PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: ‘Wakil Rakyat’ Perlu Direvisi

Wakil Rakyat’ Perlu Direvisi

(Kajian Metafor ‘Wakil Rakyat’ dalam Lirik Lagu Iwan Fals yang Berjudul Surat Buat Wakil Rakyat)

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Kemarin malam di satu televisi swasta yang fokus dengan siaran beritanya, ada sebuah acara yang disiarkan secara langsung dan membuka layanan interaktif baik melalui telepon dan sms (short message service) alias pesan pendek. Seperti biasa dalam acara tersebut hadir satu nara sumber dan satu pembawa acara. Tak seperti biasa, keduanya tertawa ketika mendengar seorang dari balik telepon mengatakan “Para pejabat ini sudah goblok, padahal mereka semua kan sarjana, tidak ada yang cuma lulusan SMA ………” mereka memang tak terbahak-bahak, tapi tawa itu terlihat cukup spontan. Tak kalah serunya dari penelpon yang mengatakan bahwa pejabat (maaf) goblok, ada beberapa pesan pendek yang ditayangkan disebelah kanan layar kaca, diantaranya adalah “Kalau wakil rakyat terus mengulang kesalahan, bagaimana mau mengurus rakyat”. Dua komentar yang menanggapi satu objek yaitu mengenai ricuh-ricuh para anggota dewan.

Entah kapan metaphor ini lahir, reformasikah? Orde baru? Orde lama? Atau bahkan sejak tahun empat lima? Namun, yang jelas ketika mau membuka mata, telinga, hati dan pikiran, melihat orang-orang di ‘bawah’ sana, metaphor ini sepertinya tak berlaku lagi. Sebab nyatanya tak ada para pejabat yang katanya wakil rakyat bisa benar-benar mewakili mereka sebagai rakyat, rakyat Indonesia tentunya.

Kenyataan bahwa masih sangat banyaknya rakyat yang belum atau bahkan tidak terwakili, sepertinya membuat metaphor ‘wakil rakyat’ perlu direvisi, yang kemudian dibakukan saja ke dalam deretan makna konotasi. Atau jika keadaan memang tak kunjung berubah, barang kali wakil rakyat ini dapat dimasukkan saja ke dalam kamus sebagai salah satu entri yang arkais.

Penggunaan metaphor beserta makna yang dikandungnya ini memang sudah mengonvensi di masyarakat, banyak kolektif maupun individu yang menyebutkan dirinya sebagai wakil rakyat. Penggunaan metaphor wakil rakyat untuk mengganti kata pejabat yang terlalu identik dengan kekuasaan seyogiyanya dapat benar-benar mewakili rakyat, aspirasi, dan lain sebagainya. Jika dianalisis metaphor ini dapat berarti luas, tidak sekedar menjadi pronominal bagi para pejabat di atas sana, tetapi juga kroco-kroconya bahkan hingga ke tingkat RT alias Rukun Tetangga. Orang yang menjadi ketua RT di suatu daerah, atau yang biasanya disebut Pak RT juga merupakan wakil rakyat, yah, meskipun bebannya tak begitu berat, sekitar mewakili rakyatnya dalam mengurus pembuatan KTP. Namun, itu lebih baik, dari pada tidak mewakili sama sekali. Wong wakil rakyat kaliber nasional saja tak banyak aksi untuk mewakili rakyat. Duitnya saja yang gede, tak seperti Pak RT yang bolak-balik kecamatan mengurus KTP dengan untung paling selawe.

Metaphor ini cukup laris manis di pasaran, dalam kancah politik terutama kampanye, dalam dunia pemberitaan, wacana, artikel, bahkan lirik lagu, baik sebagai pronomina, ironi, atau yang lainnya. Dalam lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Surat Buat Wakil Rakyat terasa ada satu deskripsi yang berbeda mengenai sosok wakil rakyat dengan yang biasanya ditampilkan. Pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 yang bernama lengkap Virgiawan Listanto ini seakan-akan menyibak dan berani membuka satu tabir yang awalnya tak melekat dalam metaphor ini. Penyanyi beraliran balada yang pernah diliput oleh Majalah Time Asia edisi 29 April 2002 dan diberi julukan sebagai Pahlawan Besar Asia (Asian Heroes) ini kerap memotret suasana sosial kehidupan di Indonesia lewat lagu-lagunya.

Jika metaphor wakil rakyat biasa dimaknai sebagai anggota dewan, Bang Iwan, begitu sapaan akrabnya, medeskripsikan pronomina tersebut dengan lirik “Untukmu yang duduk sambil diskusi, untukmu yang biasa bersafari di sana, di gedung DPR”. Kemudian mengenai loyalitas bagi mereka yang menginginkan disebut dengan metaphor ini seharusnya mengerti bahwa “Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat, apalagi sanak famili.” Kata wakil dalam metaphor wakil rakyat seharusnya sudah menjadi sebuah legitimasi bahwa mereka harus mampu mewakili, menjadi wakil bagi rakyatnya. Tentunya manusia yang terpilih menjadi wakil ini sudah harus masuk standar sebagai orang hebat. Memiliki hati nurani, akal dan nalar, serta keberanian yang hebat untuk mewakili berjuta kepala rakya dalam satu kepalanya. Di hati dan lidahmu kami berharap suara kami tolong dengarlah. Kusampaikan. Jangan ragu, jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam. Di kantong safarimu kami titipkan masa depan kami dan negeri ini dari sabang sampai merauke.

Metaphor ini ada pasti karena adanya satu subjek yang menjadi referennya. Pengangkatan para subjek yang menjadi wakil rakyat ini tentunya sudah dipersiapkan matang, seperti KPUD yang saat ini tengah sibuk memverifikasi jumlah harta kekayaan para calon gubuernur DKI Jakarta. Sebuah proses yang tidak mudah menjadi seorang wakil rakyat, selain harus memiliki kualifikasi juga harus berhasil merebut hati rakyat meskipun rakyat tak kenal siapa yang mereka pilih dan menjadi tempat mereka menggantungkan nasib esok hari. Saudara dipilih bukan dilotre, meskipun kami tak kenal siapa saudara.

Kami tak sudi memilih juara. Juara diam, juara heueuh, juara hahaha. Dan, terakhir penyanyi dan komposer yang produktif ini menggoreskan pena sebagai akhir bagi liriknya yaitu

Wakil rakyat seharusnya merakyat.

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat.

Wakil rakyat bukan paduan suara.

Hanya tahu nyanyian lagu sedu.

Demikian metaphor wakil rakyat dimaknai oleh seorang Iwan Fals dalam salah satu lagu yang membuat namanya popular, serta berhasil memopulerkan makna lain dibalik metaphor wakil rakyat. Di mana saat ini penggunaan metaphor tersebut sudah lebih dapat terlihat kekonotasiaannya. Sebutan wakil rakyat kini tak lagi dielu-elukan sebagai manusia setengah dewa, bahkan mungkin ada yang beberapa yang justru hanya menjadi seorang badut MPR, tetapi sudah selayaknyalah metaphor wakil rakyat memang benar-benar menjadi jembatan bagi suara hati dari balada orang-orang pedalaman dan ikrar dalam senandung lirih, untuk para pengabdi, untukmu negri. Tolong dengar Tuhan.

Tari Pwah Aci

oleh Dheka Dwi Agusti N.
Pwah Aci atau yang biasa dikenal sebagai Pohaci, atau Dewi Sri, merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya di Tatar Sunda. Dihormati sebagai Dewi Kesuburan dan kemakmuran yang mencurahkan welas asih yang melimpah dalam bentuk pangan bagi keberlangsungan hidup manusia.
Getaran rasa yang menguatkan raga, yang berasal dari makanan dan minuman (nabati dan hewani) yang diterima oleh tubuh telah membawa sifat-sifat asal yang memengaruhi manusia secara tidak langsung. Ada pengaruh positif dan negatif, serta pengaruh pancarasa dan saptawarna yang terdapat dalam berbagai jenis pangan.

Menguatkan pengaruh positif bukan berarti menghapuskan pengaruh negatif, tetapi menyempurnakannya sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan.
Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni spiritual yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi. Gambaran dari proses penyempurnaan daya yang dihasilkan dari pengaruh positif dan negatif. Serta pengaruh warna yang meresap ke dalam tubuh manusia, menjadi sifat, cara, dan ciri manusia, sehingga dapat menghasilkan gaya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

TARI BUYUNG, Tarian Khas dalam Upacara Seren Taun

TARI BUYUNG, Tarian Khas dalam Upacara Seren Taun

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam maupn tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada zaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam. Bagi Ibu Emalia Djatikusumah, seorang koreografer yang berdomisili di Cigugur, gerak lembut dan nuansa alam di kala bulan purnama mengilhami lahirnya karya cipta tari yang mengisahkan gadis desa yang turun mandi dengan teman-temannya dan mengambil air di pancuran Ciereng dengan buyung.

Setiap gerakan dalam tari Buyung memiliki makna yang tersirat. Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat relevansinya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”. Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Pergelaran tari buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Tuhan diyakini sebagai Kausa Prima dari segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Alam penuh dengan energi. Alam selalu bereaksi dengan tingkah laku manusia, dan ikut mempengaruhi karakter manusia. Eksistensi dalam alam makrokosmos dilihat sebagai sesuatu yang tersusun secara hierarkis. Sehingga, secara moral manusia dituntut untuk menyelaraskan hidupnya dengan alam, yaitu antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam raya) untuk membuahkan kesadaran mengenai penghayatan iman terhadap keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta.

SEREN TAUN: Sebuah Ritual Syukur Masyarakat Sunda

SEREN TAUN, Sebuah Ritual Syukur Masyarakat Sunda

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Upacara Seren Taun adalah ungkapan syukur  dan do’a masyarakat Sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama tahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang.  Selain ritual-ritual yang bersifat sakral digelar pula berbagai atraksi kesenian dan hiburan. Dengan kata lain, upacara ini tak hanya meliputi kegiatan spiritual dalam kaitan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dengan sesama mahluk dan juga alam.

“Tundukkan Kepala Satukan Hati dalam Keberagaman Demi Kedamaian Semesta Alam”, demikian tema Seren Taun 1940 Saka yang bertepatan dengan hari pertama di tahun 2008 ini. Meskipun upacara ini hanya diselenggarakan di sebuah kecamatan kecil, tetapi Seren Taun di Cigugur ini berhasil menjadi  festival seni tradisi Sunda  dan pertemuan tahunan masyarakat adat di tatar Sunda dan Nusantara.

“Upacara ini sangat penting bagi masyarakat agraris Sunda sebagai tanda mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa atas hasil panen dan segala daya upaya. Upacara seperti ini mungkin serupa dengan acara Thanks Giving yang ada di luar negeri.” Demikian papar Pangeran Djatikusumah selaku Ketua Yayasan Tri Mulya.

Seren taun adalah upaya dalam mengekpresikan rasa syukur masyarakat agraris Sunda yang masih digelar di beberapa  wilayah Jawa Barat seperti di Garut, Sukabumi, Cimahi, dan Cigugur. Seren berarti menyerahkan dan Taun adalah tahun yang terdiri atas dua belas bulan. Sehingga jika diartikan, Seren Taun adalah upacara penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang sudah berlalu dan memohon berkah serta pelindunganNya untuk tahun yang akan datang.

Upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 22 bulan Rayagung  dalam perhitungan Saka. Hal tersebut dimaksudkan karena bulan Rayagung tersebut merupakan bulan terakhir dari rangkaian 12 bulan, yakni: Muharam atau Sura- Sapar- Mulud- Silih Mulud- Jumadil Awal- Jumadil Ahir- Rajab- Ruwah- Puasa- Syawal- Hapit- Rayagung. Sebagai bulan terakhir, Rayagung juga juga mengandung makna merayakan keagungan Tuhan yang Mahaesa.
“Rayagung merupakan keagungan Sang Pencipta, 22 terdiri dari 20 dan 2. Duapuluh sebagai sifat ilahi yang mengacu kepada tumbuhnya kesadaran diri selaku manusia dan kesadaran pribadi sebagai suatu bangsa.  Sedangkan bilangan dua melambangkan adanya sifat berpasangan, adanya baik dan buruk, siang dan malam, laki-laki dan perempuan” Papar Pangeran Gumirat Barna Alam selaku Ketua Umum Kegiatan Seren Taun.

“Dalam pelaksanannya, Seren Taun di Cigugur dilaksanakan oleh masyarakat multi agama, adat dan kepercayaan, yang merupakan pula wujud kebhinekaan yang menyadari ketunggalikaan dalam bersyukur kehadirat Tuhan” P. Djatikusumah menjelaskan upaya pelaksanaan acara yang memang dihadiri berbagai etnis, di antaranya dari Indramayu, Baduy-Kanekes, Bandung, Batak, Bali, hingga Flores.

“Inilah yang membuat kami, Yayasan Trimulya, berjuang untuk terus memelihara dan melestarikan Upacara Syukuran Seren Taun dari waktu ke waktu sebagai amanat Leluhur, yang tentunya bukanlah sesuatu yang tanpa makna. Terbukti dengan adanya tradisi seperti ini, kami mampu berdampingan dan harmonis dalam banyak perbedaan. Cigugur sendiri merupakan desa yang bernuansa multiagama. Ada Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan masyarakat adat Sunda dengan kepercayaannya masing-masing.” P. Djatikusumah menerangkan kondisi Daerah Cigugur sebagai tempat Seren Taun digelar.

Kemudian, Pangeran Djatikusumah juga menjelaskan bahwa upacara ini juga mengandung makna yang filosofis, di antaranya adalah prosesi ngajayak (menjemput padi). Ngajayak dalam bahasa Sunda berarti menerima dan menyambut.  Ngajayak merupakan prosesi pertama yang dilaksanakan. Prosesi ini terdiri dari barisan muda-mudi yang membawa hasil bumi dari empat penjuru mata angin, menggambarkan kemurahan dan cinta kasih Tuhan ada di setiap dan segenap penjuru alam. Digambarkan dalam prosesei, barisan terdepan membawa buah-buahan, umbi-umbian, dan padi yang dipeuntukkan untuk penanaman di tahun yang akan datang. Makna yang lebih dalam lagi adalah bahwa generasi muda yang kita harapkan dapat menjadi penerus hidup dan kehidupan manusia. Jumlah yang sebelas pasang, mengandung arti sawelas yang artinya saling memiliki rasa cinta kasih sebagai karakter manusia yang senantiasa mengharapkan hidup damai. Di belakang barisan pemuda, ada ibu-ibu yang nyuhun padi. Hal ini bermakna memohon agar generasi berikutnya juga dapat melaksanakan kehendak yang Maha Kuasa yang telah tersirat dalam cara ciri manusia. Sementara bapak-bapak yang memikul dan mengusung padi, buah-buahan serta umbi-umbian bermakna bahwa kaum pria memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam membina dan mengayomi keluarga.

Ketika barisan hampir tiba di tempat upacara, sejenak barisan berhenti  untuk menyaksikan tari Buyung yang merupakan tarian khas Cigugur-Kuningan. Tarian ini diangkat dari kebiasaan masyarakat Cigugur dahulu dalam mengambil air dari mata air yang ada. Tarian ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa mencintai tanah air dan memaknai peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Setelah itu, disusul dengan pergelaran angklung buncis yang juga khas dari Cigugur, di mana angklung tersebut berbahan dasar bambu hitam, juga bersama angklung Baduy dengan suaranya yang menggambarkan kebahagiaan dan sukacita bersama.

Dalam upacara Seren Taun yang menjadi objek utama adalah padi. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah Sunda pada umumnya merupakan daerah pertanian yang subur. Makna padi bagi masyarakat petani Sunda seperti tercermin dalam berbagai kisak klasik sastra Sunda, seperti kisah Pwah Aci, Sanghyang Asri, yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan jabaning langit yang turun ke bumi. (dheka, red)

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PEMEROLEHAN MAKNA AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PEMEROLEHAN MAKNA AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Dalam serat Centhini aksara Ha-na-ca-ra-ka digunakan untuk membahas nama seseorang dengan kiasan sifat dan tabiatnya, dimulai dari nama orang yang bermula dengan aksara ha hingga nama orang yang diawali dengan aksara nga.

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ha

Sifatnya:

- pendapatnya tidak dapat diatur

    • selalu ingin disayangi

    • enggan dicela

    • banyak berlagak

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara na

Sifatnya:

- pemberani

    • tidak takut pada keluarga (kakak, ayah, ibu)

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ca

Sifatnya: (untuk wanita)

    • jahat dan bengis

    • selalu ingin diperhatikan suami

    • senang memerintah dan mengatur suami

    • mudah akrab dan bersahabat, tetapi tidak abadi

    • berani kepada orang tua

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ra

Sifatnya:

    • pandai, tetapi tidak sabar

    • mudah marah, dan berhati lembek seperti lilin

    • jika marah, akan cepat reda

    • bila berdebat mudah marah

    • sedikit keinginan

    • berani, tetapi setengah-setengah

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ka

Sifatnya:

    • kata-kata yang diucapkannya keras

    • berani bertanggung jawab

    • senang dipuji

    • tidak tahan bekerja keras

    • kaku dan canggung

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara da

Sifatnya:

    • berkata sambil tersenyum

    • lapang dada

    • banyak akal

    • berpendirian teguh

    • tegur sapanya manis

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ta

Sifatnya:

    • ramah

    • banyak akal

    • tidak suka mendengar ucapan yang buruk

    • suka bertegur sapa

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara sa

Sifatnya:

    • cerdas

    • sadar akan resiko

    • berbudi lembut

    • luas pengetahuannya

    • baik terhadap bawahan

    • berpikiran tajam

    • keberaniannya sedang

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara wa

Sifatnya:

    • angkuh dan jika marah berkobar-kobar

    • tidak setia kawan

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara la

Sifatnya:

    • sangat suka disayang dan disanjung

    • sombong

    • jika bersahabat akan setia kawan

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara pa

Sifatnya:

    • mudah marah dan patah hati

    • keinginannya tidak berlangsung terus

    • ceroboh

    • persahabatannya tidak kekal

    • tidak perhatian kepada ayah

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara dha

Sifatnya:

    • mudah bersedih

    • pandai dan tenang

    • jarang mengatakan sanggup

    • cerdas dan berpikiran tajam

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ja

Sifatnya:

    • lembut pikir

    • tidak mudah marah

    • egois

    • sombong dan enggan bergaul

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ya

Sifatnya:

    • pemalu

    • tidak kenal bahaya

    • mudah bersedih

    • mudah menaruh curiga

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara nya

Sifatnya:

    • berlagak pujangga

    • pandai berkata-kata

    • sulit mengikuti pendapat orang lain

    • sering enggan dan cemas

    • suka menjadi korban orang lain

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ma

Sifatnya:

    • mudah panas hati

    • sulit menerima nasehat orang lain

    • senang mencari perhatian

    • senang menyendiri, tidak suka tempat ramai

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ga

Sifatnya:

    • pandangan luas

    • berjiwa pemimpin

    • teguh pendirian

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara ba

Sifatnya:

    • besar amarah

    • tidak banyak bicara

    • kata-katanya halus dan manis, namun berbahaya

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara tha

Sifatnya:

    • pikirannya tumpul

    • bodoh, tetapi berlagak pandai

    • tidak tahu tugas

    • enggan bekerja

  1. Orang yang namanya bermula dengan aksara nga

Sifatnya:

    • cekatan

    • pandai berbuat dan rendah hati

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PALEOGRAFI AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PALEOGRAFI AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo. Itulah salah satu semboyan sebagai tanda harapan pemerintah akan negeri ini. Sebagai generasi penerus sekaligus pewaris kebudayaan, seharusnya telah memiliki pengertian dan pemahaman atas ajaran para leluhur tentang kawruh kasampurnaan atau kautama. Di mana mereka meninggalkan suatu kekayaan yang sangat mahal dan adi luhung, yaitu aksara Jawa, atau aksara ha-na-ca-ra-ka. Sebuah karya sastra dan kebudayaan yang di dalamnya terkandung berbagai rahasia dan ajaran-ajaran hidup. Salah satunya adalah penggunaan aksara ha-na-ca-ra-ka berikut pemberian atas makna yang terdapat dalam serat Centhini.

Serat Centhini adalah suatu buku berbahasa Jawa, yang isinya merupakan sumber kesempurnaan hidup orang Jawa. Naskah aslinya berhuruf Jawa. Terdiri dari 12 jilid, dan 3500 halaman. Serat Centhini ini ditulis atas gagasan Sri Sunan Paku Buwana V (pada saat itu masih berstatus sebagai Pangeran Adipati Anom) dari Surakarta. Dibantu oleh Rangga Sutrasana, Yasadipura II, dan Ngabehi Sastradipura. Lalu disalin ke huruf Latin oleh Kamadjaya yang diterbitkan oleh Yayasan Centhini di Yogyakarta tahun 1985. Pada awalnya buku ini dinamakan suluk Tambang Raras, namun kemudian diganti menjadai serat Centhini. Nama Centhini ini diambil dari Niken Tambang Raras istri Syekh Among Raga.

Naskah yang ditulis pada Sabtu Pahing tanggal 26 Suro dengan Cadra Sengkala “paksa suci sabda ji” yaitu tahun 1742 atau tahun1814 Masehi ini, di dalamnya termuat dialog-dialog, kisah dan aksara ha-na-ca-ra-ka yang mengungkapkan pandangan, sikap serta ajaran mengenai hidup manusia. Hubungannya dengan diri sendiri, dengan sesama, masalah keluarga, hubungan suami istri, dan mengenai hubungan Tuhan yang Maha Esa. Di dalamnya terkandung pula refleksi religius yang sifatnya popular, walaupun tidak jarang mendalam dan mendasar sifatnya.

Serat Centhini ini bagi orang Jawa sudah tidak asing lagi selain karena mengandung kisah dan ajaran-ajaran hidup, juga menerangkan ilmu pengetahuan mengenai kebudayaan Jawa baik yang lahir maupun yang batin. Maka sudah sepantasnyalah jika serat Centhini ini disebut sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa.

Paleografi bermakna sebagai ilmu yang mempelajari tulisan aksara atau huruf kuno. Secara etimologis kata paleografi berasal dari paleos = kuno, dan grafein = tulisan. Paleografi berkaitan erat dengan epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari aksara-aksara yang digunakan dalam penulisan prasasti. Di Indonesia penelitian paleografi telah diawali oleh A. B. Cohen Stuart (1875), dengan bukunya yang berjudul “kawi Oorkoden in Fasimile, Mer Inleiding en Transcriptie”. Ia mencontohkan aksara Jawa Kuno, di samping contoh-contoh aksara dari prasasti dan tembaga. Rintisan Stuart dilanjutkan oleh Holle pada tahun1882 dengan bukunya yang berjudul ‘tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten”, yang mengetengahkan beberapa contoh aksara Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah Jawa Timur, Bali, Lampung, Bima, dan lain-lain (Holle, 1882).

Berikutnya, penelitian tentang paleografi ini secara berturut-turut dilakukan oleh penulis-penulis lain, antara lain: Kern yang menulis “Verspreide Geschriften” 1917, J. G. de Casparis menulis buku karangannya yang berjudul “Indonesian Paleography 1975”. Beberapa nama lain untuk bidang paleographyyang sempat dicatat Atmodjo diantaranya adalah Brandes, Stein Callenfels, Krom, Bosch, Stutterheim, Poerbatjaraka, Pigeaud, Buchari, Ktut Ginarsa, A. S. Wibobo dan Sukarto K. Atmodjo (Atmodjo, 1994: 3)

Aksara ha-na-ca-ra-ka dari segi paleografis merupakan kelanjutan dari perkembangan aksara dari masa ke masa, yang tidak diketahui secara pasti sejak kapan mulai dikenal dan dipergunakan sebagai sarana penulisan. Sebelum dikenal sebagai cacarakan atau yang saat ini disebut juga dengan ha-na-ca-ra-ka, orang telah menggunakan aksara yang lebih tua beredarnya yang dikenal denan aksara Jawa Kuno (Soebalidinata, 1994: 9).

Soebalidinata menyampaikan beberapa contoh aksara Jawa Kuno yang merupakan mata rantai perkembangan aksara menuju ke aksara ha-na-ca-ra-ka, dengan sistem ejaan yang lain untuk alih aksara.

  1. Tulisan Kawi Jawa Timur

  2. Tulisan Kawi masa Airlangga

  3. Tulisan Kawi masa Kerajaan Kediri

  4. Tulisan Kediri Kwadrat

Perkembangan aksara Jawa Kuno ke Jawa Baru juga terkait dengan perubahan bahasa. Menurut Brandes perkembangan bahasa Jawa yang melampaui empat tingkatan menjadi bervariasi. Masing-masing tingkatan itu adalah:

  1. Masa Jawa Kuno yang tertua.

  2. Masa Jawa Kuno.

  3. Masa Jawa Madya atau Jawa Tengahan.

  4. Masa Jawa Baru.

de Casparis di dalam “Indonesian Paleography” yang dikutip Atmodjo (1994: 8) mengolompokkan perkembangan aksara (Jawa) atas beberapa tahap, dimulai dari aksara Pallawa:

  1. Aksara Pallawa awal, sebelum tahun 700 M.

  2. Aksara Pallawa tahap akhir, abad VII dan pertengahan abad VIII M.

  3. Aksara Kawi awal, 750 – 925 M.

  4. Aksara Kawi akhir, 925 – 1250 M.

  5. Aksara Majapahit dan aksara daerah, 1250 – 1450 M.

  6. Aksara Jawa Baru, tahun 1500 hingga sekarang.

Aksara Jawa Baru yang merupakan kelanjutan perjalanan aksara Jawa Kuno di dalam perkembangannya mengalami perbedaanPerbedaan antara aksara Jawa Kuno dan Jawa Baru cukup banyak. Aksara Jawa Baru ha-na-ca-ra-ka mengalami penambahan garis tegak (kaki) di sebelah kiri dan kanan aksara bersangkutan. Demikian juga tanda vokal [i] dan [e].

Di dalam aksara Jawa Kuno tidak ada periodesasi secara khusus. Namun hanya ditandai secara umum adanya model bentuk penulisan aksara. Bentuk tulisan gaya Mataram I yang berbentuk bulat berbeda dengan aksara gaya Jawa Timur yang bentuknya agak kurus dan runcing (Atmodjo, 1994: 9). Di samping gaya-gaya bentuk tulisan pada taraf local.

Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian memuat berita tentang kreasi budaya masyarakat lama yang berupa jenis

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Dalam budaya sunda, profesionalisme begitu dijunjung. Dalam setiap garapan ada seorang yang menjadi ahli, biasanya disebut juru.Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, naskah Sunda yang mempunyai Candrasangkala yang berbunyi nora catur sagara wulan, dibuat tahun 1440 Saka /1518 M; atau awal abad ke-16. Naskah ini leboh bersifat sebgai mempunyai isi semacam ensiklopedi masyarakat Sunda, yang di dalamnya memuat berita tentang kreasi budaya masyarakat lama yang berupa jenis-jenis kesenian. Di sanalah berkumpulnya anggota masyarakat yang mempunyai maksud mencari pengetahuan. Dalam hal ini sang Darma Pitutur menye­butkan jenis kesenian dan penggarapnya, yaitu:

  1. seni cerita/wayang, dimainkan oleh memen/ dalang;

  2. seni kawih, dikuasai oleh paraguna;

  3. seni pamaceuh (permainan), dikuasai oleh hempul;

  4. seni pantun, dimainkan oleh prepantun;

  5. seni tulis (lukis), dikuasai oleh lukis;

  6. seni tempa (pande senjata), dikuasai oleh panday;

  7. seni ukir, dikuasai oleh maranggay/maranggi;

  8. seni oolahan (masak), dikuasai oleh hareup catra;

  9. seni boeh (kain batik), dikuasai oleh pangeuyeuk;

Di samping itu ada beberapa lagi keahlian dan sebutan peng­garapnya:

  1. ahli agama dan parigama, dikuasai oleh pratanda;

  2. ahli ilmu prang (berperang), dikuasai oleh sang hulu jurit;

  3. ahli aji mantra, dikuasai oleh sang brahmana;

  4. ahli puja di sanggar, dikuasai oleh ja(ng)gan;

  5. ahli dunuah nalika (menghitung waktu), dikuasai oleh buranyga;

  6. ahli darmasiksa (yang mengetahui tentang kewajiban hidup), dikuasai oleh pandita;

  7. ahli pemerintahan, dikuasai oleh ratu;

  8. ahli ilmu tanah (patitis bumi), dikuasai oleh mangkubumi;

  9. ahli berlayar yang ban,ak tahu tentang pelabuhan, dikuasai oleh puhawang; (dampuawang)

  10. ahli menghitung harga (sawatek arega), dikuasai oleh citrik byapari;

  11. ahli sandi (rasia), tata kadewataan dan kahyangan, dikuasai oleh sang wiku;

ahli yang menguasai bahasa-bahasa (carek para purusa), disebut sang jurubasa darumamurcay

Purwakanti Sastra

Purwakanti Sastra

Oleh Dheka Dwi Agusti N.

Purwakanti sastra adalah salah satu jenis perulangan bunyi alias repetisi yang terdapat dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Istilah purwakanti sastra diungkapkan oleh Satjadibrata dalam bukunya yang berjudul Rusiah Tembang Sunda pada tahun 1951. Satjadibrata mengungkapkan bahwa di tanah Sunda purwakanti tersebut digunakan untuk menghapal lagu. Sebuah cara menghapal yang berbeda dengan cara menghapal ala Belanda yang menggunakan aturan si-do-sol (do-re-mi-fe-so-la-si-do). Yaitu kata yang menjadi penutup kalimat sebelumnya, menjadi kata pembuka dalam kelimat selanjutnya. Salah satu contoh aplikasi purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh kinanti dan sinom, yaitu :

Kinanti

Sok emut jaman kapungkur

Kapungkur nalika abdi

Abdi nuju dipiara

Dipiara dipupusti

Dipupusti ku indung bapa

Bapa nu kalangkung asih.

Sinom

Ti barang engkang paturay

Paturay jeung buah ati

Ati teu weleh nalangsa

Nalangsa anu nunggelis

Nunggelis tur prihatin

Prihatin taya nu nulung

Nulung ngahegar-hegar

Hegar saperti bihari

Bihari mah asa kumpul lelembutan

Meskipun purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh, tetapi menurut Muhammad Moesa purwakanti seperti ini hanya dipakai dalam kakawihan Ayang-ayang gung.

Purwakanti sastra tersebut memang sangat nampak dalam lagu Ayang-ayang Gung. Adjan Sudjana dalam tulisannya yang berjudul Ayang-ayang Gung, Gasibu Bukan Gazebo memaparkan bahwa lagu ini merupakan lagu zaman perjuangan melawan Belanda. Adanya irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sementara itu lagu Oyong-oyong Bangkongpun memiliki latar belakang kesejarahan yang mirip dengan Ayang-ayang Gung. Seperti yang diungkapkan oleh oleh Nandang Rusnandar dalam Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda (Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak tahun 2000, nyanyian ini merupakan wujud rasa kecewa orang Baduy terhadap kompeni Belanda yang datang ke daerah Jawa Barat.

Purwakanti dalam kedua lagu tersebut menjadi sebuah media khas dalam sebuah proses pendidikan, yaitu melalui efektifitas yang muncul dari pola purwakanti tersebut. Purwakanti sastra yang diungkapkan oleh Satjadibrata ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa sebagai repetisi anadiplosis, yaitu berupa perulangan bunyi, suku kata, kata, atau frasa terakhir dalam suatu lirik atau baris menjadi kata atau frasa pertama pada larik selanjutnya. Dalam kesusatraan moderen repetisi anadiplosis ini sering juga disebut epanadiplosis atau epanastrofa.

Dalam permainan anak-anak Sunda atau yang lebih dikenal dengan istilah kaulinan budak, repetisi ini ternyata cukup banyak terkandung dalam lagu yang biasa mereka nyanyikan ketika permainan tengah berlangsung. Permainan paciwit-ciwit lutung misalnya, di mana saat anak-anak bermain dengan saling mencubit punggung tangan temannya mereka menyanyikan menyanyikan lagu

Paciwit-ciwit lutung

Si Lutung pindah ka luhur.

Permainan lainnya yang juga masih menggunakan media tangan dan jari serta lagu berpurwakanti sastra adalah Cingciripit.

Cing ciripit tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu paré,

Bulu paré seuseukeutna,

jol padalang mawa wayang,

Jrék jrék nong

Permainan lainnya adalah Caca Burange dan Leho Sapi yang masing-masing lagunya adalah

caca burange

burange tali gobang

gobang pancarange

anak gajah papayungan

boti botem..

boti botem..

Lého sapi pi,

Pindang gobang bang,

Bangkong hejo jo,

Jolijopak jojoli ong

Adapula lagu-lagu yang dinyanyikan oleh ibu kepada anaknya yang masih bayipun mengandung purwakanti semacam ini. Pada usia 4-5 bulan, bayi dapat seuri ngabarakatak (tertawa) jika diajak bercanda. Candaan tersebut biasanya dengan dikauk-kauk. Ketika Ibu menyanyikan lagu kauk-kauk, sang Bayipun memperhatikannya seakan ia mengerti. Di akhir kalimat yang juga menjadi akhir lagu sang Ibu lalu pura-pura mencari sambil menggelitiki anaknya.

Kauk-kauk

Kauk-kauk si julang

Si julang ka mana enteupna

Enteupna… kadieu

(bari ngélékéték budak)

Di samping kauk-kauk, ada permainan lain yang juga dimainkan oleh orang tua yaitu sursar. Dalam permainan ini, si anak diajak duduk berjajar dengan orang tuanya sambil kaki diselonjorkan (nanghunjar), sambil bernyanyi tangannya silih berganti mengusap-usap kaki mulai dari pangkal paha hingga mata kaki dan terus dilakukan bolak-balik, sambil melagukan:

sur sar sur sar,

angeun kacang atah keneh,

disuluhan ku baketes,

baketes meunang meulahan,

meulahan ku peso raut,

peso raut gagang tanduk,

ari gog-gog cungunguk

Ketika si orang tua menyebutkan kata-kata ari gog-gog cungunguk, dengkul si anak seolah-olah dipijit-pijit oleh orang tuanya, dan si anak akan tertawa karena kegelian.

Lagu-lagu kaulinan budak tersebut memiliki pola yang estetis, juga menunujkkan sebagai alur yang saling berkait tanpa putus yang memuat tekanan terhadap sebuah konteks. Pangeran Djatikusumah di sela hari-hari menyambut upacara Seren Taun 1940 Saka yang di gelar di Cigugur, Kuningan, Januari 2008 kemarin, mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan Siloka yang mengandung panganteb yang juga dapat mencerminkan bagaimana cara karuhun Sunda dalam mendidik anak.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, purwakanti tersebut merupakan sebuah media untuk mempermudah seorang anak dalam menghapal dan menguatkan ingatan. Hal ini sejalan dengan banyaknya penelitian yang mengungkapkan bahwa perulangan dapat mempercepat terhubungnya milyaran sambungan otak anak. Melalui purwakanti ini pula seorang anak belajar berbicara (capetang). Dalam tradisi Baduy, seperti yang dituturkan oleh Jaro Sawitri dan Aki Darseuni, sesepuh masyarakat Baduy Luar, biasanya ketika anak-anak mulai bisa berbicara mulut si Anak dimantrai terlebih dahulu. Kemudian mantra ini diajarkan untuk dihafalkan dan dilafalkan sedikit demi sedikit oleh si Anak. Masyarakat Baduy menyebutnya sebagai poko jampé atau mantra pokok, yang berbunyi:

Capit cuit cangkorélang

Manuk daun mobok liang

Liang keuyeup

Keuyeup sekar

Sekar cai

Cai haneut

Haneut kuku

Kuku peusing

Peusing cala

Cala bunar

Bunar ropoh

Ropoh jalan

Jalan gedé

Gedé bulan

Bulan silih

Silih ogan

Ogan kotok

Kotok hurik

Hurik amis

Amis gula

Gula léngkét

Léngkét dagé

Dagé dungkuk

Dungkuk lutung

Lutung puntang

Ountang dahan

Dahan peucung

Peucung céléng

Céléng bonténg

Bonténg lilin

Lilin odéng

Odéng paré

Paré konéng

Konéng tinggang

Tinggang anak

Anak buwu

Buwu séksék

Séksék nombék di karéés

Salam.

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: PRABAYAR DAN PASCABAYAR?

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: PRABAYAR DAN PASCABAYAR?

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Beberapa tahun terakhir ini konsep pembayaran khususnya dalam bidang pemasaran barang dan jasa telah mengalami banyak perkembangan dan modifikasi. Kalau dulu hanya ada sistem barter alias saling menukar barang, kemudian mulai berkembang dengan sistem ada uang ada barang, maka saat ini tengah hangat-hangatnya sistem pembayaran dengan konsep prabayar dan pascabayar.

Istilah prabayar ini konon bermula dari kata prepaid yang dalam bahasa Inggris bermakna sudah dibayar lebih dahulu. Hal ini bukan sekadar pinjam-meminjam istilah tetapi sudah terjadi pinjam-meminjam sistem, yaitu prepaid itu sendiri. Namun, apa yang terjadi setelah istilah itu hijrah pada bahasa kita?

Secara paradigmatis kita pun bermaksud sama, istilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia yaitu prabayar dengan prepaid yang merupakan bahasa Inggris, mengacu pada makna “dibayar terlebih dahulu”. Misalnya: untuk para pengguna pulsa prabayar. Sebelum kita bisa menggunakan pulsa (baik itu telepon atau sms) tentunya kita harus membeli terlebih dahulu pulsa tersebut sejumlah yang kita inginkan. Setelah menggosok bagian belakang kartu pulsa dan memasukkan 14 digit angka yang tertera hingga ada pesan dari operator bahwa pulsa kita telah bertambah, barulah kita bisa memakainya, pastinya sesuai jumlah yang kita beli sebelumnya.

Sekilas memang tidak tampak ada yang aneh pada proses jual beli tersebut. Hal ini telah menjadi salah satu strategi pemasaran dari bisnis-bisnis yang sedang berkembang pesat. Mungkin para ahli ekonomi tidak mau ambil pusing untuk mencari terjemahan yang tepat bagi sistemnya ini. Namum, jika istilah ini dianalisis lebih jeli pada aspek morfologi dan semantik kebahasaannya ada hal menggelitik yang terdapat di dalamnya.

Secara kebahasaan, morfem kompleks “prabayar” yang menjadi istilah bagi sistem pembayaran di atas, dibentuk dengan proses pengimbuhan proleksem “pra” pada kata “bayar” yang merupakan kata kerja. “Pra” adalah bentuk terikat yang bermakna sebelum, kemudian diimbuhkan pada kata “bayar”, sehingga menghasilkan makna sebelum terbayar atau sebelum dibayar.

Makna tersebut tentunya jadi berbeda dengan istilah prepaid (ppd.). Lantas di mana letak kejanggalannya? Tentu saja dalam tataran morfologinya. Banyak hal menjadi pembeda yang signifikan antara kaidah yang ada dalam bahasa kita dengan kaidah yang ada dalam bahasa Inggris, contohnya konsep waktu (tenses) dalam kalimat dan ujaran bahasa Inggris.

Secara morfologi, istilah prepaid juga merupakan bentuk kompleks yang dihasilkan dari proses penambahan preposisi “pre” pada kata “paid”. Kata paid itu sendiri merupakan bentuk kata kerja kedua dari pay yang berarti membayar. Kata paid menunjukkan waktu lampau atau sudah terjadi (past tense) dan kemudian diberi preposisi pre sehingga membentuk makna sudah dibayar terlebih dahulu.

Secara gramatika, pre yang bermakna sebelum, menerangkan kata paid yang bermakna membayar (lampau atau sudah terjadi), lalu membentuk makna ‘sebelumnya sudah dibayar’. Kata paid yang merupakan kata kerja (verb) setelah berubah menjadi prepaid menjadi kata kerja transitif. Contoh: The package was sent prepaid, Paket itu dikirim dengan membayar (ongkos) terlebih dulu.

Dalam gramatika bahasa Indonesia tidak dikenal konsep waktu secara signifikan, sehingga pemaknaan terhadap bentuk kompleks yang berkaitan dengan waktu terkadang menjadi kacau balau. Istilah prabayar yang disejajarkan dengan prepaid dapat menjadi contoh. “Pra” yang diimbuhkan pada kata “bayar” dalam kaidah bahasa Indonesia tidak dapat mengubah makna berdasarkan susunan gramatikanya. Kata “bayar” yang merupakan kata kerja jika dianalisis waktunya dapat berarti sedang terjadi atau bahkan belum rerjadi, yang jelas tidak mungkin memiliki arti telah terjadi alias sudah dibayar, karena jika ingin konsep waktunya demikian maka kata bayar harus didampingi dengan kata sudah atau telah.

Jadi, istilah prabayar secara semantik akan menghasilkan makna “sebelum membayar” artinya belum dibayar, artinya lagi itu hanya sebuah konsep pembayaran biasa, di mana setelah selesai melakukan transaksi jual beli barulah biayanya dibayar atau dilunasi. Contoh: Paket itu dikirim secara prabayar. Berarti, paket itu dikirim secara belum dilakukan pembayaran. Namun, entah mengapa yang melekat pada masyarakat kita justru makna “Paket itu dikirim dengan cara membayar sebelumnya”. Makna ini memang benar, tetapi untuk makna semantik dari kata prepaid, bukan prabayar.

Perhatikan bentuk komplek lain yang berasal dari proses morfologi penambahan “pra”, yaitu: pradesa bermakna daerah yang belum menjadi desa, pradini memiliki makna belum waktunya, prajaksa adalah pembantu jaksa, yang makna awalnya adalah belum menjadi jaksa, kemudian pralahir maknanya berkenaan dengan bayi pada masa menjelang kelahiran, itu sama saja artinya dengan belum lahir, lalu pramenstruasi, prapuber, dan pranikah memiliki konsep makna yang setara yaitu “belum”.

Lalu bagaimana dengan istilah pascabayar yang disetarakan dengan istilah paid dalam bahasa Inggris. Kata paid yang berarti (telah) membayar atau lunas bisa saja setara dengan konsep pascabayar yang memiliki makna sesudah (dilakukan) membayar. Atau justru pascabayar memiliki makna yang diperkenankan seperti dalam konsep prabayar. Proleksem “pasca” adalah bentuk terikat yang memiliki makna sesudah, jika digabungkan dengan kata “bayar” maka akan menimbulkan makna “sesudah bayar”. Inilah makna yang justru diharapkan hadir dalam istilah prabayar, bukan? Contoh: Paket itu dikirim secara pascabayar, maknanya paket itu dikirim secara sesudah (dilakukan) membayar/ pembayaran. Atau dengan kata lain, paket itu dikirim sesudah kita membayarnya alias kita melakukan pembayaran terlebih dahulu baru akan mendapatkan barang atau jasa yang dikehendaki.

Dalam hal ini, seharusnya para ahli ekonomi tidak lepas tangan begitu saja, sebab bagaimanapun merekalah yang sewajarnya paham benar akan makna dan referen yang diacu untuk sebuah konsep yang kemudian dituangkan pada sebuah istilah yang tepat dan tidak tumpang tindih. Jikalau memang ingin menyetarakan istilah dengan istilah dalam bahasa lain, hendaknya taat asas dalam penerapan kaidah bahasa masing-masing.

Salam.

Dheka Dwi Agusti N.

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: Analisis Makro Penggunaan Bahasa dalam Media Massa

PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: Analisis Makro Penggunaan Bahasa dalam Media Massa

oleh DHEKA DWI AGUSTI N.

1. Klasifikasi

Kalimat Puisi Jeritan Hati Guru Bantu dan Petani Sukabumi ‘Menjerit’ yang keduanya digunakan sebagai judul pemberitaan dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, menunjukkan adanya sebuah klasifikasi. Klasifikasi kedua judul tersebut ditunjukkan dengan adanya kata “menjerit” yang digunakan sebagai metafor untuk menggambarkan kondisi dan keadaan para guru bantu serta para petani di Sukabumi. Penggunaan kata “menjerit” yang telah membuat suatu klasifikasi antara nasib guru bantu dan petani di Sukabumi dengan sebuah jeritan, tentunya sebagai lambang rasa sakit dan penderitaan yang mereka rasakan, dengan harapan agar para pembaca tahu kondisi mereka saat ini yang tengah “menjerit-jerit” kesakitan itu. Sakitnya para guru bantu yang dibelit banyak kebutuhan hidup dan harapan untuk menjadi PNS yang tak kunjung terlaksana, serta sakitnya para petani yang harus menjual gabah yang telah ditanamnya dengan keringat yang mengalir harus dijual dengan harga murah.

2. Pembatasan Pandangan

Kalimat Jangan Dekati Sation Siliwangi yang digunakan sebagai judul pemberitaan dalam Koran Galamedia, Selasa 10 April 2007, telah membatasi pandangan pembaca mengenai apa yang akan terjadi di stadion Siliwangi. Sebuah pertandingan sepak bola partai hukuman akan diselenggarakan di sana, antara Persib dengan PSSB Bireun. Intinya, panitia pelaksana ingin tempat digelarnya pertandingan tersebut steril dari “bobotoh” dan orang-orang tidak berkepentingan, alias tanpa penonton. Untuk itu penulis menggunakan kalimat perintah dengan kata jangan dekati agar siapapun yang membacanya dapat mengerti untuk tidak datang ke stadion Siliwangi.

3. Pertarungan Wacana atau Isu

Pertarungan isu kerap dilakukan media dalam membentuk opini publik, seperti halnya pemberitaan mengenai kasus yang terjadi di IPDN. Pola Pembinaan di IPDN Tetap Dipertahankan sebagai judul dalam pemberitaan yang dimuat dalam Koran Pikiran Rakyat, Sabtu 7 April 2007, telah berani meng’amin’i pola pembinaan yang saat ini tengah marak-maraknya dikecam oleh public agar tetap ada. Bahkan dalam paragraph pertama dalam pemberitaannya, dikemukakan bahwa pola pengasuhan dalam pendidikan di lembaga pencetak para birokrat itu masih tetap dibutuhkan. Tidak tanggung-tanggung hal ini ditegaskan ulang dalam paragraph 7, 8, dan 10, dengan alasan bahwa calon birokrat harus memiliki tingkat displin yang tinggi dan berwawasan nusantara serta belum adanya teori baru yang tepat untuk menggantikan pengacuan pada pola pengasuhan dalam membentu nation and character building sebagai inti pola pengasuhan tersebut. Sebuah insert yang mencengangkan yang terdapat dalam pemberitaan ini adalah kalimat penjelas gambar, REKTOR IPDN I Nyoman Sumaryadi (kanan) memperagakan cara memukul untuk mengukur kekuatan otot perut menurut pola yang sudah baku, saat menjawab pertanyaan seputar kasus penganiayaan Cliff Muntu di Aula Rektorat IPDN Jatinangor Kab. Sumedang, Kamis (5/4).

Dalam pemberitaan serupa yang juga dimuat dalam Koran Pikiran Rakyat, Sabtu 7 April 2007 dengan judul Sistem Militer tak Cocok untuk Sipil mengusung pandangan lain yang seyogiyanya dapat mewakili aspirasi publik mengenai pola pengasuhan dan pembinaan yang berlaku di IPDN yang telah memakan banyak korban. Pada paragraph pertama pemberitaan diungkapkan bahwa sistem pengasuhan harus diubah. Hal ini menjadi paradoks bagi pemberitaan di atas yang justru menginginkan pola pengasuhan tetap ada. Pemberitaan ini memberikan solusi yang berbeda dari pemberitaan di atasnya, yaitu dengan penghapusan pola pembinaan dan pengasuhan, karena akan melanggengkan tradisi kekerasan senior terhadap junior, seperti yang diungkapkan dalam paragraf kedua. Insert yang berbeda dibubuhkan juga dalam pemberitaan ini. Meskipun sama-sama mengekspos tindakan pemukulan, tetapi pemukulan yang ini berbeda dengan pemukulan yang dimaksudkan untuk melatih kekuatan otot perut. Pukulan-pukulan ini justru menjadi bukti nyata bahwa kekerasan dan penganiayaan masih terjadi dan dilakukan para senior dalam singgasana kesenioritasannya kepada para parka junior. Kalimat penjelas gambar adalah sebagai berikut: FOTO dokumentasi memperlihatkan bentuk kekerasan di IPDN. Para praja junior dipukul dengan mata tertutup agar identitas senior yang memukul mereka, tak diketahui.

Pertarungan isu pun semakin sengit ketika Inu Kencana, seorang dosen IPDN berani membongkar kematian misteriun para mahasiswanya, seperti yang diberitakan dalam Koran Galamedia, Selasa 10 April 2007 dengan judul Inu Bongkar Kematian Misterius di IPDN. Kata “bongkar” bermakna bahwa kasus-kasus penyiksaan yang telah menelan banyak korban jiwa memang benar adanya, dan dapat dikemukakan fakta-faktanya. Itu artinya pemberitaan ini senada dengan pemberitaan Sistem Militer tak Cocok untuk Sipil di atas. Namun, dalam pemberitaan ini lebih lanjut dapat diketahui bahwa Inu Kencana, si Pembongkar Fakta justru diberi sanksi bersama rekannya Handi Asikin karena dianggap telah mengungkapkan kebenaran dengan cara-cara yang tidak benar, dan tidak mengikuti aturan main serta etika yang berlaku, sebuah eufimisme yang terdapat dalam paragraf 10 sebagai tuturan SBY. Hal ini yang kemudian membiaskan lagi, apakah sistem dan pola pembinaan itu harus dilenyapkan atau akan dipertahankan, ketidaktegasan sikap justru ada dalam pemberitaan ini.

4. Objektivasi dan Abstraksi

Sebuah judul pemberitaan yang objektif mengenai pemutusan hubungan listrik, dimuat dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, yaitu Tiga Ribu Pelanggan Terancam Diputus. Objektivasi selanjutnya terdapat dalam isi berita yang memuat persentase pasti mengenai jumlah pelanggan sebesar 72 ribu dengan 17 ribu diantaranya rata-rata menunggak pembayaran listrik setiap bulannya. Objektivasi ini perlu dilakukan agar pemberitaan jelas, tidak kabur dan terkesan mengada-ada serta membesar-besarkan.

Kebalikan objektivasi adalah abstraksi, di mana hal yang diungkapkan bersifat abstrak dan tidak jelas jumlah nilainya serta belum objektif. Sebuah judul dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, yaitu Produksi Ikan Masih Rendah. Judul tersebut mengabstraksi nilai atau tingkat produksi ikan. Meskipun disebutkan rendah, tetapi kerendahan tersebut masih bersifat nisbi tanpa ukuran yang tepat. Namun, dalam isi pemberitaan objektivasi tetap dilakukan denga menuliskan jumlah dan persentasenya.

5. Identifikasi

Identifikasi mutlak diperlukan dalam sebuah pemberitaan, agar berita yang disampaikan jelas dan akurat. Contoh identifikasi dalam sebuah pemberitaan misalnya dalam Lelaki Muda Terpotong-potong yang dimuat dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007. Kalimat Warga Kampung Cimengger, Desa Bojongmengger, Kecamatan Cijeungjing gempar menyusul ditemukannya sesosok mayat dalam kondisi terpotong-potong di pinggir rel KA Ciamis-Banjar, Jumat (6/4) pagi. Kalimat tersebut memuat identifikasi mengenai tempat kejadian. Kalimat kedua juga berisi identifikasi, tepatnya identifikasi subjek. Belakngan diketahui korban bernama Olih Solihin, berusia 29 tahun, warga Kecamatan Baregbeg. Dan, kalimat selanjutnya mengideintifikasi keadaan. “Dari kondisi potongan tubuh, diduga korban bunuh diri dengan cara tidur di r el kemudian tergilas oleh rangkaian KA yang lewat,” ujar petugas identifikasi kepolisian.

6. Asosiasi dan Disasosiasi

Bagai Petir di Siang Hari, kalimat yang dapat mengasosiasikan rasa kaget dan tak percaya menjadi sebuah judul dalam Koran Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007. Judul tersebut mengasosiasi keadaan Ny. Wawat yang dalam isi berita diungkapkan berkali-kali pingsan setelah mengetahui anaknya, Opi yang berusia 15 tahun tewas. Bagai petir di siang hari, Ny. Wawat belum bisa mempercayai kejadian ini.

Judul lain yang terdapat dalam Galamedia, Selasa 10 April 2007, justru berkebalikan dengan asosiasi. Sebuah judul langsung, tanpa berasosiasi, Lihat istri Gantung Diri Suami Benturkan Kepala, mengungkapkan rasa dan kondisi yang terjadi secara langsung. Yaitu ketika Dodi Sudrajat berusaha bunuh diri dengan cara membentur-benturkan kepalanya ke bebatuan di Curug Cihampelas setelah melihat istrinya sudah tergantung tak bernyawa.

7. Diferensiasi dan Indiferensiasi

Pasaran Cabai Turun Sayuran Melonjak, sebuah judul dalam Galamedia, Selasa 10 April 2007 yang menunjukkan diferensiasi. Yaitu perbedaan antara harga berbagai jenis cabai yang relatif sedang turun dengan harga beberapa jenis sayuran yang justru mengalami kenaikan.

Dalam Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007, pemberitaan yang berjudul Bupati Bernyanyi, Isteri Berjoget, mempelihatkan adanya sebuah indiferensiasi. Meskipun terdapat perbedaan kata kerja yaitu bernyani dan berjoget, tetapi keduanya sama-sama merujuk pada sebuah makna yaitu menghibur. Bupati Kabupaten Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh didampingi istrinya Hj. Y. Rosdiana, berdendang bersama dalam sebuah acara lokakarya.

Sumber Data:   Pikiran Rakyat, Sabtu 7 April 2007

Tribun Jabar, Sabtu 7 April 2007

Galamedia, Selasa 10 April 2007

SUNDA, HARMONIKU

SUNDA, HARMONIKU

oleh Dheka Dwi Agusti N

Kira-kira kriya apa saja dari kebudayaan Sunda yang saat ini mengalami degradasi nilai, Pa?”

Maaf, untuk “Sunda” di sini, saya batasi pada kebudayaannya di era 1920 ke bawah, Pa.

Mengingat setelah tahun tersebut Sunda telah mengalami kelunturan. Terlebih pada tahun 1928, ketika sumpah pemuda tercetus, dan menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia.”

Demikian ungkapan seorang teman ketika kami sedang mencari informasi pada narasumber yang sama. Dia membuat sebuah definisi operasional terhadap istilah “Sunda”. Ya, jika berbicara mengenai Sunda tanpa dibatasi memang akan sangat panjang jadinya. Bisa-bisa sampai menyentuh kawasan “proto sundanic”, yang jika ditelusuri lebih jauh tentunya sangat menarik, tetapi sayang telah banyak “slot” yang hilang.

Sunda yang menurut R. Mamun Atmamihardja dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat ada sebanyak 25 arti kata Sunda yang didasarkan pada berbagai kamus bahasa, seperti bahasa Sansekerta, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda. Dari kekayaan arti kata Sunda itu saja kita dapat menggali “Siapa Sunda itu?”. Salah satu arti kata Sunda yang dalam bahasa Sanksekerta SUNDA itu berasal dari kata Çuddha, yang berarti putih. Hal ini sejalan dengan pendapat Gonda (1973: 345-346), yang menyatakan bahwa pada mulanya kata suddha dalam bahasa Sansekerta diterapkan pada sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih bercahaya karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung tersebut. Dan, Gunung Sunda itu terletak di sebelah barat Gunung Tangkuban Parahu. Ya, gunung itu terletak di Bandung Utara, seperti arti kata Sunda dalam bahasa Sanksekerta.

Juga sejalan dengan pendapat Rouffaer (1905: 16) yang menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, kemungkinan dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).

Dalam bahasa Jawa, Sunda dapat diartikan sebagai penyusun. Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti, naskah, dan sejenisnya yang menjadi media adanya budaya tulis yang cukup baik pada masyarakata Sunda. Prasasti Cibadak (1006-1016) yang berdasarkan sejarah Sunda dinilai sebagai prasasti tertua, peninggalan seorang raja Sunda Sri Jaya- bhupati. Di mana dalam prasasti tersebut tersuratlah konsep geografis-etnis dalam budaya Sunda, yaitu dengan ditetapkan Sungai Sang Hyang Tapak sebagai kabuyutan yaitu tempat yang disakralkan untuk ditaati oleh segenap rakyatnya. Salah satu terjemahan kutipan Prasasti Cibadak tersebut adalah :


Selamat, dalam tahun saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang hariyang-Kliwon-ahad wuku Tambir. Inilah saat raja sunda Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti samarawijaya Sakalabuana Mandaleswaranindita Harogowardana Wikramotungga-dewa membuat di sebelah timur Sanghyang Tapak dibuat oleh Sri Jayabhupati raja Sunda dan jangan ada yang melanggar ketentuan di sungai ini. Jangan ada yang menangkap ikan di bagian sungai ini mulai dari batas daerah kabuyutan Sanghyang Tapak di bagian hulu ...”

Naskah kuno ”Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian” (Tahun 1518 M), yang dikenal pada masa pemerintahan Sang Prabu Siliwangi (Jaya Dewata, Sri Baduga Maharaja, Keukeumbingan Raja Sunu, Sang Pamanah Rasa – 1482 – 1521 M) di kerajaan Pajajaran, terdapat satu kalimat yang mungkin agak asing bagi telinga kita yaitu ”Ngertakeun Bumi Lamba” yang dapat diterjemahkan dengan ”mensejahterakan kehidupan di dunia”. Jadi para leluhur sunda sebenarnya telah mengajarkan kepada kita bahwa salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah untuk mensejahterakan seluruh makhluk hidup di dunia ini.

Dari catatan sejarah budaya tersebut, tatar sunda dinilai banyak memiliki warisan kabuyutan dari para leluhur baik berupa hutan lindung yang meliputi gunung dan bukit, situs purbakala dan peninggalan sejarah serta sungai-sungai strategis dan lingkungannya. Para leluhur Sunda telah mengingatkan agar seluruh kabuyutan di Tatar Sunda dilindungi, dijaga kelestariannya sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya.

Pesan-pesan para leluhur Sunda tersebut menunjukkan bahwa makna dari kabuyutan memiliki nilai yang tinggi dan strategis serta sangat dihormati oleh masyarakatnya. Pesan moral yang awalnya terbatas hanya untuk masyarakat kerajaan sunda ternyata memiliki nilai yang bersifat universal yang dapat juga dijadikan panutan oleh masyarakat di luar etnis sunda agar kita selalu bersikap arif memperlakukan alam. Karena secara nurani setiap komunitas makhluk hidup termasuk manusia, siapa dan seberapapun kecilnya selalu membutuhkan tatanan kehidupan yang seimbang, selaras dan harmonis.

Menyimak realitas kondisi keempat daya hidup (yang menurut pendapat budayawan WS Rendra, setidaknya harus terdapat tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan untuk dapat mempertahankan eksistensinya), kebudayaan Sunda menghadapi berbagai bentuk tantangan. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespon berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing.

Sebagai contoh yang paling jelas adalah bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”, untuk tidak dikatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda tidak kalah memprihatinkan.

Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, tetapi seberapa jauh upaya yang dilakukan untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap “membumi” di masyarakat Sunda.

DICARI PENDAMPING SETIA UNTUK KARYA SASTRA!

DICARI PENDAMPING SETIA UNTUK KARYA SASTRA!

oleh Dheka Dwi Agusti N

Para ‘sejarawan’ sastra Indonesia kebanyakan mungkin akan setuju jika terbentuknya lembaga penerbitan kolonial Belanda –Balai Pustaka- pada awal abad 20 dikatakan pula sebagai awal terbentuknya sastra modern Indonesia secara formal. Secara umum istilah “Angkatan Balai Pustaka” diakui sebagai angkatan pertama dalam sejarah kesusastraan modern kita. Hingga awal abad 21 ini diperkirakan telah lahir sekitar 7 angkatan sastrawan modern Indonesia, termasuk di dalamnya “Angkatan Sastrawan 2000” sebagai angkatan sastrawan kontemporer Indonesia. Namun, sayangnya, kelahiran angkatan demi angkatan para sastrawan beserta karya sastranya tersebut tak dibarengi dengan kelahiran-kelahiran para kritikus sastra, apalagi tradisi kritik sastra. Karya sastra yang terus menerus meluap bak lumpur di Sidoarjo (termasuk di dalamnya karya-karya yang dianggap populer, kurang beresensi, dan tidak nyastra) tak diimbangi dengan kehadiran para ahli geologi. Atau sepertinya karya sastra berjalan masing-masing tanpa pendamping. Entah kemana tradisi kritik sastra Indonesia yang seharusnya menjadi pasangan hidup bagi karya sastra yang seyogianya terus menerus terperiodisasi ini.

Abrams, seorang kritkus sastra Amerika mengatakan bahwa ‘kritik’ adalah istilah yang digunakan dalam studi yang berkaitan dengan pendefinisian, pengelompokan, penganalisisan, penginterpretasian dan pengevaluasian karya sastra. Dalam bidang ini terdapat dua klasifikasi besar mengenai kritik sastra, yaitu kritik praktis dan kritik teoritis. Kritik teoritis berfungsi untuk menetapkan, dengan dasar prinsip-prinsip umum, seperangkat istilah, perbedaan dan kategori, untuk kemudian diimplementasikan pada proses identifikasi dan analisis sastra. Termasuk juga menetapkan kriteria untuk mengevaluasi karya sastra atau sastrawan. Sedangkan kritik praktis atau kritik terapan merupakan pembicaraan atas karya sastra atau sastrawan tertentu, di mana prinsip-prinsip teori yang mendasari analisis, interpretasi dan evaluasi karya tersebut biasanya tidak dinampakkan secara dominan.

Pentingnya mendasari ‘kritik sastra’ dengan menggunakan prinsip-prinsip teori memang benar adanya, mengingat untuk dapat melakukan dan menjadi pengkritik idealnya harus lebih pintar daripada yang dikritik, begitu Sapardi Djoko Damono katakan. Melakukan kritik tak bisa hanya mengandalkan bisikan hati belaka. Improvisasi juga bisa dilakukan menurut ilmu pengetahuan yang dipakai dalam proses penganalisisan karya sastra untuk melihat pengaruh atau sebab-sebab yang menentukkan ciri-ciri khas dari karya yang dimaksud. Oleh karena itu saat ini kita mengenal adanya “kritik sejarah”, “kritik sosiologi”, “kritik Marxis”, “kritik arketip”, dan sebagainya.

Apa yang terjadi dengan kritik sastra di negara kita? Padahal dari kritik-kritik itulah muncul teori-teori sastra, yang notabene akan memberikan kontribusi baru dalam dunia kesusastraan. Kebebasan menginterpretasi karya, variatifnya pandangan, membuat karya sastra sebenarnya dapat dibedah dari sudut manapun. Lebih dari itu, kritik sastra yang visioner, kata Budi Darma, selain dapat menggali kekayaan-kekayaan yang terkadung dalam sebuah karya, kritik juga sebisa mungkin memberi wawasan, serta mampu membuat seseorang untuk menghasilkan karya yang jauh lebih kaya lagi.

Mngkritik alias menjadi seorang kritikus, tak mesti mereka yang merupakan jebolan fakultas sastra (yang biasanya diidentikkan kaya dengan segudang teori). Sebab tak jarang teori-teori tersebut malah menjadi ajang gagah-gagahan belaka. Sapardi Djoko Damono dan Melani Budianta (Kompas, 16 Desember 1997) mengatakan, bukan berarti untuk menghasilkan kritik sastra seseorang harus mengetahui teori sastra secara utuh, sebab yang paling bisa diterima untuk menghasilkan sebuah karya kritik sastra, seseorang harus bergelut dengan karya sastra. Budi Darma, dalam sebuah essay mengingat HB. Jassin juga mengingatkan bahwa kritik sastra yang diusahakan untuk rasional, ditopang pula oleh teori-teori, belum tentu sanggup menembus persoalan sastra. Dan, meminjam pernyataan Mursal Esten, bahwa kegunaan kritik sastra tidak sekadar memberikan penilaian baik dan buruk, tetapi juga menjelaskan nilai-nilai dan dimensi-dimensi yang tersembunyi serta terkandung di dalam sebuah karya sastra.

Sebenarnya bukan hanya kritik sastra yang saat ini tengah dicari oleh karya sastra, tetapi hampir semua kritik seni sedang dinanti oleh karya dan senimannya. Seni rupa, seni musik, seni tari, fotografi, dsb, tengah menanti datangnya Sang Pendamping Setia. Tanpa bermaksud meresesifkan, Indonesia memang memiliki Sutardji Calzoum Bachri yang mampu menghasilkan kritik sastra yang berhasil mengungkap keunggulan dan kekurangan Sapardi Djoko Damono sebagai penyair imagis, di mana Sutardji Calzoum Bachri bukan akademisi sastra yang selalu bertolak dari teori-teori untuk mengupas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Ada pula kritik sastra Goenawan Mohamad terhadap sajak Sapardi Djoko Damono. Kemudian kritik sastra Sapardi Djoko Damono mengenai sajak Abdul Hadi WM. Kritik F. Rahardi terhadap puisi-puisi Goenawan Mohamad sebagai puisi yang sulit dipahami, sebab penyair yang akrab disapa GM ini punya latar belakang kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman di atas rata-rata orang Indonesia pada umumnya. Juga, kritik GM terhadap cerpen-cerpen Putu Wijaya dalam kumpulan “Blok”, dan yang lainnya. Kritik sastra kita memang telah lahir, bahkan sejak zaman Balai Pustaka, di mana Armijn Pane dengan sangat tajam mengkritik novel Sutan Takdir Alisjahbana “Layar Terkembang’, dalam bentuk novel “Belenggu”.

Namun, sebagai pasangan hidup karya sastra dan para sastrawan, kritik sastra dan para kritikus masih bersifat minoritas. Meskipun sudah ada beberapa, kita tidak boleh bahkan –demi progresifitas- haram bagi kita untuk berpuas diri. Kritik sastra masih berupa barang langka. Padahal banyak sekali karya sastra yang sampai saat ini masih menyendiri, kesepian, alias jomblo dan merindukan pendamping setia yang rela mempersuntingnya, untuk kemudian karya sastra dan kritik sastra dapat menjadi sebuah tradisi yang sakinah, berjalan berdampingan, saling mengisi dan menguatkan satu sama lain, serta melahirkan karya-karya baru yang lebih kaya.

Berguru Pada Arsitektur Tradisional

Banjir, longsor, gempa, penggusuran, dan serangkaian peristiwa yang terkait dengan manusia dan tempat tinggalnya khususnya rumah, telah menyita banyak perhatian dan simpati.Ironisnya, di balik semua peristiwa tersebut, masih banyak rumah-rumah gedong berdiri kokoh, menyita lahan resapan air, dan dihuni hanya oleh segelintir orang saja.

Berguru pada arsitektur tradisonal, di mana bangunan rumah khususnya, benar-benar dibuat dengan sangat fungsional. Mulai dari jenis arsitektur yang berbeda pada setiap daerah, menunjukkan bahwa bangunan tersebut ramah dengan kondisi lingkungan sekitar. Di Kalimantan Barat, ada Rumah Potong Godang, dan Ompuk Domuk; di Kalimantan Selatan ada rumah Banjar; di Tana Toraja ada Banua Pandoko Dena, Banua Lentong A’pa; di Irian ada Rum Som, Rum Kambar; di Jambi ada Kajang Lako, dan Larik; di Sumatera Barat ada rumah Gadang, di Batak ada rumah Anjung-anjung; di Sulawesi utara ada Bele-beleya, di Yogyakarta ada Omah, dan di Jawa Barat ada rumah-rumah yang khas denga tipe suhunannya, seperti Jolopong, Tagog anjing, Badak Heuay, Parahu kumureb, jubleg nangkub, dan julang ngapak.

salam.

Dheka

Bahasa; Lambang, Arbitrer, dan Konvensional

Oleh Dheka Dwi Agusti N

Ternyata ketidakmudahan berbahasa Indonesia tidak hanya dialami oleh orang asing yang sedang belajar bahasa kita, tetapi juga warga Indonesia sendiri yang notabene telah menjadikan sebagai bahasa persatuannya. Ironis memang, namun ternyata itulah fakta yang terjadi. Meskipun bahasa Indonesia telah menjadi mata pelajaran pokok di setiap jenjang pendidikan, tetapi belum juga dapat menuai keberhasilan.

Bahasa merupakan bagian dari hasil “collective mind” yang pada dasarnya merupakan sistem lambang lisan dan tulisan suatu kebudayaan. Maka berbicara tentang bahasa Indonesia yang membingungkan ini tidak dapat lepas dari proses berbudaya yang juga sudah pincang dan banyak terjadi pergeseran.

Bahasa kita adalah bahasa yang kaya. Bukan kaya akan kosakata yang mampu mewakili apa yang ingin diungkapkan. Namun, kaya akan pertanyaan dan pengecualian. Terlebih jika meneliti tentang proses pembentukan katanya. Seribu pertanyaan akan terlahir dari proses tersebut. Tetapi bukanlah sesuatu yang bijak, bila menjadikan ketidaknormalan bahasa kita sebagai kambing hitam terhadap kebingungan dan ketidakpahaman yang kita alami.

Misalnya saja keberadaan kata “tegar” dalam lingkup bahasa kita. Makna –perlu dibedakan antara penggunaan istilah arti dan makna dalam konteks berbahasa- yang telah diutarakan oleh Goenawan Mohamad yang berasal dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) yaitu “keras kaku,” “keras hati”; “keras kepala” ; “tidak mau menurut”, lebih sempit daripada makna ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2002) yaitu ; “keras dan kering,” “keras kaku” ; “tidak dapat dilenturkan” ; “tidak dapat diubah” ; “tidak mau menurut” dan “tabah”. Hal ini menunjukkan satu keistimewaan, di mana dalam memperoleh arti kita harus mengetahui konteksnya terlebih dahulu. Karena tidak semua kata dalam bahasa Indonesia dapat diartikan secara mutlak. Polisemi istilahnya, bagi bentuk bahasa yang memiliki makna lebih dari satu. Diperlukan wawasan serta ketelitian tentang di mana bentuk itu terletak dan berfungsi. Sebagai kata kah? Istilah? Frasa? Atau kalimat? Termasuk konotasi atau denotasikah kata tersebut? Mungkin ini adalah salah satu fragmen yang menyebabkan bahasa Indonesia menjadi sulit dipahami dan membingungkan. Banyak hal yang tidak sekedar harus dihapalkan namun harus dinikmati penggunaannya. Hal ini seharusnya menjadi tantangan bagi para bahasawan untuk membedah pola-pola yang terjalin dalam proses bentukan bahasa ini. Adapun banyaknya pengguna yang memadankan sekaligus menggeser makna kata, seperti kata “tegar” terhadap “teguh” tidak dapat disalahkan. Inilah realisasi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup. Bahasa ada, berkembang, berubah, bahkan mati. Kegelisahan terpadanankannya kata “tegar” membuat kecemasan tersendiri terhadap representasi kata “rigid” ke dalam bahasa Indonesia. Inilah salah satu ketidakmapanan bahasa kita. Di mana banyak ungkapan tidak dapat terwakilkan. Parahnya lagi, Indonesia tidak produktif terhadap bahasanya. Indonesia lebih senang mengadopsi dan mengadaptasi bahasa asing, walaupun nyatanya lebih banyak yang bersifat imitasi. Misalnya morfem (satuan bahasa) maha-, mono-, bi-, catur-, tuna-, a-, non-, -logi, dll. Morfem tersebut pada bahasa Indonesia diklasifikasikan dalam afiks (imbuhan). Meskipun memenuhi syarat sebagai afiks karena keharusannya bergabung pada morfem lain untuk mendapatkan makna yang sempurna. Namun, morfem tersebut memiliki telah makna leksikal sebelumya. Tidak seperti afiks yang baru bermakna jika hanya telah terjadi afiksasi (proses pengimbuhan). Sayangnya di Indonesia hal ini enjadi suatu anomali dari klasifikasi yang sudah ada. Padahal kenapa tidak, kita buat istilah baru sebagai wadah morfem-morfem yang baru lahir. Seperti kata yang baru terlahir dari sebuah ungkapan yang ingin dilambangkan, tanpa adanya adopsi dan adaptasi.

Semua yang membingungkan ini adalah sebuah kewajaran dalam dunia bahasa. Namun, tidak juga dapat dikatakan sebagai bangunan yang “salah” kaprah. Karena kekaprahan justru timbul dari proses berbahasa itu sendiri. Sesuatu dapat dikatakan kaprah bukan karena bersumber dari benar atau salah. Banyak pengertian bahasa telah diungkapkan. Namun intisarinya tidak jauh berbeda, yaitu bahasa adalah lambang, arbitrer dan konvensional. Kata arbitrer dapat diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Di mana dengan istilah ini tidak diperlukannya hubungan wajib antara lambang bahasa (mis : kata) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Meskipun lambang tersebut tidak memberi “saran” atau “petunjuk” apa pun mengenai konsep yang diwakilinya. Umpamanya, antara [anjing] dengan yang dilambangkannya, yaitu “binatang berkaki empat yang dapat menggonggong”. Kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi [anjing] bukan [jingan] atau [nginja].

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu, bersifat konvensional. Artinya semua masyarakat bahasa tersebut mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya tersebut. Misalnya “anjing” yang telah secara konvensional digunakan sebagai lambang binatang berkaki empat yang dapat menggonggong.

Indonesia harus mulai mencintai bahasanya, sebelum ‘badai’ kearbitreran dan ‘arus’ konvensionalitas mengobrak-abrik tatanan bahasa yang dianggap sudah kaprah. Kebiasaan dan sikap profesionalitas berbahasa yang baik harus dijaga.

Nasib bahasa ini, tergantung pada kita semua sebagai masyarakat pengguna.

salam.

Dheka Dwi agusti N

“MAKA RAMADHAN PUN USAI” karya Beni R. Budiman

ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

LAA ILAHAILLALLAAHUALLAHUAKBAR…

ALLAHUAKBAR… WA LILLAAILHAM…

Maka Ramadhan pun Usai…

Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinanti dan dirindukan umat muslim di penjuru dunia. Ramadhan adalah bulan teristimewa. Bulan yang sarat dengan pahala dan kebaikan. Bulan yang sarat dengan ampunan dan perbaikan. Namun, sayang Ramadhan hanyalah sebuah bulan. Ramadhan dapat usai berganti Syawal, seperti halnya Syaban yang berganti Ramadhan, sebab Ramadhan hanyalah celah pengisi seperduabelas bulan Qamariah yang senantiasa bergulir dan berganti detik demi detiknya.

Usainya Ramadhan pasti membawa arti tersendiri bagi siapapun, khususnya setiap muslim. Ada yang sedih, sebab ia takut tak dapat berjumpa lagi dengan Ramadhan. Ada pula yang senang, sebab ia merasa telah terlahir suci kembali. Namun, bagaimana dengan mereka yang melewatkan kesucian Ramadhan alias hanya mendapat lapar dan haus semata?

Maka Ramadhan pun Usai…

Beni R. Budiman dalam puisi dua baitnya, berani mengungkapkan kekesalan dan penyesalan aku lirik terhadap Ramadhan yang baru saja usai. Makna usainya Ramadhan ini diungkapkan sekaligus dilemparkan kepada pembaca secara langsung agar dapat menuai maknanya yang tersendiri seiring dengan wacana pengetahuan yang dimiliki para pembaca. Usaha penangkapan dan pemberian makna puisi lazim digunakan, sebab karya sastra contohnya puisi, merupakan struktur yang bermakna. Karya sastra (puisi) merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan bahasa. Karya sastra (puisi) merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, untuk memahaminya diperlukan suatu ketajaman analisis.

Analisis secara struktural-semiotik dapat menjadi pilihan dalam memecah puisi dan mengambil sikap yang dimaksudkan penyair. Puisi adalah struktur yang merupakan susunan keseluruhan yang utuh. Antara bagian-bagiannya saling berhubungan erat. Tiap unsur dalam situasi tertentu tidak mempunyai arti dengan sendirinya, melainkan arti tersebut ditentukan oleh hubungannya dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam situasi itu. Antara unsur-unsur struktur itu ada koherensi atau pertautan erat; unsur-unsur itu tidak otonom, melainkan merupakan bagian dari situasi yang rumit dari hubungannnya dengan bagian lain.

Selain itu, diperlukan studi sastra yang bersifat semiotik sebagai usaha menganalisis sastra sebagai statu sistem tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra tersebut memiliki makna.

Maka Ramadhan pun Usai…

Tak banyak yang khas dari “Maka Ramadhan pun Usai” ini, kecuali jika pembaca mampu mengandaikan bahwa semua benda, rasa, dan suasana yang disebutkan dalam puisi tersebut, serta kesan puitik yang ditimbulkannya ada, dan sedang terjadi di sana.

Sebagai seorang penyair yang tentunya pernah melewati bulan Ramadhan, Beni tak hanya dapat menghadirkan kesan puitik umum, melainkan pula mampu menangkap apa yang khas, apa yang mungkin sukar di dapatkan kecuali pada Ramadhan yang tengah usai ini.

Hal ini diungkapkannya dengan cukup sederhana. Dengan diksi sederhana, dengan tipografi yang sederhana, rima dan irama yang juga sederhana, serta penyiasatan struktur yang juga sederhana. Namun, berkat kesederhanaannya itulah yang membuat pembaca akan menangkap jauh keramadhanan puitik dari puisinya.

Permainan personifikasi diperlihatkan pada baris pertama (Maka ramadhan pun usai, bisik angin. Daun-daun)puisi ini, ramadhan yang usai dan angin yang membisik menyiratkan kelembutan yang senantiasa akan pergi kian menjauh. Dalam kelembutan itu pula yang membuat aku lirik mandapati bahwa bulan yang penuh berkah ini telah usai. Bisik angin diungkapkan secara puitik sebagai pembawa kabar bahwa kini Ramadhan telah usai, Ramadhan kini telah berganti Syawal.

Kelembutan angin yang membisik dalam baris pertama di atas, berparalel dengan kata-kata yang menguntai setelahnya yaitu Daun-daun. Sangsai Melambai. Lalu aku pun lunglai. Kalimat yang sederhana ini membuat rasa sesal kian terasa. Bukan sekedar pilihan kata (berserta artinya) yang membuat larik kedua ini menjadi paralel bagi larik sebelumnya, tetapi juga bunyi kata dalam kalimat-kalimat itu dapat mendeskripsikan serta mewakili suasana yang betul-betul lunglai. Lemah, lemas, seakan tak ada lagi daya dan upaya yang mampu mengubah rasa dan tenaga.

Melambai dan lunglai, membawa sebuah gereget kepasrahan yang dapat pembaca kaitkan dengan “Maka Ramadhan pun Usai” baris sebelumnya. Meskipun baris Sangsai melambai. Lalu aku pun lunglai adalah baris puitik yang datang terlalu dini.

Persentuhan aku lirik yang lunglai dengan anak-anak yang menyalakan kembang api dan mercon untuk terakhir kali tampaknya mulai menjadi awal memuncaknya rasa sesal bercampur kepasrahan seorang aku lirik. Sebuah lahan puitik yang digarap dengan cukup padat. Tak ada bunyi ritmis yang estetis dalam larik ketiga ini. Hanya sebuah deskripsi suasana malam takbiran yang sarat dengan warna-warni kembang api serta bunyi mercon yang dinyalakan oleh anak-anak untuk terakhir kali. Tetapi pengalaman apa yang dikesankan olehnya bagi kedirian sang penyair. Rasa puitik apa yang ia alami ketika itu? Jawabannya bisa ditemukan pembaca pada larik-larik berikutnya, bahwa dalam kemeriahan malam takbiran yang sarat dengan kembang api dan mercon, diam-diam ada yang meracau dalam takbir seorang diri :”Tuhan, aku baru bisa haus dan lapar!”. Ungkapan “sendiri” memberikan pengertian bahwa dalam keriuhan malam aku lirio justru tersungkur seorang diri, meratap dengan penuh sesal pada Tuhannya, dan berucap bahwa dia tak mendapatkan apa-apa dari Ramadhan yang baru saja lewat ini, kecuali rasa haus dan lapar.

Selanjutnya, larik pertama pada bait kedua puisi ini, terparelel dengan larik terkhir pada bait sebelumnya (Ah, baru haus, baru lapar). Haus dan lapar. Kata-kata yang juga mengisi larik sebelumnya. Memperlihatkan kejujurannya yang hanya haus dan lapar didapatinya dari Ramadhan yang semestinya dapat memuliakan hari dan diri seorang muslim. Rasa menyesal dan sia-sia ditegaskan kembali dalam kalimat hiperbola selnjutnya yaitu “Tak ada lagi kupunya”. Haus dan lapar yang dialami aku lirik seakan menutup segalanya yang masih tersimpan. Penyesalan yang begitu besar membuat aku lirik merasa tidak lagi mempunyai apa-apa setelah melewatkan Ramadhan ini.

Permainan bunyi kata yang berupa asonansi dan aliterasi terasa dalam larik “Taka da lagi ku punya” dengan larik selanjutnya “Hanya itu kubisa”, menciptakan suasana yang dramatis. Menyiratkan kekosongan dan kehampaan diri seorang aku. Dan, dengan kepasrahan serta ketidakberdayaan sang aku mempersembahkan ini semua untuk Mu, Tuhan. Hanya pada Mu. Sebuah akhir yang tegas, di mana aku lirik masih dapat mengambil sikap untuk memberikan dan mempersembahkan segalanya pada Tuhan. Di akhir lirik-liriknya, Beni menggoreskan kata “Amin”, yang membuat puisi ini nampak sereti doa. Doa yang berisi pengharapan dan permohonan maaf seorang hamba pada Tuhannya.

Bahasa yang digunakan dalam puisi ini adalah bahasa sehari-hari yang disusun dengan demikian sederhana. Tak ada penggunaan kata-kata yang menyalahi bahasa sehari-hari. Semua ada dalam koridor konvensi. Asonansi dan aliterasi terjadi dalam kalimat Sangsai melambai. dan Lalu aku pun lunglai. Hal serupa juga terjadi pada Tak ada lagi kupunya dan Hanya itu kubisa. Namun, semua itu belum cukup menunjukkan kemahiran Beni R. Budiman sebagai seorang penyair, seniman kata. Kesederhanaan tutor kata yang cenderung pada kebersahajaan seperti ini dapat menemukan efek baliknya ketika ia memuat sebuah tema yang menohok kemanusiaan pembaca.

Melalui puisi ini, kita bisa mengatakan bahwa penemuan diri dalam hasrat yang tersungkur adalam rasa kesal, sesal, dan kepasrahan adalah temanya, Hanya pada MuAmin, sebuah akhir tegas yang menutup puisi ini mengingatkan saya pada doa yang senantiasa dipanjatkan. Menyertakan kata “Amin” dengan harapan yang besar semoga Tuhan berkenan mengabulkan doa hamba.

Puisi

MAKA RAMADHAN PUN USAI

Oleh Beni R. Budiman

Maka ramadhan pun usai, bisik angin. Daun-daun

Sangsai melambai. Lalu aku pun lunglai. Di luar,

Anak-anak menyalakan kembang api dan mercon untuk

Terakhir kali. Dan diam-diam aku meracau dalam

Takbir sendiri: “Tuhan, aku baru bisa haus dan lapar!“

Ah, baru haus, baru lapar. Tak ada lagi kupunya

Hanya itu kubisa. Dan, ini untukMu, Tuhan

Hanya padaMu…

Amin.

1994-1995

(Malam Seribu Bulan, 1997: 32)

Biodata

Nama asli penulis Dheka Dwi Agusti N. Namun, dalam menulis lebih suka memakai Dheka Agusti saja. Penulis dilahirkan di Bandung pada 14 Agustus 1986. Di kota Bandung juga penulis menyelesaikan studi dari bangku SD hingga SMA. Saat ini masih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, setelah lulus seleksi jalur penelusuran minat dan kemampuan Universitas Pendidikan Indonesia. Alumnus SMP Negeri 31 dan SMA 12 Bandung ini, mulai berkecimpung dan mengawali karirnya saat duduk di bangku SMA. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel dan berita dimuat pada beberapa media massa cetak di kota Bandung.

Sejak tahun 2002 hingga 2004 anak kedua dari tiga bersaudara ini aktif sebagai penulis lepas di HU. Galamedia. Kemudian setelah lulus seleksi program reporter kampus pada 2005 lalu, kembali memulai hobinya di bidang jurnalistik sebagai reporter berita radio MQ FM Bandung. Saat ini karya pertamanya tengah dalam proses penerbitan, penulisan buku nonfiksinya ini telah diselesaikan sebelum penulis genap berusia 20 tahun.

Penulis berdomisili di Jl. Sukapura, Sawo No 16 RT 09/01, Kiaracondong Bandung. Penulis dapat dihubungi melalui dd_agusti@yahoo.com

Daftar Pustaka

Djoko Pradopo, Rachmat. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Relajar

Luxemburg, Jan van, dkk. 1991. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa

Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan

Sebelas Penyair Bandung, 1997. Malam Seribu Bulan Antologi Puisi Sebelas

Penyair Bandung. Bandung: CV. Jayaperkasa Utama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.