12 Mei 2009 pada 20:58 (Abstrak)
ABSTRACT
A language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social groups (Bloch and Trager (1942:5)).
Language is a system of communication by sound, through the organs of speech and hearing among human beings of a certain group or community, using vocal symbol possessing arbitrary conventional meanings.(Pei and Gaynor (1954 :19)).
Based on two theories from linguist. A language has two principal concept are arbitrary and conventional. For example is clown with their jokes. Because language (especially: oral tongue) is articulate general communication.
Since clown has been exist in Indonesia for more than 10 years, it’s important to review and research the language of joke existence as well as it’s content we know about vocable of clown cam make our laugh. Because they have characteristics performance. The arbitrary and conventional of it make they well-known on public that interpretation within the characteristics word spelling which is considered symbols from their jokes.
Looking at language naively, one perceives two fundamental aspects. Language is used for the expression of thoughts, and the choice of linguistics means used for the expression of a specific idea varies depending on a number of contextual parameters.
The occurrence of alternative linguistic expressions is related on all levels to contextual parameters: the relative priority of specific languages, specific sociolects or dialects, specific registers and specific utterans. As a consequence, the study of language as a whole must involve the analysis of both the iternal and the contextual phenomena.
Tinggalkan sebuah Komentar
12 Mei 2009 pada 16:56 (Abstrak)
Tags: Abstrak, babalikan pungkas muhu, jampe poko, kaulinan buda, kawih, pramodern sunda, simbol seni
ABSTRAK
Penelitian yang berjudul Babalikan Pungkas-Muhu (Repetisi Anadiolosis) sebagai Simbol Seni Pramodern Sunda (Kajian Hermeneutika terhadap Kawih Kaulinan Budak dan Poko Jampe) ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap artefak budaya Sunda yang berbentuk gaya bahasa babalikan pungkas-muhu yang merupakan perulangan bunyi, suku kata, kata atau bahkan frasa akhir sebuah larik yang digunakan kembali sebagai awal bunyi, suku kata, kata atau bahkan frasa larik selanjutnya. Penelitian ini penulis lakukan sebagai upaya inventarisasi dan dokumentasi babalikan pungkas-muhu, gaya bahasa yang terdapat dalam kawih kaulinan budak dan poko jampe sebagai bentuk folklor lisan Sunda. Kemudian, menggali makna dan hakikat simbol yang dapat merepresentasikan pola pikir komunitas penghasil simbol tersebut yaitu masyarakat pramodern Sunda.
Penelitian deskriptif yang dilakukan ini bersifat kualitatif. Interpretasi sinkronik yang penulis lakukan berupaya menafsirkan simbol berdasarkan pada latar atau habitat budayanya sendiri. Secara sederhana penelitian dilakukan dalam tiga tahap: pengumpulan data, analisis, dan penulisan laporan.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa fungsi simbol dalam masyarakat pramodern Sunda adalah sebagai media penghimpun daya-daya (transenden). Interpretasi penulis terhadap simbol yang berupa gaya bahasa babalikan pungkas-muhu ini adalah mengenai emanasi Tuhan yang kemudian menghasilkan pluralitas, pluralitas menghasilkan hal-hal yang paradoks, dan hal-hal (dualisme atau alam papasangan) yang paradoks ini dapat menghadirkan entitas ketiga yaitu daya-daya (transenden) yang diperlukan manusia untuk memperoleh keseimbangan hidup. Bagi manusia pramodern, dirinya adalah bagian dari alam semesta, dan semesta itu hidup sebagaimana ada kehidupan yang dijalani oleh dirinya.
Hal ini merupakan wujud dari sistem kepercayaan dan pengetahuan masyarakat pramodern Sunda, pola pikir nenek moyang kita, yang mana dari merekalah kita lahir dan berkembang. Meneliti simbol-simbol kebudayaan tradisional yang berwujud gaya bahasa belum banyak dilakukan, padahal seperti apa yang dikatakan oleh para ahli bahasa Gorys Keraf, Henry Guntur Tarigan, Ahmad Badrun, dan Yus Rusyana bahwa gaya bahasa adalah bentuk ungkapan diri melalui bahasa, yang dapat pula membangkitkan imajinasi, dan digunakan untuk mencapai efek tertentu. Oleh karena itu, kita dapat menggali banyak hal terutama yang berkaitan dengan sejarah diri kita melalui gaya bahasa.
Kata kunci: babalikan pungkas muhu, simbol seni pramodern sunda, kawih kaulinan budak, jampe poko.
Tinggalkan sebuah Komentar