PROBLEMATIK BAHASA INDONESIA: ‘Wakil Rakyat’ Perlu Direvisi

Wakil Rakyat’ Perlu Direvisi

(Kajian Metafor ‘Wakil Rakyat’ dalam Lirik Lagu Iwan Fals yang Berjudul Surat Buat Wakil Rakyat)

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Kemarin malam di satu televisi swasta yang fokus dengan siaran beritanya, ada sebuah acara yang disiarkan secara langsung dan membuka layanan interaktif baik melalui telepon dan sms (short message service) alias pesan pendek. Seperti biasa dalam acara tersebut hadir satu nara sumber dan satu pembawa acara. Tak seperti biasa, keduanya tertawa ketika mendengar seorang dari balik telepon mengatakan “Para pejabat ini sudah goblok, padahal mereka semua kan sarjana, tidak ada yang cuma lulusan SMA ………” mereka memang tak terbahak-bahak, tapi tawa itu terlihat cukup spontan. Tak kalah serunya dari penelpon yang mengatakan bahwa pejabat (maaf) goblok, ada beberapa pesan pendek yang ditayangkan disebelah kanan layar kaca, diantaranya adalah “Kalau wakil rakyat terus mengulang kesalahan, bagaimana mau mengurus rakyat”. Dua komentar yang menanggapi satu objek yaitu mengenai ricuh-ricuh para anggota dewan.

Entah kapan metaphor ini lahir, reformasikah? Orde baru? Orde lama? Atau bahkan sejak tahun empat lima? Namun, yang jelas ketika mau membuka mata, telinga, hati dan pikiran, melihat orang-orang di ‘bawah’ sana, metaphor ini sepertinya tak berlaku lagi. Sebab nyatanya tak ada para pejabat yang katanya wakil rakyat bisa benar-benar mewakili mereka sebagai rakyat, rakyat Indonesia tentunya.

Kenyataan bahwa masih sangat banyaknya rakyat yang belum atau bahkan tidak terwakili, sepertinya membuat metaphor ‘wakil rakyat’ perlu direvisi, yang kemudian dibakukan saja ke dalam deretan makna konotasi. Atau jika keadaan memang tak kunjung berubah, barang kali wakil rakyat ini dapat dimasukkan saja ke dalam kamus sebagai salah satu entri yang arkais.

Penggunaan metaphor beserta makna yang dikandungnya ini memang sudah mengonvensi di masyarakat, banyak kolektif maupun individu yang menyebutkan dirinya sebagai wakil rakyat. Penggunaan metaphor wakil rakyat untuk mengganti kata pejabat yang terlalu identik dengan kekuasaan seyogiyanya dapat benar-benar mewakili rakyat, aspirasi, dan lain sebagainya. Jika dianalisis metaphor ini dapat berarti luas, tidak sekedar menjadi pronominal bagi para pejabat di atas sana, tetapi juga kroco-kroconya bahkan hingga ke tingkat RT alias Rukun Tetangga. Orang yang menjadi ketua RT di suatu daerah, atau yang biasanya disebut Pak RT juga merupakan wakil rakyat, yah, meskipun bebannya tak begitu berat, sekitar mewakili rakyatnya dalam mengurus pembuatan KTP. Namun, itu lebih baik, dari pada tidak mewakili sama sekali. Wong wakil rakyat kaliber nasional saja tak banyak aksi untuk mewakili rakyat. Duitnya saja yang gede, tak seperti Pak RT yang bolak-balik kecamatan mengurus KTP dengan untung paling selawe.

Metaphor ini cukup laris manis di pasaran, dalam kancah politik terutama kampanye, dalam dunia pemberitaan, wacana, artikel, bahkan lirik lagu, baik sebagai pronomina, ironi, atau yang lainnya. Dalam lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Surat Buat Wakil Rakyat terasa ada satu deskripsi yang berbeda mengenai sosok wakil rakyat dengan yang biasanya ditampilkan. Pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 yang bernama lengkap Virgiawan Listanto ini seakan-akan menyibak dan berani membuka satu tabir yang awalnya tak melekat dalam metaphor ini. Penyanyi beraliran balada yang pernah diliput oleh Majalah Time Asia edisi 29 April 2002 dan diberi julukan sebagai Pahlawan Besar Asia (Asian Heroes) ini kerap memotret suasana sosial kehidupan di Indonesia lewat lagu-lagunya.

Jika metaphor wakil rakyat biasa dimaknai sebagai anggota dewan, Bang Iwan, begitu sapaan akrabnya, medeskripsikan pronomina tersebut dengan lirik “Untukmu yang duduk sambil diskusi, untukmu yang biasa bersafari di sana, di gedung DPR”. Kemudian mengenai loyalitas bagi mereka yang menginginkan disebut dengan metaphor ini seharusnya mengerti bahwa “Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat, apalagi sanak famili.” Kata wakil dalam metaphor wakil rakyat seharusnya sudah menjadi sebuah legitimasi bahwa mereka harus mampu mewakili, menjadi wakil bagi rakyatnya. Tentunya manusia yang terpilih menjadi wakil ini sudah harus masuk standar sebagai orang hebat. Memiliki hati nurani, akal dan nalar, serta keberanian yang hebat untuk mewakili berjuta kepala rakya dalam satu kepalanya. Di hati dan lidahmu kami berharap suara kami tolong dengarlah. Kusampaikan. Jangan ragu, jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam. Di kantong safarimu kami titipkan masa depan kami dan negeri ini dari sabang sampai merauke.

Metaphor ini ada pasti karena adanya satu subjek yang menjadi referennya. Pengangkatan para subjek yang menjadi wakil rakyat ini tentunya sudah dipersiapkan matang, seperti KPUD yang saat ini tengah sibuk memverifikasi jumlah harta kekayaan para calon gubuernur DKI Jakarta. Sebuah proses yang tidak mudah menjadi seorang wakil rakyat, selain harus memiliki kualifikasi juga harus berhasil merebut hati rakyat meskipun rakyat tak kenal siapa yang mereka pilih dan menjadi tempat mereka menggantungkan nasib esok hari. Saudara dipilih bukan dilotre, meskipun kami tak kenal siapa saudara.

Kami tak sudi memilih juara. Juara diam, juara heueuh, juara hahaha. Dan, terakhir penyanyi dan komposer yang produktif ini menggoreskan pena sebagai akhir bagi liriknya yaitu

Wakil rakyat seharusnya merakyat.

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat.

Wakil rakyat bukan paduan suara.

Hanya tahu nyanyian lagu sedu.

Demikian metaphor wakil rakyat dimaknai oleh seorang Iwan Fals dalam salah satu lagu yang membuat namanya popular, serta berhasil memopulerkan makna lain dibalik metaphor wakil rakyat. Di mana saat ini penggunaan metaphor tersebut sudah lebih dapat terlihat kekonotasiaannya. Sebutan wakil rakyat kini tak lagi dielu-elukan sebagai manusia setengah dewa, bahkan mungkin ada yang beberapa yang justru hanya menjadi seorang badut MPR, tetapi sudah selayaknyalah metaphor wakil rakyat memang benar-benar menjadi jembatan bagi suara hati dari balada orang-orang pedalaman dan ikrar dalam senandung lirih, untuk para pengabdi, untukmu negri. Tolong dengar Tuhan.

1 Komentar

  1. Zainudin said,

    13 Mei 2009 pada 14:22

    Bahasa Indonesia sekarang sudah hilang jiwanya.Saya pernah ke Indonesia , rata rata mereka membahasakan diri mereka ‘gue’ (bagi saya) dan ‘lhu’ (awak,kamu). (Ini bahasa Cina kalau di Malaysia) Begitujuga dalam filem filem yang ditayangkan.Sangat kurang nilai dan ketrampilan budaya yang pada suatu masa dahulu dianggapkan luhur dan tersohor.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: