DICARI PENDAMPING SETIA UNTUK KARYA SASTRA!

DICARI PENDAMPING SETIA UNTUK KARYA SASTRA!

oleh Dheka Dwi Agusti N

Para ‘sejarawan’ sastra Indonesia kebanyakan mungkin akan setuju jika terbentuknya lembaga penerbitan kolonial Belanda –Balai Pustaka- pada awal abad 20 dikatakan pula sebagai awal terbentuknya sastra modern Indonesia secara formal. Secara umum istilah “Angkatan Balai Pustaka” diakui sebagai angkatan pertama dalam sejarah kesusastraan modern kita. Hingga awal abad 21 ini diperkirakan telah lahir sekitar 7 angkatan sastrawan modern Indonesia, termasuk di dalamnya “Angkatan Sastrawan 2000” sebagai angkatan sastrawan kontemporer Indonesia. Namun, sayangnya, kelahiran angkatan demi angkatan para sastrawan beserta karya sastranya tersebut tak dibarengi dengan kelahiran-kelahiran para kritikus sastra, apalagi tradisi kritik sastra. Karya sastra yang terus menerus meluap bak lumpur di Sidoarjo (termasuk di dalamnya karya-karya yang dianggap populer, kurang beresensi, dan tidak nyastra) tak diimbangi dengan kehadiran para ahli geologi. Atau sepertinya karya sastra berjalan masing-masing tanpa pendamping. Entah kemana tradisi kritik sastra Indonesia yang seharusnya menjadi pasangan hidup bagi karya sastra yang seyogianya terus menerus terperiodisasi ini.

Abrams, seorang kritkus sastra Amerika mengatakan bahwa ‘kritik’ adalah istilah yang digunakan dalam studi yang berkaitan dengan pendefinisian, pengelompokan, penganalisisan, penginterpretasian dan pengevaluasian karya sastra. Dalam bidang ini terdapat dua klasifikasi besar mengenai kritik sastra, yaitu kritik praktis dan kritik teoritis. Kritik teoritis berfungsi untuk menetapkan, dengan dasar prinsip-prinsip umum, seperangkat istilah, perbedaan dan kategori, untuk kemudian diimplementasikan pada proses identifikasi dan analisis sastra. Termasuk juga menetapkan kriteria untuk mengevaluasi karya sastra atau sastrawan. Sedangkan kritik praktis atau kritik terapan merupakan pembicaraan atas karya sastra atau sastrawan tertentu, di mana prinsip-prinsip teori yang mendasari analisis, interpretasi dan evaluasi karya tersebut biasanya tidak dinampakkan secara dominan.

Pentingnya mendasari ‘kritik sastra’ dengan menggunakan prinsip-prinsip teori memang benar adanya, mengingat untuk dapat melakukan dan menjadi pengkritik idealnya harus lebih pintar daripada yang dikritik, begitu Sapardi Djoko Damono katakan. Melakukan kritik tak bisa hanya mengandalkan bisikan hati belaka. Improvisasi juga bisa dilakukan menurut ilmu pengetahuan yang dipakai dalam proses penganalisisan karya sastra untuk melihat pengaruh atau sebab-sebab yang menentukkan ciri-ciri khas dari karya yang dimaksud. Oleh karena itu saat ini kita mengenal adanya “kritik sejarah”, “kritik sosiologi”, “kritik Marxis”, “kritik arketip”, dan sebagainya.

Apa yang terjadi dengan kritik sastra di negara kita? Padahal dari kritik-kritik itulah muncul teori-teori sastra, yang notabene akan memberikan kontribusi baru dalam dunia kesusastraan. Kebebasan menginterpretasi karya, variatifnya pandangan, membuat karya sastra sebenarnya dapat dibedah dari sudut manapun. Lebih dari itu, kritik sastra yang visioner, kata Budi Darma, selain dapat menggali kekayaan-kekayaan yang terkadung dalam sebuah karya, kritik juga sebisa mungkin memberi wawasan, serta mampu membuat seseorang untuk menghasilkan karya yang jauh lebih kaya lagi.

Mngkritik alias menjadi seorang kritikus, tak mesti mereka yang merupakan jebolan fakultas sastra (yang biasanya diidentikkan kaya dengan segudang teori). Sebab tak jarang teori-teori tersebut malah menjadi ajang gagah-gagahan belaka. Sapardi Djoko Damono dan Melani Budianta (Kompas, 16 Desember 1997) mengatakan, bukan berarti untuk menghasilkan kritik sastra seseorang harus mengetahui teori sastra secara utuh, sebab yang paling bisa diterima untuk menghasilkan sebuah karya kritik sastra, seseorang harus bergelut dengan karya sastra. Budi Darma, dalam sebuah essay mengingat HB. Jassin juga mengingatkan bahwa kritik sastra yang diusahakan untuk rasional, ditopang pula oleh teori-teori, belum tentu sanggup menembus persoalan sastra. Dan, meminjam pernyataan Mursal Esten, bahwa kegunaan kritik sastra tidak sekadar memberikan penilaian baik dan buruk, tetapi juga menjelaskan nilai-nilai dan dimensi-dimensi yang tersembunyi serta terkandung di dalam sebuah karya sastra.

Sebenarnya bukan hanya kritik sastra yang saat ini tengah dicari oleh karya sastra, tetapi hampir semua kritik seni sedang dinanti oleh karya dan senimannya. Seni rupa, seni musik, seni tari, fotografi, dsb, tengah menanti datangnya Sang Pendamping Setia. Tanpa bermaksud meresesifkan, Indonesia memang memiliki Sutardji Calzoum Bachri yang mampu menghasilkan kritik sastra yang berhasil mengungkap keunggulan dan kekurangan Sapardi Djoko Damono sebagai penyair imagis, di mana Sutardji Calzoum Bachri bukan akademisi sastra yang selalu bertolak dari teori-teori untuk mengupas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Ada pula kritik sastra Goenawan Mohamad terhadap sajak Sapardi Djoko Damono. Kemudian kritik sastra Sapardi Djoko Damono mengenai sajak Abdul Hadi WM. Kritik F. Rahardi terhadap puisi-puisi Goenawan Mohamad sebagai puisi yang sulit dipahami, sebab penyair yang akrab disapa GM ini punya latar belakang kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman di atas rata-rata orang Indonesia pada umumnya. Juga, kritik GM terhadap cerpen-cerpen Putu Wijaya dalam kumpulan “Blok”, dan yang lainnya. Kritik sastra kita memang telah lahir, bahkan sejak zaman Balai Pustaka, di mana Armijn Pane dengan sangat tajam mengkritik novel Sutan Takdir Alisjahbana “Layar Terkembang’, dalam bentuk novel “Belenggu”.

Namun, sebagai pasangan hidup karya sastra dan para sastrawan, kritik sastra dan para kritikus masih bersifat minoritas. Meskipun sudah ada beberapa, kita tidak boleh bahkan –demi progresifitas- haram bagi kita untuk berpuas diri. Kritik sastra masih berupa barang langka. Padahal banyak sekali karya sastra yang sampai saat ini masih menyendiri, kesepian, alias jomblo dan merindukan pendamping setia yang rela mempersuntingnya, untuk kemudian karya sastra dan kritik sastra dapat menjadi sebuah tradisi yang sakinah, berjalan berdampingan, saling mengisi dan menguatkan satu sama lain, serta melahirkan karya-karya baru yang lebih kaya.

3 Komentar

  1. miftahrahman said,

    12 Mei 2009 pada 21:18

    salam kenal mbak. tulisannya bagus, semoga mbak mampu menjadi seorang sastrawan yang membawa gaya baru

  2. riu sitedjo said,

    9 September 2010 pada 07:49

    bagus mbak….

  3. yasa menten said,

    5 Oktober 2010 pada 07:31

    kenapa nama cerpen itu begitu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: