SEREN TAUN: Sebuah Ritual Syukur Masyarakat Sunda

SEREN TAUN, Sebuah Ritual Syukur Masyarakat Sunda

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Upacara Seren Taun adalah ungkapan syukur  dan do’a masyarakat Sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama tahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang.  Selain ritual-ritual yang bersifat sakral digelar pula berbagai atraksi kesenian dan hiburan. Dengan kata lain, upacara ini tak hanya meliputi kegiatan spiritual dalam kaitan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dengan sesama mahluk dan juga alam.

“Tundukkan Kepala Satukan Hati dalam Keberagaman Demi Kedamaian Semesta Alam”, demikian tema Seren Taun 1940 Saka yang bertepatan dengan hari pertama di tahun 2008 ini. Meskipun upacara ini hanya diselenggarakan di sebuah kecamatan kecil, tetapi Seren Taun di Cigugur ini berhasil menjadi  festival seni tradisi Sunda  dan pertemuan tahunan masyarakat adat di tatar Sunda dan Nusantara.

“Upacara ini sangat penting bagi masyarakat agraris Sunda sebagai tanda mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa atas hasil panen dan segala daya upaya. Upacara seperti ini mungkin serupa dengan acara Thanks Giving yang ada di luar negeri.” Demikian papar Pangeran Djatikusumah selaku Ketua Yayasan Tri Mulya.

Seren taun adalah upaya dalam mengekpresikan rasa syukur masyarakat agraris Sunda yang masih digelar di beberapa  wilayah Jawa Barat seperti di Garut, Sukabumi, Cimahi, dan Cigugur. Seren berarti menyerahkan dan Taun adalah tahun yang terdiri atas dua belas bulan. Sehingga jika diartikan, Seren Taun adalah upacara penyerahan hasil panen yang diterima pada tahun yang sudah berlalu dan memohon berkah serta pelindunganNya untuk tahun yang akan datang.

Upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 22 bulan Rayagung  dalam perhitungan Saka. Hal tersebut dimaksudkan karena bulan Rayagung tersebut merupakan bulan terakhir dari rangkaian 12 bulan, yakni: Muharam atau Sura- Sapar- Mulud- Silih Mulud- Jumadil Awal- Jumadil Ahir- Rajab- Ruwah- Puasa- Syawal- Hapit- Rayagung. Sebagai bulan terakhir, Rayagung juga juga mengandung makna merayakan keagungan Tuhan yang Mahaesa.
“Rayagung merupakan keagungan Sang Pencipta, 22 terdiri dari 20 dan 2. Duapuluh sebagai sifat ilahi yang mengacu kepada tumbuhnya kesadaran diri selaku manusia dan kesadaran pribadi sebagai suatu bangsa.  Sedangkan bilangan dua melambangkan adanya sifat berpasangan, adanya baik dan buruk, siang dan malam, laki-laki dan perempuan” Papar Pangeran Gumirat Barna Alam selaku Ketua Umum Kegiatan Seren Taun.

“Dalam pelaksanannya, Seren Taun di Cigugur dilaksanakan oleh masyarakat multi agama, adat dan kepercayaan, yang merupakan pula wujud kebhinekaan yang menyadari ketunggalikaan dalam bersyukur kehadirat Tuhan” P. Djatikusumah menjelaskan upaya pelaksanaan acara yang memang dihadiri berbagai etnis, di antaranya dari Indramayu, Baduy-Kanekes, Bandung, Batak, Bali, hingga Flores.

“Inilah yang membuat kami, Yayasan Trimulya, berjuang untuk terus memelihara dan melestarikan Upacara Syukuran Seren Taun dari waktu ke waktu sebagai amanat Leluhur, yang tentunya bukanlah sesuatu yang tanpa makna. Terbukti dengan adanya tradisi seperti ini, kami mampu berdampingan dan harmonis dalam banyak perbedaan. Cigugur sendiri merupakan desa yang bernuansa multiagama. Ada Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan masyarakat adat Sunda dengan kepercayaannya masing-masing.” P. Djatikusumah menerangkan kondisi Daerah Cigugur sebagai tempat Seren Taun digelar.

Kemudian, Pangeran Djatikusumah juga menjelaskan bahwa upacara ini juga mengandung makna yang filosofis, di antaranya adalah prosesi ngajayak (menjemput padi). Ngajayak dalam bahasa Sunda berarti menerima dan menyambut.  Ngajayak merupakan prosesi pertama yang dilaksanakan. Prosesi ini terdiri dari barisan muda-mudi yang membawa hasil bumi dari empat penjuru mata angin, menggambarkan kemurahan dan cinta kasih Tuhan ada di setiap dan segenap penjuru alam. Digambarkan dalam prosesei, barisan terdepan membawa buah-buahan, umbi-umbian, dan padi yang dipeuntukkan untuk penanaman di tahun yang akan datang. Makna yang lebih dalam lagi adalah bahwa generasi muda yang kita harapkan dapat menjadi penerus hidup dan kehidupan manusia. Jumlah yang sebelas pasang, mengandung arti sawelas yang artinya saling memiliki rasa cinta kasih sebagai karakter manusia yang senantiasa mengharapkan hidup damai. Di belakang barisan pemuda, ada ibu-ibu yang nyuhun padi. Hal ini bermakna memohon agar generasi berikutnya juga dapat melaksanakan kehendak yang Maha Kuasa yang telah tersirat dalam cara ciri manusia. Sementara bapak-bapak yang memikul dan mengusung padi, buah-buahan serta umbi-umbian bermakna bahwa kaum pria memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam membina dan mengayomi keluarga.

Ketika barisan hampir tiba di tempat upacara, sejenak barisan berhenti  untuk menyaksikan tari Buyung yang merupakan tarian khas Cigugur-Kuningan. Tarian ini diangkat dari kebiasaan masyarakat Cigugur dahulu dalam mengambil air dari mata air yang ada. Tarian ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa mencintai tanah air dan memaknai peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Setelah itu, disusul dengan pergelaran angklung buncis yang juga khas dari Cigugur, di mana angklung tersebut berbahan dasar bambu hitam, juga bersama angklung Baduy dengan suaranya yang menggambarkan kebahagiaan dan sukacita bersama.

Dalam upacara Seren Taun yang menjadi objek utama adalah padi. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah Sunda pada umumnya merupakan daerah pertanian yang subur. Makna padi bagi masyarakat petani Sunda seperti tercermin dalam berbagai kisak klasik sastra Sunda, seperti kisah Pwah Aci, Sanghyang Asri, yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan jabaning langit yang turun ke bumi. (dheka, red)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: