuk sel lagi.”

Latihan yang selama ini kami lakukan rupanya mulai memperlihatkan hasil. Sekali waktu ada seorang pendaping yang bergabung ke dalam tim kami. Ia menggantikan posisi saya sebagai seorang narator. Bernaratorkan sang pendamping baru, anak-anak telah mampu melakukan apresiasi dan kritik. Beberapa hal seperti intonasi yang kurang tegas, suara yang kurang ngebass, menjadi koreksi bagi narrator baru. Anak-anakpun melakukan hal yang sama kepada teman-temannya.

Mereka berlima adalah tim yang solid, dengan kelompok kecil mereka menyadari bahwa perannya sama penting satu sama lain. Mereka saling berempati dengan menjaga kekompakkan untuk sebuah kehadiran. Dengan kapasitas yang berbeda, satu sama lain saling belajar meskipun mereka bukanlah anak-anak dari satu kelompok/ geng. Ketika latihan, kami sering tertawa bersama-sama. Makin sering kami bertemu, kami makin terbuka. Semua anggota sudah mampu berbicara lantang. Mengemukakan ide-ide mereka, melakukan analisis kebutuhan pementasan. Yang membahagiakan adalah kami dapat tertawa bersama, berseloroh, berdiskusi, dan menentukan pilihan. Ketika masa tahanan salah seorang di anatara mereka telah usai, maka iapun harus meninggalkan rutan, tentu saja iapun keluar dari tim drama. Kami berdiskusi, membicarakan apa yang akan kami lakukan tanpanya. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan berlatih drama dan akan tetap dipentaskan meski tanpa dia. Hasil diskusi kami, tokoh yang hilang takkan berpengaruh besar pada kelangsungan tema dan alur cerita. Luar biasa, mereka ternyata telah mampu melakukan analisis naskah, melakukan pertimbangan dan kajian serta mengambil keputusan bersama.

Pada masa mendekati akhir latihan, mereka kembali menganalisa dan menentukan kebutuhan kostum dan properti pertunjukkan. Suatu kejutan bagi saya, ketika anak-anak melakukan perubahan dan penambahan cerita pada naskah kami. Sebuah resepsi dari mereka yang berkonflik hukum. Pada awalnya akhir cerita ditutup oleh adegan demonstrasi warga terhadap Pak Camat yang berbicara dengan kata yang terbalik dan hal tersebut membuat membuat kedua belah opiha sama-sama tiodak mengerti. Warga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Camat, Pak Camatpun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh warganya. Akhir cerita ini diubah menjadi Pak Camat ternyata hanya berpura-pura. Sesungguhnya ia tak berbicara dengan kata terbalik, bicaranya yang normal menuntun warga mempertanyakan apa maksud di balik tindakan yang dilakukannya. Dijelaskan dalam naskah, bahwa Pak Camat sengaja berbicara dengan ujaran terbalik karena ia pikir dunia memang sudah terbalik. BErbicara dengan ujaran normalpun tak ada artinya sebab orang-orang kini hanya banyak bicara tanpa pemahaman. Kelakuan Pak Camat yang membaca Pancasila dengan terbalik saat upacara peringatan HUT RI memicu warga berpikir negatif. Tetapi, Pak Camat justru mempertanyakan kembali mengenai siapa yang masih paham pancasila. Buktinya adalah sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, jika sila ini benar-benar dipahami mengapa ketidakadilan masih terus terjadi dan masih ada permusuhan dan hal tercela terjadi.

Kalau memang adil dan beradab kenapa masih banyak yang bermusuhan dan perbuatan tercela. Coba bayangkan geng motor di Indonesia…mereka semua saling bantai, apa itu yang dinamakan adil….?”

Warga D:

Iya, iya, kalau kita lihat ke belakang, para pejuang mengorbankan nyawa untuk kemerdekaan negeri Indonesia ini

Pak Camat:

Para pejuang dulu hanya bermusuhan sama orang asing (Belanda). Nah ini, anak-anak zaman sekarang satu bendera kok saling bantai…..

Warga A, B, C, D:

Iya juga ya…kalau kita berantem lawan orang Belanda tidak bakalan dibui, malah jadi pahlawan…he…he…he

Demikian perubahan naskah terjadi. Sebuah tanggapan mengemuka dari anak-anak yang berlatar konflik hukum. Sebuah resepsi karya atas dirinya. Dua minggu setelah itu, mereka melakukan pementasan dengan kostum dan tata rias seadanya. Tak ada tata cahaya, latar panggung dan properti yang ideal. Namun, semua itu tak menyurutkan anak-anak menggelar hasil latihan mereka.

Wabah: Naskah drama anak di penjara

WABAH

DRAMA TIGA BABAK

Judul : Wabah

Karya : Nenden Lilis A.

Penulis Naskah : Dheka Dwi Agusti N.

Sutradara :

Penata Musik :

Penata Artistik :

Pemain :

Babak 1

Cikoneng, sebuah kota kecil yang terkenal subur dan makmur, saat ini tengah digemparkan oleh sebuah desas-desus tentang penyakit yang menyerang Pak Andareweng, Camat ternama di kota itu. Desas-desus itu tentu saja membuat masyarakat resah sekaligus penasaran sebab katanya penyakit itu bukanlah penyakit biasa. Penyakit aneh yang sulit dicari obatnya. Konon, penyakit tersebut menyerang tanpa diawali demam atau gejala lainnya. Penyakit tersebut bisa dengan mudah menyerang siapa saja. Pak Andareweng saja kelihatannya segar bugar dan sehat walafiat, tetapi ternyata…

(Pemain mematung.)

Warga A:

Hey, habis dari mana, Kang?

Warga B:

Eh, ini habis menangkap ikan dari balongnya mertua.

(Diman menjawab sambil tersenyum dan memperlihatkan ikan tangkapannya.)

Warga A:

Enak kamu, punya Mertua kaya raya, dapat istri cantik pula.

Warga B:

Ah, si Akang mah bisa saja. Ini si Cicih, biasa lagi ngidam, ingin pepes ikan alias pais, tapi harus ikan dari balong Bapaknya katanya. Biasa namanya juga orang hamil muda.

Warga A:

(heran)

Istrimu sedang hamil lagi? Perasaan belum lama ini kamu menggelar marhabaan buat anakmu yang baru lahir?

(sambil berusaha mengingat)

Kalau tidak salah anakmu yang ke…

Warga B:

Yang ketujuh, Kang.. Namanya si Ujun

Warga A:

Euleuh-euleuh… sekarang hamil buat yang kedelapan?

Warga B:

Yang kesepuluh, Kang. Sebab yang dua, dulu sudah meninggal waktu baru lahir.

Warga A:

Oh, begitu.. Jadi, ini kehamilan kesepuluh buat istrimu yang pertama?

Warga B:

Ah, si Akang bisa saja.

Warga A:

Hebat kamu.

(sedikit menurunkan volume suaranya)

Eh, kamu sudah dengar kabar tentang penyakitnya Pak Camat?

Warga B:

Pak Andareweng, Pak Camat kita maksud Akang?

Warga A:

Iya. Pak Camat Andareweng, camat kita.

(Ada tiga orang yang juga warga kecamatan yang dipimpin oleh Pak Camat Andareweng (C, D, dan E) berjajar berusaha menguping percakapan antara Dayat dan Diman.)

Warga B:

Memangnya ada apa dengan Pak Camat Andareweng, Kang?

Warga A:

Jadi, kamu belum dengar? Kamu belum tahu? Benar-benar belum tahu?

Warga B:

(menggeleng, tidak tahu, sambil penasaran.)

Ada apa gituh, Kang, dengan Pak Andareweng?

Warga A:

Dia terkena penyakit aneh. Penyakit berbahaya. Ah, pokoknya sakit yang belum ada obatnya.

(tiga warga yang sedang menguping (C, D, dan E) berpura-pura tidak mendengar apapun setiap kali A melirik ke arah mereka.)

Warga B:

Ah, masa sih, Kang?

Warga A:

Iya, benar.

Warga B:

Tapi belakangan kemarin saya sempat bertemu beliau. Beliau tampaknya baik-baik saja. Atau penyakitnya itu penyakit dalam yah, Kang? Wah, berbahaya kalau begitu.

Warga A:

Penyakit Pak Camat Andareweng itu bisa kita ketahui kalau dia sedang berbicara.

Warga B:

Maksud Akang? Yang berpenyakit itu mulutnya Pak Camat, begitu?

Apa dia sariawan? Bau mulut? Habis makan jengkol atau pete? Atau giginya bolong? Ompong? Itu mah biasa atuh, Kang. Saya juga ompong. (sambil menyeringai memperlihatkan giginya yang ompong)

(tiga warga yang sedang menguping (B, C, dan D) tertawa cekikikan, lalu tiba-tiba diam saat Dayat dan Diman menoleh ke arah mereka.)

Warga A:

Bukan, bukan itu. Tapi Pak Camat Andareweng itu kalau bicara…

Desas-desus ini mulanya hanya diketahui dan menjadi rahasia para aparat kecamatan. Namun, seperti api yang membakar jerami kering, desas-desus itupun merambat cepat dari mulut ke mulut hingga akhirnya seluruh masyarakat Cikonengpun tahu.

(Pemain mematung.)

Warga B dan tiga warga yang menguping(C, D dan E):

Oh, jadi begitu ceritanya..

(Tiga warga yang menguping cepat-cepat menutup mulutnya, mukanya memerah karena malu sudah kepergok menguping. Merekapun akhirnya ikut berbincang secara langsung dengan Dayat dan Diman.)

Warga C:

Tapi, masa iya ada penyakit seperti itu di kota kita? Apa Akang tidak salah kabar?

Tentu saja, tak semua orang percaya dengan kabar tentang penyakit Pak Camat Andareweng ini. Sebagian orang yang percaya mengatakan bahwa gejala itu memang sudah terlihat dalam diri Pak Camat sejak beberapa waktu lalu. Sedangkan yang tidak percaya berpendirian bahwa tidak mungkin di kota yang serba makmur ini ada penyakit aneh semacam itu.

Akhirnya untuk meredam kontroversi tersebut, penduduk Cikoneng membuat kesepakatan untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut.

(Pemain mematung.)

Warga D, dan E:

Iya, benar, Kang, kami juga mendengar kabar bahwa Pak Camat Andareweng memang terkena penyakit aneh.

Warga A:

Jangan-jangan terkena santet kali, yah?

Warga B dan C:

Hus, jangan begitu ah, Kang.

Warga D:

Yah, apapun itu yang jelas Pak Camat Andareweng memang berpenyakit aneh.

Warga E:

Bagaimana, kalau penyakitnya itu menular pada kita semua?

Ih, amit-amit. Amit-amit.

Warga B:

Iya, amit-amit tujuh turunan, kadalapan keureuk meunang.

Warga A;

Bagaimana kalau kita buktikan saja kebenaran kabar ini.

Warga B:

Bagaimana caranya?

Warga A:

Begini saja. Minggu depan kan kita tujuhbelasan. Nah, kalau tujuhbelasan biasanya kan diadakan upacara, dan dalam upacara itu pasti Pak Anareweng selaku Camat maka dia pasti akan memberikan sambutan, bukan? Dan, pada saat itulah kita semua bisa mengetahui kebenaran tentang penyakitnya. Bagaimana?

Warga E:

Boleh juga.

Warga D:

Ide bagus.

Warga B dan C:

Yah, biar kita semua tidak penasaran lagi.

Warga A:

Kita harus datang dari pagi. Kita ikuti upacara itu dari awal sampai selesai. Di alun-alun kota, jangan sampai ada yang terlambat.

Warga D:

Ya, jangan sampai ada yang terlambat.

Warga A:

Juga jangan lupa beri tahu warga yang lain. Supaya kita semua tidak penasaran lagi.

Warga B dan C:

Baiklah, saya pasti datang.

Babak 2

(Dua minggu kemudian)

MUSIK LAGU WAJIB 17 AGUSTUS 1945

Dan, berbondong-bondonglah warga Cikoneng pergi menuju alun-alun kota untuk menyaksikan upacara, terutama untuk mendengarkan sambutan yang akan disampaikan oleh Pak Camat Andareweng. Tetapi sebenarnya bukan isi dari sambutannya, melainkan Pak Camat Andarewengnya yang akan menjadi pusat perhatian warga.

Warga B:

Tumben yah, alun-alun penuh sesak seperti ini. Biasanya juga memang banyak orang tapi tak sepadat ini. Ternyata banyak sekali orang yang ingin menonton acara tujuhbelasan ini. Padahal tahun-tahun lalu tak seperti ini.

Warga D:

Bukan hanya menonton acara tujuhbelasannya, tapi Pak Camatnya juga.

Warga A:

Sudah mulai belum upacaranya?

Warga D:

Belum, Kang.. Santai saja, kita tidak terlambat kok.

Warga B:

Mungkin sebentar lagi, Kang.

Warga A:

Oh, begitu. Syukurlah.

Warga F:

( F datang bersama E dan C. Keduanya menuju tempat berkumpulnya A, B, dan D )

Apa benar Pak Camat kita terkena penyakit aneh?

Warga E:

Katanya sih begitu. Makanya kita ke sini untuk melihat langsung kondisi Pak

Camat.

Warga F:

Katanya Pak Camat Andareweng terkena sawan yah?

Warga C:

Masa sih?

Warga E:

Euhh, kurang tahu juga. Tapi kabarnya penyakit yang diderita Pak Camat itu penyakit aneh dan berbahaya.

(A, B, C, D, E, dan F telah berkumpul)

Warga A:

Sudah, sudah, jangan berisik. Kita ikuti saja jalannya upacara ini. Kita lihat Pak Camat Andareweng dengan seksama.

Sebuah pemandangan yang tak biasa. Banyak sekali orang, mereka tumpah-ruah di alun-alun kota. Hal ini tak lain karena banyak warga bermaksud untuk membuktikan desas-desus yang selama ini beredar dan membuat mereka penasaran. Alun-alun Cikoneng yang biasanya tidak terlalu ramai, kali ini membludak bagai ada karnaval besar. (upacara dimulai)

Protokol:

Para hadirin yang terhormat. Upacara peringatan Hari Kemerdekaan Repubik Indonesia yang ke-63 akan segera dimulai.

Masing-masing pemimpin barisan menyiapkan barisannya.

(SIAAAP GRAK!)

Protokol:

Pemimpin Upacara memasuki lapangan upacara.

(Pemimpin Upacara memasuki lapangan upacara)

Penghormatan umum kepada Pemimpin Upacara.

Pemimpin Barisan:

Kepada Pembina Upacara, hormaat grak!

Tegaaak grak!

Protokol:

Pembina Upacara dipersilakan memasuki lapangan upacara.

(Pak Camat Andareweng memasuki lapangan upacara.)

Penghormatan umum kepada Pembina Upacara dipimpin langsung oleh Pemimpin Upacara.

Pemimpin Upacara:

Kepada Pembina Upacara, hormaaat grak!

Tegaaak grak!

Protokol:

Laporan kepada Pembina Upacara bahwa upacara akan segera dilaksanakan.

Pemimpin Upacara:

Lapor, upacara peringatan Hari Kemerdekaan Repubik Indonesia yang ke-63 akan segera dimulai.

Pembina Upacara:

Nakanaskal!

(maksudnya Laksanakan!)

Pemimpin Upacara:

(Sedikit heran dan terus menjawab, karena jawabannya sudah konvensional.)

Siap, laksanakan.

Warga A, B, C, D, E, F, dan warga lainnya:

(bingung)

Hah?

(Upacara terus berlangsung)

Warga D:

Mengatakan apa tadi Pak Camat Andareweng?

Warga B:

Entah, tidak tahu. Saya kurang jelas mendengar apa yang Pak Camat katakana tadi.

Warga A:

Iya, saya juga kurang jelas menangkapnya. Tapi rasanya kata yang diucapkan oleh Pak Camat Ndareweng bukan kata yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Warga C:

Oh, barangkali itu kata-kata kode dalam upacara mungkin, Kang?

Warga D:

Sudah, sudah, kita simak lagi saja.

Warga A, B, C, E, dan F:

(mengangguk)

Iya, baiklah.

Protokol:

Pengibaran Sang Saka Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pembacaan Pembukaan UUD’45 oleh petugas upacara.

Pembacaan Pancasila, dipimpin langsung oleh Pembina Upacara dan diikuti oleh segenap peserta upacara.

Pak Camat Andareweng:

Alisacnap.

(Maksudnya: Pancasila.)

Peserta upacara dan warga:

Hah?

Pak Camat Andareweng:

Utas. Nanahutek gnay aseaham.

(Maksudnya: Satu, Ketuhanan yang Mahaesa.)

Warga:

(keheranan)

Apa?

(Sambil terus Pak Camat Andareweng membacakan Pancasila dengan terbalik.)

Uad. Naaisunamek rnay lida nad badareb.

Agit. Nautasrep aisenodni.

Tapme. Nataykarek gnay nipmipid helo tamdihk naanaskajibek malad natarawaysumrep nalikawrep.

Amil. Nalidaek laisos igab hurules taykar aisenodni.

(Maksudnya:

Dua. Kemanusiaan yang Adil dan beradab.

Tiga. Persatuan Indonesia.

Empat. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Lima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia)

(Pak Camat Andareweng tanpa merasa salah membacakan Pancasila, sementara warga kebingungan dengan apa yang keluar dari mulut Pak Camat Andareweng itu. Ada warga yang menyenggol-nyenggolkan sikutnya. Ada yang saling menatap heran. Ada yang tertawa cekikikan. Berbagai ekspresi warga tersebut sekaligus menunjukkan terbuktinya desas-desus selama ini yang mengabarkan bahsa Pak Camat Andareweng sakit aneh. Kata-katanya terbalik.)

Warga A:

Ternyata benar, Pak Camat Andareweng memang terkena penyakit aneh.

Warga B:

Iya, kata-katanya terbalik.

Warga C:

Masa baca Pancasilanya terbalik? Pak Andareweng ini bagaimana?

Warga D:

iya, dia kan Camat, masa tidak hapal pancasila?

Warga E dan F:

Sekarang sudah terbukti memang benar Pak Camat Andareweng menderita penyakit aneh.

Warga A dan B:

Wah, bahaya kalau begini adanya.

Protokol:

Sambutan dari Bapak Camat selaku Pembina Upacara. Kepada Bapak Andareweng, kami persilakan.

Pak Camat Andareweng:

Tamales igab, aynaumes. Malas arethajes.

(Maksudnya: Selamat Pagi, Semuanya. Salam Sejahtera.)

(Warga kembali dibuat bingung. Sementara itu Pak Camat Andareweng meneruskan sambutannya dengan menggunakan pengeras suara.)

Pak Camat Andareweng:

Arap niridah gnay tamrohret. Adap natangirep irah resab ini, tutap atik naknguner, hakhadus atik isapisitrapreb malad nanungabmep…

(maksudnya: para hadirin yang terhormat. Pada peringatan hari besar ini patut kita renungkan sudahkah kita berpartisipasi dalam pembangunan… )

Warga kian bingung dengan apa yang terjadi pada diri Pak Camat. Tetapi, mereka semua semakin yakin bahwa Pak Camat Andareweng memang benar-benar terkena penyakit aneh. Kata-kata yang diucapkannya terbalik. Yang terlihat mengangguk-angguk seolah mengerti pidato itu hanyalah para aparat.

Pak Camat Andareweng sendiri tampak puas dengan apa yang telah dikatakannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menganggap warga yangberjubel memenuhi alun-alun datang karena kecintaan mereka padanya.

Pak Camat Andareweng:

(Merasa dirinya melambung karena dicintai warganya. Hidungnya kembang-kempis ketika mendengar gemuruh tepung tangan hadirin yang sebenarnya dilakukan karena kebiasaan saja.)

Kegemparan masyarakat tak hanya sampai di situ, tetapi timbul sorak-sorai tawa di akhir upacara.

Protokol:

Laporan kepada Pembina Upacara bahwa upacara telah selesai.

Pemimpin Upacara:

Lapor, upacara peringatan Hari Kemerdekaan Repubik Indonesia yang ke-63telah dilaksanakan. Laporan selesai.

Pak Camat Andareweng:

Ilabmek ek tapmet

(maksudnya: kembali ke tempat)

Pemimpin Upacara:

Pais…

(Jawabnya dengan penuh keyakinan sambil tak lupa menghormat.)

Babak 3

Sejak yakin terhadap penyakit yang diderita Pak Camat Andareweng, wajah warga Cikoneng diliputi kegelisahan, dan kecemasan. Mata mereka mendung dan jiwa mereka tertelikung rasa pesimis.

(di simpang jalan)

Warga A:

Kasihan Pak Camat.

(berempati)

Warga B:

Iya, kasihan Pak Camat Andareweng.

Warga C:

Tapi apa yang harus kita lakukan untuk menolong Pak Camat?

Warga B:

Ya, bagaimana? Bagaimana kalau penyakit aneh itu menular pada kita semua?

Warga A:

Sepertinya akan terjadi hal buruk yang menimpa warga kita.

Warga C:

Ssstt.. jangan bilang seperti itu. Nanti bagaimana kalau nanti diamini malaikat? Bagaimanapun kita sebaiknya terus berdoa dan berusaha.

Warga B:

Benar, Pa. kita harus tetap optimis.

Warga A:

Saya permisi dulu, Pak.. mau ngurus KTP ke kecamatan.

Warga C:

Oh, iya. Silakan.

Warga B:

Hati-hati loh, Pa.. (sambil tersenyum)

(Di kantor)

P1:

Ada apa, pak?

Ada apa, kap?

Warga D;

(sedikit bingung)

Saya mau ambil KTP pak? Jadwalnya hari ini sudah jadi

P 1 :

Atas nama siapa?

Sata aman apais?

Warga D:

(Bingung)?

P1 :

Uang administrasinya tigapuluh ribu rupiah, pak?

Gnau aynisartsinimda hulupagit ubir haipur, kap?

Tambah bingung, dengan semakn bingung warga pun setengah lari memninggalkan kantor kecamatan.

Warga D:

Hah, gila, ternyata penyakit pak camat sudah menulari banyak orang, bisa-bisa ini jadi wabah bagi masyarakat.

Narasi:

Pada awalnya masyarakat menganggap gejala itu hanya akan terjadi di lingkungan kecamatan. Tapi ternyata penyakit pak camat Andareweng telah menjalar juga ke lingkungan di tingkat bawah. Para kepala desa dengan stafnya bahkan para pengurus RW dan RT di Cikoneng pun sudah ketularan penyakit aneh tersebut. Yang membuat masyarakat heran adalah mereka yang tertular penyakit ini seperti tak menyadari telah tertular, mereka kelihatan tenang-tenang saja, bahkan sudah banyak menularkan pada yang lain. Tak ayal, keadaan ini membuat masyarakat semakin resah.

Warga E:

(Menulis dan ternyata tulisannya terbalik)

coba menulis lagi, tapi tetap terbalik.

(Ia mengusik-ngusik matanya tak percaya pada penglihatannya, lalu menulis lagi, tapi ternyata kata-kata yang ditulisnya tetap terbalik).

(berlari sambil frustasi)

Ngoloot-ngoloot (Maksudnya minta tolong)

Narasi:

Maka semakin gemparlah penduduk cikoneng. Masing-masing takut bahaya penyakit yang tengah melanda kota kecil mereka.

(Masyarakat bermusyawarah dengan sembunyi-sembunyi)

Warga A:

Kita harus segera mengambil tindakan, kalau tidak penyakit ini akan mewabah ke seluruh warga. Bahaya jadinya bisa-bisa

Warga B:

Ya Bahaya, Ini teror!

Warga C:

Kita kucilkan saja orang-orang yang terkena penyakit?

Warga A:

Tidak mungkin, bagaimanapun mereka pimpinan kita?

Warga C:

Lalu bagaimana sebaiknya?

Warga D:

Kita harus mencari dukun atau dokter ahli untuk menangani penyakit ini?

Warga E:

Ya, tapi ini bukan sembarang penyakit (timpalnya cemas)

Warga B:

Ini benar-benar teror! (timpalnya)

Warga A:

Sssssst…………….

Warga D:

Masih Ingat Mbah Bajik?

Warga A, B, C, E:

Masih, masih……..

Warga C:

Betul! Itu usul bagus. Kita menghadap mbah bajik saja untuk menyelesaikan persoalan ini.

Warga E:

Tapi, dimana dia sekarang? Sudah lama dia menghilang dari kampung kita.

Warga D:

Salah kita memang, selama ini kita telah melupakannya…padahal sebelum dia menghilang, Mbah Bajiklah yang selalu memberi petuah pada kita. Dia memang cerewet, tapi dialah yang mengarahkan jalan kita………

Warga A:

Dimana dia sekarang yaaa?

Warga B:

Kok kita baru ingat dia lagi sekarang yaa?

(rapat menjadi hening, masing-masing orang memutar ingatannya, mereka menduga-duga dimana Mbah Bajik berada)

Warga D:

Saya ingat! (sahutnya)

Saya pernah menddengar kabar, katanya Mbah Bajik sedang bersemedi di Bukit Gumawang………..

Warga B:

Bukit Gumawang? Bukit itu kan jauh dari sini?

Warga A:

Meski jauh, Tapi dialah harapan kita.

Warga C:

Benar tak apa jauh juga, semua memang butuh pengorbanan!

Warga D:

Kalau begitu sekarang juga kita harus pergi ke bukit Gumawang dan mencari mbah bajik?

Pada suatu malam yang cerah, masyarakat Cikonengpun mengadakan pendakian ke tempat Mbah bajik Bertapa, mah Bajik seorang tua yang tubuhnya telah berlumut usia. Sepertinya mbah bajik sudah merasakan ada banyak orang yang mengunjunginya malam itu.

Dari ketinggian Mbah Bajik melihat banyak obor menyala, berbondong-bondong di jalan menuju ke tempatnya. Dari arah obor-obor itu terdengar suara getar merayap di Kesunyian.

Masy:

Mbaaaaah…..Mbah Bajiiiik……….

Tolong kami Mbaaaaah!

Tolong kami…………

Mbah Bajik:

Ada apa kalian malam-malam kemari minta tolong?

Nampaknya kalian diliputi kesedihan yang mendalam? (tegur Mbah Bajik penuh simpati)

Warga D:

Begini Mbah….

(kemudia bercakap-cakap tanpa suara)

Mbah Bajik:

(Kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti dan simpati)

(Sambil duduk bersila, mengucapkan doa-doa dengan khusu, Berulang kali ia seperti kehilangan konsentrasi)

(ia mengulangi lagi doanya dan semakin menunduk dengan suaranya yang riuh)

Tiba-tiba angin berhembus sangat-sangat kencang, lalu tubuh Mbah Bajik terhemapas tumbang lalu pingsan. Masyarakat segera menolong Mbah Bajik Semampunya. Untunglah tak lama kemudian mbah Bajik Siuman, seseorang memberinya nafas bantuan.

Mbah Bajik:

Kali ini aku tak bisa menolong kalian (ucap Mbah Bajik lemah)

Masy:

Apa Mbah?

