ABSTRAK Skripsiku

ABSTRAK

Penelitian yang berjudul Babalikan Pungkas-Muhu (Repetisi Anadiolosis) sebagai Simbol Seni Pramodern Sunda (Kajian Hermeneutika terhadap Kawih Kaulinan Budak dan Poko Jampe) ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap artefak budaya Sunda yang berbentuk gaya bahasa babalikan pungkas-muhu yang merupakan perulangan bunyi, suku kata, kata atau bahkan frasa akhir sebuah larik yang digunakan kembali sebagai awal bunyi, suku kata, kata atau bahkan frasa larik selanjutnya. Penelitian ini penulis lakukan sebagai upaya inventarisasi dan dokumentasi babalikan pungkas-muhu, gaya bahasa yang terdapat dalam kawih kaulinan budak dan poko jampe sebagai bentuk folklor lisan Sunda. Kemudian, menggali makna dan hakikat simbol yang dapat merepresentasikan pola pikir komunitas penghasil simbol tersebut yaitu masyarakat pramodern Sunda.

Penelitian deskriptif yang dilakukan ini bersifat kualitatif. Interpretasi sinkronik yang penulis lakukan berupaya menafsirkan simbol berdasarkan pada latar atau habitat budayanya sendiri. Secara sederhana penelitian dilakukan dalam tiga tahap: pengumpulan data, analisis, dan penulisan laporan.

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa fungsi simbol dalam masyarakat pramodern Sunda adalah sebagai media penghimpun daya-daya (transenden). Interpretasi penulis terhadap simbol yang berupa gaya bahasa babalikan pungkas-muhu ini adalah mengenai emanasi Tuhan yang kemudian menghasilkan pluralitas, pluralitas menghasilkan hal-hal yang paradoks, dan hal-hal (dualisme atau alam papasangan) yang paradoks ini dapat menghadirkan entitas ketiga yaitu daya-daya (transenden) yang diperlukan manusia untuk memperoleh keseimbangan hidup. Bagi manusia pramodern, dirinya adalah bagian dari alam semesta, dan semesta itu hidup sebagaimana ada kehidupan yang dijalani oleh dirinya.

Hal ini merupakan wujud dari sistem kepercayaan dan pengetahuan masyarakat pramodern Sunda, pola pikir nenek moyang kita, yang mana dari merekalah kita lahir dan berkembang. Meneliti simbol-simbol kebudayaan tradisional yang berwujud gaya bahasa belum banyak dilakukan, padahal seperti apa yang dikatakan oleh para ahli bahasa Gorys Keraf, Henry Guntur Tarigan, Ahmad Badrun, dan Yus Rusyana bahwa gaya bahasa adalah bentuk ungkapan diri melalui bahasa, yang dapat pula membangkitkan imajinasi, dan digunakan untuk mencapai efek tertentu. Oleh karena itu, kita dapat menggali banyak hal terutama yang berkaitan dengan sejarah diri kita melalui gaya bahasa.

Kata kunci: babalikan pungkas muhu, simbol seni pramodern sunda, kawih kaulinan budak, jampe poko.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: