Hujan Turun

Hujan Turun

oleh Yostiani Noor Asmi Harini

hujan turun

airnya mengenai wajahku

setiap titiknya terasa bagai jarum-jarum

yang mencubit pipiku

kuberlari sambil telanjang kaki

sepatu di tangan kiriku

baju putihku jadi transparan

rok merahku jadi gelap

hujan turun

semakin deras

setiap titiknya terasa bagai tamparan

tamparan di pipiku

selokan dekat rumahku menggelegak, airnya keluar

mirip coklat leleh yang lumer ke mana-mana

Setianya Anakku dan Air mata

Setianya Anakku dan Air mata

Dheka Dwi Agusti N.

Anakku

Jangan bersedih

Bunda tak pernah menangis

Pun jika ada air mata yang menetes itu karena Bunda bahagia melihatmu

Melihatmu begitu suci seperti air mata ini

Begitu biru seperti samudra yang juga asin airnya

Kau dan air mata ini

Sama-sama setia menjagaku.

Bunda sayang kamu,

anakku sayang

15 Oktober 2007

Seperti Kucing

Seperti Kucing

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Aku ingin seperti kucing

Dibelai penuh sayang

2007

Sepenggal Lagu untuk Anakku

Sepenggal Lagu untuk Anakku

Dheka Dwi Agusti N.

Dzikir, Dzikir, Dzikirku sayang…

Dzikir, Dzikir, Dzikir ku ingat engkau

Dzikir ku ingat

Ingat Bunda, ingat Ayah

Ingat semua yang kau suka

Ingat Tuhan, ingat semesta

Ingat malam dan fajar

Dzikir ku ingat

Samudra mengalir berdzikir

Bumi berputar berdzikir

Langit, tanah, hewan, pohon

Semua berdzikir

Berdzikir mengingatmu.

10 Nopember 2007

Sepeda dan Gigi

Sepeda dan Gigi

Dheka Dwi Agusti N.

Sepedaku

Dulu aku sering terjatuh dari sepeda

Tapi aku bangun, aku buat berdiri sepeda itu, lalu kunaiki lagi

Biarpun aku sering jatuh, dan tangan juga lututku lecet-lecet.

Gigiku pun tanggal satu persatu.

Kalau aku menyeringai, maka mulutku seakan berjendela.

Karena tak ada gigi seri berjajar di sana.

Copot satu-satu, waktu aku jatuh dari sepeda.

Kata mama, tak apa, itu namanya pengorbanan

Ya, aku kan sedang bejar bersepeda.

Aku kini sudah bisa naik sepeda dan balapan bersama teman-teman

Walaupun sempat jatuh lagi dan gigiku makin ompong lagi

Sekarang aku sudah mahir bersepeda, aku tak sering jatuh

Sepeda ini pun menjadi sahabatku

Mengantarku ke sekolah dan ke rumah teman

Gigiku pun tak ompong lagi

Sudah tumbuh satu-satu.

15 Oktober 2007

Kerbauku

Kerbauku

oleh Dheka Dwi Agusti N

Kemarin kerbau datang

Kerbauku dari desa

Dibawakannya rambutan, pisang

Dan sayur mayur segala rupa

Bercerita kerbau tentang pamannya

Berkembang biak semua

Padaku kerbau berjanji

Mengajak libur di desa

Hatiku girang tidak terperi

Terbayang sudah aku di sana

Mandi di sungai turun ke sawah

Menggiring paman ke kandang.

27 Mei 2008

kepala Agil yang botak

kepala Agil yang botak

agil kepalanya botak

mirip Bapaknya Syifa yah

syifapun menjawab “iya”

kata mamah

kepala Bapak botak karena kurang gizi.

Dheka Dwi Agusti N.

27 Mei 2008

Jika

Jika

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Jika kau senang, tertawalah

Jika kau sedih, menangislah

Atau sebaliknya jika kau menghendakinya

Tertawa di kala sedih

Dan menangis kala senang

Setelah tawa akan ada tangis

Setelah tangis akan ada tawa

Sebab itu tuhan ciptakan untukmu

Oktober 2007

IBUKU DAN HARMONIKA

IBUKU DAN HARMONIKA

Dheka Dwi Agusti N.

Kau bisa bermain harmonika, Teman?

Ibuku pandai bermain harmonika

Ia meniupnya, dan keluarlah nada-nada yang indah

Kata ibuku, bermain harmonika itu mudah

Dulu ia belajar memainkan dan menemukan nada-nadanya sendiri

Ia tak pernah diajari langsung oleh siapapun

apalagi ikut kursus

mulanya ibu hanya tahu bahwa cara memainkannya adalah ditiup

kemudian ia sering melihat pengamen yang piawai berharmonika ria

di lampu merah jalan raya

sekarang ibu sudah pandai memainkannya

ternyata caranya ditiup disedot dan digeser

dan kini ibu menciptakan sebuah lagu untukku

16 Nopember 2007

Senyum Bunga

Senyum Bunga

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Di teras depan rumahku

Ada tujuh bunga bergantung mengayun

Ibuku yang menanam dengan jemarinya yang dingin

Ada kaktus ada pula bunga jam empat berwarna ungu dan putih

Waktu aku menatapnya

Mereka sedang asik ngobrol

Dihembus angin sepoi

Keduanya bercanda tertawa-tawa

Hai, kalian

Terimakasih

Cantikmu menghias rumahku

Mereka pun mengangguk

Dengan senyum terindahnya

9 des 2007

Legenda

Legenda

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Mengapa ada banyak legenda anak durhaka pada ibunya

Mengapa ada Malin

Mengapa ada si Bincik

Mengapa pula harus jadi batu

Mengapa sang ibu menangis tersedu

Mengapa ada banyak legenda anak begitu cinta pada ibunya

Mengapa ada Sangkuriang

Mengapa ada Guruminda

Mengapa yah?

23 Des 2007

Bandungku tak hijau lagi

Bandungku tak hijau lagi

oleh Dheka Dwi Agusti N

Yang hijau tinggal tiang penyangga iklan

Yang hijau tinggal pagar dengaja dicat hijau

Yang hijau tinggal baju ibu hamil yang sedang menyebrang jalan

Yang hijau angkot cicadas-cibiru, caheum-ledeng

Yang hijau tinggal plang nama jalan protocol

Yang hijau tinggal gerobak cilok

2007

Ayah Ibu

Ayah Ibu

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Ibu belikan aku pulpen dan pensil baru

Pulpen yang kemarin sudah habis, pensilnya juga sudah kecil

Ayah belikan aku buku tulis baru

Buku tulis yang kemarin sudah penuh kutulisi cerita baru

Ibu belikan aku buku bacaan baru

Buku bacaan yang kemarin sudah tamat kubaca lima kali

Ayah belikan aku buku yang kemarin baru saja kubeli

Buku itu aku sangat suka tapi sudah lecek tergilas badanku setiap malam

Ibu belikan aku kain sprei baru untuk kasurku

Kain spreiku sudah penuh corat-coret pensil dan tinta pulpen yang tak hilang walau sudah dicuci.

Ayah, ibu, biarkan setiap malam aku tidur bersama mereka

Mereka semua bilang senang bisa menemaniku

Meski kadang mereka protes dan teriak-teriak kalau aku menindihnya ketika tengah malam tiba

Pagi-pagi lalu kulihat mereka sepertinya pegal-pegal

Ada yang menggulung, terlipat-lipat, bahkan sobek.

Maafkan aku kawan

Tadi malam pasti aku menindihmu lagi

4 Juni 2008

Tak Mau Aku

Tak Mau Aku

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Aku tak mau seperti si Bincik

Aku juga tak mau ibuku seperti batu ibu menangis

Tak ingin kusentuh kata durhaka

dan engkau wanita termulia

daya dan dzikirmu

mengiba padaku

23 Des 2007

Aku bukan anak yang dikutuk zaman

Aku bukan anak yang dikutuk zaman

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Aku bukan anak yang dikutuk zaman

Dari rindu yang tak tertuang dalam kata

Boleh aku menyapamu

Aku ini anak yang lahir dari rahim ibu pertiwi

Yang menangis dalam pelukan bumi

Aku ini anak yang dibesarkan zaman

Tanpa peradaban

Aku ini anak yang tumbuh dipupuki

Sumpah serapah para biduan negri

Aku manusia karbitan waktu

Aku ini anakmu

Tapi tak seorangpun mengaku pernah melahirkanku

Dan sialnya aku tak bisa mengadu

Tuhan

Aku hanya ingin negeri ini mengerti

Bahwa anak-anaknya sangat rindu

Tuhan

Bangunkan aku dari tidurnya para penyihir negeri

Jangan biarkan kami mati sia-sia lagi

Jerit, tangis, sakit, ronta, dan luka ini

Siapa mau dengar?

Tuhan

Katakan bahwa aku bukan anak yang dikutuk zaman!

23 Juli 2007

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.