Mbah Bajik:

Penyakit mereka sudah sangat parah dan mereka membentengi dir dengan kekuatan berlapis-lapis. Kalau aku menembus kekuatan-kekuatan itu, kita semua akan mati mengenaskan!

Warga D:

Lantas, apa yang harus kami lakukan, Mbah?

Mbah Bajik:

Jalankan kehidupan kalian sebagaimana bisanya. Yang bisa kalian laukan hanyalah menjada agar penyakit mereka tak menular pada kalian….sekarang, kalian pulanglah….

Siang harinya masyarakat dikejutkan oleh berita bahwa Mbah Bajik diseret paksa oleh serombongan Polisi dengan tuduhan memimpin rapat gelap dan Mbah bajik kini berada di Sel. Masyarakat pun tak bisa menerimanya, mereka berunjuk rasa di depan kecamatan.

Warga A:

Mbah bajik Ditangkap Polisi!

Warga B:

Mbah bajik di Bui!

Warga C:

Mbah Bajik Ditudu memimpin rapat gelap!

Warga A:

Apa-apaan ini, padahal Mbah Bajik telah menolong kita semua?

Warga C:

Mbah Bajik Dituduh memimpin rapat gelap, Kang!

Warga A:

Ya, pasti perbuatan kita tadi malam

Warga D:

Mbah Bajik tak bersalah, Keadilan harus ditegakan!

Warga B:

Ya, kebijaksanaan harus ditegakan!

Warga D:

Mbah Bajik tidak bersalah…Mbah Bajik harus segera dibebaskan

Warga C:

Dia sama seklai tidak bersalah

Warga A:

Aneh, Orang baik kok disangka jahat….

Beberapa orang menerobos ke dalam kantor kecamatan dan menjadi juru bicara, mengemukakan tuntutan masyarakat. Pak Camat Andareweng dan bawahannya hanya terbengong-bengong dan sama sekali tak bisa menanggapi.

Warga A:

Kami ingin penjelasan, pak. Mengapa Mbah Bajik ditangkap? Mengapa dituduh memimpin rapat gelap?

Warga B:

Iya pak? Kenapa Pak?

(Pak Camat dan Stafnya Bengong)

Warga A:

Pak, kami ingin mendapat penjelasan? Kenapa Mbah Bajik ditahan?

Warga B:

Mbah Bajik tak bersalah, Pak!

Warga C:

Semalam kami bersama beliau, berusaha menyembuhkan penyakit yang tengah mewabah di kota kita. Termasuk Bapak!

Warga B:

Mbah Bajik Sebenarnya ingin menolong kita, pak?

Warga A:

Pak, kmai mohon penjelasannya,

Warga B:

Mbah Bajik harus segera dibebaskan, Beliau tidak bersalah dan kita harus menegakan keadilan…

Warga C:

Benar, Mbah Bajik harus segera dibebaskan, dia tidak bersalah.Anda salah paham!

Pak Camat:

Apa yang mereka ucapkan?

Apa gnai akerem nakpacu?

Stafnya:

Kami juga tak mengerti pak…

Imak aguj kat itregnem kap…

(jawabnya)

Pak Camat:

Kalau begitu kita sama, kita tidak mengerti kata-kata mereka

Ualak utiget atik amas, atik kadit itregnem atak-atak akerem

(Celetuk Pak Camat Andareweng dengan kata-kata terbalik dan mereka pun tertawa dengan suara terbalik)

Ah…ah…ah…..ah..aaaaah

Bersastra dalam Penjara

Bersastra dalam Penjara
1.    Aku mendapat kepercayaan
2.    Aku pun mencoba
3.    Anak yang memilih drama hanya sedikit, yaitu 3 orang, Devi, Ilham, Opik.
4.    Mereka konsisten dengan rekan sebidang yang hanya tiga
5.    Pada awalnya tak ada yang berani bicara Opik terutama
6.    Lalu aku mulai memfasilitasi ide untuk bahan drama
7.    Mereka member ide tentang cerita lucu tentang si Asep jadi Raja
8.    Mereka memberi ide, tentang sebuah pertaubatan, tapi yang dominan justru sarkasmenya.
9.    Anak2 mulai jenuh, aku pun menawarkan sebuah scenario gubahan untuk didiskusikan.
10.    Mereka setuju, tapi dengan beberapa perubahan yang kita sepakati bersama untuk kualitas drama
11.    Kami latihan, dengan kondisi ruangan yang sempit, dengan banyak anak yang berlatih music+kriya. Konsentrasipun diuji.
12.    Aku berperan sebagai narrator, dan yang lainnya menjadi tokoh, yang mereka sepakati bersama.
13.    Kami berlatih membaca naskah.
14.    Aku terkejut, membacapun mereka terbata-bata
15.    Anehnya, scenario tokoh andareweng yang bicaranya terbalik, sangat mudah diperankan oleh Opik.
16.    Kami mulai mengeksplorasi cerita.
17.    Melakukan latihan-latihan penjiwaan.
18.    Anak-anak mengingat kembali pengalaman terbaiknya, dan menceritakannya,
19.    Inginnya bias mempraktikannya, tp mereka tidak mau
20.    Mereka membayangkan suatu yang diinginkannya, mimpi. Dan menceritakannya
21.    Untuk merangsang kepekaan dan imajinasi, serta literasi, aku memfasilitasi beberapa bahan bacaan cerpen pilihan kompas.
22.    Anak-anak melakukan resepsi dan apresiasi terhadap cerpen tsb.
23.    Anak difasilitasi alat tulis, untuk merangsang menulis
24.    Anak kembali berlatih drama. Membaca sudah dengan intonasi.
25.    Sekali waktu saya memasukan orang baru untuk menggantikan narrator, mereka sudah bias melakukan kritik, terhadap gaya, intonasi, pemenggalan kalimat, dan gema.
26.    Anak-anak sudah bias saling mengoreksi untuk menjadi lebih baik.
27.    Latihan, bertambah 2 pemain baru. Jumlahnya jadi 5 orang
28.    Mereka menjadi satu tim yang solid. Dengan kelompok kecil, menyadari bahwa perannya sama penting. Dan, satu sama lain saling berempati dengan menjaga kekompakan untuk sebuah kehadiran.
29.    Nurdin, salah satu anak baru keluar duluan. Mereka memutuskan untuk melanjutkan drama karena tanpa tokoh Nurdinpun tema cerita dan alur takkan begitu terpengaruh. Mereka sudah bias mengambil keputusan, dengan pertimbangan dan kajian.
30.    Analisa kostum dan property.
31.    Devi, mengubah tokohnya menjadi seorang wanita.
32.    Anak-anak menggubah kembali akhir cerita menjadi scenario baru.
33.    Anak-anak pentas meski tanpa aku.
34.    Harapanm mereka bias bermain drama dengan orang yang sudah ahli.

Perubahan-perubahan
1.    Diam tanpa ekspresi
2.    Mulai berekspresi
3.    Mengingat pengalaman terbaik
4.    Bermimpi
5.    Melakukan kritik.
6.    Membuat keputusan melanjutkan drama tanpa tokoh nurdin
7.    Menganalisa kondisi zaman dan menuangkannya dalam skenario
8.    Menentukan kostum
9.    Main tanpa pendamping.
10.    Tempat lat yang sangat tdk memadai
11.    Tidak ada tata letak panggung
12.    Therapeutic casting
13.    Tata rias
14.    Bukan teater bernuansa hitam sepereti yang sering kumainkan
15.    Buka teori dan pementasan
16.    Drama dalam Penjara
17.    Bukankah dunia ada di tangan para pemimpi? Andaikata Thomas Alva Edison tidak bermimpi untuk membuat lampu, maka aktivitas manusia tentu takkan seaktif saat ini. Apabila Wright bersaudara tidak memiliki mimpi untuk terbang, mungkin hingga kini kita tidak akan mengenal pesawat terbang.
18.    Louis Pasteur  telah mengubah kepedihan atas kehilangan tiga putrinya karena penyakit menjadi sebuah mimpi untuk menyelamatkan banyak orang, dan ia berhasil menemukan vaksin. Juga Albert Einstein, berbekal mimpi ia menjadi fisikawan terbaik abad 20 dengan penemuannya yang tersohor (persamaan kesetaraan massa  energi, dan teori relativitas). Demikian pula, Thomas Alva Edison pemegang lebih dari 1300 hak paten.
19.    Hellen Keller, wanita bisu, tuli dan buta sejak kecil adalah wanita pertama yang memperoleh gelar sarjana dari universitas Harvard. Shakespeare, seorang yang lumpuh tetapi mampu mengarang sandiwara terbaik di dunia. Beethoven, seorang tuna rungu yang mampu menggubah aransemen musik klasik terindah. Franklin Delano Roosevelt  lumpuh sejak usia 39 tahun, tetapi justru menjadi satu-satunya presiden dalam sejarah Amerika yang dipilih 4 kali. Mereka, dia, kita, kami, kamu, dan saya pasti punya mimpi. Mimpi saya kali ini adalah melihat senyum anak-anak berkonflik hukum.

Melalui drama, kami hendak membuka gerbang mimpi para napi.

salam.

Dheka Dwi Agusti A.