Bersastra dalam Penjara

Bersastra dalam Penjara
1.    Aku mendapat kepercayaan
2.    Aku pun mencoba
3.    Anak yang memilih drama hanya sedikit, yaitu 3 orang, Devi, Ilham, Opik.
4.    Mereka konsisten dengan rekan sebidang yang hanya tiga
5.    Pada awalnya tak ada yang berani bicara Opik terutama
6.    Lalu aku mulai memfasilitasi ide untuk bahan drama
7.    Mereka member ide tentang cerita lucu tentang si Asep jadi Raja
8.    Mereka memberi ide, tentang sebuah pertaubatan, tapi yang dominan justru sarkasmenya.
9.    Anak2 mulai jenuh, aku pun menawarkan sebuah scenario gubahan untuk didiskusikan.
10.    Mereka setuju, tapi dengan beberapa perubahan yang kita sepakati bersama untuk kualitas drama
11.    Kami latihan, dengan kondisi ruangan yang sempit, dengan banyak anak yang berlatih music+kriya. Konsentrasipun diuji.
12.    Aku berperan sebagai narrator, dan yang lainnya menjadi tokoh, yang mereka sepakati bersama.
13.    Kami berlatih membaca naskah.
14.    Aku terkejut, membacapun mereka terbata-bata
15.    Anehnya, scenario tokoh andareweng yang bicaranya terbalik, sangat mudah diperankan oleh Opik.
16.    Kami mulai mengeksplorasi cerita.
17.    Melakukan latihan-latihan penjiwaan.
18.    Anak-anak mengingat kembali pengalaman terbaiknya, dan menceritakannya,
19.    Inginnya bias mempraktikannya, tp mereka tidak mau
20.    Mereka membayangkan suatu yang diinginkannya, mimpi. Dan menceritakannya
21.    Untuk merangsang kepekaan dan imajinasi, serta literasi, aku memfasilitasi beberapa bahan bacaan cerpen pilihan kompas.
22.    Anak-anak melakukan resepsi dan apresiasi terhadap cerpen tsb.
23.    Anak difasilitasi alat tulis, untuk merangsang menulis
24.    Anak kembali berlatih drama. Membaca sudah dengan intonasi.
25.    Sekali waktu saya memasukan orang baru untuk menggantikan narrator, mereka sudah bias melakukan kritik, terhadap gaya, intonasi, pemenggalan kalimat, dan gema.
26.    Anak-anak sudah bias saling mengoreksi untuk menjadi lebih baik.
27.    Latihan, bertambah 2 pemain baru. Jumlahnya jadi 5 orang
28.    Mereka menjadi satu tim yang solid. Dengan kelompok kecil, menyadari bahwa perannya sama penting. Dan, satu sama lain saling berempati dengan menjaga kekompakan untuk sebuah kehadiran.
29.    Nurdin, salah satu anak baru keluar duluan. Mereka memutuskan untuk melanjutkan drama karena tanpa tokoh Nurdinpun tema cerita dan alur takkan begitu terpengaruh. Mereka sudah bias mengambil keputusan, dengan pertimbangan dan kajian.
30.    Analisa kostum dan property.
31.    Devi, mengubah tokohnya menjadi seorang wanita.
32.    Anak-anak menggubah kembali akhir cerita menjadi scenario baru.
33.    Anak-anak pentas meski tanpa aku.
34.    Harapanm mereka bias bermain drama dengan orang yang sudah ahli.

Perubahan-perubahan
1.    Diam tanpa ekspresi
2.    Mulai berekspresi
3.    Mengingat pengalaman terbaik
4.    Bermimpi
5.    Melakukan kritik.
6.    Membuat keputusan melanjutkan drama tanpa tokoh nurdin
7.    Menganalisa kondisi zaman dan menuangkannya dalam skenario
8.    Menentukan kostum
9.    Main tanpa pendamping.
10.    Tempat lat yang sangat tdk memadai
11.    Tidak ada tata letak panggung
12.    Therapeutic casting
13.    Tata rias
14.    Bukan teater bernuansa hitam sepereti yang sering kumainkan
15.    Buka teori dan pementasan
16.    Drama dalam Penjara
17.    Bukankah dunia ada di tangan para pemimpi? Andaikata Thomas Alva Edison tidak bermimpi untuk membuat lampu, maka aktivitas manusia tentu takkan seaktif saat ini. Apabila Wright bersaudara tidak memiliki mimpi untuk terbang, mungkin hingga kini kita tidak akan mengenal pesawat terbang.
18.    Louis Pasteur  telah mengubah kepedihan atas kehilangan tiga putrinya karena penyakit menjadi sebuah mimpi untuk menyelamatkan banyak orang, dan ia berhasil menemukan vaksin. Juga Albert Einstein, berbekal mimpi ia menjadi fisikawan terbaik abad 20 dengan penemuannya yang tersohor (persamaan kesetaraan massa  energi, dan teori relativitas). Demikian pula, Thomas Alva Edison pemegang lebih dari 1300 hak paten.
19.    Hellen Keller, wanita bisu, tuli dan buta sejak kecil adalah wanita pertama yang memperoleh gelar sarjana dari universitas Harvard. Shakespeare, seorang yang lumpuh tetapi mampu mengarang sandiwara terbaik di dunia. Beethoven, seorang tuna rungu yang mampu menggubah aransemen musik klasik terindah. Franklin Delano Roosevelt  lumpuh sejak usia 39 tahun, tetapi justru menjadi satu-satunya presiden dalam sejarah Amerika yang dipilih 4 kali. Mereka, dia, kita, kami, kamu, dan saya pasti punya mimpi. Mimpi saya kali ini adalah melihat senyum anak-anak berkonflik hukum.

Melalui drama, kami hendak membuka gerbang mimpi para napi.

salam.

Dheka Dwi Agusti A.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: