16 Mei 2009 pada 19:58 (kumpulan puisi)
Tags: Antologi Puisi Anak, Dheka, nakal, puisi
Jangan Bilang Aku Nakal
Oleh Dheka Dwi Agusti N.
Orang bilang aku nakal
Ibu bilang aku tak mau diam
Mata orang-orang sering melotot ke arahku
Jari telunjuk mereka simpan di depan mulut
Kemudian
SSsssttt…
Huh..
Padahal aku tak nakal
Aku hanya senang berlari, berputar-putar, dan loncat-loncat
Lalu naik-naik kalau ada tiang
Tapi aku bisa mengerjakan tugasku sampai selesai
Lalu orang bilang “Bagus-bagus!”
Ya, baguskan?
Lalu kenapa kalian lebih suka menyebut aku nakal?
Kenapa bagusnya tak pernah diomeli tapi nakalnya sering disebut?
15 Oktober 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 19:54 (kumpulan puisi)
Tags: Antologi Puisi Anak, belajar, Dheka, pengamen, puisi
Belajar dari Pengamen
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Belajar permisi
Belajar bernyayi
Belajar berdiri di terik matahari
Belajar mencari rizki
5 Pebruari 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 19:26 (kumpulan puisi)
Tags: antologi, Antologi Puisi Anak, bapak tua, Dheka, puisi
Bapak tua itu adalah Bapakku juga
Oleh Dheka Dwi Agusti N.
Sayang, kau lihat Bapak tua itu
Ia yang duduk di samping roda tua
Dengan napas yang terengah-engah
Rupanya dia kelelahan mendorong gerobaknya
Gerobak besar yang penuh sampah.
“Kenapa dia sendiri?”
“Kemana anak-anaknya?”
“Kemana keluarganya?”
Sayang, kita inilah keluarganya
Bukankah kita lahir dalam jalur darah yang sama
Keturunan Adam.
Jadi…
Bapak tua itu adalah Bapakku juga
24 Nopember 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 19:21 (kumpulan puisi)
Tags: Antologi Puisi Anak, Dheka, presidenku, puisi
Presidenku banyak
oleh Dheka dwi Agusti N.
Umurku baru 10 tahun
Dan kata Ayah
presiden kita sudah berganti 5 kali
29 mei 2008
1 Komentar
16 Mei 2009 pada 19:18 (kumpulan puisi)
Tags: Antologi Puisi Anak, Dheka, laron, puisi
LARON
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Berputar-putar mengitar putar
Mengaktifkan seluruh otot di tubuhnya
Terus berputar, mencoba lagi
Berdiri dan berusaha terbang
Ia mengepakkan sayap kecilnya untuk sekadar berdiri
Agar setelah berdiri bisa berlari
Terbentur tembok
Kejeduk lantai
Coba lagi, terus berputar lagi
Angkat tubuhmu lagi, Teman..
Ayo, perlahan, gerakkan.
Ya, coba lagi.
Jangan menyerah, kau pasti bisa!
Omku bilang katanya kau akan mati malam ini
Tapi tak perlu kau pedulikan
Nyatanya kau masih bisa berdiri
Dan berbuat untuk saat ini
Perkara nanti biar Tuhan yang menghendaki.
4 Desember 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
14 Mei 2009 pada 08:36 (kumpulan puisi)
Tags: Dheka, hujan, puisi
Jangan dulu hujan
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Tuhan, ikat dulu awanmu
Jangan biarkan hujan turun dulu
Sebentar saja
Sampai ayah pulang kerja
Sampai di rumah
27 mei 2008
1 Komentar
13 Mei 2009 pada 05:41 (kumpulan puisi)
Tags: antologi, betadin, hansaplas, hati, ibu, puisi
Betadin dan Hansaplas
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Kemarin aku jatuh di jalan waktu mau ke rumah teman
Malu rasanya
Dua kali
Dan ibu-ibu menertawai
Bukan cuma malu
Tapi juga berdarah
Aku diobati pakai betadin, setetes.
Lalu ditutup pakai plester hansaplas seribu tiga
Akupun berhenti menangis.
Ada yang menangis juga diujung sana, apa ia juga terjatuh sepertiku
Bukan, ia menangis ditinggal ibu.
Kawan, apa kau juga terluka?
mau kuteteskan betadin?
Atau mau juga kupasangkan hansaplas?
Tapi bagaimana caranya?
Bagaimana kalau kita cari ibumu
Kita tanya saja pada ibumu
Bagaimana cara memakai betadin dan hansaplas di hatimu
9 Februari 2007
1 Komentar
13 Mei 2009 pada 05:38 (kumpulan puisi)
Tags: Dheka Dwi Agusti N.
Aku berhutang banyak padamu
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Aku berhutang banyak padamu
Aku berhutang pada angin
Angin yang selalu bisikkan bahwa hari ini indah
Aku berhutang pada mentari
Mentari yang menemaniku ke sekolah pergi jalan kaki
Aku berhutang pada pohon
Pohon yang melindungiku ketika dicegat musuh sepulang sekolah
Aku berhutang pada sore
Sore yang mengganti langit terang menjadi gelap
Aku berhutang pada malam
Malam yang mengatupkan mataku dan memimpikan dunia yang belum pernah kukunjungi
Aku berhutang pada fajar
Aku berhutang pada embun
Aku berhutang pada semesta
Aku berhutang pada sang pencipta
Sujudku memohon agar aku dapat berhutang lagi esok hari.
3 maret 2008
& Komentar
13 Mei 2009 pada 05:36 (kumpulan puisi)
Tags: aku, Antologi Puisi Anak, Dheka Dwi Agusti N., hujan, Puisi Anak, teman
Aku dan Hujan adalah Teman
oleh Dheka Dwi Agusti N.
aku dan hujan adalah teman
Gerimis yang merayu pohon
Dan aku yang bermanja pada awan
Lihat pelangi itu
Adalah dawai
dengar gemercik itu
Adalah resonansi
Aku dan hujan adalah teman
Yang menyatu dalam alam
Alam yang bermanja pada Tuhan
23 Des 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
13 Mei 2009 pada 05:31 (kumpulan puisi)
Tags: ayah, Dheka Dwi Agusti N., ibu
Ayah Ibu
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Ibu belikan aku pulpen dan pensil baru
Pulpen yang kemarin sudah habis, pensilnya juga sudah kecil
Ayah belikan aku buku tulis baru
Buku tulis yang kemarin sudah penuh kutulisi cerita baru
Ibu belikan aku buku bacaan baru
Buku bacaan yang kemarin sudah tamat kubaca lima kali
Ayah belikan aku buku yang kemarin baru saja kubeli
Buku itu aku sangat suka tapi sudah lecek tergilas badanku setiap malam
Ibu belikan aku kain sprei baru untuk kasurku
Kain spreiku sudah penuh corat-coret pensil dan tinta pulpen yang tak hilang walau sudah dicuci.
Ayah, ibu, biarkan setiap malam aku tidur bersama mereka
Mereka semua bilang senang bisa menemaniku
Meski kadang mereka protes dan teriak-teriak kalau aku menindihnya ketika tengah malam tiba
Pagi-pagi lalu kulihat mereka sepertinya pegal-pegal
Ada yang menggulung, terlipat-lipat, bahkan sobek.
Maafkan aku kawan
Tadi malam pasti aku menindihmu lagi
4 Juni 2008
Tinggalkan sebuah Komentar
13 Mei 2009 pada 05:28 (kumpulan puisi)
Tags: Dheka Dwi Agusti N., Puisi Anak, rumah binatang
Rumah Binatang
Rumah Binatang Dheka
Tiket masuk bayar 500
Kertas pengumuman itu kutempel di kaca depan rumahku
Tapi ibuku tak suka dan mencabutnya
Padahal maksudku ingin membantu ibu
Mencari uang untuk sekolahku yang mahal ini
Biar saja orang-orang datang, tapi mereka harus bayar 500
Lalu mereka bisa lihat tikus di rumah kita.
Ada juga kecoa, semut-semut di dinding, di meja makan
Ulat-ulat, juga ada yang sudah jadi kepompong,
Kucing-kucing yang suka beratraksi di atas genting
Cicak dan tokek di dinding kamarku, laba-laba yang sedang membuat sarang
Kalau malam ada banyak laron di bawah bohlam temaram di teras depan rumah, Ada nyamuk, ada lalat, ada juga kutu di rambut adikku dan di kepalaku,
Kita juga punya ikan di dalam toples untuk diperlihatkan, dia cantik,
ada juga cacing di dalam pot kembang ibu
banyak bukan binatang di rumah kita?
4 Juni 2008
Tinggalkan sebuah Komentar
13 Mei 2009 pada 05:26 (kumpulan puisi)
Wisata ke Kebun Binatang
oleh Aldika Restu Pramuli
Hari Minggu,
Langit cerah tak ditemani mendung
Ayah mengajakku berwisata ke kebun binatang
Lihat,
Ada buaya bermulut seram
Ular melilit menjepit mangsa
Jerapah melenggak-lenggok dengan lehernya yang panjang
Ada panda dari Cina
Ada pula kera yang jenaka
Sang harimau si raja hutan pun ada dari Sumatera
Kanguru si hewan kantong datang jauh dari benua Australia
Semua punya keunikan
Wisata ke kebun binatang amat menyenangkan
Tinggalkan sebuah Komentar
13 Mei 2009 pada 05:24 (kumpulan puisi)
Tags: bintang kejora
Bintang Kejora
oleh Aldika Restu Pramuli
Telah kian lama berdiri di langit
Menghiasi malam-malam nan gulita
Bersinar terang
Kerlap-kerlip sungguh menawan
Namanya kejora,
Bintang kecil centil yang selalu mengerdipkan mata indahnya
Mengerdipkan cahaya tubuhnya
Padaku, sang gadis kecil
Tinggalkan sebuah Komentar
13 Mei 2009 pada 05:20 (kumpulan puisi)
Tags: Antologi Puisi Anak, pelangi, puisi, Puisi Anak
Pelangi
oleh Aldika restu Pramuli
Hujan baru saja pergi
Langit seperti lahir kembali
Di birunya
Semburat warna-warna hadir
Melengkung cantik menghias langit
Mengantarkan peri-peri mandi di bumi
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, menyatu dalam satu;
Pelangi
Tinggalkan sebuah Komentar