“MAKA RAMADHAN PUN USAI” karya Beni R. Budiman

ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

LAA ILAHAILLALLAAHUALLAHUAKBAR…

ALLAHUAKBAR… WA LILLAAILHAM…

Maka Ramadhan pun Usai…

Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinanti dan dirindukan umat muslim di penjuru dunia. Ramadhan adalah bulan teristimewa. Bulan yang sarat dengan pahala dan kebaikan. Bulan yang sarat dengan ampunan dan perbaikan. Namun, sayang Ramadhan hanyalah sebuah bulan. Ramadhan dapat usai berganti Syawal, seperti halnya Syaban yang berganti Ramadhan, sebab Ramadhan hanyalah celah pengisi seperduabelas bulan Qamariah yang senantiasa bergulir dan berganti detik demi detiknya.

Usainya Ramadhan pasti membawa arti tersendiri bagi siapapun, khususnya setiap muslim. Ada yang sedih, sebab ia takut tak dapat berjumpa lagi dengan Ramadhan. Ada pula yang senang, sebab ia merasa telah terlahir suci kembali. Namun, bagaimana dengan mereka yang melewatkan kesucian Ramadhan alias hanya mendapat lapar dan haus semata?

Maka Ramadhan pun Usai…

Beni R. Budiman dalam puisi dua baitnya, berani mengungkapkan kekesalan dan penyesalan aku lirik terhadap Ramadhan yang baru saja usai. Makna usainya Ramadhan ini diungkapkan sekaligus dilemparkan kepada pembaca secara langsung agar dapat menuai maknanya yang tersendiri seiring dengan wacana pengetahuan yang dimiliki para pembaca. Usaha penangkapan dan pemberian makna puisi lazim digunakan, sebab karya sastra contohnya puisi, merupakan struktur yang bermakna. Karya sastra (puisi) merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan bahasa. Karya sastra (puisi) merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, untuk memahaminya diperlukan suatu ketajaman analisis.

Analisis secara struktural-semiotik dapat menjadi pilihan dalam memecah puisi dan mengambil sikap yang dimaksudkan penyair. Puisi adalah struktur yang merupakan susunan keseluruhan yang utuh. Antara bagian-bagiannya saling berhubungan erat. Tiap unsur dalam situasi tertentu tidak mempunyai arti dengan sendirinya, melainkan arti tersebut ditentukan oleh hubungannya dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam situasi itu. Antara unsur-unsur struktur itu ada koherensi atau pertautan erat; unsur-unsur itu tidak otonom, melainkan merupakan bagian dari situasi yang rumit dari hubungannnya dengan bagian lain.

Selain itu, diperlukan studi sastra yang bersifat semiotik sebagai usaha menganalisis sastra sebagai statu sistem tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra tersebut memiliki makna.

Maka Ramadhan pun Usai…

Tak banyak yang khas dari “Maka Ramadhan pun Usai” ini, kecuali jika pembaca mampu mengandaikan bahwa semua benda, rasa, dan suasana yang disebutkan dalam puisi tersebut, serta kesan puitik yang ditimbulkannya ada, dan sedang terjadi di sana.

Sebagai seorang penyair yang tentunya pernah melewati bulan Ramadhan, Beni tak hanya dapat menghadirkan kesan puitik umum, melainkan pula mampu menangkap apa yang khas, apa yang mungkin sukar di dapatkan kecuali pada Ramadhan yang tengah usai ini.

Hal ini diungkapkannya dengan cukup sederhana. Dengan diksi sederhana, dengan tipografi yang sederhana, rima dan irama yang juga sederhana, serta penyiasatan struktur yang juga sederhana. Namun, berkat kesederhanaannya itulah yang membuat pembaca akan menangkap jauh keramadhanan puitik dari puisinya.

Permainan personifikasi diperlihatkan pada baris pertama (Maka ramadhan pun usai, bisik angin. Daun-daun)puisi ini, ramadhan yang usai dan angin yang membisik menyiratkan kelembutan yang senantiasa akan pergi kian menjauh. Dalam kelembutan itu pula yang membuat aku lirik mandapati bahwa bulan yang penuh berkah ini telah usai. Bisik angin diungkapkan secara puitik sebagai pembawa kabar bahwa kini Ramadhan telah usai, Ramadhan kini telah berganti Syawal.

Kelembutan angin yang membisik dalam baris pertama di atas, berparalel dengan kata-kata yang menguntai setelahnya yaitu Daun-daun. Sangsai Melambai. Lalu aku pun lunglai. Kalimat yang sederhana ini membuat rasa sesal kian terasa. Bukan sekedar pilihan kata (berserta artinya) yang membuat larik kedua ini menjadi paralel bagi larik sebelumnya, tetapi juga bunyi kata dalam kalimat-kalimat itu dapat mendeskripsikan serta mewakili suasana yang betul-betul lunglai. Lemah, lemas, seakan tak ada lagi daya dan upaya yang mampu mengubah rasa dan tenaga.

Melambai dan lunglai, membawa sebuah gereget kepasrahan yang dapat pembaca kaitkan dengan “Maka Ramadhan pun Usai” baris sebelumnya. Meskipun baris Sangsai melambai. Lalu aku pun lunglai adalah baris puitik yang datang terlalu dini.

Persentuhan aku lirik yang lunglai dengan anak-anak yang menyalakan kembang api dan mercon untuk terakhir kali tampaknya mulai menjadi awal memuncaknya rasa sesal bercampur kepasrahan seorang aku lirik. Sebuah lahan puitik yang digarap dengan cukup padat. Tak ada bunyi ritmis yang estetis dalam larik ketiga ini. Hanya sebuah deskripsi suasana malam takbiran yang sarat dengan warna-warni kembang api serta bunyi mercon yang dinyalakan oleh anak-anak untuk terakhir kali. Tetapi pengalaman apa yang dikesankan olehnya bagi kedirian sang penyair. Rasa puitik apa yang ia alami ketika itu? Jawabannya bisa ditemukan pembaca pada larik-larik berikutnya, bahwa dalam kemeriahan malam takbiran yang sarat dengan kembang api dan mercon, diam-diam ada yang meracau dalam takbir seorang diri :”Tuhan, aku baru bisa haus dan lapar!”. Ungkapan “sendiri” memberikan pengertian bahwa dalam keriuhan malam aku lirio justru tersungkur seorang diri, meratap dengan penuh sesal pada Tuhannya, dan berucap bahwa dia tak mendapatkan apa-apa dari Ramadhan yang baru saja lewat ini, kecuali rasa haus dan lapar.

Selanjutnya, larik pertama pada bait kedua puisi ini, terparelel dengan larik terkhir pada bait sebelumnya (Ah, baru haus, baru lapar). Haus dan lapar. Kata-kata yang juga mengisi larik sebelumnya. Memperlihatkan kejujurannya yang hanya haus dan lapar didapatinya dari Ramadhan yang semestinya dapat memuliakan hari dan diri seorang muslim. Rasa menyesal dan sia-sia ditegaskan kembali dalam kalimat hiperbola selnjutnya yaitu “Tak ada lagi kupunya”. Haus dan lapar yang dialami aku lirik seakan menutup segalanya yang masih tersimpan. Penyesalan yang begitu besar membuat aku lirik merasa tidak lagi mempunyai apa-apa setelah melewatkan Ramadhan ini.

Permainan bunyi kata yang berupa asonansi dan aliterasi terasa dalam larik “Taka da lagi ku punya” dengan larik selanjutnya “Hanya itu kubisa”, menciptakan suasana yang dramatis. Menyiratkan kekosongan dan kehampaan diri seorang aku. Dan, dengan kepasrahan serta ketidakberdayaan sang aku mempersembahkan ini semua untuk Mu, Tuhan. Hanya pada Mu. Sebuah akhir yang tegas, di mana aku lirik masih dapat mengambil sikap untuk memberikan dan mempersembahkan segalanya pada Tuhan. Di akhir lirik-liriknya, Beni menggoreskan kata “Amin”, yang membuat puisi ini nampak sereti doa. Doa yang berisi pengharapan dan permohonan maaf seorang hamba pada Tuhannya.

Bahasa yang digunakan dalam puisi ini adalah bahasa sehari-hari yang disusun dengan demikian sederhana. Tak ada penggunaan kata-kata yang menyalahi bahasa sehari-hari. Semua ada dalam koridor konvensi. Asonansi dan aliterasi terjadi dalam kalimat Sangsai melambai. dan Lalu aku pun lunglai. Hal serupa juga terjadi pada Tak ada lagi kupunya dan Hanya itu kubisa. Namun, semua itu belum cukup menunjukkan kemahiran Beni R. Budiman sebagai seorang penyair, seniman kata. Kesederhanaan tutor kata yang cenderung pada kebersahajaan seperti ini dapat menemukan efek baliknya ketika ia memuat sebuah tema yang menohok kemanusiaan pembaca.

Melalui puisi ini, kita bisa mengatakan bahwa penemuan diri dalam hasrat yang tersungkur adalam rasa kesal, sesal, dan kepasrahan adalah temanya, Hanya pada MuAmin, sebuah akhir tegas yang menutup puisi ini mengingatkan saya pada doa yang senantiasa dipanjatkan. Menyertakan kata “Amin” dengan harapan yang besar semoga Tuhan berkenan mengabulkan doa hamba.

Puisi

MAKA RAMADHAN PUN USAI

Oleh Beni R. Budiman

Maka ramadhan pun usai, bisik angin. Daun-daun

Sangsai melambai. Lalu aku pun lunglai. Di luar,

Anak-anak menyalakan kembang api dan mercon untuk

Terakhir kali. Dan diam-diam aku meracau dalam

Takbir sendiri: “Tuhan, aku baru bisa haus dan lapar!“

Ah, baru haus, baru lapar. Tak ada lagi kupunya

Hanya itu kubisa. Dan, ini untukMu, Tuhan

Hanya padaMu…

Amin.

1994-1995

(Malam Seribu Bulan, 1997: 32)

Biodata

Nama asli penulis Dheka Dwi Agusti N. Namun, dalam menulis lebih suka memakai Dheka Agusti saja. Penulis dilahirkan di Bandung pada 14 Agustus 1986. Di kota Bandung juga penulis menyelesaikan studi dari bangku SD hingga SMA. Saat ini masih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, setelah lulus seleksi jalur penelusuran minat dan kemampuan Universitas Pendidikan Indonesia. Alumnus SMP Negeri 31 dan SMA 12 Bandung ini, mulai berkecimpung dan mengawali karirnya saat duduk di bangku SMA. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel dan berita dimuat pada beberapa media massa cetak di kota Bandung.

Sejak tahun 2002 hingga 2004 anak kedua dari tiga bersaudara ini aktif sebagai penulis lepas di HU. Galamedia. Kemudian setelah lulus seleksi program reporter kampus pada 2005 lalu, kembali memulai hobinya di bidang jurnalistik sebagai reporter berita radio MQ FM Bandung. Saat ini karya pertamanya tengah dalam proses penerbitan, penulisan buku nonfiksinya ini telah diselesaikan sebelum penulis genap berusia 20 tahun.

Penulis berdomisili di Jl. Sukapura, Sawo No 16 RT 09/01, Kiaracondong Bandung. Penulis dapat dihubungi melalui dd_agusti@yahoo.com

Daftar Pustaka

Djoko Pradopo, Rachmat. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Relajar

Luxemburg, Jan van, dkk. 1991. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa

Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan

Sebelas Penyair Bandung, 1997. Malam Seribu Bulan Antologi Puisi Sebelas

Penyair Bandung. Bandung: CV. Jayaperkasa Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: