PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: ‘Wakil Rakyat’ Perlu Direvisi

Wakil Rakyat’ Perlu Direvisi

(Kajian Metafor ‘Wakil Rakyat’ dalam Lirik Lagu Iwan Fals yang Berjudul Surat Buat Wakil Rakyat)

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Kemarin malam di satu televisi swasta yang fokus dengan siaran beritanya, ada sebuah acara yang disiarkan secara langsung dan membuka layanan interaktif baik melalui telepon dan sms (short message service) alias pesan pendek. Seperti biasa dalam acara tersebut hadir satu nara sumber dan satu pembawa acara. Tak seperti biasa, keduanya tertawa ketika mendengar seorang dari balik telepon mengatakan “Para pejabat ini sudah goblok, padahal mereka semua kan sarjana, tidak ada yang cuma lulusan SMA ………” mereka memang tak terbahak-bahak, tapi tawa itu terlihat cukup spontan. Tak kalah serunya dari penelpon yang mengatakan bahwa pejabat (maaf) goblok, ada beberapa pesan pendek yang ditayangkan disebelah kanan layar kaca, diantaranya adalah “Kalau wakil rakyat terus mengulang kesalahan, bagaimana mau mengurus rakyat”. Dua komentar yang menanggapi satu objek yaitu mengenai ricuh-ricuh para anggota dewan.

Entah kapan metaphor ini lahir, reformasikah? Orde baru? Orde lama? Atau bahkan sejak tahun empat lima? Namun, yang jelas ketika mau membuka mata, telinga, hati dan pikiran, melihat orang-orang di ‘bawah’ sana, metaphor ini sepertinya tak berlaku lagi. Sebab nyatanya tak ada para pejabat yang katanya wakil rakyat bisa benar-benar mewakili mereka sebagai rakyat, rakyat Indonesia tentunya.

Kenyataan bahwa masih sangat banyaknya rakyat yang belum atau bahkan tidak terwakili, sepertinya membuat metaphor ‘wakil rakyat’ perlu direvisi, yang kemudian dibakukan saja ke dalam deretan makna konotasi. Atau jika keadaan memang tak kunjung berubah, barang kali wakil rakyat ini dapat dimasukkan saja ke dalam kamus sebagai salah satu entri yang arkais.

Penggunaan metaphor beserta makna yang dikandungnya ini memang sudah mengonvensi di masyarakat, banyak kolektif maupun individu yang menyebutkan dirinya sebagai wakil rakyat. Penggunaan metaphor wakil rakyat untuk mengganti kata pejabat yang terlalu identik dengan kekuasaan seyogiyanya dapat benar-benar mewakili rakyat, aspirasi, dan lain sebagainya. Jika dianalisis metaphor ini dapat berarti luas, tidak sekedar menjadi pronominal bagi para pejabat di atas sana, tetapi juga kroco-kroconya bahkan hingga ke tingkat RT alias Rukun Tetangga. Orang yang menjadi ketua RT di suatu daerah, atau yang biasanya disebut Pak RT juga merupakan wakil rakyat, yah, meskipun bebannya tak begitu berat, sekitar mewakili rakyatnya dalam mengurus pembuatan KTP. Namun, itu lebih baik, dari pada tidak mewakili sama sekali. Wong wakil rakyat kaliber nasional saja tak banyak aksi untuk mewakili rakyat. Duitnya saja yang gede, tak seperti Pak RT yang bolak-balik kecamatan mengurus KTP dengan untung paling selawe.

Metaphor ini cukup laris manis di pasaran, dalam kancah politik terutama kampanye, dalam dunia pemberitaan, wacana, artikel, bahkan lirik lagu, baik sebagai pronomina, ironi, atau yang lainnya. Dalam lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Surat Buat Wakil Rakyat terasa ada satu deskripsi yang berbeda mengenai sosok wakil rakyat dengan yang biasanya ditampilkan. Pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 yang bernama lengkap Virgiawan Listanto ini seakan-akan menyibak dan berani membuka satu tabir yang awalnya tak melekat dalam metaphor ini. Penyanyi beraliran balada yang pernah diliput oleh Majalah Time Asia edisi 29 April 2002 dan diberi julukan sebagai Pahlawan Besar Asia (Asian Heroes) ini kerap memotret suasana sosial kehidupan di Indonesia lewat lagu-lagunya.

Jika metaphor wakil rakyat biasa dimaknai sebagai anggota dewan, Bang Iwan, begitu sapaan akrabnya, medeskripsikan pronomina tersebut dengan lirik “Untukmu yang duduk sambil diskusi, untukmu yang biasa bersafari di sana, di gedung DPR”. Kemudian mengenai loyalitas bagi mereka yang menginginkan disebut dengan metaphor ini seharusnya mengerti bahwa “Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat, apalagi sanak famili.” Kata wakil dalam metaphor wakil rakyat seharusnya sudah menjadi sebuah legitimasi bahwa mereka harus mampu mewakili, menjadi wakil bagi rakyatnya. Tentunya manusia yang terpilih menjadi wakil ini sudah harus masuk standar sebagai orang hebat. Memiliki hati nurani, akal dan nalar, serta keberanian yang hebat untuk mewakili berjuta kepala rakya dalam satu kepalanya. Di hati dan lidahmu kami berharap suara kami tolong dengarlah. Kusampaikan. Jangan ragu, jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam. Di kantong safarimu kami titipkan masa depan kami dan negeri ini dari sabang sampai merauke.

Metaphor ini ada pasti karena adanya satu subjek yang menjadi referennya. Pengangkatan para subjek yang menjadi wakil rakyat ini tentunya sudah dipersiapkan matang, seperti KPUD yang saat ini tengah sibuk memverifikasi jumlah harta kekayaan para calon gubuernur DKI Jakarta. Sebuah proses yang tidak mudah menjadi seorang wakil rakyat, selain harus memiliki kualifikasi juga harus berhasil merebut hati rakyat meskipun rakyat tak kenal siapa yang mereka pilih dan menjadi tempat mereka menggantungkan nasib esok hari. Saudara dipilih bukan dilotre, meskipun kami tak kenal siapa saudara.

Kami tak sudi memilih juara. Juara diam, juara heueuh, juara hahaha. Dan, terakhir penyanyi dan komposer yang produktif ini menggoreskan pena sebagai akhir bagi liriknya yaitu

Wakil rakyat seharusnya merakyat.

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat.

Wakil rakyat bukan paduan suara.

Hanya tahu nyanyian lagu sedu.

Demikian metaphor wakil rakyat dimaknai oleh seorang Iwan Fals dalam salah satu lagu yang membuat namanya popular, serta berhasil memopulerkan makna lain dibalik metaphor wakil rakyat. Di mana saat ini penggunaan metaphor tersebut sudah lebih dapat terlihat kekonotasiaannya. Sebutan wakil rakyat kini tak lagi dielu-elukan sebagai manusia setengah dewa, bahkan mungkin ada yang beberapa yang justru hanya menjadi seorang badut MPR, tetapi sudah selayaknyalah metaphor wakil rakyat memang benar-benar menjadi jembatan bagi suara hati dari balada orang-orang pedalaman dan ikrar dalam senandung lirih, untuk para pengabdi, untukmu negri. Tolong dengar Tuhan.

KAIDAH TRANSFORMASIONAL

KAIDAH TRANSFORMASIONAL

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Transformasi Tunggal

Transformasi ini mengubah bagian atau sebuah kalimat menjadi bagian atau sebuah kalimat lain yang berbeda strukturnya.

Contoh :

Kaidah T.1 Imperatif :

(Kalimat imperatif diasumsikan mempunyai Struktur Batin kalimat berita dengan subyek persona kedua, ditambah dengan pemadu imperatif. Dengan menghapuskan subyek persona kedua dan pemadu imperatif itu diperoleh kalimat imperatif itu, seperti berikut :)

(meN)

SD : (X) Per2                         Kj (Afk) (Y)

(ber)

(meN)

ST : IMP + (X) Per2                                Kj (Afk) (Y)

(ber)

O

Kj (Afk) (Y) (X)

(ber)

C : 1. IMP + Engkau membaca koran hari ini Baca koran hari ini!

2. IMP + Besok saudara menulis cerita itu Tulis cerita itu besok!

3. IMP + Anda berhemat tahun ini Berhemat tahun ini!

Catatan:

Kj ialah tanda untuk pokok kata kerja; Afk = afiks kata kerja; X, Y (dan juga Z dan W) biasa dipakai sebagai tanda perangkum, yang dapat berujud untaian apa saja sesuai dengan struktur kalimat yang dibicarakan.

Kaidah T.2 Pertanyaan-1:

Tiap kalimat dasar dapat dijadikan kalimat tanya hanya dengan membubuhkan kata apa di depannya.

SD: K

ST: T + K apa + K

C: 1. T + Anak itu makan kacang Apa anak itu makan kacang?

2. T + Orang itu marah sekali Apa orang itu marah sekali?

Catatan:

T adalah tanda bagi pemadu Tanya, seperti juga IMP adalah tanda bagi pemadu Imperatif. Kalimat tanya yang dihasilkan oleh Kaidah T.2 ini dapat juga disebut pertanyaan ya-bukan (tidak), karena jawaban kepada pertanyaan itu cukup dengan “Ya” untuk mengiakan, dan “Tidak (Bukan)” untuk menyangkalnya.

Kaidah T.3 Pertanyaan-2:

Ada dua macam apa, yang satu ialah kata bantu kalimat tanya seperti yang dipakai oleh T.2, yang lainnya lagi ialah kata tanya yang menanyakan sesuatu (bukan seseorang). Kalimat tanya macam yang kedua itu seperti berikut ini kaidahnya:

C:

SD………………X……

GB-ins                       siapa

GB-ins                       apa

GK                              mengapa

ST:T GS, C bagaimana

Gbil                           berapa

GD D +                      mana

W                                bila(mana)

Etc                             Etc

C: T + Anak itu membeli buku Siapa membeli buku?

T + Anak itu membeli buku Anak itu mengapa?

T + Anak itu membeli buku Anak itu membeli apa?

Kaidah T.4 Fokus-1:

Fokus ialah pemusatan perhatian. Pada BI ada beberapa cara untuk memusatkan perhatian pada sebagian daripada kalimat. Salah satu cara ialah dengan meletakkan bagian yang diperhatikan itu pada awal kalimat. Pemindahan ini biasa juga disebut dengan permutasi, tetapi permutasi pada BI mempunyai fungsi pemfokusan, kaidahnya seperti berikut:

SD: GB (M) (ASP) (AUX) GPD (ADV)

ST: FOK + GB + M + ASP + AUX + GPD + ADV X1 + X2 + X3

X4 + X5 + X6

: X = GB, M, ASP, AUX, GPD, ADV

dan ASP (X) AUX (Y) GPD dengan

urutan seperti itu.

C: FOK + Anak itu rupanya akan dapat bermain piano dengan terampilnya sekarang

  1. Rupanya anak itu akan dapat bermain piano dengan terampilnya sekarang.

  2. Rupanya sekarang anak itu akan dapat bermain dengan terampilnya.

  3. Sekarang anak itu rupanya dengan terampilnya akan dapat bermain piano.

Kaidah T.5 Fokus-2:

Dengan menggunakan konstruksi Pasif. Pemusatan perhatian pada subyek GB ialah dengan konstruksi aktif, sedangkan pemusatan kepada obyek GB dilakukan dengan konstruksi pasif, karena cara lain tidak mungkin. Contoh kaidahnya:

SD : GB1 (X) KE + GB2 (Y)

ST : FOK + GB1 (X) KE + GB2 (Y) GB2 (X) KE (oleh) GB1 (Y)

C : FOK + Guru itu membeli rumah ini Rumah ini dibeli guru itu.

Catatan:

Di atas ini kata kerja tidak dinyatakan dengan jelas tentang afiksasinya. Hal ini memang disengaja, karena afiksasi dimasukan ke dalam ciri-ciri leksikal, seperti <+aktif> dan <-aktif>, yaitu bahwa yang pertama biasa memperoleh awalan meN-, sedangkan yang kedua biasa mendapat awalan di-. Ini penting sekali untuk dapat menandai Struktur Batin.

Kaidah T.6 Nominalisasi-1:

Tiga macam saja, yang semuanya diturunkan dari kata kerja. Ada tiga pengertian yang ditimbulkan oleh nominalisasi yang diturunkan dari kata kerja ini. Pertama yang mempunyai pengertian “proses”, kedua yang mempunyai pengertian “hasil”, dan ketiga yang mempunyai pengertian “pelaku”. Dan konstruksinya berbeda-beda. Contohnya:

meN

SD: (X) Kj (Afk) (Y)

ber

meN peN

ST: NOM (X) Kj (Afk) (Y) Kj + an (X) (Y)

ber per

C: 1. NOM + Perempuan itu membeli beras Pembelian beras (oleh) perempuan itu…………

2. NOM + Anak itu bermain Permainan anak itu…………..

Catatan:

Perlu diberitahukan di sini, bahwa tidak semua kata kerja dapat diperlakukan seperti kaidah ini. Sebuah contoh ialah kata kerja beradu peraduan, tidaklah sesuai dengan kaidah ini, karena peraduan bukanlah proses, melainkan tempat. Sejumlah kata kerja yang tidak mempunyai awalan meN atau ber, akan tetap bentuknya sebagai proses, seperti tidur, duduk, makan, minum, terbang, dan lain sebagainya.

Kaidah T.7 Nominalisasi-2:

Nominalisasi yang mempunyai pengertian “hasil” seperti diberikan pada catatan Kaidah T.6 di atas tidak semua kata kerja dengan bentuk-bentuk ini mempunyai transformasi yang sama, sehingga kaidah ini hendaknya diperlakukan secara selektif. Baru jika semua kata kerja telah dikelompok-kelompokkan, akan diketahui yang mana dapat dikenai kaidah-kaidah ini.

meN

SD: (X) Kj (Afk) (Y)

ber

meN

ST: NOM (X) Kj (Afk) (Y) Kj (an) (X) (Y)

ber

C: 1. NOM + Guru itu menulis di papan tulis Tulisan (guru itu) di papan tulis………..

2. NOM + Gadis itu bernyanyi Nyanyian gadis itu……………

Catatan:

Di sini pun kami nyatakan bahwa akhiran an adalah manasuka untuk memberikan kemungkinan bagi kata-kata kerja yang tidak mendapatkan afiks memperoleh nominalisasi ini, khususnya kata kerja seperti tidur, duduk, bangun, dsb, biarpun kata kerja seperti minum, makan, dsb, dapat pula dikenakan kaidah ini.

Kaidah T.8 Nominalisasi-3:

Kata kerja yang lain selain pada kaidah T.6 dan T.7. kaidah ini seperti berikut:

meN

SD: (X) Kj (Afk) (Y)

ber

meN

ST: NOM (X) Kj (Afk) (Y) pe (N) + Kj (X) (Y)

ber

C: 1. Orang itu mencuri ayam Pencuri ayam itu…………

2. Orang itu bermain bola Pemain bola itu…………….

Kaidah T.9 Posesif-1:

Kaidah ini mesti dibagi dua, karena ada dua anggotanya yang memerlukan kaidah itu, sebab sebuah saja tidak cukup bagi kedua anggota itu. Secara puristis sebenarnya hanya ada tiga posesif saja dalam BI, yaitu bagi persona pertama, kedua dan ketiga, yang biasa dituliskan menjadi satu dengan Gatra Benda yang dimiliki, yaitu posesif ku, mu, dan nya masing-masing. Adapun yang lain hanyalah merupakan “pemindaha lingkungan” saja. Biarpun demikian ku, mu, dan nya kami jadikan satu dengan golongan pertama, dan berikut inilah kaidah itu dengan contohnya:

SD: GB-1 + punya + GB-2 (X)

aku ku

engkau mu

ia nya

saya saya

kami

ST: POS kita punya + GB-2 (X) GB-2

anda

kamu

tuan tuan

etc etc

Nama Nama

B(PEN) B(PEN)

C: 1. POS + Aku punya buku bukuku………….

2. POS + Kursi itu punya kaki kaki kursi itu…………..

Kaidah T.10 Posesif-2:

Kaidah ini adalah kelanjutan daripada posesif GB yang berujud Nama dan B(PEN). Karena ungkapan-ungkapan buku Pratiwi, sepeda Yanto, tas Hamid, dan rumah petani itu adalah gramatikal, maka pada Kaidah 9 ungkapan-ungkapan itu merupakan output-nya. Tetapi ungkapan-ungkapan itu masih dapat dilanjutkan pada posesif akhir dan untuk itulah kaidah ini diberikan sebagai contoh:

Nama

SD: (X) GB-1 (Y)

GB-2

Nama

ST: POS (X) GB-1 (Y) (X) GB-1 + nya (Y)

GB-2

C: POS + kucing Dewi kucingnya

Transformasi Rapatan

Dengan berbagai operator dua Penanda Gatra atau lebih yang setara dapat digabungkan menjadi sebuah kalimat rumit dan hasil dari Transformasi Rapatan. Contoh kaidah-kaidah Transformasi Rapatan diantaranya.

Kaidah T.11 Serial -1:

SD: (X) GB-1 + GPD (Y), (X) GB-2 + GPD (Y)

ST: (X) GB-1 + GPD (Y)

+ dan

(X) GB-2 + GPD (Y)

Per 1 Per 2

B dan B (PEN) GPD

Nama Nama

C: Guru itu membaca koran

+ dan

Murid-murid itu membaca koran

Guru dan murid-murid itu membaca koran.

Kaidah T.12 Serial-2:

SD: (X) GB + GPD-1 (Y), (X) GB + GPD-2 (Y)

ST: (X) GB + GPD-1 (Y) dan

+

(X) GB + GPD-2 (Y) lalu

dan

  1. GB + GPD-1 GPD-2 (Y)

lalu

C: 1. Orang itu membeli rumah

+ lalu

Orang itu berenang di pantai

Orang itu membeli rumah lalu berenang di pantai.

2. Petani itu rajin

+ dan Petani itu rajin dan giat.

Petani itu giat

Kaidah T.13 Serial Emfatik-1:

SD: (X) GB-1 + GPD (Y), (X) GB-2 + GPD (Y)

ST: (X) GB-1 + GPD (Y)

+ dan……juga

(X) GB-2 + GPD (Y)

(X) GB-1 + GPD + dan + GB-2 + juga (Y)

C: Perempuan itu makan nasi

+ dan……juga

Laki-laki itu makan nasi

Perempuan itu makan nasi dan laki-laki itu juga.

Kaidah T.14 Serial Emfatik-2:

SD: (X) GB-1 + GPD (Y), (X) GB-2 + GPD (Y)

ST: (X) GB-1 + GPD (Y)

+ baik……maupun

(X) GB-2 + GPD (Y)

(X) baik GB-1 + maupun GB-2 + GPD (Y)

C: 1. Laki-laki itu makan nasi ramas

+ baik……maupun

Perempuan itu makan nasi ramas

Baik laki-laki itu maupun perempuan itu makan nasi ramas.

Kaidah T.15 Kontras-1:

SD: (X) GB + NEG + GPD-1 (Y), (X) GB + GPD-1 (Y)

ST: (X) GB + NEG + GPD-1 (Y) melainkan

+ (X) GB +

(X) GB + GPD-1 (Y) tetapi

bukan (nya) + GPD-1 (Y) melainkan + GPD-1 (Y)

C: Orang itu tidak makan gulai kambing

+ melainkan

Orang itu minum es kelapa muda

Orang itu bukan (nya) makan gulai kambing melainkan minum es kelapa muda.

Kaidah T .16 Kontras-2:

SD: (X) GB-1 + NEG + GPD (Y), (X) GB-2 + GPD (Y)

ST: (X) GB-1 + NEG + GPD (Y)

+ melainkan / tetapi (X) bukan GB-1

(X) GB-2 + GPD (Y)

+ yang + GPD + melainkan GB-2 (Y)

C: Amat tidak menanam cengkeh

+ melainkan

Pak Ali menanam cengkeh

Bukan Amat yang menanam cengkeh, melainkan Pak Ali.

Kaidah T.17 Temporal:

SD: K-1 , K-2

ST: K-1

+ sewaktu K-1 + sewaktu + K-2

K-2

C: Kuda kami lepas

+ sewaktu Kuda kami lepas sewaktu kami masuk Kami masuk rumah rumah.

Kaidah T.18 Kondisional:

SD: K-1 , K-2

ST: K-1

+ jika(lau) K-1 + jika + K-2

K-2

C: Amat mau masuk sekolah

+ jika Amat mau masuk sekolah, jika Ibu Ibu memberinya belanja memberinya belanja.

Kaidah T.19 Komparatif:

SD: (X) GB-1 + GPD (Y), (X) GB-2 + GPD (Y)

ST: (X) GB-1 + GPD (Y)

+ seperti (X) GB-1 + GPD (Y) seperti (X) GB-2

(X) GB-2 + GPD (Y)

C: Gadis itu cantik

+ seperti Gadis itu cantik seperti bidadari.

Bidadari cantik

Kaidah T.20 Volitif:

SD: (X) GB + GPD-1 (Y), (X) GB + GPD-2 (Y)

ST: (X) GB + GPD-1 (Y)

+ untuk (X) GB + GPD-1 + untuk + GPD-2 (Y)

(X) GB + GPD-2 (Y)

C: Perempuan itu pergi ke dokter

+ untuk Perempuan itu pergi ke dokter untuk memperoleh obat bagi penyakitnya.

Perempuan itu memperoleh obat bagi

penyakitnya

Transformasi Sematan

Kaidah T.21 Atributif-1:

SD: SM K-1

GB-1 GPD

B PEN KE ADV

D GB

Gadis itu berjemur di kebun

SP K-2

GB GPD

B PEN GS

S Peng

gadis itu manis benar

maka struktur rapatan itu menjadi:

ST K-1

GB GPD

B K-2 PEN KE ADV

GB GPD-2 D GB

GS

S Peng

gadis yang manis benar itu berjemur di kebun

C: SM Orang itu menangkap pencuri

 Orang yang lihai itu menangkap pencuri

SP Orang itu lihai

Kaidah T.22 Atributif-2:

SD: SM K-1

GB-1 ASP GK

B POS-1j KE GB-2

B PEN

guru kami sedang membaca buku itu

SP K-2

GB GK

B PEN KE ADV

D GB-3

B Nama

buku itu dijual di buku Sarinah

dan kita terapkan kaidah ini sehingga membangkitkan sematan:

ST K-1

GB ASP GK

B PEN KE GB-2

B K-2 PEN

GB GK

KE ADV

D GB

B Nama

guru itu sedang mem- buku yang dijual di toko buku Sarinah

baca

C: SM Ahmad membeli kuda itu sekarang

SP Kuda itu nakal sekali

Ahmad membeli kuda yang nakal sekali itu sekarang.

Kaidah T.23 Komplemen Gatra Benda:

SD: SM K-1

GB GS

B PEN S

kenyataan itu jelas

SP K-2

GB GK

B POS-3 KE ADV

D GB

Suami nya dikirim ke Kalimantan

Dengan menerapkan kaidah ini akan diperoleh:

ST: K-1

GB GPD

B K-2 PEN

bahwa GB GPD GS

B POS-3 GK S

KE ADV

D GB

kenyataan bahwa suami nya dikirim ke Kalimantan itu jelas

C: Komplemen Subyek:

SM Pendapat itu menggairahkan si tua-bangka itu

SP Kolesom mempertinggi daya-tahan

Pendapat bahwa kolesom mempertinggi daya tahan itu menggairahkan si tua-bangka itu.

Komplemen Obyek:

SM Salim menyangkal berita itu

Pak Karto mencuri ayam

Salim menyangkal berita bahwa Pak Karto mencuri ayam.

Kaidah T.24 Komplemen Gatra-Kerja:

SM Perempuan itu membujuk anaknya.

K-1

GB-1 GK

B PEN KE GB-2

B POS-3

perempuan itu membujuk anak nya

serta kalimat pemadu:

SP Anaknya membeli rumah di kota.

K-2

GB-1 GK

B POS-3 KE GB-2

B ADV

D GB-3

anak nya membeli rumah di kota

Disematkan menjadi:

ST: Perempuan itu membujuk anaknya membeli rumah di kota.

K-1

GB GK

B PEN KE GB

B POS-3 K-2

GB GK

KE GB

B ADV

D GB-3

perempuan itu membujuk anak nya membeli rumah di kota

C: SM Orang-orang kampung menahan perampok.

SP Perampok melakukan penggedoran.

Orang-orang kampung menahan perampok melakukan penggedoran.

Kaidah T.25 Komplemen Gatra-Sifat:

SM Orang itu sangsi.

K-1

GB GS

B PEN S

orang itu sangsi

Dan kalimat pemadu seperti:

SP anaknya akan lulus ujian.

K-2

GB-1 ASP GK

GB POS-3 KE GB-2

anak nya akan lulus ujian

yang disematkan ke dalam yang pertama, sehingga kita dapatkan konstruksi transformasi seperti:

ST Orang itu sangat apa(kah) anaknya akan lulus uian

K-1

GB GS

B PEN S GB

apakah K-2

GB ASP GK

B POS-3 KE GB

orang itu sangat apakah anak nya akan lulus ujian

C: SM Mereka itu ragu.

SP Barang-barang tidak akan menjadi mahal.

Mereka itu ragu apakah barang-barang tidak akan menjadi mahal.

SM Rupanya penonton tidak acuh.

SP Kesebelasan Australia akan menang.

Rupanya penonton tidak acuh apakah kesebelasan Australia akan menang.

RELASI MAKNA

RELASI MAKNA

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi.Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna (antonym), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponim), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainya. Berikut ini akan dibicarakan masalah tersebut satu per satu.

1. Sinonim

Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu anoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang berarti ‘dengan’. Maka secara harfiah kata sinonimi berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’.Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Umpamanya kata buruk dan jelek adalah dua buah kata yang bersinonim ;bunga, kembang, dan puspa adalah tiga buah kata yang bersinonom; mati, wafat, meninggal, dan mampus adalah empat buah kata yang bersinonim.

Menurut teori Verhaar yang sama tentu adalah informasinya ; padahal informasi ini bukan makna karena informasi bersifat ekstralingual sedangkan makna bersifat intralingual. Atau kalau kita mengikuti teori analisis komponen yang sama adalah bagian atau unsur tertentu saja dari makna itu yang sama. Misalnya kata mati dan meninggal. Kata mati nemiliki komponen makna (1) tida bernyawa (2) dapat dikenakan terhadap apa saja ( manusia, binatang, pohon, dsb). Sedangkan meninggal memiliki komponen makna (1) tidak bernyawa. (2) hanya dikenakan pada manusia. Maka dengan demikian kata mati dan meninggal hanya bersinonim pada komponen makna (1) tidak bernyawa.Kerena itu, jelas bagi kita kalau Ali, kucing, dan pohon bisa mati; tetapi yang bisa meninggal hanya Ali. Sedangkan kucing dan pohon tidak bisa.

Ketidak mungkinan kita untuk menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim adalah banyak sebabnya, Antara lain,karena ;

(1) Faktor waktu.Misalnya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, keduanya tidak mudah dipertukarkan karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi masa kini (modern)

(2) Faktor tempat atau daerah. Misalnya kata saya dan beta adalah bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok untuk digunakan dalan konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku) ; sedangkan kata saya dapat digunakan secara umum di mana saja.

(3) Faktor Sosial. Misalnya kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim; tetapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya yang tidak dapat digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi.

(4) Faktor bidang kegiatan. Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersinonim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama Islam; kata kebatinan untuk yang bukan islam; dan kata mistik untuk semua agama.

(5) Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, dan mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat memang bisa digunakan secara umum; tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata; kata melotot hanya digunakan untuk melihat dengan mata terbuka lebar: kata meninjau hanya digunakan untuk melihat dari tempat jauh atau tempat tinggi; dan kata mengintip hanya cocok digunakan untuk melihat dari celah yang sempit.

Dalam beberapa buku pelajaran bahasa sering dikatakan bahwa sinonim adalah persamaan kata atau kata-kata yang sama maknanya. Pernyataan ini jelas kurang tepat sebab selain yang sama bukan maknanya, yang bersinonim pun bukan hanya kata, tetapi juga banyak terjadiantara satuan-satuan bahasa lainnya. Perhatikan contoh berikut!

(a) Sinonim antar morfem (bebas) dengan morfem terikat, seperti antara dia dengan nya, antara saya dengan ku dalam kalimat

(1) Minta bantuan dia

Minta bantuannya

  1. Bukan teman saya

Bukan temanku

(b) Sinonim antar kata dengan kata seperti antara mati dengan meninggal: antara buruk dengan jelek.

(c) Sinoninm antara kata dengan frase atau sebaliknya. Misalnya antara meninggal dengan tutup usia:antara hamil dengan duduk perut.

(d) Sinonim antara frase dengan frase. Misalnya, antara ayah ibu dengan orang tua; antara meninggal dunia dengan pulang ke rahmatullah.

(e) Sinonim antara kalimat dengan kalimat, seperti Adik menendang bola dengan Bola ditendang adik. Kedua kalimat tersebut dianggap bersinonim, yang pertama kalimat aktif dan yang kedua lalimat pasif.

Mengenai sinonim ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama tidak semuakata dalam bahasa Indonesia mempunyai sinonim. Misalnya kata beras, salju, batu dan kuning. Kedua ada kata-kata yang bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Misalnya kata benar bersinonim dengan kata betul; tetapi kata kebenaran tidak bersinonim dengan kata kebetulan. Ketiga, ada kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada sinonimnya, yaitu mengeringkan; dan berjemur bersinonim dengan berpanas. Keempat ada kata-kata yang dalam arti “sebenarnya” tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti “kiasan” justru mempunyai sinonim. Misalnya kata hitam dalam makna “sebenarnya” tidak ada sinonimnya, tetapi dalam arti “kiasan” ada sinonimnya yaitu gelap, mesum, buruk, jahat dan tidak menentu.

2. Antonimi dan Oposisi

Kata antonimi berasal dari kata Yunani kuno, yaitu onoma yang artinya ‘nama’ dan anti yang artinya ‘melawan’. Maka secara harfiah maka antonim berarti ‘nama lain untuk benda lain pula’. Secara semantik, Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai: Ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makan ungkapan lain. Misalnya kata bagus adalah berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.

Sama halnya dengan sinonim, antonimpun terdapat pada semua tataran bahasa: tataran morfem, tataran kata, tataran frase, dan tataran kalimat. Dalam bahasa Indonesia untuk tataran morfem (terikat) barangkali tidak ada; dalam bahasa Inggaris kita jumpai contoh thankful dengan thankless, dimana ful dan less berantonim; antara progresif dengan regresif, dimana fro dan re berantonim.

Berdasarkan sifatnya, oposisi dapat dibedakan menjadi:

2.1 Oposisi Mutlak

Di sini terdapat pertentangan makna secara mutlak. Umpamanya antara kata hidup dan mati. Antara hidup dan mati terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang hidup tentu tidak (belum) mati; sedangkan sesuatu yang mati tentu sudah tidak hidup lagi.

2.2 Oposisi Kutub

Makna kata-kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentangannya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkat-tingkat makna pada kata-kata tersebut, misalnya, kata kaya dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub. Pertentangan antara kaya dan miskain tidak mutlak orang yang tidak kaya belum tentu meras miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belum tentu merasa kaya.

Kata-kata yang beroposisi kutub ini umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif, seperti jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah, terang-gelap, dan luas-sempit.

2.3 Oposisi Hubungan

Makna kata yang beroposisi hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya, kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya maka oposisi ini tidak ada. Umpamanya kata menjual beroposisi dengan kata membeli. Kata menjual dan membeli walaupun maknanya berlawanan, tetapi proses kejadiannya berlaku serempak.proses menjual dan proses membeli terjadi pada waktu yang bersamaan, sehingga bisa dikatakan tak akan ada proses menjual jika tak ada proses membeli.

Kata-kata yang beroposisi hubungan ini bisa berupa kata kerja seperti mundur-maju, pulang-pergi, pasang-surut, memberi-menerima, belajar- mengajar, dan sebagainaya. Selain itu, bisa pula berupa kata benda, seperti ayah- ibu, guru-murid, atas-bawah, utara-selatan, buruh-majikan, dan sebagainya.

2.4 Oposisi Hierarki

Makna kata-kata yang beroposisi hierarkial ini mengatakan suatu deret jenjeng atau tingkatan. Oleh karena itu kata-kata yang beropossisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan, dan sebagainya. Umpamanya kata meter beroposisi hierarkial dengan kata kilometer karena berada dalam deretan nama satuan yang menyatakan ukuran panjang. Kata kuintal dan ton beroposisi secara hierarkial karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan berat.

2.5 Oposisi Majemuk

Selama ini yang dibicarakan adalah oposisi diantara dua buah kata, seperti mati-hidup, menjual-membeli, jauh-dekat, prajurit-opsir. Namun, dalam pembedaharaan kata Indonesia ada kata-kata yang beroposisi terhadap lebih dari sebuah kata.

Misalnya kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, dengan kata berbaring, dengan kata berjongkok. Keadaan seperti ini lazim disebut dengan kata istilah oposisi majemuk. Jadi:

duduk

berbaring

berdiri x tiarap

berjongkok

Contoh lain, kata diam yang dapat beroposisi dengan kata berbicara, bergerak, dan bekerja.

3 Homonimi, Homofoni, Homograf

Kata homonimi berasal dari bahasa Yunani kuno onoma yang artinya ‘nama’ dan homo yang artinya ‘sama’. Secara rafia homonimi dapat diartikan sebagi “nama sama untuk benda atau hal lain”. Secara semantik, Verhaar (1978) memberi definisi homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frasa atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain (juga berupa kata, frasa atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama. Hubungan antara dua buah kata yang homonim bersifat dua arah.

Hal-hal yang menyebabkan terjadinya bentuk-bentuk homonimi, yaitu:

  1. bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau diales yang berlainan.

  2. bentuk-bentuk yang bersinonimi itu terjadi sebagai hasil proses morfologi.

Hominimi dan sinonimi dapat terjadi pada tataran morfem, tataran kata, tataran frase, dan tataran kalimat.

1. Homonimi antar morfem, tentunya terjadi antara sebuah morfem terikat dengan morfem terikat lainnya.

2. homonimi antar kata, terjadi antara sebuah kata dengan kata lainnya. Misalnya antara kata bisa yang berarti ‘racun ular’ dan kata bisa yang berarti ‘sanggup, atau dapat’.

3. homonimi antar frase, misalnya antara frase cinta anak yang berarti ‘perasaan cinta dari seorang anak lepada ibunya’ dan frase cinta anak yang berarti ‘cinta lepada anak dari seorang ibu’.

4. homonimi antar kalimat, misalnya antara Istri lurah yang baru itu cantik yang berarti ‘lurah yang baru diangkat itu mempunyai istri yang cantik’, atau ‘lurah itu baru menikah lagi dengan seorang wanita yang cantik’.

Disamping homonimi ada pula istilah homofoni dan homogfari. Homofoni dilihat dari segi “bunyi” (homo=sama, fon=bunyi), sedangkan homografi dilihat dari segi “tulisan, ejaan” (homo=sama, grafo=tulisan).

Homofoni sebetulnya sama saja dengan homonimi karena realisasi bentuk-bentuk bahasa adalah berupa bunyi. Namun, dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang homofon tetapi ditulis dengan ejan yang berbeda karena ingin memperjelas perbedaan makna.

4. Hiponimi dan Hipernimi

Kata hiponimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti ‘nama’ dan hypo berarti “di bawah’. Jadi secara harfiah berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama lain’. Secara semantik, Verhaar (1978: 137) menyatakan hiponim ahíla ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna statu ungkapan lain.

Kalau relasi antara dua buah kata yang bersinonim, berantonim, dan berhomonim bersifat dua arah, maka relasi anatar dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah.

Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya. Konsep hiponimi dan hipernimi mudah diterapkan pada kata benda tapi agak sukar pada kata verja atau kata sifat.

5. Polisemi

Polisemi lazim diartiakn sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki enam makna. Namur, makna –makna yang banyak dari sebuah kata yang polisemi itu masih ada sangkutpautnya dengan makna asal, karena dijabarkan dari komponen makna yang ada pada makna asal kata tersebut.

Persoalan lain yang berkenaan dengan polisemi ini adalah bagaimana kita bisa membedakannya dengan bentuk-bentuk yang disebut homonimi. Perbedaannya yang jelas adalah bahwa homonimi bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata aatu lebih yang kebetulan bentuknya sama. Tentu saja karena homonimi ini bukan sebuah kata, maka maknanya pun berbeda.

Di dalam kamus bentuk-bentuk yang homonimi didaftarkan sebagi entri-entri yang berbeda. Sebaliknya bentuk-bentuk polisemi adalah sebuah kata yang memiliki makna lebih dari satu. Karena polisemi ini adalah sebuah kata maka di dalam kamus didaftarkan sebagai sebuah entri. Satu lagi perbedaan antara homonimi dan polisemi, yaitu makna-makan pada bentuk homonimi tidak ada kaitan atau hubungannya sama sekali antara yang satu dengan yang lainnya.


6. Ambiguitas

Ambiguitas atau ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Konsep ini tidak salah, tetapi juga kurang tepat sebab tidak dapat dibedakan dengan polisemi. Polisemi dan ambiguitas memang sama-sama bermakna ganda. Hanya kalau kegandaan makna dalam polisemi berasal dari kata, sedangkan kegandaan makna dalam ambiguitas berasal dari satuan gramatikal yang lebih besar, yaitu frase atau kalimat, dan terjadi sebagai akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda. Dalam bahasa lisan penafsiran ganda ini mungkin tidak akan terjadi karena struktur gramatical itu dibantu oleh unsur intonasi.

Perbedaan antara ambiguitas dan homonimi adalah homonimi dilihat sebagai dua bentuk yang kebetulan sama dan dengan makna yang berbeda, sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan makna yang berbeda sebagai akibat dari berbedanya penafsiran struktur gramatikal bentuk tersebut. Lagi pula ambiguitas hanya terjadi pada satuan frase dan kalimat sedangkan homonimi dapat terjadi pada semua satuan gramatikal.

7. Redudansi

Istilah redudansi sering diartikan sebagai ‘berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam statu bentuk ujaran. Secara semantik masalah redudansi sebetulnya tidak ada, sebab salah satu prinsip dasar semantik adalah bila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda. Makna adalah statu fenomena dalam ujaran (utterance, internal phenomenon) sedangkan informasi adalah sesuatu yang luar ujaran (utterance-external).


Purwakanti Sastra

Purwakanti Sastra

Oleh Dheka Dwi Agusti N.

Purwakanti sastra adalah salah satu jenis perulangan bunyi alias repetisi yang terdapat dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Istilah purwakanti sastra diungkapkan oleh Satjadibrata dalam bukunya yang berjudul Rusiah Tembang Sunda pada tahun 1951. Satjadibrata mengungkapkan bahwa di tanah Sunda purwakanti tersebut digunakan untuk menghapal lagu. Sebuah cara menghapal yang berbeda dengan cara menghapal ala Belanda yang menggunakan aturan si-do-sol (do-re-mi-fe-so-la-si-do). Yaitu kata yang menjadi penutup kalimat sebelumnya, menjadi kata pembuka dalam kelimat selanjutnya. Salah satu contoh aplikasi purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh kinanti dan sinom, yaitu :

Kinanti

Sok emut jaman kapungkur

Kapungkur nalika abdi

Abdi nuju dipiara

Dipiara dipupusti

Dipupusti ku indung bapa

Bapa nu kalangkung asih.

Sinom

Ti barang engkang paturay

Paturay jeung buah ati

Ati teu weleh nalangsa

Nalangsa anu nunggelis

Nunggelis tur prihatin

Prihatin taya nu nulung

Nulung ngahegar-hegar

Hegar saperti bihari

Bihari mah asa kumpul lelembutan

Meskipun purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh, tetapi menurut Muhammad Moesa purwakanti seperti ini hanya dipakai dalam kakawihan Ayang-ayang gung.

Purwakanti sastra tersebut memang sangat nampak dalam lagu Ayang-ayang Gung. Adjan Sudjana dalam tulisannya yang berjudul Ayang-ayang Gung, Gasibu Bukan Gazebo memaparkan bahwa lagu ini merupakan lagu zaman perjuangan melawan Belanda. Adanya irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sementara itu lagu Oyong-oyong Bangkongpun memiliki latar belakang kesejarahan yang mirip dengan Ayang-ayang Gung. Seperti yang diungkapkan oleh oleh Nandang Rusnandar dalam Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda (Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak tahun 2000, nyanyian ini merupakan wujud rasa kecewa orang Baduy terhadap kompeni Belanda yang datang ke daerah Jawa Barat.

Purwakanti dalam kedua lagu tersebut menjadi sebuah media khas dalam sebuah proses pendidikan, yaitu melalui efektifitas yang muncul dari pola purwakanti tersebut. Purwakanti sastra yang diungkapkan oleh Satjadibrata ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa sebagai repetisi anadiplosis, yaitu berupa perulangan bunyi, suku kata, kata, atau frasa terakhir dalam suatu lirik atau baris menjadi kata atau frasa pertama pada larik selanjutnya. Dalam kesusatraan moderen repetisi anadiplosis ini sering juga disebut epanadiplosis atau epanastrofa.

Dalam permainan anak-anak Sunda atau yang lebih dikenal dengan istilah kaulinan budak, repetisi ini ternyata cukup banyak terkandung dalam lagu yang biasa mereka nyanyikan ketika permainan tengah berlangsung. Permainan paciwit-ciwit lutung misalnya, di mana saat anak-anak bermain dengan saling mencubit punggung tangan temannya mereka menyanyikan menyanyikan lagu

Paciwit-ciwit lutung

Si Lutung pindah ka luhur.

Permainan lainnya yang juga masih menggunakan media tangan dan jari serta lagu berpurwakanti sastra adalah Cingciripit.

Cing ciripit tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu paré,

Bulu paré seuseukeutna,

jol padalang mawa wayang,

Jrék jrék nong

Permainan lainnya adalah Caca Burange dan Leho Sapi yang masing-masing lagunya adalah

caca burange

burange tali gobang

gobang pancarange

anak gajah papayungan

boti botem..

boti botem..

Lého sapi pi,

Pindang gobang bang,

Bangkong hejo jo,

Jolijopak jojoli ong

Adapula lagu-lagu yang dinyanyikan oleh ibu kepada anaknya yang masih bayipun mengandung purwakanti semacam ini. Pada usia 4-5 bulan, bayi dapat seuri ngabarakatak (tertawa) jika diajak bercanda. Candaan tersebut biasanya dengan dikauk-kauk. Ketika Ibu menyanyikan lagu kauk-kauk, sang Bayipun memperhatikannya seakan ia mengerti. Di akhir kalimat yang juga menjadi akhir lagu sang Ibu lalu pura-pura mencari sambil menggelitiki anaknya.

Kauk-kauk

Kauk-kauk si julang

Si julang ka mana enteupna

Enteupna… kadieu

(bari ngélékéték budak)

Di samping kauk-kauk, ada permainan lain yang juga dimainkan oleh orang tua yaitu sursar. Dalam permainan ini, si anak diajak duduk berjajar dengan orang tuanya sambil kaki diselonjorkan (nanghunjar), sambil bernyanyi tangannya silih berganti mengusap-usap kaki mulai dari pangkal paha hingga mata kaki dan terus dilakukan bolak-balik, sambil melagukan:

sur sar sur sar,

angeun kacang atah keneh,

disuluhan ku baketes,

baketes meunang meulahan,

meulahan ku peso raut,

peso raut gagang tanduk,

ari gog-gog cungunguk

Ketika si orang tua menyebutkan kata-kata ari gog-gog cungunguk, dengkul si anak seolah-olah dipijit-pijit oleh orang tuanya, dan si anak akan tertawa karena kegelian.

Lagu-lagu kaulinan budak tersebut memiliki pola yang estetis, juga menunujkkan sebagai alur yang saling berkait tanpa putus yang memuat tekanan terhadap sebuah konteks. Pangeran Djatikusumah di sela hari-hari menyambut upacara Seren Taun 1940 Saka yang di gelar di Cigugur, Kuningan, Januari 2008 kemarin, mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan Siloka yang mengandung panganteb yang juga dapat mencerminkan bagaimana cara karuhun Sunda dalam mendidik anak.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, purwakanti tersebut merupakan sebuah media untuk mempermudah seorang anak dalam menghapal dan menguatkan ingatan. Hal ini sejalan dengan banyaknya penelitian yang mengungkapkan bahwa perulangan dapat mempercepat terhubungnya milyaran sambungan otak anak. Melalui purwakanti ini pula seorang anak belajar berbicara (capetang). Dalam tradisi Baduy, seperti yang dituturkan oleh Jaro Sawitri dan Aki Darseuni, sesepuh masyarakat Baduy Luar, biasanya ketika anak-anak mulai bisa berbicara mulut si Anak dimantrai terlebih dahulu. Kemudian mantra ini diajarkan untuk dihafalkan dan dilafalkan sedikit demi sedikit oleh si Anak. Masyarakat Baduy menyebutnya sebagai poko jampé atau mantra pokok, yang berbunyi:

Capit cuit cangkorélang

Manuk daun mobok liang

Liang keuyeup

Keuyeup sekar

Sekar cai

Cai haneut

Haneut kuku

Kuku peusing

Peusing cala

Cala bunar

Bunar ropoh

Ropoh jalan

Jalan gedé

Gedé bulan

Bulan silih

Silih ogan

Ogan kotok

Kotok hurik

Hurik amis

Amis gula

Gula léngkét

Léngkét dagé

Dagé dungkuk

Dungkuk lutung

Lutung puntang

Ountang dahan

Dahan peucung

Peucung céléng

Céléng bonténg

Bonténg lilin

Lilin odéng

Odéng paré

Paré konéng

Konéng tinggang

Tinggang anak

Anak buwu

Buwu séksék

Séksék nombék di karéés

Salam.

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: PRABAYAR DAN PASCABAYAR?

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: PRABAYAR DAN PASCABAYAR?

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Beberapa tahun terakhir ini konsep pembayaran khususnya dalam bidang pemasaran barang dan jasa telah mengalami banyak perkembangan dan modifikasi. Kalau dulu hanya ada sistem barter alias saling menukar barang, kemudian mulai berkembang dengan sistem ada uang ada barang, maka saat ini tengah hangat-hangatnya sistem pembayaran dengan konsep prabayar dan pascabayar.

Istilah prabayar ini konon bermula dari kata prepaid yang dalam bahasa Inggris bermakna sudah dibayar lebih dahulu. Hal ini bukan sekadar pinjam-meminjam istilah tetapi sudah terjadi pinjam-meminjam sistem, yaitu prepaid itu sendiri. Namun, apa yang terjadi setelah istilah itu hijrah pada bahasa kita?

Secara paradigmatis kita pun bermaksud sama, istilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia yaitu prabayar dengan prepaid yang merupakan bahasa Inggris, mengacu pada makna “dibayar terlebih dahulu”. Misalnya: untuk para pengguna pulsa prabayar. Sebelum kita bisa menggunakan pulsa (baik itu telepon atau sms) tentunya kita harus membeli terlebih dahulu pulsa tersebut sejumlah yang kita inginkan. Setelah menggosok bagian belakang kartu pulsa dan memasukkan 14 digit angka yang tertera hingga ada pesan dari operator bahwa pulsa kita telah bertambah, barulah kita bisa memakainya, pastinya sesuai jumlah yang kita beli sebelumnya.

Sekilas memang tidak tampak ada yang aneh pada proses jual beli tersebut. Hal ini telah menjadi salah satu strategi pemasaran dari bisnis-bisnis yang sedang berkembang pesat. Mungkin para ahli ekonomi tidak mau ambil pusing untuk mencari terjemahan yang tepat bagi sistemnya ini. Namum, jika istilah ini dianalisis lebih jeli pada aspek morfologi dan semantik kebahasaannya ada hal menggelitik yang terdapat di dalamnya.

Secara kebahasaan, morfem kompleks “prabayar” yang menjadi istilah bagi sistem pembayaran di atas, dibentuk dengan proses pengimbuhan proleksem “pra” pada kata “bayar” yang merupakan kata kerja. “Pra” adalah bentuk terikat yang bermakna sebelum, kemudian diimbuhkan pada kata “bayar”, sehingga menghasilkan makna sebelum terbayar atau sebelum dibayar.

Makna tersebut tentunya jadi berbeda dengan istilah prepaid (ppd.). Lantas di mana letak kejanggalannya? Tentu saja dalam tataran morfologinya. Banyak hal menjadi pembeda yang signifikan antara kaidah yang ada dalam bahasa kita dengan kaidah yang ada dalam bahasa Inggris, contohnya konsep waktu (tenses) dalam kalimat dan ujaran bahasa Inggris.

Secara morfologi, istilah prepaid juga merupakan bentuk kompleks yang dihasilkan dari proses penambahan preposisi “pre” pada kata “paid”. Kata paid itu sendiri merupakan bentuk kata kerja kedua dari pay yang berarti membayar. Kata paid menunjukkan waktu lampau atau sudah terjadi (past tense) dan kemudian diberi preposisi pre sehingga membentuk makna sudah dibayar terlebih dahulu.

Secara gramatika, pre yang bermakna sebelum, menerangkan kata paid yang bermakna membayar (lampau atau sudah terjadi), lalu membentuk makna ‘sebelumnya sudah dibayar’. Kata paid yang merupakan kata kerja (verb) setelah berubah menjadi prepaid menjadi kata kerja transitif. Contoh: The package was sent prepaid, Paket itu dikirim dengan membayar (ongkos) terlebih dulu.

Dalam gramatika bahasa Indonesia tidak dikenal konsep waktu secara signifikan, sehingga pemaknaan terhadap bentuk kompleks yang berkaitan dengan waktu terkadang menjadi kacau balau. Istilah prabayar yang disejajarkan dengan prepaid dapat menjadi contoh. “Pra” yang diimbuhkan pada kata “bayar” dalam kaidah bahasa Indonesia tidak dapat mengubah makna berdasarkan susunan gramatikanya. Kata “bayar” yang merupakan kata kerja jika dianalisis waktunya dapat berarti sedang terjadi atau bahkan belum rerjadi, yang jelas tidak mungkin memiliki arti telah terjadi alias sudah dibayar, karena jika ingin konsep waktunya demikian maka kata bayar harus didampingi dengan kata sudah atau telah.

Jadi, istilah prabayar secara semantik akan menghasilkan makna “sebelum membayar” artinya belum dibayar, artinya lagi itu hanya sebuah konsep pembayaran biasa, di mana setelah selesai melakukan transaksi jual beli barulah biayanya dibayar atau dilunasi. Contoh: Paket itu dikirim secara prabayar. Berarti, paket itu dikirim secara belum dilakukan pembayaran. Namun, entah mengapa yang melekat pada masyarakat kita justru makna “Paket itu dikirim dengan cara membayar sebelumnya”. Makna ini memang benar, tetapi untuk makna semantik dari kata prepaid, bukan prabayar.

Perhatikan bentuk komplek lain yang berasal dari proses morfologi penambahan “pra”, yaitu: pradesa bermakna daerah yang belum menjadi desa, pradini memiliki makna belum waktunya, prajaksa adalah pembantu jaksa, yang makna awalnya adalah belum menjadi jaksa, kemudian pralahir maknanya berkenaan dengan bayi pada masa menjelang kelahiran, itu sama saja artinya dengan belum lahir, lalu pramenstruasi, prapuber, dan pranikah memiliki konsep makna yang setara yaitu “belum”.

Lalu bagaimana dengan istilah pascabayar yang disetarakan dengan istilah paid dalam bahasa Inggris. Kata paid yang berarti (telah) membayar atau lunas bisa saja setara dengan konsep pascabayar yang memiliki makna sesudah (dilakukan) membayar. Atau justru pascabayar memiliki makna yang diperkenankan seperti dalam konsep prabayar. Proleksem “pasca” adalah bentuk terikat yang memiliki makna sesudah, jika digabungkan dengan kata “bayar” maka akan menimbulkan makna “sesudah bayar”. Inilah makna yang justru diharapkan hadir dalam istilah prabayar, bukan? Contoh: Paket itu dikirim secara pascabayar, maknanya paket itu dikirim secara sesudah (dilakukan) membayar/ pembayaran. Atau dengan kata lain, paket itu dikirim sesudah kita membayarnya alias kita melakukan pembayaran terlebih dahulu baru akan mendapatkan barang atau jasa yang dikehendaki.

Dalam hal ini, seharusnya para ahli ekonomi tidak lepas tangan begitu saja, sebab bagaimanapun merekalah yang sewajarnya paham benar akan makna dan referen yang diacu untuk sebuah konsep yang kemudian dituangkan pada sebuah istilah yang tepat dan tidak tumpang tindih. Jikalau memang ingin menyetarakan istilah dengan istilah dalam bahasa lain, hendaknya taat asas dalam penerapan kaidah bahasa masing-masing.

Salam.

Dheka Dwi Agusti N.

PENAMAAN, PENGISTILAHAN, DAN PENDEFINISIAN

PENAMAAN, PENGISTILAHAN, DAN PENDEFINISIAN

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Penamaan, pengistilahan, pendefinisaian adalah proses pelambangan suatu konsep untuk mengacu kepada suatu referen.

Referen adalah benda atau orang tertentu yang diacu oleh kata atau untaian kata dalam kalimat atau konteks tertentu. (KBBI, 2002: 939)

Referen yaitu kemampuan kata untuk mengacu pada makna tertentu. Referensi berhubungan erat dengan makna, jadi referensi merupakan salah satu sifat makna leksikal. (Veerhaar, 1999: 389)

1. PENAMAAN

Penamaan atau pemberian nama adalah soal konvensi atau perjanjian belaka di antara sesama anggota statu masyarakat bahasa. (Aristoteles)

Antara suatu satuan bahasa sebagai lambang, misalnya kata, dengan sesuatu yang dilambangkannya bersifat sewenang-wenang dan tidak ada hubungan “wajib” di antara keduanya. Jika sebuah nama sama dengan lambang untuk sesuatu yang dilambangkannya, berarti pemberian nama itu pun bersifat arbitrer, tidak ada hubungan wajib sama sekali.

Misalnya antara kata <kuda> dengan benda yang diacunya yaitu seekor binatang yang biasa dikendarai atau dipakai menarik pedati, tidak bisa dijelaskan sama sekali. Lagi pula andaikata ada hubungannya antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, tentu orang Jawa tidak akan menyebutnya <jaran>, orang Inggris tidak akan menyebutnya <horse>, dan orang Belanda tidak akan menyebutnya <paard>. Tentu mereka semuanya akan menyebutnya juga <kuda>, sama dengan orang Indonesia.

Walaupun demikian, secara kontemporer kita masih dapat menelurusi sebab-sebab atau peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya penamaan atau penyebutan terhadap sejumlah kata yang ada dalam leksikon bahasa Indonesia.

  1. 1 Peniruan Bunyi

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau hal tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut.

Misalnya, binatang sejenis reptil kecil yang melata di dinding disebut cecak karena bunyinya “cak, cak, cak-“. Begitu juga dengan tokek diberi nama seperti itu karena bunyinya “tokek, tokek”. Contoh lain meong nama untuk kucing, gukguk nama untuk anjing, menurut bahasa kayak-kanak, karena bunyinya begitu.

Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini disebut kata peniru bunyi atau onomatope.

  1. 2 Penyebutan Bagian

Penamaan suatu benda atau konsep berdasarkan bagian dari benda itu, biasanya berdasarkan ciri khas yang dari benda tersebut dan yang sudah diketahui umum.

Misalnya kata kepala dalam kalimat Setiap kepala menerima bantuan bersa 10 kg. Bukanlah dalam arti „kepala“ itu saja, melainkan seluruh orangnya sebagai satu kesatuan (pars pro toto, menyebut sebagian untuk keseluruhan).

Contoh lainnya yaitu kata Indonesia dalam kalimat Indonesia memenangkan medali emas di olimpiade. Yang dimaksud adalah tiga orang atlet panahan putra (tótem pro parte, menyebut keseluruhan untuk sebagian.)

  1. 3 Penyebutan Sifat Khas

Penyebutan sifat khas adalah penamaan sesuatu benda berdasarkan sifat yang khas yang ada pada benda itu yang hampir sama dengan pars pro toto. Gejala ini merupakan peristiwa semantik karena dalam peristiwa ini terjadi transposisi makna dalam pemakaian yakni perubahan dari kata sifat menjadi kata benda. Di sini terjadi perkembangan yaitu berupa ciri makna yang disebut dengan kata sifat itu mendesak kata bendanya karena sifatnya yang amat menonjol itu; sehingga akhirnya, kata sifatnya itulah yang menjadi nama bendanya. Umpamanya, orang yang sangat kikir lazim disebut si kikir atau si bakhil. Yang kulitnya hitam disebut si hitam, dan yang kepalanya botak disebut si botak.

Di dalam dunia politik dulu ada istilah golongan kanan dan golongan kiri. Maksudnya, golongan golongan kanan untuk menyebut golongan agama dan golongan kiri untuk menyebut golongan komunis.

  1. 4 Penemu dan Pembuat

Nama benda dalam kosa kata bahasa Indonesia yang dibuat berdasarkan nama penemunya, nama pabrik pembuatnya, atau nama dalam peristiwa sejarah disebut dengan istilah appelativa.

Nama-nama benda yang berasal dari nama orang, antara lain, kondom yaitu sejenis alat kontrasepsi yang dibuat oleh Dr. Condom; mujahir atau mujair yaitu nama sejenis ikan air tawar yang mula-mula ditemukan dan diternakan oleh seorang petani yang bernama Mujair di Kediri, Jawa Timur. Selanjutnya, dalam dunia ilmu pengetahuan kita kenal juga nama dalil, kaidah, atau aturan yang didasarkan pada nama ahli yang membuatnya. Misalnya, dalil arkhimides, hukum kepler, hukum van der tunk, dan sebagainya.

Nama orang atau nama pabrik dan merek dagang yang kemudian menjadi nama benda hasil produksi itu banyak pula kita dapati seperti aspirin obat sakit kepala, ciba obat sakit perut, tipp ex koreksi tulisan, miwon bumbu masak, dan lain sebagainya.

Dari peristiwa sejarah banyak juga kita dapati nama orang atau nama kejadian yang kemudian menjadi kata umum. Misalnya kata boikot, bayangkara, laksamana, Lloyd, dan sandwich. Pada mulanya kata bayangkara adalah nama pasukan pengawal keselamatan raja pada zaman Majapahit. Lalu, nama ini kini dipakai sebagai nama korps kepolisian R.I. Kata laksamana yang kini dipakai sebagai nama dalam jenjang kepangkatan pada mulanya adalah nama salah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Laksamana adik Rama dalam cerita itu memang terkenal sebagai seorang pahlawan. Kata boikot berasal dari nama seorang tuan tanah di Iggris Boycott, yang karena tindakannya yang terlalu keras pada tahun 1880 oleh perserikatan tuan tanah Irlandia tidak diikutsertakan dalam suatu kegiatan dikatakan orang itu diboikot, diperlakukan seperti tuan Boycott. Kaat Llyoid seperti yang terdapat pada nama perusahaan pelayaran seperti Djakarta Lloyd dan Rotterdamse Lloyd diturunkan dari nama seorang pengusaha warung kopi di kota London pada abad XVII, yaitu Edward Lloyd. Warung kopi itu banyak dikunjungi oleh para pelaut dan makelar perkapalan. Maka dari itu namanya dipakai sebagai atribut nama perusahaan pelayaran yang searti dengan kata kompeni atau perserikatan, khususnya perserikatan pelayaran.

Kata Sandwich, yaitu roti dengan mentega dan daging didalamnya, berasal dari nama seorang bangsawan Inggris Sandwich. Dia seorang penjudi berat, yang selalu membawa bekal berupa roti seperti di atas agar dia bisa tetap sambil tetap bermain.

  1. 5 Tempat Asal

Sejumlah nama benda dapat ditelusuri berasal dari nama tempat asal benda tersebut. Misalnya kata magnit berasal dari nama tempat Magnesia; kata kenari, yaitu nama sejenis burung, berasal dari nama pulau kenari di Afrika; kata sarden atau ikan sarden, berasal dari nama pulau Sardinia di Italia; kata klonyo berasal dari au de Cologne artinya air dari kuelen, yaitu nama kota di Jerman Barat.

Banyak juga nama piagam atau prasasti yang disebut berdasarkan nama tempat penemuannya seperti piagam kota Kapur, prasasti kedudukan bukit, piagam Telaga Batu dan piagam Jakarta.

Selain itu ada juga kata kerja yang dibentuk dari nama tempat, misalnya, didigulkan yang berarti di buang ke Digul di Irian jaya; dinusakambangkan, yang berarti di bawa atau dipenjarakan di pulau Nusakambangan.


  1. 6 Bahan

Ada sejumlah benda yang namanya diambil dari nama bahan pokok benda itu. Misalnya, karung yang dibuat dari goni yaitu sejenis serat tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa latin disebut Corchorus capsularis, disebut juga goni atau guni.

Contoh lain, kaca adalah nama bahan. Lalu barang-barang lain yang dibuat dari kaca seperti kaca mata, kaca jendela, dan kaca spion. Bambu runcing adalah nama sensata yang digunakan rakyat Indonesia dalam perang kemerdekaan dulu. Bambu runcing dibuat dari bambu yang ujungnya diruncingi sampai tajam. Maka di sini nama bahan itu, yaitu bambu, menjadi nama alat sensata itu.

  1. 7 Keserupaan

Dalam praktek berbahasa banyak kata yang digunakan secara metaforis. Artinya kata itu digunakan dalam suatu ujaran yang maknanya dipersamakan atau diperbandingkan dengan makna leksikaldari kata itu.

Misalnya kata kaki pada frase kaki meja dan kaki kursi dan ciri “terletak pada bagian bawah”.contoh lain kata kepala pada kepala kantor, kepala surat dan kepala meja. Disini kata kepala memiliki kesamaan makna dengan salah satu komponen makan leksikal dari kata kepala itu, yaitu “bagian yang sangat penting pada manusia” yakni pada kepala kantor, “terletak sebelah atas” yakni pada kepala surat, dan “berbentuk bulat” yakni pada kepala paku. Malah kemudian, kata-kata seperti kepala ini dianggap sebagai kata yang polisemi, kata yang memiliki banyak makna.

  1. 8 Pemendekan

Penamaan yang didasarkan pada hasil penggabungan unsur-unsur huruf dan beberapa suku kata yang digabungkan menjadi satu. Misalnya rudal untuk peluru kendali, iptek untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, dan tipikor untuk tindak pidana korupsi.

Kata-kata yang terbentuk sebagai hasil pemendekan ini lazim disebut akronim.

  1. 9 Penamaan Baru

Penamaan baru dibentuk untuk menggantikan kata atau istilah lama yang sudah ada karena kata atau istilah lama yang sudah ada dianggap kurang tepat, kurang rasional, tidak halus atau kurang ilmiah.

Misalnya, kata pariwisata untuk menggantikan kata turisme, darmawisata untuk piknik, dan karyawan untuk mengganti kata kuli atau buruh. Penggantian kata gelandangan menjadi tuna wisma, pelacur menjadi tunasfusila, dan buta huruf menjadi tuna aksara adalah karena kata-kata tersebut dianggap kurang halus; kurang sopan menurut pandangan dan norma sosial. Proses penggantian nama atau penyebutan baru masih akan terus berlangsung sesuai dengan perkembangan pandangan dan norma budaya yang ada di dalam masyarakat.

2. PENGISTILAHAN

Berbeda dengan proses penamaan atau penyebutan yang lebih banyak berlangsung secara arbitrer, mka pengistilahan lebih banyak berlangsung menurut statu prosedur. Ini terjadi karena pengistilahan dilakukan untuk mendapatkan “ketepatan” dan “kecermatan” makna untuk statu bidang kegiatan atau keilmuan.

Istilah memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan untuk satu bidang tertentu, sedangkan nama masih bersifat umum.

Misalnya kata <telinga> dan <kuping> sebagai nama yang dianggap bersinonim. Tetapi dalam bidang kedokteran telinga dan kuping digunakan sebagai istilah untuk acuan yang berbeda; telinga adalah alat pendengaran bagian dalam, sedangkan kuping adalah bagian luarnya.

3. PENDEFINISIAN

Pendefinisaian adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengungkapkan dengan kata-kata akan suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa, dan sebagainya. Berdasarkan taraf kejelasannya, definisi diklasifikasikan menjadi 5 yaitu:

1. Definisi Sinonimis

Suatu kata didefinisikan dengan sebuah kata lain yang merupakan sinonim dari kata tersebut. Contoh: kata ayah didefinisikan dengan kata bapak. Ketidakjelasan definisi ini adalah karena definisi yang diberikan bersifat berputar balik (circum of means).

2. Definisi Formal

Dalam definisi formal ini, konsep atau ide yang akan didefinisikan itu disebutkan terlebih dahulu sebuah ciri umumnya, lalu disebutkan pula sebuah ciri khusus yang menjadi pembeda dengan konsep atau ide lain yang sama ciri umumnya.

Misalnya kata bis

konsep/ide ciri umum Ciri khusus

bis kendaraan umum dapat memuat

banyak penumpang

Ciri khusus yang menjadi pembeda ini dapat berupa salah satu unsur yang terdapat pada konsep yang didefinisikan itu, seperti unsur kuantitas (misalnya banyak penumpang pada definisi bis), atau juga unsur tujuan, bahan, kegunaan, kerja, kualitas, dan sebagainya.

Definisi formal ini pada taraf tertentu memang sudah cukup jelas, tetapi pada taraf yang lebih jauh seringkali tidak memuaskan. Umpamanya definisi bis di atas yang dikatakan adalah kendaraan umum dan dapat memuat banyak penumpang. Definisi itu belum bisa menjelaskan bedanya bis dengan kereta api dan pesawat terbang.

Kelemahan definisi formal di atas dapat diatasi dengan pendefinisian yang lebih luas, yaitu dengan membuat definisi logis dan definisi ensiklopedis.

3. Definisi Logis

Definisi logis mengidentifikasi secara tegas objek, ide atau konsep yang didefinisikan itu sedemikian rupa, sehingga objek tersebut berbeda secara nyata dengan objek-objek lain. Definisi logis ini biasa terdapat dalam buku-buku pelajaran, dan karena itu sifatnya (agak) ilmiah. Contoh:

air adalah zat cair yang jatuh dari awan sebagai hujan, mengaliri sungai, menggenangi danau dan lautan, meliputi dua pertiga bagian dari permukaan bumi, merupakan unsur pokok dari kehidupan, campuran oxida hidrogen H2O, tanpa bau, tanpa bau, tanpa rasa dan tanpa warna, tetapi tampak kebiru-biruan pada lapisan yang tabal, membeku pada suhu nol derajat Celsius, mendidih pada suhu 100 derajat Celsius, mempunyai berat jenis maksimum pada 4 derajat Celsius.

4. Definisi Ensiklopedis

Definisi ensiklopedis lebih luas lagi dari definisi logis sebab definisi ensiklopedis ini menerangkan secara lengkap dan jelas serta cermat akan segala sesuatu yang berkenaan dengan kata atau konsep yang didefinisikan. Contoh:

air adalah persenyawaan hidrogen dan oksigen, terdapat di mana-mana, dan dapat berwujud: (1). Gas, seperti uap air; (2). Cairan, seperti air yang sehari-hari dijumpai; (3). Padat, seperti es dan salju. Air merupakan zat pelarut yang baik sekali dan paling muarh, terdapat di alam dalam keadaan tidak murni. Air murni berupa cairan yang tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Pada suhu 4 derajat celcius air mencapai maksimum berat jenis; dan 1 cm3 beratnya 1 gram. Didinginkan sampai nol derajat celcius atau 32 derajat farenheit, air berubah menjadi es yang lebih ringan daripada air. Air mengembang sewaktu membeku. Bila dipanaskan sampai titik didih (100 derajat celcius atau 212 derajat fahrenheit), air berubah menjadi uap. Air murni bukanlah konduktor yang baik. Dia merupakan persenyawaan dua atom hydrogen dan satu atom oksigen; rumus kimianya H2O. Kira-kira 70% dari permukaan bumi tertutup air. Manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan memerlukan air untuk hidup. Tenaga air mempunyai arti ekonomi yang besar.

5. Definisi Batasan/ Definisi Operasional

Jenis definisi lain banyak dibuat dan digunakan orang adalah definisi yang sifatnya membatasi (di sini kita sebut juga definisi batasan). Definisi ini dibuat orang untuk membatasi konsep-konsep yang akan dikemukakan dalam suatu tulisan atau pembicaraan. Oleh karena itu, sering juga disebut definisi operasional. Definisi ini hanya digunakan untuk keperluan tertentu, terbatas pada suatu topik pembicaraan, umpamanya:

Yang dimaksud dengan air dalam tulisan ini adalah zat cair yang merupakan kebutuhan hidup manusia sehari-hari, seperti untuk makan, untuk minum, mandi, dan cuci.

Yang dimaksud dengan air dalam pembahasan ini adalah segala zat cair yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan, baik yang ada di dalam batang (seperti air tebu), maupun yang ada di dalam buah.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Verhaar, J. W. M. 1999. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: UGM Press

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: Analisis Makro Penggunaan Bahasa dalam Media Massa

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: Analisis Makro Penggunaan Bahasa dalam Media Massa

oleh DHEKA DWI AGUSTI N.

1. Klasifikasi

Kalimat Puisi Jeritan Hati Guru Bantu dan Petani Sukabumi ‘Menjerit’ yang keduanya digunakan sebagai judul pemberitaan dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, menunjukkan adanya sebuah klasifikasi. Klasifikasi kedua judul tersebut ditunjukkan dengan adanya kata “menjerit” yang digunakan sebagai metafor untuk menggambarkan kondisi dan keadaan para guru bantu serta para petani di Sukabumi. Penggunaan kata “menjerit” yang telah membuat suatu klasifikasi antara nasib guru bantu dan petani di Sukabumi dengan sebuah jeritan, tentunya sebagai lambang rasa sakit dan penderitaan yang mereka rasakan, dengan harapan agar para pembaca tahu kondisi mereka saat ini yang tengah “menjerit-jerit” kesakitan itu. Sakitnya para guru bantu yang dibelit banyak kebutuhan hidup dan harapan untuk menjadi PNS yang tak kunjung terlaksana, serta sakitnya para petani yang harus menjual gabah yang telah ditanamnya dengan keringat yang mengalir harus dijual dengan harga murah.

2. Pembatasan Pandangan

Kalimat Jangan Dekati Sation Siliwangi yang digunakan sebagai judul pemberitaan dalam Koran Galamedia, Selasa 10 April 2007, telah membatasi pandangan pembaca mengenai apa yang akan terjadi di stadion Siliwangi. Sebuah pertandingan sepak bola partai hukuman akan diselenggarakan di sana, antara Persib dengan PSSB Bireun. Intinya, panitia pelaksana ingin tempat digelarnya pertandingan tersebut steril dari “bobotoh” dan orang-orang tidak berkepentingan, alias tanpa penonton. Untuk itu penulis menggunakan kalimat perintah dengan kata jangan dekati agar siapapun yang membacanya dapat mengerti untuk tidak datang ke stadion Siliwangi.

3. Pertarungan Wacana atau Isu

Pertarungan isu kerap dilakukan media dalam membentuk opini publik, seperti halnya pemberitaan mengenai kasus yang terjadi di IPDN. Pola Pembinaan di IPDN Tetap Dipertahankan sebagai judul dalam pemberitaan yang dimuat dalam Koran Pikiran Rakyat, Sabtu 7 April 2007, telah berani meng’amin’i pola pembinaan yang saat ini tengah marak-maraknya dikecam oleh public agar tetap ada. Bahkan dalam paragraph pertama dalam pemberitaannya, dikemukakan bahwa pola pengasuhan dalam pendidikan di lembaga pencetak para birokrat itu masih tetap dibutuhkan. Tidak tanggung-tanggung hal ini ditegaskan ulang dalam paragraph 7, 8, dan 10, dengan alasan bahwa calon birokrat harus memiliki tingkat displin yang tinggi dan berwawasan nusantara serta belum adanya teori baru yang tepat untuk menggantikan pengacuan pada pola pengasuhan dalam membentu nation and character building sebagai inti pola pengasuhan tersebut. Sebuah insert yang mencengangkan yang terdapat dalam pemberitaan ini adalah kalimat penjelas gambar, REKTOR IPDN I Nyoman Sumaryadi (kanan) memperagakan cara memukul untuk mengukur kekuatan otot perut menurut pola yang sudah baku, saat menjawab pertanyaan seputar kasus penganiayaan Cliff Muntu di Aula Rektorat IPDN Jatinangor Kab. Sumedang, Kamis (5/4).

Dalam pemberitaan serupa yang juga dimuat dalam Koran Pikiran Rakyat, Sabtu 7 April 2007 dengan judul Sistem Militer tak Cocok untuk Sipil mengusung pandangan lain yang seyogiyanya dapat mewakili aspirasi publik mengenai pola pengasuhan dan pembinaan yang berlaku di IPDN yang telah memakan banyak korban. Pada paragraph pertama pemberitaan diungkapkan bahwa sistem pengasuhan harus diubah. Hal ini menjadi paradoks bagi pemberitaan di atas yang justru menginginkan pola pengasuhan tetap ada. Pemberitaan ini memberikan solusi yang berbeda dari pemberitaan di atasnya, yaitu dengan penghapusan pola pembinaan dan pengasuhan, karena akan melanggengkan tradisi kekerasan senior terhadap junior, seperti yang diungkapkan dalam paragraf kedua. Insert yang berbeda dibubuhkan juga dalam pemberitaan ini. Meskipun sama-sama mengekspos tindakan pemukulan, tetapi pemukulan yang ini berbeda dengan pemukulan yang dimaksudkan untuk melatih kekuatan otot perut. Pukulan-pukulan ini justru menjadi bukti nyata bahwa kekerasan dan penganiayaan masih terjadi dan dilakukan para senior dalam singgasana kesenioritasannya kepada para parka junior. Kalimat penjelas gambar adalah sebagai berikut: FOTO dokumentasi memperlihatkan bentuk kekerasan di IPDN. Para praja junior dipukul dengan mata tertutup agar identitas senior yang memukul mereka, tak diketahui.

Pertarungan isu pun semakin sengit ketika Inu Kencana, seorang dosen IPDN berani membongkar kematian misteriun para mahasiswanya, seperti yang diberitakan dalam Koran Galamedia, Selasa 10 April 2007 dengan judul Inu Bongkar Kematian Misterius di IPDN. Kata “bongkar” bermakna bahwa kasus-kasus penyiksaan yang telah menelan banyak korban jiwa memang benar adanya, dan dapat dikemukakan fakta-faktanya. Itu artinya pemberitaan ini senada dengan pemberitaan Sistem Militer tak Cocok untuk Sipil di atas. Namun, dalam pemberitaan ini lebih lanjut dapat diketahui bahwa Inu Kencana, si Pembongkar Fakta justru diberi sanksi bersama rekannya Handi Asikin karena dianggap telah mengungkapkan kebenaran dengan cara-cara yang tidak benar, dan tidak mengikuti aturan main serta etika yang berlaku, sebuah eufimisme yang terdapat dalam paragraf 10 sebagai tuturan SBY. Hal ini yang kemudian membiaskan lagi, apakah sistem dan pola pembinaan itu harus dilenyapkan atau akan dipertahankan, ketidaktegasan sikap justru ada dalam pemberitaan ini.

4. Objektivasi dan Abstraksi

Sebuah judul pemberitaan yang objektif mengenai pemutusan hubungan listrik, dimuat dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, yaitu Tiga Ribu Pelanggan Terancam Diputus. Objektivasi selanjutnya terdapat dalam isi berita yang memuat persentase pasti mengenai jumlah pelanggan sebesar 72 ribu dengan 17 ribu diantaranya rata-rata menunggak pembayaran listrik setiap bulannya. Objektivasi ini perlu dilakukan agar pemberitaan jelas, tidak kabur dan terkesan mengada-ada serta membesar-besarkan.

Kebalikan objektivasi adalah abstraksi, di mana hal yang diungkapkan bersifat abstrak dan tidak jelas jumlah nilainya serta belum objektif. Sebuah judul dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, yaitu Produksi Ikan Masih Rendah. Judul tersebut mengabstraksi nilai atau tingkat produksi ikan. Meskipun disebutkan rendah, tetapi kerendahan tersebut masih bersifat nisbi tanpa ukuran yang tepat. Namun, dalam isi pemberitaan objektivasi tetap dilakukan denga menuliskan jumlah dan persentasenya.

5. Identifikasi

Identifikasi mutlak diperlukan dalam sebuah pemberitaan, agar berita yang disampaikan jelas dan akurat. Contoh identifikasi dalam sebuah pemberitaan misalnya dalam Lelaki Muda Terpotong-potong yang dimuat dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007. Kalimat Warga Kampung Cimengger, Desa Bojongmengger, Kecamatan Cijeungjing gempar menyusul ditemukannya sesosok mayat dalam kondisi terpotong-potong di pinggir rel KA Ciamis-Banjar, Jumat (6/4) pagi. Kalimat tersebut memuat identifikasi mengenai tempat kejadian. Kalimat kedua juga berisi identifikasi, tepatnya identifikasi subjek. Belakngan diketahui korban bernama Olih Solihin, berusia 29 tahun, warga Kecamatan Baregbeg. Dan, kalimat selanjutnya mengideintifikasi keadaan. “Dari kondisi potongan tubuh, diduga korban bunuh diri dengan cara tidur di r el kemudian tergilas oleh rangkaian KA yang lewat,” ujar petugas identifikasi kepolisian.

6. Asosiasi dan Disasosiasi

Bagai Petir di Siang Hari, kalimat yang dapat mengasosiasikan rasa kaget dan tak percaya menjadi sebuah judul dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007. Judul tersebut mengasosiasi keadaan Ny. Wawat yang dalam isi berita diungkapkan berkali-kali pingsan setelah mengetahui anaknya, Opi yang berusia 15 tahun tewas. Bagai petir di siang hari, Ny. Wawat belum bisa mempercayai kejadian ini.

Judul lain yang terdapat dalam Galamedia, Selasa 10 April 2007, justru berkebalikan dengan asosiasi. Sebuah judul langsung, tanpa berasosiasi, Lihat istri Gantung Diri Suami Benturkan Kepala, mengungkapkan rasa dan kondisi yang terjadi secara langsung. Yaitu ketika Dodi Sudrajat berusaha bunuh diri dengan cara membentur-benturkan kepalanya ke bebatuan di Curug Cihampelas setelah melihat istrinya sudah tergantung tak bernyawa.

7. Diferensiasi dan Indiferensiasi

Pasaran Cabai Turun Sayuran Melonjak, sebuah judul dalam Galamedia, Selasa 10 April 2007 yang menunjukkan diferensiasi. Yaitu perbedaan antara harga berbagai jenis cabai yang relatif sedang turun dengan harga beberapa jenis sayuran yang justru mengalami kenaikan.

Dalam Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, pemberitaan yang berjudul Bupati Bernyanyi, Isteri Berjoget, mempelihatkan adanya sebuah indiferensiasi. Meskipun terdapat perbedaan kata kerja yaitu bernyani dan berjoget, tetapi keduanya sama-sama merujuk pada sebuah makna yaitu menghibur. Bupati Kabupaten Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh didampingi istrinya Hj. Y. Rosdiana, berdendang bersama dalam sebuah acara lokakarya.

Sumber Data:   Pikiran Rakyat, Sabtu 7 April 2007

Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007

Galamedia, Selasa 10 April 2007

BENTUK PUNGUT DARI BAHASA BELANDA

Oleh Dheka Dwi Agusti N

1. Sistem Fonologi Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda

Semua bentuk pungutan pada umumnya akan disesuaikan dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa pemungut. Agar proses adaptasi itu dapat dipahami, ada baiknya kita meninjau terlebih dahulu sistem fonologi bahasa-bahasa yang bersangkutan. Berdasarkan peninjauan ini dapat dilihat persamaan serta perbedaannya sehingga dapat diperkirakan gerak penyesuaian fonologi bahasa sumber ke dalam sistem fonologi bahasa pemungut. Dalam hal ini yang menjadi bahasa sumber dalah bahasa Belanda, sedangkan bahasa Indonesia merupakan bahasa pemungut.

2. Adaptasi Fonologis

Dalam percakapan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia banyak yang menggunakan unsur-unsur asing. Unsur-unsur itu antara lain diserap dari bahasa Arab, Sansekerta, Portugis, Inggris, dan Belanda disamping bahasa nusantara lainnya. Unsur-unsur serapan ini biasanya tidak diterima begitu saja dalam suatu bahasa, karena akan mengalami proses adaptasi yang sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa penerima. Hal ini dilakukan agar unsur-unsur asing itu tidak merusak unsur yang ada dalam bahasa penerima. Begitu pula halnya dengan bentuk pungut dari bahasa Belanda, sebelum diserap bentuk pungut tadi disesuaikan terlebih dahulu dengan kaidah bahasa Indonesia.

Sebagian besar dari bentuk yang diserap ini akan dilafalkan seperti yang terdengar oleh telinga karena cara penulisan kata dalam bahasa Indonesia adalah satu bunyi satu grafem, maka bunyi-bunyi ini akan ditulis sesuai dengan apa yang didengar. Bentuk-bentuk yang sudah disesuaikan dengan cara seperti ini tidak dirasakan seperti unsur asing lagi, bahkan banyak diantara unsur serapan ini dianggap sebagai unsur asli oleh pemakainya. Unsur-unsur yang diadaptasikan dengan cara ini dapat dibedakan atas adaptasi fonologis murni, adaptasi silabis, dan suara bakti.

2.1.Adaptasi Fonologis Murni

Sebelum sebuah kata atau istilah diterima dalam suatu bahasa, terlebih dahulu akan disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Fonem Belanda tidak tidak mempunyai kesamaan ciri dengan dengan fonem Indonesia, maka perlu diadakan motivasi sehingga mendekati bunyi yang ada sesuai dengan sistem fonologi bahasa Indonesia. Penyesuaian bunyi asing dengan perubahan berdasarkan sistem fonologi suatu bahasa disebut adaptasi fonologis murni.

Makalah ini tidak hanya menilai bagaimana suatu kata dilafalkan, melainkan mengambil grafem sebagai titik tolaknya. Hal ini dilakukan karena pada prinsipnya grafem dapat mewakili suatu fonem atau lebih. Hal yang sama terjadi dalam bahasa Belanda. Terdapat grafem Belanda yang melambangkan satu bunyi saja, tetapi terdapat juga grafem yang mewakili beberapa bunyi. Tidak sedikit juga grafem yang menjadi dasar bagaimana suatu unsur diadaptasikan, terutama jika bunyi atau unsur tersebut tidak mempunyai kesamaan ciri dengan fonem dalam bahasa indonesia.

Adaptasi fonologis murni hanya terjadi pada fonem Belanda yang terdapat dalam sistem fonologi bahasa Indonesia. Penyesuaian ini pada umumnya dilakukan berdasarkan lafal, sedangkan tulisan disesuaikan dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Apabila penyesuaian terjadi berdasarkan ejaanya, sering hal ini disebabkan untuk menghindari terjadinya homonim, mungkin juga karena struktur morfologinya kurang sesuai.

2.1.1 Grafem c yang dalam bahasa asalnya dilafalkan sebagai /_ s _/, diadaptasikan sebagai /s/, misalnya :

Cent  sen

Cement  semen

Circus  sirkus

Cyclus  siklus

Licentie  lisensi

December  desember

Incident  insident

Encyclopedie  ensiklopedi

Dalam posisi lain dimuka vokal belakang, di muka konsonan, maupun pada akhir suku kata, grafem c yang dalam bahasa asalnya dilafalkan sebagai /_ k _/ , diadaptasikan sebagai K, misalnya :

Categorie  kategori

Compleet  komplit

Cultuur  kultur

Critiek  kritik

Classiek  klasik

Actie  aksi

Academie  akademi

Decoratie  dekorasi

Aculatie  okulasi

Decreet  dekrit

Declamatie  deklamasi

Contact kontak

Dalam pemakaian sehari-hari dapat kita temukan beberapa kata yang ditulis dan dilafalkan seperti dalam bahasa sumber. Biasanya kata-kata itu merupakan istilah umum yang digunakan hampir diseluruh dunia.

2.1.2 grafem ch dalam bahasa Belanda tidak dapat dipastikan pelafalan seperti c, karena itu proses adaptasinya pun lebih rumit. Sebagian besar dari grafem ini, yang dilafalkan /_ s _/, merupakan bentuk pungut dari bahasa Perancis. Bunyi ini dilafalkan sebagai /_ s _/ setelah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia, misalnya :

Chauffeur  sopir

Chep  sep

Chimpanse  simpanse

Machine  mesin

Satu hal yang dapat dicatat dari grafem ini adalah bahwa dalam bahasa sumber tidak pernah ditemukan didepan konsonan. Hal ini juga terjadi atas grafem lainnya yang dilafalkan /_ s _/.

Sebagai grafem ch ini dilafalkan sebagai /_ x _/, yang diadaptasikan kedalam bahasa Indonesia sebagai k, misalnya ;

Chronish  kronis

Chemie  kimia

Cholera  kolera

Schema  skema

Schandaal  skandal

Synchronishch  sinkronis

Techniek  teknik

Psykologie  psikologi

Archeologi  arkeologi

Beschuit  biskuit

Dari kata diatas dapat dicatat bahwa ch yang mengikuti s dilafalkan /_ sx _/, diadaptasikan sebagai /_ sk _/ bila terdapat di muka vokal. Apabila terdapat di belakang vokal dan dilafalkan /_ s _/, maka akan diadaptasikan sebagai /_ s _/. Dari contoh-contoh ini terlihat dengan nyata bahwa penyesuaian ini dilakukan berdasarkan lafal.

Selain perubahan diatas, fonem ini ada pula yang dilafalkan /_ s _/ meskipun terletak di muka vokal seperti archief (/_ ?arxif_/) diadaptasikan sebagai /_ ?arsip_/. Ada kemungkinan bahwa grafem yang dilafalkan /_ s _/ dikacaukan dengan yang dilafalkan /_ s _/. Disamping contoh ini ada pula sebuah kata yang berubah sama sekali, menyimpang dari bagaimana kata itu dilafalkan maupun maupun bagaimana kata itu ditulis yaitu achteruit yang diadaptasikan sebagai /_ ?atret _/. Dari segi fonologi memang ada beberapa fonem yang perlu disesuaikan, dari segi morfologinya pun segmennya terlalu panjang.

2.1.3 Grafem Belanda ei mempunyai kemiripan lafal dengan grafem Indonesia ai yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Dalam bahasa Indonesia grafem ini dilafalkan /_ ey _/ variasi fonetis dari /ay/ apabila menduduki posisi akhir:

Aardbei  /_ ?arbEy_/

Gelei  /_ selay_/

Sprei  /_ seprEy_/, /_ seperay_/

Keizer  /_ kaysar_/

Pada posisi tengah ei biasanya diadaptasikan sebagai /_ E _/ karena dalam suku tertutup, terdengar sebagai vokal tunggal, misalnya :

Kapitein  /_ kaptEn _/

Pleister  /_ plEster _/

Porselein  /_ pOrselEn_/

2.1.4 Grafem eu yang merupakan unsur sebuah kata dasar, diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai /_ I _/, misalnya :

Keur  /_ kIr _/

Kleur  /_ kelIr_/

Chauffer  /_ sOpIr _/

Sebagai unsur morfem terikat, grafem ini bisa diadaptasikan sebagai /_ u _/.

2.1.5 Proses adaptasi unsur-unsur Belanda bukannya baru saja terjadi. Proses ini sedah dikenal jauh sebelum dikenal adanya bahasa indonesia, ketika itu masih dikenal bahasa melayu karena hubungan dengan bangsa Belanda sudah terjalin beberapa abad sebelumnya. Pada mulanya bahasa indonesia tidak mengenal fonem /_f_/ sehingga semua fonem /_f_/ yang ada baik dari bahasa Belanda maupun dari bahasa asing lainnya diadaptasikan sebagai /_p_/. Lama-kelamaan dengan banyaknya kata atau istilah yang masuk kedalam bangasa indonesia ke bangsa indonesia /_f_/ tidak berubah.

Selain pengaruh dari luar, /_f_/ juga tidak berubah karena ada kata atau istilah asing yang mempunyai fonem nini bisa dikacaukan dengan bentuk lain yang sudah dikenal, seperti : fakta, fatal dan folio. Jadi fonem f ini juga diterima agar tidak terjadi homofon. Akibatnya, banyak kata atau istilah yang sudah disesuaikan menjadi /p/, kembali lagi menjadi /p/ seperti dalam bahasa asalnya.

Perubahan sejenis ini memang tidak terjadi dalam waktu beberapa bulan saja. Secara hukum perubahan ini bvaru terjadi dengan diresmikannya EYD, yang diresmikan /f/ sebagai suatu fonem. Secara liguistik fonem ini digunakan oleh bahasa nusantara. Rupanya inilah alasan mengapa kaum terpelajar indonesia menggunakan fonem ini bahkan menjadikan fonem /p/ menjadi /f/.

Penyesuaian kembali menjadi f tidak berlaku bagi semua bentuk. Masih cukup banyak kata atau istilah yang sudah digunakan secara meluas di kalangan masyarakat yang merupakan golongan mayoritas, tetap dieja dan dilafalkan sebagai fonem /p/. Hal ini berlaku juga untuk bentuk-bentuk yang tidak dirasakan atau dianggap asing lagi. Akibatnya didalam pemakaian sehari-hari dapat ditemukan adanya bentuk kembar (kata yang bentuknya mirip dan berasal dari sumber yang sama), misalnya :

Familie  famili

Film  film

Professor  profesor

Actief  aktif

Positief  positif

Selain ditemukannya bentuk kembar adapula beberapa bentuk yang tetap p, tidak berubah kembali menjadi f, misalnya :

Fabriek  pabrik

Feest  pesta

Chauffer  sopir

Komfoor  kompor

Koffer  koper

Cshroef  sekrup

Slof  selop

2.1.6 Grafem g dalam bahasa Belanda tidak dilafalkan secara sama seperti dalam bahasa Indonesia. Grafem yang dilafalkan dalam bahasa Belanda tetap dituliskan /_g_/ dalam bahasa indonesia dan dilafalkan /_g_/. Dalam hal ini yang menjadi patokan adalah tulisan, bukan lafal.

Dari daftar yang diteliti dapat dicatat beberapa istilah yang ditulis dan dilafalkan sama seperti dalam bahasa sumber. Garfem ini tidak dilafalkan /_g_/ karena posisinya yang terletak pada akhir suku kata, sedangkan berdasarkan distribusinya, /_g_/ tidak pernah menduduki posisi akhir dalam bahasa indonesia. Bentuk-bentuk ini pun tidak ditemuakan dalam pembicaraan sehari-hari selain dalam pembicaraan ilmiah.

Selain penyesuaian seperti tersebut di atas, kadang-kadang g diadaptasikan sebagai k. Bentuk-bentuk ini banyak digunakan masyarakat, misalnya:

Gaas  kasa

Raagbol  rakbol

Velg  pelek

Apabila g dalam bahasa sumber dilafalkan s, akan diadaptasikan sebagai /_s_/, sebagaimana grafem lain yang dilafalkan /_s_/. Tetapi ada beberapa contoh yang dalam bahasa sumber dilafalhan /_z_/, diadaptasikan kedalam bahasa Indonesia sebagai /_s_/. Misalnya :

Gelei /_ zelEi _/  selai /_ selay _/

Gilette /_ zilEt _/  silet /_ silEt _/

2.1.7 Diagraf Belanda ij melambangkan satu bunyi dan dilafalkan sama dengan ei. Jika ei diadaptasikan sebagai /_ ey _/ atau /_ ay _/, maka ij dapat diadaptasikan sebagai /_E_/ atau /_i_/. Apa yang menjadi dasar penyesuaian ini menjadi tiga bentuk, tidak jelas karena /_Ey_/ dianggap variasi fonetis dari /ay/ :

  1. menjadi /_ ay _/ seperti dalam:

maatschappij  maskapai

partaij  partai

batterij  baterai

1. ada kalanya menjadi /_ E _/ seperti dalam :

lijm  lem

ijs  es

loterij  lotere

rijbewijs  rebewes

2. kadang-kadang menjadi /_i_/, seperti dalam :

lijn  lin

pijp  pipa

strijk(en)  strika

Sebenarnya lafal diagraf ini paling dekat dengan bemtuk pertama, tetapi dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa ij hanya menjadi ai jika menduduki posisi akhir.

2.1.8 Dalam bahasa Belanda grafem j dialfalkan dengan dua cara, /_y_/ dan /_z_/. Grafem j yang dilafalkan /_z_/ dalam bahasa sumber diadaptasikan sebagai j dalam bahasa Indonesia, misalnya:

Journaal /_ zurna.l_/ jurnal

Journalistiek /_ zurnalistik_/  jurnalistik

Perlu dicatat bahwa sebagian besar kata atau istilah belanda dengan grafem j yang dilafalkan /_z_/ merupakan bentuk pungut dari bahasa Perancis.

2.1.9 Grafem u belanda yang dalam bahasa sumber dilafalkan sebagai u dalam bahasa Indonesia diadaptasikan sebagai /_u_/. Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia tidak mengenal fonem u sehingga grafemlah yang menjadi pangkal pengadaptasiannya, misalnya :

Communist /_ kOm. unIst _/ komunis

Rubriek /_ rubrik _/  rubrik

Cyclus /_ siklAs _/  siklus

Syllabus /_ silabAs _/  silabus

Dari data yang terkumpul ditemukan hanya satu contoh yang dalam bahasa Belanda dilafalkan /_ A _/, tetapi diadaptasikan sebagai /_ I _/, yaitu bus dilafalkan /­_ bAs _/ dan diadaptasikan sebagai /_ bis _/.

2.1.10 Bahasa Belanda seperti juga bahasa-bahasa lainnya membedakan secara nyata /v/ dan /f/ : tidak demikian halnya dalam bahasa Indonesia yang mengenal v hanya sebagai grafem v akibat berhubungan dengan masyarakat barat. Grafem ini dilafalkan /_f_/, untuk mengganti grafem menjadi f tidaklah mungkin karena perubahan ini bisa menyebabkan bentuk asalnya menjadi kacau sehingga sukar bagi mereka yang mau membandingkannya dengan bentuk asalnya.

Mengganti kata atau istilah dengan yang baru bukanlah hal yang mudah, sedangkan istilah yang mengungkapkan pengertian suatu ilmu sangat diperlukan. Karena itulah grafem ini diterima dalam bahgasa indonesia, tetapi tetap dilafalkan /_f_/. Jadi dalam bahasa Indonesia ini merupakan alograf dari f. Karena dilafalkan f, maka dalam bentukannya grafem ini menjadi p dan f, kata atau istilah yang sudah dipakai secara meluas di kalangan masyarakat tetap p, misalnya :

Vanille  panili

Ventiel  pentil

Verband  perban

Verlof  perlop

Provincie  propinsi

Civiel  sipil

Kaveling  kapling

Advocaat  alpokat

Ilmu semakin berkembang dan istilah yang diserap pun semakin banyak sehingga banyak istilah dengan grafem v digunakan dan dilafalkan sebagai /_f_/, terutama dalam istilah internasional.

Selain penyesuaian di atas, data menunjukan adnya v yang tidak berubah menjadi p, melainkan berubah menjadi b, misalnya :

Gouverneur  gubernur

Servet  serbet

Veranda  beranda

Mungkin hal ini terjadi karena v diucapkan sangat berat sehingga terdengar sebagai /_b_/.

2.1.11 Diftong Belanda yang dilafalkan /_ ou _/ diadaptasikan kedalam bahasa Indonesia sebagai /_ aw _/. Meskipun mempunyai kesamaan ciri, kata yang mengandung fonem ini tidak dilafalkan demikian tetapi dilafalkan sebagaimana diftong ini dieja dalam bahasa Indonesia.

2.1.12 Diftong Belanda yang dilambangkan dengan grafem u i dilafalkan sebagaimana bunyi itu dieja dalam bahasa Indonesia karena tidak adanya padanan dalam bahasa Indonesia. Sebagai diftong depan, diadaptasikan sebagai vokal depan tinggi merendah /i/, misalnya :

Besluit  beslit

Buis  bis

2.1.13 Grafem Belanda x yang dalam bahasa Indonesia pada umumnya hanya digunakan dalam perhitungan ilmu eksakta diadaptasikan kedalam bahasa Indonesia kedalam dua cara. Bila grafem ini menduduki posisi tengah antara dua vokal atau pada akhir suku kata, maka akan dilafalkan /_ks_/ sebagaimana dalam bahasa sumber. Sebaliknya bila menduduki posisi awal, maka dilafalkan sebagai /_s_/ dan tetap dieja x, misalnya :

Xanthate  xantat

Xenon  xenon

Xylophoon  xilofon

2.1.14 Huruf terakhir dari abjad internasional diadaptasikan kedalam bahasa Indonesia sebagai /s/. Pada tahun 1972 grafem ini diresmikan pemakaiannya, dalam pemakaiannya ini hanya digunakan dalam inlmu eksakta dan dalam istilah ilmiah atau internasional, tetapi dilafalkan /_s_/. Karena dilafalkan /_s_/ itulah, grafem ini diadaptasikan sebagai s dan pada umumnya ditemukan pada posisi awal, misalnya :

Zak  saku

Zalf  salep

Zadel  sadel

Zaink  seng

Zegel  segel

Zenuwen  senewen

Zuster suster

2.2 Adaptasi Silabis

Penyesuaian bumnyi tidak hanya terjadi atas fonem tertentu saja. Ada kalanya penyesuaian seperti ini ditemukan juga pada suku kata, biasanya didasarkan pada lafal. Penyesuaian sejenis ini disebut adaptasai silabis. Penyesuaian ini terjadi karena struktur suku kata bahasa Belanda berbeda dari struktur kata bahasa Indonesia. Adaptasi ini dapat dibagi menjadi empat bagian :

  1. kata ekasuku menjadi dwisuku

  2. vokal tegang, baik yang dinyatakan dengan grafem ganda maupun dengan grafem tunggal, menjadi grafem tunggal

  3. konsonan ganda menjadi konsonan tunggal

  4. menghilangnya konsonan hambat pada akhir gugus konsonan pascavokal

2.2.1 Kata dasar dalam bahasa Indonesia, seperti juga kata dasar bahasa-bahasa Nusantara lainnya, umumnya terjadi dari dua suku kata; sebaliknya dalam bahasa belanda dapat ditemukan banyak kata ekasuku. Jika bentuk-bentuk ini diserap, biasanya akan dijadikan kata dwisuku seperti kata dasar Indonesia pada umumnya. Banyak kata ekasuku menjadi dwisuku, tetapi tidak semua disesuaikan melalui proses yang sama karena bentuk asalnya pun tidak sama. Penyesuaian ini bisa berbentuk :

1. Gugus dua vokal yang dalam tatabahasa tradisional disebut diftong, menjadi dua vokal dari dua suku kata, misalnya :

bout /_ bOut _/  baut /_ baut _/

kous /_ kOus _/  kaus /_ kaus _/

duit  duit /_ duwit _/

puin  puing /_ puWiN _/

Apabila kata ekasuku yang mempunyai gugus vokal tersebut dimulai dengan gugus konsonan, dalam bahasa Indonesia gugus konsonan kata ekasuku tadi akan mendapat suara bakti sehingga menjadi trisuku, misalnya :

fluit  peluit /_ peluwit _/

spuit  sepuit /_ sepuwit _/

2. Kata ekasuku menjadi dwisuku akibat gejala paragoge, suatu proses penambahan bunyi pada akhir suatu kata tanpa mengubah arti, diasanya berupa fonem. Penambahan fonem ini tidak terikat pada kaidah tertentu karena tidak semua kata ekasuku yang diserap akan disesuaikan dan tidak semua kata ekasuku akan mendapat penambahan dengan cara ini. Kata ekasuku ini ada yang mempunyai gugus konsonan pravokal, ada yang mempunyai gugus konsonan pascavokal, bahkan ada pula yang tidak mempunyai gugus konsonan. Kata yang mendapat perubahan akibat gejala paragoge adalah:

  • penambahan fonem /a/ :

feest  pesta

lens  lensa

schets  sketsa

norm  norma

pen  pena

pijp  pipa

pomp  pompa

strijk(en)  strika

  • penambahan fonem /u/ :

bank  bangku

boek  buku

kaart  kartu

lamp  lampu

zak  saku

2.2.2 Bahasa Indonesia tidak membedakan vokal tegang dan tidak tegang. Kalaupun ada hanya merupakan variasi vokal atau berbeda karena distribusinya ; dengan kata lain dalam bahasa Indonesia perbedaan ini tidak fonemis. Dalam bahasa Belanda vokal tegang pada umumnya dituliskan dengan grafem ganda pada suku tertutup, atau dengan grafem tunggal dalam suku terbuka ; sedangkan vokal tidak tegang dituliskan dengan grafem tunggal.

Grafem ganda yang menunjukkan vokal tegang juga tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia. Jika dalam sebuah kata Indonesia ditemukan dua buah vokal yang sama secara berturut-turut, kedua vokal tadi merupakan anggota dari dua suku kata yantg berbeda. Karena itu, vokal tegang dalam bahasa Belanda menjadi vokal tidak tegang, sedangkan grafem ganda atau diagraf menjadi grafem tunggal atau monograf, misalnya :

Lokaal  lokal

Veer  per

Goot  got

Absoluut  absolut

Nominaal  nominal

Feest  pesta

Spier  sepir

Kool  kol

Instituut  institute

2.2 3 Selain grafem ganda berupa vokal, bahasa Indonesia juga tidak mempunyai konsonan ganda seperti bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Karena itu, semua kata atau istilah yang mempunyai kinsonan ganda akan diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi konsonan tunggal, misalnya :

Acclamatie  aklamasi

Koffer  koper

Abonnement  abonemen

Appel  apel

Patrouille  patroli

Assistent  asisten

Commandant  komandan

Aggressie  agresi

Seandainya konsonan ganda itu mewakili bunyi-bunyi yang berbeda dalam bahasa sumber, penyesuaiannya akan mengikuti lafal, tidak semata-mata mengubah konsonan ganda menjadi konsonan tunggal.

Accent  aksen

Vaccin  vaksin

Milliard  mlyar

Millioen  milyun

2.2.4 Sebagian besar gugus konsonan pascavokal Belanda diakhiri oleh konsonan hambat di samping konsonan geser dan nasal. Sebaliknya struktur bahasa Indonesia tidak menghendaki gugus konsonan, apalagi gugus konsonan pascavokal, lebih-lebih lagi jika konsonan akhir dari gugus konsonan itu konsonan hambat dental. Jika dalam istilah yang akan diserap terdapat gugus konsonan jenis ini, biasanya konsonan hambat itu hilang, misalnya :

Brandkast  brankas

Verband  perban

Accoord  akur

Agent  agen

Di dalam kata atau istilah ekasuku, konsonan hambat pada akhir gugus konsonan pascavokal biasanya tetap, tidak hilang, bahkan kadang-kadang mendapat penambahan. Kata-kata ini pada umumnya merupakan istlah internasional yang masuk kemudian, setelah banyak dari bangsa indonesia mengenyam pendidikan. Hal ini menyebabkan istilah dwisuku bergugus konsonan pascavokal mempertahankan konsonan hambatnya , misalnya : Volt ,Kobalt, Sport.


2.3. Suara Bakti

Pada beberapa contoh diatas, adakalanya terlihat atau terdengar bahwa suatu kata atau istilah mendapat penambahan bunyi yang berfungsi sebagai pelancar ucapan. Bunyi seperti ini disebut suara bakti. Pada awal masuknya kata pungut, semua kata atau istilah yang mempunyai gugus konsonan mendapat suara bakti. Suara bakti, yang dalam hal ini biasanya diwakili oleh bunyi pepet, pasti timbul apabila konsonan pertama dari gugus konsonan pravokal adalah konsonan spiran /s/ atau jika konsonan kedua dari gugus konsonan pravokal itu adalah konsonan likuida /l/, dan sebaliknya apabila konsonan pertama dari gugus konsonan pascavokal itu adalah /l/, misalnya :

1. Konsonan pertama gugus konsonan pravokal adalah konsonan spiral /s/, misalnya

Scop  sekop

Smeer  semir

Smokkel  semokel

2. Konsonan kedua dari gugus konsonan pravokal adalah konsonan likuida, misalnya

Glas  gelas

Kleuir  kelir

Slof  selop

3. Sebaliknya dari 2, bila konsonan pertama gugus konsonan pascavokal adalah konsonan /l/, misalnya

Kalm  kalem

Velg  pelek

Dari contoh diatas ternyata bahwa istilah yang merupakan kebalikan dari kelompok pertama, tidak mendapat suara bakti, seperti dalam ; ambulans, korps, mars, krans, ons. Istilah ini tidak berubah terutama gugus konsonannya, tetapi sebagian besar dari contoh ini diserap kemudian. Berdasarkan contoh istilah yang tidak kehilangan gugus konsonan, kemudian diserap beberapa bentuk yang sejenis dengan dengan diatas, tetapi tidak mendapat suara bakti, misalnya :

  1. Slogan, skripsi, spiral, staf, statistik

  2. Blangko, klep, klimaks, plot, konflik

  3. Film, helm, wals.

Sebagian besar kata atau istilah yang tidak mengalami penyesuaian, merupakan kata atau istilah internasional dan istilah ilmiah. Beberapa istilah diantaranya yang sudah lama diserap, memang mendapat suara bakti ; tetapi dengan makin majunya pengetahuan, justru bentuk dengan suara bakti tadi mulai menghilang, misalnya dalam pilem, kompelek, setasiun, setandar, yang sekarang lebih dikenal sebagai film, komplek, stasiun, standar. Pada umumnya bentukan yang digunakan masyarakat yang kurang terpelajar lebih banyak mendapat penambahan suara bakti karena bahasa nusantara tidak mengenal adanya gugus konsonan.


3. Sistem Morfologi Bahasa Belanda dan Indonesia

Penyesuaian unsur serapan suatu bahasa tidak hanya terjadi dalam tataran fonologi saja, tetapi dapat juga terjadi dalam tataran morfologi. Penyesuaian ini pun akan mengikuti kaidah yang berlaku, dalam hal ini kaidah morfologi bahasa Indonesia. Untuk mengikuti penyesuaian ini ada baiknya kita meninjau dahulu system morfologi kedua bahasa yang bersangkutan. Dari penguraian ini dapat dilihat persamaan dan perbedaan kedua bahasa ini yang diperlukan untuk mengetahui penyesuaian kata/istilah Belanda ke dalam bahasa Indonesia.

Kami akan membahas sistem kedua bahasa ini tidak secara luas, tetapi yang ada hubungannya dengan proses adaptasi unsure-unsur bahasa Belanda. Sehubungan dengan ini kami hanya membicarakan morfem ditinjau dari segi bentuk yang dapat membantu kita untuk lebih mengerti proses adaptasi morfologis, khususnya penyesuaian morfem bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia.

3. 1 Sistem Morfologi Bahasa Indonesia

Dalam bidang morfologi suatu bahasa terdapat dua unsure yang mempunyai fungsi pembentuk kata: unsur yang secara langsung membina suatu kalimat dan unsur yang secara tidak langsung membina suatu kalimat. Yang dapat membina kalimat secara langsung disebut morfem bebas dan morfem dasar, sedangkan yang tidak dapt membina kalimat secara langsung disebut morfem terikat. Morfem bebas sudah merupakan kata, tetapi kata itu tidak hanya terjadi dari morfem bebas saja, melainkan juga dari bagian-bagian lain yang membentuk kalimat. Bagian-bagian itu dapat merupakan gabungan morfem terikat dengan morfem bebas, atau morfem dasar dengan morfem dasar.

Kata yang membentuk suatu kalimat itu dapat ditinjau dari dua segi: dari bentuk dan jenis katanya. Dalam makalah ini akan membahas dari segi bentuk saja karena jenis kata tidak mempengaruhi proses adaptasi secara langsung, menurut bentuknya kata dibagi atas :

  1. Kata dasar: Dalam bahasa Indonesia, juga dalm bahasa-bahasa Nusantara lainnya, kata dasar umumnya terdiri dari dua buah suku kata dan tidak mengenal gugus konsonan.

  2. Kata berafiks: yang dimaksud dengan kata berafiks ialah gabungan anatara kata dasar dengan afiks. Afiks, yang merupakan morfem terikat, dalam bahasa Indonesia dibagi lima

a. Prefiks (awalan)

b. Infiks (sisipan)

c. Sufiks (akhiran)

d. Konfikse.

e. Gabungan dari dua atau lebih dari keempat bentuk diatas.

Semua morfem bebas dapat memperoleh salah satu bentuk terikat. Bentuk dari kata yang mendapat afiks ini biasanya tidak berubah, ditambahkan langsung pada morfem bebas atau kata; kalaupun ada, perubahan itu sangat kecil. Perubahan pada umumnya timbul pada kata yang berprefiks me- atau pe-. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah :

a.   Kata dasar yang mendapat prefiks ini akan mendapat atau mengalami proses nasalisasi

b.   Nasal itu harus homorgan dengan fonem awal dari kata dasar tersebut

c. Jika fonem awalnya konsonan bersuara, maka tidak akan luluh; sebaliknya jika merupakan konsonan tidak bersuara, maka akan luluh kecuali fonem /c/. peluluhan ini hanya terjadi pada kata dasar.

3. Kata ulang: bentuk pengulangan bisa terjadi atas pengulangan suku

awal, seluruh kata dasar, pengulangan atas seluruh kata dasar dengan

perubahan pada salah satu bentuknya, dan pengulangan yang berafiks

4. Kata majemuk atau gabungan kata: merupakan gabungan dua buah kata

atau lebih yang membentuk satu kesatuan arti, karena itu tidak dapat

dipecahkan lagi atas bagian-bagian yang lebih kecil tanpa mengubah

pengertiannya. Gabungan itu membentuk suatu pusat dan biasabya

terbentuk menurut hokum D-M.

    3.2 Sistem Morfologi Bahasa Belanda

    Uaraian ‘kata’ dalam bahasa Belanda pun hanya dibahas pada pebguraian menurut bentuknya, yang terbagi atas:

    1. Kata dasar: ialah kata yang tidak dapat dibagi lagi, dapat berupa satu suku kata atau lebih.

    2. Kata berafiks: ialah kata dasar yang mendapat afiks. Dalam bahasa Belanda, afiks dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

    a. Afiks pembentuk kata baru, yang dibentuk dari kata-kata yang sudah ada. Jenis ini dapat dibagi lagi atas; prefiks, sufiks, atau gabungan dari keduanya (dalam bahasa Belanda disebut afleidingsaffixen)

    b. Afiks pembentuk atau penunjuk fungsi kata dalam kalimat; merupakan alat untuk menunjukkan fleksi yang membedakan jumlah, kasus, waktu, cara, dll.
    c. Kata majemuk: kata majemuk terjadi dari gabungan dua kata yang sudah ada dan selalu terjadi dari dua anggota. Jika gabungan kata itu bersifat endosentris, anggota pertama menentukan yang lain.

    3.3 Persamaan Sistem Morfologi Bahsa Indonesia dan Belanda

    Menurut bentuknya “kata” dalam kedua bahasa tersebut mempunyai pembagian yang menunjukkan kesamaan. Kata dasar dalam kedua bahasa ini merupakan dasar dari pembentukan kata lainnya, baoik kata berafiks maupun gabungan kata. Kecuali afiks pembentuk fleksi, afiks lainnya dalam bahasa Belanda, seperti juga dalam bahasa Indonesia, dihubungkan satu dengan yang lainnya tanpa mendapat perubahan bentuk.

    3.4 Perbedaan Sistem Morfologi Bahasa Indonesia dan Belanda

    Seperti juga sistem fonologi kedua bahasa ini, meskipun terdapat cukup banyak persamaan dalam system morfologi, tidaklah berarti bahwa tidak terdapat perbedaan, lagi pula kedua bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa yang berbeda. Perbedaan sistem morfologi kedua bahasa ini antara lain terdapat pada:

    1. Kata dasar: suku kata bahasa Indonesia pada umumnya hanya dua dan tidak mengenal gugus konsonan. Sedangkan kata dalam bahasa Belanda terdiri dari satu suku kata atau lebih dan mengenal sejumlah gugus konsonan.

    2. Kata berafiks: kedua bahasa ini mengenal adanya afiks, tetapi proses adaptasi antara kedua bahasa ini tidak terjadi dalam tataran afiks. Proses adaptasi hanya terjadi atas morfem bebas, sedangkan afiks yang mungkin dapat diserap juga, diadaptasikan sebagai satu kesatuan bentuk.

    3. Kata ulang: dalam bahasa Belanda tidak mengenal adanya pengulangan kata, tidak seperti dalam bahasa Indonesia.

    4. Kata majemuk : kata majemuk dalam bahasa Belanda hanya terjadi dari dua buah kata, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata majemuk terjadi dari gabungan dua buah kata atau lebih. Anggota pertama dari kata majemuk yang bersifat endosentris dalam bahasa Belanda menerangkan anggota kedua, sedangkan dalam bahasa Indonesia sebaliknya.

    Setelah melihat perbedaan system morfologi kedua bahasa tadi, ada baiknya kita membahas kemungkinan apa saja yang dapat terjadi akibat perbedaan:

    1. Kata ekasuku dalam bahasa Belanda akan diserap sebagai kata dwisuku dengan penambahan yang ada pada umumnya terjadi pada akhir suku kata tanpa peraturan yang tetap. Seandainya kata ekasuku tadi mempunyai gugus konsonan, maka akan mendapat suara bakti antara gugus konsonan tadi. Sebaliknya, kata dalam bahasa Belanda bersuku banyak yang diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia seolah-olah dipadukan karena mengalami perubahan yang disebut gejala haplologi. Haplology adalah suatu proses di mana sebuah kata kehilangan suku kata di tengah-tengah kata tersebut.

    2. Kata dalam bahasa Belanda, baik berupa bentuk dasar maupun bentuk berafiks diserap ke dalam bahasa Indonesia sebagai bentuk dasar, tidak sebagai bentuk jadian/berafiks. Maka jika ingin diberi imbuhan, kata tersebut akan mendapat perlakuan yang sama dengan kata Indonesia lainnya. Misalnya: bila sebuah kata mendapat prefiks me-, maka akan mendapat nasal homorgan.

    3. Tidak semua gabungan kata atau kata majemuk dalam bahasa Belanda diserap sebagai kata majemuk pula, ada sejumlah kata yang diserap sebagai kata dasar. Jika gabungan kata itu masih dirasakan sebagai kata majemuk, ia akan disesuaikan dengan kaidah kata majemuk Indonesia. Yaitu: jika kata majemuk itu bersifat endosentris, maka ia terbentuk menurut hukum D-M.

    4. Adaptasi Morfologis

    Penyerapan suatu kata tidak hanya terjadi dalam tataran fonologis, tetapi juga terjadi dalam tataran morfologis. Jika penyesuaian itu terjadi berdasarkan struktur morfologi suatu bahasa, maka hal tersebutlah yang dikatakan sebagai adaptasi morfologis. Suatu morfem daalm bahasa sumber, baik morfem bebas maupun morfem terikat, akan disesuaikan dengan struktur morfologis bahasa pemungut.

    Struktur morfologis bahasa pemungut meliputi bentuk-bentuk terikat dan struktur kata dasar. Penyesuaian unsur-unsur tersebut ditinjau sebagai satu kesatuan bentuk. Namun, tak dapat disangkal bahwa penyesuaian ini tidak dapat dipisahkan dari adaptasi fonologis; lafal tetap menjadi unsur penentu dalam suatu adaptasi morfologis. Bahkan banyak unsur bahasa Belanda yang polimorfemis berubah bentuk menjadi monomorfemis dalam bahasa Indonesia. Bentuk polimorfem ini bisa terjadi dari morfem dasar dengan morfem terikat, atau dari dua buah morfem dasar atau lebih.

    Bentuk serapan akan disesuaikan dengan kaidah bahasa pemungut. Jika sebuah bentuk serapan tidak menyalahi kaidah yang erlaku dalam bahasa pemungut, baik kaidah fonologis maupun morfologisnya, maka bentuk tersebut dikatakan mengalami adaptasi zero atau nol, artinya ia tidak mengelami suatu perubahan.

    Di samping itu, dapat pula kita tmukan beberapa bentuk yang diserap berdasarkan analogi. Penyerapan jenis ini dilakukan baik berdasarkan bentuk yang sudah ada dalam bahasanya sendiri, maupun bentuk yang diserap dari bahasa asing.

    4. 1 Adaptasi Polimorfemis

    Penyerapan unsur-unsur bahasa Belanda yang terjadi dari beberapa morfem, dapat dibagi dua:

    1. Penyerapan morfem dasar dengan morfem terikat

    2. Penyerapan dua morfem dasar atau lebih

    4. 1. 1 Penyerapan morfem dasar dengan morfem terikat

    Dalam menyerap unsur polimorfemis Belanda yang terjadi dari morfem dasar dengan morfem terikat, dalam hal ini afiks, morfem terikat Bahasa Belanda ini tidak dikenal sebagai afiks dalam bahasa Indonesia, melainkan sebagai bagian dari morfem dasar serapan. Banyak unsure serapan polimorfemis kemudian berubah menjadi unsure morfofonemis dalam bahasa Indonesia. Penyesuaian tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Sufiks bahasa Belanda –aal menjadi al dalam bahasa Indonesia, karena BI memang tidak mengenal vokal tegang.

    Contoh:

    Doctoraal ­­ –> doktoral

    Koloniaal­­ –> colonial

    Normal­­ –> normal

    Verbaal­­ –> verbal

    2. Sufiks bahasa Belanda –age menjadi ase dalam bahasa Indonesia dan merupakan bagian dari kata dasar serapan.

    Contoh:

    Etalage­­ –> etalase

    Percentage­­ –> persentase

    Camourflage­­ –> kamuflase

    Spionage­­ –> spionase

    Sebelum unsur-unsur Barat mempengaruhi bahasa Indonesia, pepet tidak pernah menduduki posisi akhir1. Namun, sekarang bentuk sejenis ini cukup banyak kita temukan, baik dalam suku akhir terbuka maupun yang tertutup. Di samping bentuk-bentuk di atas, ada yang diadaptasikan secara berbeda. Setelah diselidiki ternyata dalam bahasa sumber bentuk ini pun merupakan bentuk dasar. Mungkin atas dasar itulah bentuk-bentuk tersebut diadaptasikan berbeda dari yang lain, contoh:

    Bagage­­ –> bagasi

    Garage­­ –> garasi

    3. Sufiks bahasa Belanda –air yang juga merupakan bentuk pungut dari bahasa Perancis, diadaptasikan sesuai dengan cara morfem tadi dilafalkan, yaitu /er/, contoh:

    Arbitrair­­ –> arbitrer

    Autotrair­­ –> otoriter

    Complementair­­ –> komplementer

    Honorair­­ –> honorer

    4. Sufiks bahasa Belanda –ant menjadi an dalam bahasa Indonesia, konsonan pada akhir gugus konsonan pascavokal sering menghilang, contoh:

    Consonant­­ –> konsonan

    Restaurant­­ –> restoran

    Transmigrant­­ –>­­ transmigran

    Variant­­ –> varian

    5. Sufiks bahasa Belanda –eel menjadi al dalam bahasa Indonesia, contoh:

    Formeel­­ –> formal

    Functioneel­­ –> fungsional

    Rationeel­­ –> rasional

    Structureel­­ –> struktural2

    Commercieel­­ –> komersial

    Sentimenteel­­ –> sentimental

    Potentieel­­ –> potensial

    Principieel­­ –> prinsipial

    6. Sufiks pembentuk verba bahasa Belanda –eren dalam bahasa Indonesia kehilangan suku akhirnya dan kemudian diadaptasikan sebagai ir, contoh:

    Blokeren blokir

    Parkeren parkir

    Solderen soldir

    Taxeren taksir

    Tidak semua kata bahasa Belanda bersufiks –eren dapat diadaptasikan sebagai ir. Menurut S. Tjokronegoro (dalam “Tjukupkah Saudara Membina Bahasa Kesatuan Kita?, Jakarta, 1968, hal. 45) kata bersufiks –eren akan diadaptasikan menjadi ir bila:

    1. Kata nama dalam bahasa Belanda tidak mungkin atau sukar diIndonesiakan;

    2. Verba bahasa Belanda lebih dikenal orang Indonesia daripada kata namanya.

    7. Sufiks bahasa Belanda –eur dalam bahasa Indonesia menjadi dua bentuk yang berbeda: ir dan ur, contoh:

    Chauffeur sopir

    Controleur kontrolir

    Formateur formatir

    Importeur importer

    Conducteur kondektur

    Directeur direktur

    Gouverneur gubernur

    Redacteur redaktur

    Kedua bentuk ini diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia dalam waktu yang berbeda, seperti halnya kesepadanan bunyi fonem-fonem bahas berkerabat pun menyatakan bahwa tiap zaman mempunyai korespondensi sendiri; dua fonem atau bentuk yang berbeda tidak akan berkorespondensi dalam satu waktu atau dalam waktu yang bersamaan.

    Korespondensi fonemis merupakan salah satu cara untuk membandingkan dua buah bahasa atau lebih. Kedua bahasa tadi dikatakan mempunyai fonem yang sepadan jika bisa ditemukan rekurensi dank o-okurensi karena perubahan bunyi terjadi secara teratur. T. Bynon mengatakan bahwa korespondensi yang teratur antara unsure atau segmen yang terjadi karena perubahan fonetis yang teratur, dapat ditemukan dalam 3 keadaan, yaitu:

    1. Perkembangan suatu kata (di dalam bahasa yang sama).

    2. Korespondensi bahasa-bahasa berkerabat

    3. Kata pungut dan bentuk-bentuk utama dalam bahasa sumber

    Berdasarkan kategori di atas dapat dibuat suatu hipotesa bahwa ada dua masa korespondensi fonemis, yaitu:

    1. Masa –eur berkorespondensi dengan ir

    2. Masa –eur berkorespondensi dengan ur

    Dari data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa bentuk yang berubah menjadi ur ada padanannya dengan sufiks –or dalam bahasa Inggris. Rupanya waktu itu pengaruh bahasa Inggris sudah masuk ke dalam bahasa Indonesia. Bentuk bersufiks –eur yang tidak ada padanannya dengan bentuk dalam bahasa Inggris atau tidak ditemukan dalam bahasa Inggris, diadaptasikan menjadi ir. Mengingat baangsa Indonesia dijajah oleh Belanda selama hampir tiga ratus lima puluh tahun, berarti selama itu pula bahasa Belanda mempengaruhi bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Inggris lebih banyak mempengaruhi bahasa Indonesia setelah Indonesia merdeka. Oleh karena itu dapat kami simpulkan bahwa penyesuaian –eur menjadi ir terjadi lebih dahulu dari ur.

    8. Sufiks Belanda –(t)ief diadaptasikan sebagai (t)if dalam bahasa Indonesia, sebagaimana bunyinya dilafalkan, hanya ejaannya saja yang disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Seperti jenis adaptasi atas bentuk terikat lainnya, bentuk serapan ini pun diadaptasi sebagai bentuk monomorfemis, contoh:

    Alternatief alternatif

    Effectief efektif

    Inclusief inklusif

    Progressief progresif

    9. Tidak berbeda dari sufiks (t)ief, sufiks –iek/-ica dalam bahasa Belanda juga diadaptasikan sebagaimana ia dilafalkan dengan penyesuaian ejaan, menjadi ik/ika, contoh:

    Artistiek artistik

    Fanatiek fanatik

    Phonetiek fonetik

    Tchniek teknik

    Harmonica harmonica

    Mechanica mekanika

    Mathematica matematika

    Physica fisika

    10. Sufiks bahasa Belanda –isch diadaptasikan menjadi is dalam bahasa Indonesia, contoh:

    Economisch ekonomis

    Egoistisch egoistis

    Politisch politis

    Realistisch realistis

    11. Sufiks bahasa Belanda –ist diadaptasikan menjadi is dalam bahasa Indonesia, seperti sufiks –ant yang kehilangan konsonan hambat /t/ yang terdapat pada akhir gugus konsonan pascavokal. Seandainya morfem terikat –ist ini diserap sebagai morfem, maka ia ini akan berhomonim dengan bentuk adaptasi –isch, contoh:

    Artist artis

    Componist komponis

    Morphinist morfinis

    Pianist pianis

    12. Agak berbeda dari sufiks-sufiks lain, sufiks –logie diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan ejaan dengan penyesuaian bentuk dan lafal, menjadi logi, contoh:

    Antropologie antropologi

    Morphologie morfologi

    Planologie planologi

    Sociologie sosiologi

    13. Sufiks pengecil (deminutif) bahasa Belanda –je diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai I, tetapi kata yang bersufiks ini tidak diserap sebagai bentuk pengecil, melainkan sebagaimana benda yang dimaksud, contoh:

    Bakje baki

    Petje peci

    Potje poci

    Schuitje sekoci

    Variasi dari bentuk ini adalah –the yang terbentuk jika fonem akhir dari kata dasarnya bukan konsonan hambat. Ada pula yang diserap dalam bentuk jamak –tjes, yang diadaptasikan sebagai cis. Ada kemungkinan bahwa kata-kata tersebut diserap dalam bentuk jamak karena benda tersebut pada umumnya diambil dalam bentuk jamak. Bentuk serapan dalam bahasa Indonesia tidak diterima sebagai bentuk jamak, melainkan sebagai bentuk tunggal meskipun hampir tidak pernah diambil dalam bentuk tunggal, contoh:

    Laatje laci

    Boontjes buncis

    Kaartjes karcis

    14. Sistem fonologi bahasa Indonesia tidak mengenal adanya vokal tegang, karena itu sufiks bahasa Belanda –loog diadaptasikan sebagai log, contoh:

    Dialoog dialog

    Proloog prolog

    Bioloog biolog

    Psycholoog psikolog

    15. Sufiks bahasa Belanda –teit diadaptasikan menjadi tas dalam bahasa Indonesia, contoh:

    Universiteit universitas

    16. Sufiks bahasa Belanda –(is) (a) tie dalam bahasa Indonesia diadaptasikan sebagai (is) (a) si sebagaimana dilafalkan, contoh:

    Assurantie asuransi

    Imigratie imigrasi

    Isolatie isolasi

    Specialisatie spesialisasi

    17. Bahasa Indonesia tidak mengenal konsonan beraspirasi dan vocal tegang, karena itu sufiks bahasa Belanda –theek diadaptasikan sebagai tek, contoh:

    Apotheek apotek

    Bibliotheek bibliotek

    Dischoteek diskotek

    Hipotheek hipotek

    18. Sufiks bahasa Belanda –uur diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai ur karena bahasa Indonesia tidak mengenal vokal tegang, contoh:

    Architectuur arsitektur

    Caricatuur karikatur

    Miniature miniatur

    Prematuur prematur

    19. Prefiks ver-, begitu juga dengan voor-, sama-sama diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai per. Seperti sufiks lainnya, prefix ini pun tidak diserap sebagai prefiks melainkan sebagai bagian dari bentuk dasar, contoh:

    Verponding perponding

    Versnelling persneling

    Voorschoot persekot

    Voorloper pelopor

    20. Selain afiks tersebut, masih ada lagi jenis afiks lain yang mempunyai kemiripan lafal dan tidak menyalahi kaidah morfologis bahasa Indonesia. Sebagian besar afiks ini diadaptasikan secara utuh terutama karena tidak menyalahi kaidah fonologis bahasa Indonesia, contohnya: bio-, anti-, tela-, intra-, -isme, -or.

    4.1. 2 Penyerapan dua morfem dasar atau lebih

    Penyerapan unsur polimorfemis bahasa Belanda tidak hanya terjadi pada morfem dasar dengan morfem terikat, melainkan juga pada dua morfem dasar atau lebih yang biasa disebut sebagai kata majemuk. Penyesuaian ini pun tidak dapat dipisahkan dari adaptasi fonologis.

    Kata majemuk akan mengalami penyesuaian yang berbeda dari yang pembahasan sebelumnya. Penyesuaian ini memenag tidak terlepas sama sekali dari adaptasi fonologis, tetapi ada kalanya struktur morfologisnya tidak sesuai. Dari contoh-contoh dia atas terlihat bahwa kata asing yang terdiri dari beberapa morfem, setelah disesuaikan ke dalam bahasa Indonesia akan berbentuk sebuah morfem saja tanpa dapat menunjukkan di mana batas morfem tadi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur morfologis.

    Unsur monomorfemis yang ada sebagai adaptasi dari unsur polimorfemis bahasa Belanda terjadi karena kita tidak menyerap morfem terikat, sedangkan dalam mengadaptasikan kata majemuk hal ini mungkin terjadi karena segmennya terlalu panjang. Jadi penyesuaian ini mengikuti struktur kata dasar bahasa Indonesia yang pada umumnya terdiri atas dua suku kata:

    Dommekracht dongkrak

    Kurketrekker kotrek

    Tafellaken taplak

    Nyata bahwa penyesuaian tersebut di atas tidak didasarkan pada patokan bahwa suatu morfem dalam bahasa sumber harus berbentuk morfem pula dalam bahasa pemungut. Ini pun tidak berarti bahwa semua kata majemuk akan mengikuti penyesuaian seperti ini; semua gabungan kata yang tidak disesuaikan atas dasar struktur morfologisnya, tetapi akan mengikuti proses adaptasi fonologis, contoh:

    Plakzegel plaksegel

    Postwisse poswesel

    Vulpen pulpen

    Vrachtauto prahoto

    Dalam bab sebelumnya sudah dikatakan bahwa gabungan kata yang masih dirasakan sebagai kata majemuk dan bersifat endosentris, dalam bahasa Indonesia akan terbentuk menurut hUkum D-M. Kata majemuk bahasa Belanda yang bersifat endosentris tidak terbentuk menurut hokum D-M; karena jika diserap ke dalam bahasa Indonesia, akan mengikuti susunan kata majemuk bahasa Indonesia, contoh:

    Benzinepomp pompa bensin

    Bushalte halte bis

    Administratiebureau biroadministrasi

    Operatiekamer kamar operasi

    Postkaart kartu pos

    4.2 Pungutan Utuh

    Dari sekian banyak kata bahasa Belanda yang diserap terdapat sejumlah kata yang dipungut ke dalam bahasa Indonesia secara utuh. Artinya, bentuknya dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia sama. Pungutan ini disebut sebagai pungutan utuh. Ada tiga alasan mengapa suatu bentuk asing mengalami perubahas dalam proses penyerapannya, yaitu:

    1. Tidak menyalahi kaidah yang berlaku

    2. Merupakan istilah umum atau ilmiah

    3. Menghindari homonym

    Pungutan itu pun masih dapat dibedakan lagi atas pungutan yang tepat sama baik lafal maupun tulisannya, dan pungutan yang sama ejaannya saja, lafalnya berbeda.

    4.2. 1 Pungutan Tepat Sama

    Yang dimaksud dengan pungutan tepat sama adalah jenis pungutan yang bentuk maupun lafalnya dipungut tanpa ada perubahan sama sekali. Contoh fonem bahasa Belanda yang mempunyai kesamaan cirri dengan sejumlah fonem bahasa Indonesia, baik vocal maupun konsonan.

    1. Sebagian besar pungutan utuh itu diserap secara tepat sama karena tidak menyalahi kaidah yang berlaku, lafalnya pun tidak menyimpang, misalnya:

    Asbak

    Beton

    Dynamo

    Email

    Filter

    Halte

    kabinet

    Lampion

    Moderator

    Neon

    Opera

    Pasta

    Radio

    Saldo

    Table

    Wortel

    2. Sejumlah istilah umum atau ilmiah yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, jumlahnya relatif sedikit, contohnya:

    Ad interim

    Café

    Eufimisme

    Fahrenheit

    Hymne

    Kobalt

    Loge

    Merk

    Diafragma

    Parfum

    Quo vadis

    Sport

    Taxi

    Volt

    Xerox

    4.2.2 Dalam bab sebelumnya telah dibahas bahwa ada beberapa fonem bahasa Belanda yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia. Di pihak lain grafemnya bukanlah hal yang asing; dengan kata lain fonemnya tidak mempunyai kesamaan cirri, sedangkan grafemnya sama.

    Dalam hal ini yang berbeda hanyalah lafalnya. Fonem yang dimaksud ialah: /x/, /ü/,/۸

    Yang dieja sebagai g, u, dan ui.

    1. Grafem g bahasa Belanda selalu dilafalkan /_x_/, sedangkan dalam bahasa Indonesia dilafalkan g, seperti terlihat dalam contoh;

    Giro xiro  giro

    Gratis xratis  gratis

    Brigade brixade  brigade

    Radiogram radioxram  radiogram

    2. Grafem u, sebagai vokal tidak tegak yang hanya terdapat dalam suku tertutup, dalam bahasa Belanda dilafalkan sebagai ۸

    4.3. Analogi

    Pemungutan unsur-unsur dari bahasa asing tidak selalu terjadi secara langsung. Adakalanya pembentukan suatu kata didasarkan atas peniruan unsure yang pernah didengar atau memang unsur yang sudah dikenal. Pembentukan berdasarkan contoh seperti ini disebut analogi. Pernis mengatakan bahwa dalam setiap bahasa akan timbul kata-kata, baik kata dasar maupun kata jadian, dan susunan kalimat menurut suatu contoh. Hal inilah yang menjadikan analogi sebagai suatu factor yang sangat penting dalam bahasa.

    Pelajaran bahasa, baik bagi anak kecil maupun orang dewasa berpangkal pada analogi, bahkan dalam setiap bahasa dapat ditemukan perubahan berdasarkan berdasarkan analogi dapat dibagi menjadi:

    1. Analogi bunyi: penyesuaian berdasarkan bunyi yang dikenal; bentuk hiperkorek pada umumnya didasarkan pada analogi bunyi.

    2. Analogi bentuk: pembentukan suatu kata berdasarkan bentuk yang ada, baik bentuk asli maupun bentuk asing.

    3. Analogi sintaksis: pembentukan struktur kalimat berdasarkan contoh struktur kalimat yang ada; dalam bahasa Indonesia sering berupa penggunaan kata depan atau kata penghubung berdasarkan struktur kalimat bahasa Belanda.

    Dalam pembentukan kata, analogi merupakan factor yang sangat menentukan. Bukan saja kata baru dibentuk berdasarkan contoh atau pengaruh yang sudah ada, tetapi juga unsure asli yang dibentuk berdasarkan bentuk asing, sehingga bisa disebut sebagai bentuk pungut terjemah. Jadi, analogi dapat dianggap sebagai salah satu cara yang paling utama,dan bisa mengubah suatu bahasa. Proses pembentukan kata-kata baru berdasarkan perubahan analogi dari bahasa Belanda biasanya mengikuti analogi bentuk dan analogi sintaksis.

    4.3.1 Analogi Bentuk

    Pada umumnya perubahan berkisar pada perubahan bentuk yang berlandaskan bunyi atau lafal.

    1. Analogi yang dibentuk berdasarkan unsur-unsur asli biasanya kata atau istilah asing yang sudah tidak dirasakan asing lagi. Kata adaptasi misalnya, dalam bahasa Belanda hanya mempunyai hubungan dengan bentuk-bentuk seperti adaptatie dan adapteren. Dalam bahasa Indonesia, berdasarkan analogi atas pembentukan unsure-unsur asli, dibentuklah kata-kata seperti adaptasi, mengadaptir, disamping mengadaptasikan, diadaptir, di samping diadaptasikan, pengadaptasian, dan lain-lain. Bentuk-bentuk asing diserap sebagai unsur yang utuh yang kemudian dianggap sebagai kata dalam bahasa Indonesia sehingga mendapat afiks seperti kata-kata lainnya.

    2. Analogi berdasarkan bentuk-bentuk asing ialah pembentukan beberapa kata baru berdasrkan bentuk-bentuk asing, terutama melalui morfem terikat atau afiks.

    Dari bentuk-bentuk yang diadaptasikan dapat dilihat bahwa beberapa kata dalam bahasa Indonesia dibentuk dengan afiks berdasarkan contoh-contoh yang sudah ada. Jadi, dapat dikatakan bahwa ada beberapa afiks yang diadaptasikan melalui analogi, diantaranya adalah:

    1. Berdasarkan bentuk-bentuk seperti artis, komunis, dan lain-lain, terbentuklah kata-kata seperti pancasilais, marhaenis yang lebih menekankan pengertian sebagai pengikut atau penganut. Sesuai dengan bentuk analogi yang lain seperti yang dikatakan oleh Badudu, bahwa analogi dengan unsure-unsur asing perlu dibatasi agar tidak mudah digunakan sekehendak hati.

    2. Dari bentuk-bentuk seperti fanatisme, komunisme, dan lain-lain, terbentuklah banditisme, bebekisme, marhaenisme, sukuisme.

    3. Mengikuti pola kolonisasi dan stabilisasi terbentuklah istilah seperti neonisasi, kuningisasi, dan lain-lain.

    4.3.2 Analogi berdasarkan Asas Pungut Terjemah

    Berdasarkan bentuk asing, dapat dibuat suatu bentukan baru. Bentuk asing tersebut digunakan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan unsur-unsur asli yang mempunyai pengertian yang sama, sehingga disebut sebagai bentuk pungut terjemah. Badudu menyebut bentuk seperti di atas sebagai hasil dari swadaya bahasa. Beberapa di antaranya:

    1. Istilah Belanda “ontevreden” berarti tidak puas. Sufiks bahasa Belanda “heid” yang membentuk kata sifat menjadi kata nama, dianggap sebagai bentuk yang sejajar/sepadan dengan konfiks “ke-an” dalam bahasa Indonesia sehingga “ontevredenheid” menjadi ketidakpuasan. Melalui bentuk pungut terjemah masih terlihat bentuk ketidakhadiran, ketidakmampuan, ketidaktahuan, ketidaksempurnaan, dan lain-lain.

    2. Di samping bentuk di atas masih ada satu bentuk lain yang secara produktif dibentuk secara analogi berdasarkan asas pungut terjemah ini. Istilah Belanda “misverstand” berarti salah paham. Istilah lain yang diserap berdasarkan asas ini ialah: salah hitung, salah langkah, salah cetak, dan lain sebagainya.


    Catatan kaki:

    1. “Santun Bahasa No. 28, “Kompas, 1969”

    2. Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Pembentukan Istilah (Jakarta, 1975), hal. 36)

    ANALISIS BUNYI HURUF

    Abjad Contoh Kata Bahasa
    a adat Indonesia
    a haat Belanda; ‘rasa benci
    a; ask, part (Inggris)
    ã élan (Prancis)
    æ (disebut ash) man (Inggris)
    e meja (Indonesia)
    ė men (Inggris)
    ә (disebut schwa; Ind. Pepet) lebih (Indonesia)
    ә: turn (Inggris)
    ә un (Prancis)
    ε Lonceng (Indonesia)
    έ même (Prancis)
    i itu (Indonesia)
    i biene (Jerman; ‘lebah’)
    i bit (Inggris)
    i: mean (Inggris)
    o obat (Indonesia)
    pokok (Indonesia)
    ø bleu (Prancis)
    õ bon (Prancis)
    o not (Inggris)
    o; for (Inggris)
    u buku (Indonesia)
    u: fool, rule (Inggris)
    ü tu (Prancis)
    ۸ but (Inggris)
    ai balai (Indonesia)
    au house (Inggris)
    ε ә there (Inggris)
    ou home (Inggris)
    boy (Inggris)
    b buta (Indonesia)
    d daging (Indonesia)
    d jadi (Indonesia)
    d dhadhung (jawa; ‘tali’)
    d3 bridge (Inggris)
    f far (Inggris)
    g gelap (Indonesia)
    h hampir (Indonesia)
    j yes (Inggris)
    k kapal (Indonesia)
    l lampu (Indonesia)
    m padam (Indonesia)
    n ini (Indonesia)
    ny nyonya (Indonesia)
    n hangat (Indonesia)
    p pagi (Indonesia)
    r harus (Indonesia)
    ŗ rare (Inggris)
    r raad (Belanda; ‘nasihat’)
    s sudah (Indonesia)
    Ship (Inggris)
    t tadi (Indonesia)
    t baca (Indonesia)
    ţ penthung (jawa; ‘tongkat’)
    t church (Inggris)
    ө (disebut thorn) thin (Inggris)
    the (Inggris)
    v vague (Inggris)
    w weg (Belanda; ‘jalan’)
    akhir (Indonesia)
    z zoo (Inggris)
    measure (Inggris)
    anak (Indonesia)

    DAFTAR PUSTAKA

    Alwasilah, A. Chaedar. 1983. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung : Angkasa

    Cher, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta

    Verhar, J.W.M. 1978. Pengantar Linguistik I. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.