Berguru Pada Arsitektur Tradisional

Banjir, longsor, gempa, penggusuran, dan serangkaian peristiwa yang terkait dengan manusia dan tempat tinggalnya khususnya rumah, telah menyita banyak perhatian dan simpati.Ironisnya, di balik semua peristiwa tersebut, masih banyak rumah-rumah gedong berdiri kokoh, menyita lahan resapan air, dan dihuni hanya oleh segelintir orang saja.

Berguru pada arsitektur tradisonal, di mana bangunan rumah khususnya, benar-benar dibuat dengan sangat fungsional. Mulai dari jenis arsitektur yang berbeda pada setiap daerah, menunjukkan bahwa bangunan tersebut ramah dengan kondisi lingkungan sekitar. Di Kalimantan Barat, ada Rumah Potong Godang, dan Ompuk Domuk; di Kalimantan Selatan ada rumah Banjar; di Tana Toraja ada Banua Pandoko Dena, Banua Lentong A’pa; di Irian ada Rum Som, Rum Kambar; di Jambi ada Kajang Lako, dan Larik; di Sumatera Barat ada rumah Gadang, di Batak ada rumah Anjung-anjung; di Sulawesi utara ada Bele-beleya, di Yogyakarta ada Omah, dan di Jawa Barat ada rumah-rumah yang khas denga tipe suhunannya, seperti Jolopong, Tagog anjing, Badak Heuay, Parahu kumureb, jubleg nangkub, dan julang ngapak.

salam.

Dheka

1 Komentar

  1. uceng mayapada said,

    8 Juni 2009 pada 21:04

    bagi dong ilmunya tentang arsitektur tradisional


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: