16 Mei 2009 pada 23:09 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: hujan turun, puisi, Puisi Anak, Yosti
Hujan Turun
oleh Yostiani Noor Asmi Harini
hujan turun
airnya mengenai wajahku
setiap titiknya terasa bagai jarum-jarum
yang mencubit pipiku
kuberlari sambil telanjang kaki
sepatu di tangan kiriku
baju putihku jadi transparan
rok merahku jadi gelap
hujan turun
semakin deras
setiap titiknya terasa bagai tamparan
tamparan di pipiku
selokan dekat rumahku menggelegak, airnya keluar
mirip coklat leleh yang lumer ke mana-mana
& Komentar
16 Mei 2009 pada 23:00 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: air mata, anakku, puisi
Setianya Anakku dan Air mata
Dheka Dwi Agusti N.
Anakku
Jangan bersedih
Bunda tak pernah menangis
Pun jika ada air mata yang menetes itu karena Bunda bahagia melihatmu
Melihatmu begitu suci seperti air mata ini
Begitu biru seperti samudra yang juga asin airnya
Kau dan air mata ini
Sama-sama setia menjagaku.
Bunda sayang kamu,
anakku sayang
15 Oktober 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:57 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, puisi, sayang, seperti kucing
Seperti Kucing
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Aku ingin seperti kucing
Dibelai penuh sayang
2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:47 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: anak Dheka, anakku, Dheka, Dzikir
Sepenggal Lagu untuk Anakku
Dheka Dwi Agusti N.
Dzikir, Dzikir, Dzikirku sayang…
Dzikir, Dzikir, Dzikir ku ingat engkau
Dzikir ku ingat
Ingat Bunda, ingat Ayah
Ingat semua yang kau suka
Ingat Tuhan, ingat semesta
Ingat malam dan fajar
Dzikir ku ingat
Samudra mengalir berdzikir
Bumi berputar berdzikir
Langit, tanah, hewan, pohon
Semua berdzikir
Berdzikir mengingatmu.
10 Nopember 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:37 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, puisi, Puisi Anak, Sepeda dan gigi
Sepeda dan Gigi
Dheka Dwi Agusti N.
Sepedaku
Dulu aku sering terjatuh dari sepeda
Tapi aku bangun, aku buat berdiri sepeda itu, lalu kunaiki lagi
Biarpun aku sering jatuh, dan tangan juga lututku lecet-lecet.
Gigiku pun tanggal satu persatu.
Kalau aku menyeringai, maka mulutku seakan berjendela.
Karena tak ada gigi seri berjajar di sana.
Copot satu-satu, waktu aku jatuh dari sepeda.
Kata mama, tak apa, itu namanya pengorbanan
Ya, aku kan sedang bejar bersepeda.
Aku kini sudah bisa naik sepeda dan balapan bersama teman-teman
Walaupun sempat jatuh lagi dan gigiku makin ompong lagi
Sekarang aku sudah mahir bersepeda, aku tak sering jatuh
Sepeda ini pun menjadi sahabatku
Mengantarku ke sekolah dan ke rumah teman
Gigiku pun tak ompong lagi
Sudah tumbuh satu-satu.
15 Oktober 2007
& Komentar
16 Mei 2009 pada 22:18 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, kerbauku, puisi
Kerbauku
oleh Dheka Dwi Agusti N
Kemarin kerbau datang
Kerbauku dari desa
Dibawakannya rambutan, pisang
Dan sayur mayur segala rupa
Bercerita kerbau tentang pamannya
Berkembang biak semua
Padaku kerbau berjanji
Mengajak libur di desa
Hatiku girang tidak terperi
Terbayang sudah aku di sana
Mandi di sungai turun ke sawah
Menggiring paman ke kandang.
27 Mei 2008
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:15 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: botak, puisi
kepala Agil yang botak
agil kepalanya botak
mirip Bapaknya Syifa yah
syifapun menjawab “iya”
kata mamah
kepala Bapak botak karena kurang gizi.
Dheka Dwi Agusti N.
27 Mei 2008
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:11 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, jika, puisi, Puisi Anak
Jika
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Jika kau senang, tertawalah
Jika kau sedih, menangislah
Atau sebaliknya jika kau menghendakinya
Tertawa di kala sedih
Dan menangis kala senang
Setelah tawa akan ada tangis
Setelah tangis akan ada tawa
Sebab itu tuhan ciptakan untukmu
Oktober 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:07 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, ibuku dan Harmonika
IBUKU DAN HARMONIKA
Dheka Dwi Agusti N.
Kau bisa bermain harmonika, Teman?
Ibuku pandai bermain harmonika
Ia meniupnya, dan keluarlah nada-nada yang indah
Kata ibuku, bermain harmonika itu mudah
Dulu ia belajar memainkan dan menemukan nada-nadanya sendiri
Ia tak pernah diajari langsung oleh siapapun
apalagi ikut kursus
mulanya ibu hanya tahu bahwa cara memainkannya adalah ditiup
kemudian ia sering melihat pengamen yang piawai berharmonika ria
di lampu merah jalan raya
sekarang ibu sudah pandai memainkannya
ternyata caranya ditiup disedot dan digeser
dan kini ibu menciptakan sebuah lagu untukku
16 Nopember 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 22:04 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, puisi, Puisi Anak, senyum bunga
Senyum Bunga
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Di teras depan rumahku
Ada tujuh bunga bergantung mengayun
Ibuku yang menanam dengan jemarinya yang dingin
Ada kaktus ada pula bunga jam empat berwarna ungu dan putih
Waktu aku menatapnya
Mereka sedang asik ngobrol
Dihembus angin sepoi
Keduanya bercanda tertawa-tawa
Hai, kalian
Terimakasih
Cantikmu menghias rumahku
Mereka pun mengangguk
Dengan senyum terindahnya
9 des 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 21:34 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, legenda, Puisi Anak
Legenda
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Mengapa ada banyak legenda anak durhaka pada ibunya
Mengapa ada Malin
Mengapa ada si Bincik
Mengapa pula harus jadi batu
Mengapa sang ibu menangis tersedu
Mengapa ada banyak legenda anak begitu cinta pada ibunya
Mengapa ada Sangkuriang
Mengapa ada Guruminda
Mengapa yah?
23 Des 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 21:20 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: Dheka, hijau cilok, puisi
Bandungku tak hijau lagi
oleh Dheka Dwi Agusti N
Yang hijau tinggal tiang penyangga iklan
Yang hijau tinggal pagar dengaja dicat hijau
Yang hijau tinggal baju ibu hamil yang sedang menyebrang jalan
Yang hijau angkot cicadas-cibiru, caheum-ledeng
Yang hijau tinggal plang nama jalan protocol
Yang hijau tinggal gerobak cilok
2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 20:33 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: ayah ibu, puisi, Puisi Anak
Ayah Ibu
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Ibu belikan aku pulpen dan pensil baru
Pulpen yang kemarin sudah habis, pensilnya juga sudah kecil
Ayah belikan aku buku tulis baru
Buku tulis yang kemarin sudah penuh kutulisi cerita baru
Ibu belikan aku buku bacaan baru
Buku bacaan yang kemarin sudah tamat kubaca lima kali
Ayah belikan aku buku yang kemarin baru saja kubeli
Buku itu aku sangat suka tapi sudah lecek tergilas badanku setiap malam
Ibu belikan aku kain sprei baru untuk kasurku
Kain spreiku sudah penuh corat-coret pensil dan tinta pulpen yang tak hilang walau sudah dicuci.
Ayah, ibu, biarkan setiap malam aku tidur bersama mereka
Mereka semua bilang senang bisa menemaniku
Meski kadang mereka protes dan teriak-teriak kalau aku menindihnya ketika tengah malam tiba
Pagi-pagi lalu kulihat mereka sepertinya pegal-pegal
Ada yang menggulung, terlipat-lipat, bahkan sobek.
Maafkan aku kawan
Tadi malam pasti aku menindihmu lagi
4 Juni 2008
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 20:29 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: aku
Tak Mau Aku
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Aku tak mau seperti si Bincik
Aku juga tak mau ibuku seperti batu ibu menangis
Tak ingin kusentuh kata durhaka
dan engkau wanita termulia
daya dan dzikirmu
mengiba padaku
23 Des 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
16 Mei 2009 pada 20:04 (Puisi Anak, puisiku)
Tags: aku, zaman
Aku bukan anak yang dikutuk zaman
oleh Dheka Dwi Agusti N.
Aku bukan anak yang dikutuk zaman
Dari rindu yang tak tertuang dalam kata
Boleh aku menyapamu
Aku ini anak yang lahir dari rahim ibu pertiwi
Yang menangis dalam pelukan bumi
Aku ini anak yang dibesarkan zaman
Tanpa peradaban
Aku ini anak yang tumbuh dipupuki
Sumpah serapah para biduan negri
Aku manusia karbitan waktu
Aku ini anakmu
Tapi tak seorangpun mengaku pernah melahirkanku
Dan sialnya aku tak bisa mengadu
Tuhan
Aku hanya ingin negeri ini mengerti
Bahwa anak-anaknya sangat rindu
Tuhan
Bangunkan aku dari tidurnya para penyihir negeri
Jangan biarkan kami mati sia-sia lagi
Jerit, tangis, sakit, ronta, dan luka ini
Siapa mau dengar?
Tuhan
Katakan bahwa aku bukan anak yang dikutuk zaman!
23 Juli 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
« Entri lama