Catatan Pendampingan Drama di Rutan Kelas 1 Kebon Waru Bandung

Catatan Pendampingan Drama di Rutan Kelas 1 Kebon Waru Bandung

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Seni, seperti apa yang dikatakan Horatius hendaknya bersifat menghibur dan mendidik (dulce et utile). Seperti itulah drama hendak hadir dalam ruang penuh jeruji, mengisi jamak mata yang kosong menatap masa, menuntun rasa meninggalkan derita untuk mengejar asa yang bersimpul dalam sebuah doa.

Drama adalah salah satu bidang seni yang digunakan dalam proses pendampingan anak-anak berkonflik hukum di rutan Klas 1 Kebon Waru Bandung di samping dua bidang seni lainnya yaitu kriya dan musik.

Pada awal pertemuan saya mulai mengamati mereka. Tak banyak dari diri mereka yang berbeda dengan anak pada umumnya (anak tidak berkonflik hukum). Kesan kriminal, penjahat, garang, dan sebagainya tidaklah nampak, seperti apa yang dibayangkan orang awam (orang yang belum atau baru pertama berkunjung ke rumah tahanan). Secara fisik, tubuh mereka bertiga memang relatif kurus dan kurang bersih. Di badan mereka banyak bekas gigitan nyamuk, panu, kutu air, dan berbagai penyakit kulit lainnya. Tak heran jika dalam satu menit saja mereka bisa menggaruk tubuh mereka berkali-kali. Mereka tak banyak bicara. Merekapun tak tersenyum. Bibirnya seperti bulan sabit tertelunggkup malam. Pandangan mereka lebih banyak tertuju ke arah bawah.

Dua di antara mereka bertiga rupanya sang Pemilik pasal 170 dengan vonis 2 tahun 6 bulan. Mereka memaparkan bahwa vonis yang mereka dapatkan adalah buah dari pengeroyokan yang berujung pada kematian si Korban. Seorang lagi berpasal 285 dengan vonis 5 tahun penjara. Vonis ini diterimanya karena kasus pemerkosaan.

Bintang dan Awan (bukan nama sebenarnya), dua anak sekasus ini ternyata bersaudara. Bintang memilih drama karena ia pernah bermain kabaret bersama teman-temannya untuk pentas seni tujuhbelasan di lingkungan rumahnya. Sementara Awan memilih drama agar dapat lebih intensif membaca. Dia memang senang membaca. Pernah saya coba memberinya dua buah antologi cerpen pilihan Kompas, dan ternyata ia melahapnya dengan apresiatif. Ilham, anak pendiam yang cenderung penurut ini menurutku adalah seorang pembelajar yang giat. Ia yang paling sering mengulang-ulang membaca naskah drama, hingga ia menjadi orang yang paling hapal dialog para tokoh.. Langit, anak lelaki pemurung yang tak pernah menengadahkan muka. Entah apa yang sering dilihatnya di bawah sana. Jangankan untuk berbicara sepatah kata, menatappun tidak dilakukannya. Seperti anak-anak pada umumnya, ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Persamaan mereka adalah kondisi sehari-hari yang harus dijalani di dalam penjara dengan masa vonis yang lama. Juga, energi besar yang berasal dari bongkahan kerinduan mereka belum banyak termanfaatkan.

Saat pertama kami bertemu tak ada yang mau bicara, terlebih Langit. Sayapun tak mau lebih lama memanjakan sepinya waktu. Kami berkenalan, saling berjabat tangan. Kami membuat kesepakatan bahwa kami berempat adalah sebuah tim drama. Proses dialog sangat kami ke depankan.

Ide pertama muncul dari kenyataan pengalaman mereka, kami membuat cerita tentang kondisi anak berkonflik hukum dan penjara, tetapi kemudian hal itu kami hentikan. Sambil membuang muka Langit mengatakan bahwa ia sudah bosan dengan kenangannya tentang “masuk penjara”, tak ada gunanya mengingat pengalaman buruk dan rasa sakit. Ide pun beralih menjadi sebuah pertaubatan seorang manusia, tetapi sayang cerita yang telah dibuat tetap dominan dengan unsur-unsur kekerasaan (bertengkar, mabuk-mabukan, membunuh, rasa sakit, dan sebagainya). Bosan dengan ide-ide yang berkutat dalam arena negatif, anak-anak berseloroh untuk membuat drama komedi.

Si Asep Jadi Raja, sebuah judul yang mereka usung tetapi lagi-lagi masih dengan cerita mengenai penculikan, kekerasan dan sebagainya. Kami mulai kehabisan energi. Mereka meminta saya untuk mencarikan ide cerita yang bagus menurut tenggang rasa saya. Atas dasar pertimbangan waktu dan proses yang telah dijalani sayapun membuat sebuah naskah untuk didiskusikan bersama.

Pertemuan selanjutnya saya membawa sebuah naskah drama jadi. Kamipun mulai membedah naskah. Naskah drama yang kutulis merupakan gubahan dari sebuah cerpen berjudul Wabah karya sastrawan perempuan Indonesia, Nenden Lilis Aisyah. Cerpen bertema sindiran terhadap pemerintah ini merupakan cerpen pilihan Kompas tahun 2003. Seloroh anak-anak untuk memilih genre komedi, membuat saya mengambil cerita ini.

Setelah bersama-sama kami membedah naskah, merekapun sepakat dengan naskah yang saya buat dengan melakukan beberapa perubahan tentunya. Proses “bedah naskah” tak berjalan seperti biasanya. Tak efektif bagi kami jika harus setiap orang membaca sendiri-sendiri apalagi dalam hati. Kami melakukannya pembacaan dengan cara bergantian. Secara tidak langsung kami melakukan casting, karena kami semua mencoba memilih tokoh yang kemudian akan kami bacakan dialognya. Proses pembacaan berlangsung secara bergantian, selain agar satu sama lain sama-sama memperhatikan, juga karena kondisi ruangan belajar yang kecil dan diisi oleh banyak orang, serta kebisingan dari anak-anak lain yang sedang berlatih musik.

Melalui “bedah naskah” ini banyak hal baru yang memperkaya proses pendampingan ini. Anak-anak mulai dapat terdengar suaranya, meskipun belum lantang. Satu hal yang menyedihkan bagi saya adalah ketika mengetahui mereka terbata-bata dalam membaca, sepertinya sudah lama sekali mereka tak membaca. Di samping itu, sayapun bahagia karena dalam proses pembacaan naskah anak-anak dapat tertawa. Inilah kali pertama saya melihat senyum mereka. Senyum mereka yang indah. Selesai kami membaca naskah, satu persatu anak mengatakan pendapatnya. Tanggapan mereka mengenai tema cerita. Jumlah tokoh yang ada dalam naskah, Watak para tokohnya. Latar cerita. Kemungkinan pementasan, dan sebagainya. Tak kusangka mereka dapat mengerti cerita ini dengan baik. Sesuatu yang sempat kusangsikan. Adanya kata-kata terbalik yang diujarkan oleh tokoh Andareweng rupanya bukanlah hal baru bagi mereka. Kondisi yang pada awalnya menurutku hanyalah sebuah imajinasi dalam cerita ternyata benar adanya. Berbicara dengan kalimat dan kata yang terbalik rupanya merupakan sebuah sosiolek (dialek dari suatu kelompok sosial) geng motor tertentu di Bandung. Hal tersebut membuka ruang diskusi bagi kami. Konsep untuk sama-sama belajarpun kami usung. Kami sepakat akan membawakan naskah ini.

Setiap kami akan berlatih, kami melakukan pemanasan. Kali ini saya melakukan rangsangan, meminta mereka mengingat hal terbaik yang pernah mereka lakukan lalu menuliskannya. Selesai menuliskan, kami meminta menceritakannya secara lisan. Tidak muluk-muluk, hal baik yang terindah bagi Bintang adalah ketika ia memancing kemudian ada sesuatu yang menyangkut di kailnya. Setelah ditarik ternyata itu hanya sandal yang sudah jelek. Sementara Awan, ia berhasil memasukkan bola ke dalam gawang dalam sebuah permainan sepak bola yang dimainkan ia ketika ia SMP. Langit tidak ada karena hari itu ia bertugas menjadi korpe. Setelah bercerita aku meminta mereka memperagakannya (ber-akting) tetapi mereka tidak mau dengan alasan masih malu.

Dalam latihan membaca naskah, intonasi mereka sangat datar untuk sebuah kalimat, tak ada ekspresi, membaca pun belum begitu lancar. Belajar berintonasi kami dilakukan dengan cara mengubah- ubah logat bicara seperti menjadi orang Jawa, Sunda, Batak, Bali dan Padang, anak kecil, remaja, dewasa, dan orang tua. Kemudian mencoba beberapa intonasi tentang sebuah kalimat. Hingga kami mendapatkan dan memilih intonasi yang dianggap paling tepat untuk sebuah dialog.

Pertemuan selanjutnya masuk dua orang baru. Mereka semua menjadi satu tim yang solid. Dalam urusan membaca naskah mereka berdua lebih memprihatinkan dari sebelumnya. Bukan terbata-bata lagi tetapi masih mengeja satu-persatu, tak ada ekspresi, titik dan komapun seakan mereka tak melihatnya. Tetapi, kawan lainnya yang sudah mengalami proses pendampingan terlebih dahulu mereka membantu mereka untuk belajar membaca dan berintonasi, dan beradaptasi dengan kondisi kami.

Pertemuan kami yang hanya satu minggu sekali selama 2 jam menjadi kendala yang cukup berarti. Biasanya untuk sebuah pementasan drama, intensitas latihan akan semakin memadat. Semangat yang memadatpun ditunjukkan anak-anak. Mereka mengusulkan untuk menambah waktu latihan. Ada raut muka kecewa, setiap kali kami sedang asyik berlatih, bel apel berbunyi. Terpaksa mereka harus kembali ke dalam sel. Langit secara tegas pernah mengemukakan “Teh, beginilah hidup di penjara. Semua serba terpenjara. Kami tak punya kebebasan. Saya masih ingin berlatih, tapi mau tidak mau saya harus masuk sel lagi.”

Latihan yang selama ini kami lakukan rupanya mulai memperlihatkan hasil. Sekali waktu ada seorang pendaping yang bergabung ke dalam tim kami. Ia menggantikan posisi saya sebagai seorang narator. Bernaratorkan sang pendamping baru, anak-anak telah mampu melakukan apresiasi dan kritik. Beberapa hal seperti intonasi yang kurang tegas, suara yang kurang ngebass, menjadi koreksi bagi narrator baru. Anak-anakpun melakukan hal yang sama kepada teman-temannya.

Mereka berlima adalah tim yang solid, dengan kelompok kecil mereka menyadari bahwa perannya sama penting satu sama lain. Mereka saling berempati dengan menjaga kekompakkan untuk sebuah kehadiran. Dengan kapasitas yang berbeda, satu sama lain saling belajar meskipun mereka bukanlah anak-anak dari satu kelompok/ geng. Ketika latihan, kami sering tertawa bersama-sama. Makin sering kami bertemu, kami makin terbuka. Semua anggota sudah mampu berbicara lantang. Mengemukakan ide-ide mereka, melakukan analisis kebutuhan pementasan. Yang membahagiakan adalah kami dapat tertawa bersama, berseloroh, berdiskusi, dan menentukan pilihan. Ketika masa tahanan salah seorang di anatara mereka telah usai, maka iapun harus meninggalkan rutan, tentu saja iapun keluar dari tim drama. Kami berdiskusi, membicarakan apa yang akan kami lakukan tanpanya. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan berlatih drama dan akan tetap dipentaskan meski tanpa dia. Hasil diskusi kami, tokoh yang hilang takkan berpengaruh besar pada kelangsungan tema dan alur cerita. Luar biasa, mereka ternyata telah mampu melakukan analisis naskah, melakukan pertimbangan dan kajian serta mengambil keputusan bersama.

Pada masa mendekati akhir latihan, mereka kembali menganalisa dan menentukan kebutuhan kostum dan properti pertunjukkan. Suatu kejutan bagi saya, ketika anak-anak melakukan perubahan dan penambahan cerita pada naskah kami. Sebuah resepsi dari mereka yang berkonflik hukum. Pada awalnya akhir cerita ditutup oleh adegan demonstrasi warga terhadap Pak Camat yang berbicara dengan kata yang terbalik dan hal tersebut membuat membuat kedua belah opiha sama-sama tiodak mengerti. Warga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Camat, Pak Camatpun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh warganya. Akhir cerita ini diubah menjadi Pak Camat ternyata hanya berpura-pura. Sesungguhnya ia tak berbicara dengan kata terbalik, bicaranya yang normal menuntun warga mempertanyakan apa maksud di balik tindakan yang dilakukannya. Dijelaskan dalam naskah, bahwa Pak Camat sengaja berbicara dengan ujaran terbalik karena ia pikir dunia memang sudah terbalik. BErbicara dengan ujaran normalpun tak ada artinya sebab orang-orang kini hanya banyak bicara tanpa pemahaman. Kelakuan Pak Camat yang membaca Pancasila dengan terbalik saat upacara peringatan HUT RI memicu warga berpikir negatif. Tetapi, Pak Camat justru mempertanyakan kembali mengenai siapa yang masih paham pancasila. Buktinya adalah sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, jika sila ini benar-benar dipahami mengapa ketidakadilan masih terus terjadi dan masih ada permusuhan dan hal tercela terjadi.

Kalau memang adil dan beradab kenapa masih banyak yang bermusuhan dan perbuatan tercela. Coba bayangkan geng motor di Indonesia…mereka semua saling bantai, apa itu yang dinamakan adil….?”

Warga D:

Iya, iya, kalau kita lihat ke belakang, para pejuang mengorbankan nyawa untuk kemerdekaan negeri Indonesia ini

Pak Camat:

Para pejuang dulu hanya bermusuhan sama orang asing (Belanda). Nah ini, anak-anak zaman sekarang satu bendera kok saling bantai…..

Warga A, B, C, D:

Iya juga ya…kalau kita berantem lawan orang Belanda tidak bakalan dibui, malah jadi pahlawan…he…he…he

Demikian perubahan naskah terjadi. Sebuah tanggapan mengemuka dari anak-anak yang berlatar konflik hukum. Sebuah resepsi karya atas dirinya. Dua minggu setelah itu, mereka melakukan pementasan dengan kostum dan tata rias seadanya. Tak ada tata cahaya, latar panggung dan properti yang ideal. Namun, semua itu tak menyurutkan anak-anak menggelar hasil latihan mereka.

2 Komentar

  1. ami said,

    28 Maret 2011 pada 17:25

    hebat sekali pengalamannya… menarik…. boleh tau lbh lanjut g tentang pengalaman pengajaran kalian di penjara ini…??? tolong bales yah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: