SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PALEOGRAFI AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

SERAT CENTHINI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PALEOGRAFI AKSARA HA-NA-CA-RA-KA

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo. Itulah salah satu semboyan sebagai tanda harapan pemerintah akan negeri ini. Sebagai generasi penerus sekaligus pewaris kebudayaan, seharusnya telah memiliki pengertian dan pemahaman atas ajaran para leluhur tentang kawruh kasampurnaan atau kautama. Di mana mereka meninggalkan suatu kekayaan yang sangat mahal dan adi luhung, yaitu aksara Jawa, atau aksara ha-na-ca-ra-ka. Sebuah karya sastra dan kebudayaan yang di dalamnya terkandung berbagai rahasia dan ajaran-ajaran hidup. Salah satunya adalah penggunaan aksara ha-na-ca-ra-ka berikut pemberian atas makna yang terdapat dalam serat Centhini.

Serat Centhini adalah suatu buku berbahasa Jawa, yang isinya merupakan sumber kesempurnaan hidup orang Jawa. Naskah aslinya berhuruf Jawa. Terdiri dari 12 jilid, dan 3500 halaman. Serat Centhini ini ditulis atas gagasan Sri Sunan Paku Buwana V (pada saat itu masih berstatus sebagai Pangeran Adipati Anom) dari Surakarta. Dibantu oleh Rangga Sutrasana, Yasadipura II, dan Ngabehi Sastradipura. Lalu disalin ke huruf Latin oleh Kamadjaya yang diterbitkan oleh Yayasan Centhini di Yogyakarta tahun 1985. Pada awalnya buku ini dinamakan suluk Tambang Raras, namun kemudian diganti menjadai serat Centhini. Nama Centhini ini diambil dari Niken Tambang Raras istri Syekh Among Raga.

Naskah yang ditulis pada Sabtu Pahing tanggal 26 Suro dengan Cadra Sengkala “paksa suci sabda ji” yaitu tahun 1742 atau tahun1814 Masehi ini, di dalamnya termuat dialog-dialog, kisah dan aksara ha-na-ca-ra-ka yang mengungkapkan pandangan, sikap serta ajaran mengenai hidup manusia. Hubungannya dengan diri sendiri, dengan sesama, masalah keluarga, hubungan suami istri, dan mengenai hubungan Tuhan yang Maha Esa. Di dalamnya terkandung pula refleksi religius yang sifatnya popular, walaupun tidak jarang mendalam dan mendasar sifatnya.

Serat Centhini ini bagi orang Jawa sudah tidak asing lagi selain karena mengandung kisah dan ajaran-ajaran hidup, juga menerangkan ilmu pengetahuan mengenai kebudayaan Jawa baik yang lahir maupun yang batin. Maka sudah sepantasnyalah jika serat Centhini ini disebut sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa.

Paleografi bermakna sebagai ilmu yang mempelajari tulisan aksara atau huruf kuno. Secara etimologis kata paleografi berasal dari paleos = kuno, dan grafein = tulisan. Paleografi berkaitan erat dengan epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari aksara-aksara yang digunakan dalam penulisan prasasti. Di Indonesia penelitian paleografi telah diawali oleh A. B. Cohen Stuart (1875), dengan bukunya yang berjudul “kawi Oorkoden in Fasimile, Mer Inleiding en Transcriptie”. Ia mencontohkan aksara Jawa Kuno, di samping contoh-contoh aksara dari prasasti dan tembaga. Rintisan Stuart dilanjutkan oleh Holle pada tahun1882 dengan bukunya yang berjudul ‘tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten”, yang mengetengahkan beberapa contoh aksara Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah Jawa Timur, Bali, Lampung, Bima, dan lain-lain (Holle, 1882).

Berikutnya, penelitian tentang paleografi ini secara berturut-turut dilakukan oleh penulis-penulis lain, antara lain: Kern yang menulis “Verspreide Geschriften” 1917, J. G. de Casparis menulis buku karangannya yang berjudul “Indonesian Paleography 1975”. Beberapa nama lain untuk bidang paleographyyang sempat dicatat Atmodjo diantaranya adalah Brandes, Stein Callenfels, Krom, Bosch, Stutterheim, Poerbatjaraka, Pigeaud, Buchari, Ktut Ginarsa, A. S. Wibobo dan Sukarto K. Atmodjo (Atmodjo, 1994: 3)

Aksara ha-na-ca-ra-ka dari segi paleografis merupakan kelanjutan dari perkembangan aksara dari masa ke masa, yang tidak diketahui secara pasti sejak kapan mulai dikenal dan dipergunakan sebagai sarana penulisan. Sebelum dikenal sebagai cacarakan atau yang saat ini disebut juga dengan ha-na-ca-ra-ka, orang telah menggunakan aksara yang lebih tua beredarnya yang dikenal denan aksara Jawa Kuno (Soebalidinata, 1994: 9).

Soebalidinata menyampaikan beberapa contoh aksara Jawa Kuno yang merupakan mata rantai perkembangan aksara menuju ke aksara ha-na-ca-ra-ka, dengan sistem ejaan yang lain untuk alih aksara.

  1. Tulisan Kawi Jawa Timur

  2. Tulisan Kawi masa Airlangga

  3. Tulisan Kawi masa Kerajaan Kediri

  4. Tulisan Kediri Kwadrat

Perkembangan aksara Jawa Kuno ke Jawa Baru juga terkait dengan perubahan bahasa. Menurut Brandes perkembangan bahasa Jawa yang melampaui empat tingkatan menjadi bervariasi. Masing-masing tingkatan itu adalah:

  1. Masa Jawa Kuno yang tertua.

  2. Masa Jawa Kuno.

  3. Masa Jawa Madya atau Jawa Tengahan.

  4. Masa Jawa Baru.

de Casparis di dalam “Indonesian Paleography” yang dikutip Atmodjo (1994: 8) mengolompokkan perkembangan aksara (Jawa) atas beberapa tahap, dimulai dari aksara Pallawa:

  1. Aksara Pallawa awal, sebelum tahun 700 M.

  2. Aksara Pallawa tahap akhir, abad VII dan pertengahan abad VIII M.

  3. Aksara Kawi awal, 750 – 925 M.

  4. Aksara Kawi akhir, 925 – 1250 M.

  5. Aksara Majapahit dan aksara daerah, 1250 – 1450 M.

  6. Aksara Jawa Baru, tahun 1500 hingga sekarang.

Aksara Jawa Baru yang merupakan kelanjutan perjalanan aksara Jawa Kuno di dalam perkembangannya mengalami perbedaanPerbedaan antara aksara Jawa Kuno dan Jawa Baru cukup banyak. Aksara Jawa Baru ha-na-ca-ra-ka mengalami penambahan garis tegak (kaki) di sebelah kiri dan kanan aksara bersangkutan. Demikian juga tanda vokal [i] dan [e].

Di dalam aksara Jawa Kuno tidak ada periodesasi secara khusus. Namun hanya ditandai secara umum adanya model bentuk penulisan aksara. Bentuk tulisan gaya Mataram I yang berbentuk bulat berbeda dengan aksara gaya Jawa Timur yang bentuknya agak kurus dan runcing (Atmodjo, 1994: 9). Di samping gaya-gaya bentuk tulisan pada taraf local.

3 Komentar

  1. 29 Juli 2009 pada 07:15

    transkrip ada tidak

  2. 12 Mei 2010 pada 03:50

    mohon dengan sangat dan hormat , saya ingin tahu buku untuk referensi pembuatan ptk huruf jawa

  3. halimah sa'diyah said,

    20 Juni 2010 pada 02:20

    Saya pingin yang langsung ditulis dalam aksara jawanya dong…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: