Drama dalam Penjara sebagai Media Pembuka Mimpi

Drama dalam Penjara sebagai Media Pembuka Mimpi

oleh Dheka Dwi Agusti N.

Sastra dapat memainkan peranan secara dramatis dalam pengembangan konsep pribadi atau konsep diri dan perasaan harga diri. Melalui sastra, anak-anak dapat menemukan berbagai kemampuan yang mereka miliki. Di samping itu, mereka akan mengetahui bahwa untuk memperoleh berbagai keterampilan selalu membutuhkan waktu.

Drama sebagai upaya menyentuh hati anak-anak. Drama dalam peranannya sebagai media pembuka mimpi narapidana anak yaitu sebagai berikut:

1) Drama tentunya dapat memberi kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan bagi anak-anak. Dalam proses latihannnya, drama dapat membuat anak tertawa senang, meriah dengan imajinasi dan dialog yang dilakukannya. Kesenangan ini tentunya membuat anak lebih merasa santai, tenang, dan memunculkan ide-ide kreatif, juga berbagai alternatif. Munculnya ide kreatif dan alternatif ini dapat menjadi motivasi tersendiri bagi anak-anak. Contohnya ketika anak mengeluarkan ekspresinya, dia berekspresi tentang dirinya sendiri maupun memainkan peran orang lain. Juga ketika mereka berdiskusi dengan teman-temannya yang kerap mengundang tawa dan kesenangan tersendiri.

2) Drama mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. Drama dapat membantu anak mengenali berbagai gagasan yang belum bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Contohnya: penggunaan teknik dramatik kreatif. Drama kreatif merupakan sebuah model pembelajaran bagi anak-anak untuk mampu berbicara. Teknik ini dilakukan dengan cara meminta mereka untuk membayangkan mereka bertemu dengan keluarga, kemudian mereka mengatakan atau menceritakan apa yang ada dalam bayangan mereka.

Perluasan dari teknik ini adalah napi anak mulai untuk membuat satu penceritaan yang logis dan runut. Hal ini dikemas melalui penggabungan bayangan dari masing-masing napi anak. Kemudian, napi anak membuat penceritaan baru berdasarkan bayangan tiap napi anak, sehingga menjadi sebuah penceritaan yang beralur serta logis.

Bayangan-bayangan yang dijadikan penceritaan itu, adalah pengalaman terbaik para napi anak yang akan memunculkan nilai-nilai positif. Hal ini akan menjadi pembuka mimpi bagi napi anak, karena napi anak bisa menemukan nilai-nilai yang terbaik dalam diri mereka.

3) Ketiga, drama dapat memberikan pengalaman-pengalaman ‘aneh’ yang seolah-olah dialami sendiri oleh para napi anak. Seperti petualangan, dan perjuangan melawan unsur-unsur pengalaman-pengalaman ‘aneh’ tersebut.

Contohnya: ketika mereka membuat sebuah cerita fantasi, seperti pernikahan di bulan. Dapat dilihat bagaimana napi anak memerankan tokoh yang jauh dari dirinya, seperti memerankan tokoh camat.

Hal ini merupakan media untuk mengasah fantasi napi anak. Sebuah tahapan yang sudah lebih jauh daripada imajinasi. Karena, imajinasi berfokus pada hal-hal yang masih mungkin terjadi. Sementara, fantasi merupakan hal-hal mungkin tidak akan terjadi (lebih sulit dijangkau). Dengan fantasi akan merangsang dan menjadi jalan bagi terbentuknya imajinasi yang lebih liar. Apa yang bagi napi anak pada awalnya terpikir tidak mungkin untuk dilakukan, padahal mungkin saja bisa dilakukan.

4) Keempat, drama dapat mengembangkan wawasan sang anak menjadi perilaku insani. Dengan kekayaannya, drama mempunyai daya yang ampuh dan unggul untuk membayangkan dan memberinya bentuk yang indah dan memberi koherensi atau hubungan yang serasi kepada pengalaman insani.

Drama sudah tidak disangsikan lagi, dapat menjadi media katarsis diri. Dalam hal ini, drama dapat merangsang pembentukan nilai dan mimpi yang positif. Misalnya, dengan cara napi anak membayangkan hal-hal positif yang pernah terjadi dalam hidup mereka. Kemudian memerankannya. Kalaupun, peran yang dibayangkan dan diperankannya itu antagonis, maka keantagonisan tersebut tetap menjadi suatu bahan pemikiran mereka untuk tidak menjadi tokoh tersebut.

5) Kelima, drama dapat menyajikan dan dapat memperkenalkan kesemestaan pengalaman atau universalitas pengalaman kepada anak. Drama terus-menerus mengemukakan masalah-masalah universal mengenai makna kehidupan dan hubungan-hubungan manusia dengan alam dan orang lain. Sastra memungkinkan kita menghidupi berbagai kehidupan dan mulai melihat keberagaman, kesemestaan pengalaman insani.

Contohnya melalui penghayatan. Napi anak diajak untuk memainkan peran yang jauh dari kehidupan dirinya. Misalnya bagaimana dia harus menjadi raja, padahal dirinya hanya seorang manusia biasa. Penghayatan ini dilakukan dengan latihan berkonsentrasi, berimajinasi, berfantasi, mengeksplorasi apa yang ada di dalam diri mereka. Setelah melalui tahapan penghayatan, napi anak diajak untuk belajar mengomunikasikan peran yang telah dihayatinya tersebut. Hal ini dilakukan mulai dari olah suara, berdialog (sebagai tokoh), berlatih gerakan-gerakan teatrikal, dan segala sesuatu yang dapat diekpresikan yang ke luar dari dalam dirinya sebagai perannya untuk dapat dilihat oleh orang lain.

Bagi anak-anak, pemahaman tentang pribadi itu sangat penting. Jika seorang anak tidak memahami dirinya maka mereka tidak akan dapat menilai dan memahami orang lain. Pengalaman bersastra, seperti membaca, berkreasi, mengapresiasi, berekspresi, dan mendiskusikan atau memerankan karya sastra (drama) dapat memupuk perkembangan pribadi anak.

Tentunya, banyak cara yang mungkin, yang bisa, untuk kita amini mampu mengubah paradigma berpikir kita bahwa mimpi telah mati. Berkesenian misalnya, walau sebagian orang menganggap berkesenian hanyalah pelarian atau hiburan sementara, spirit yang hadir dalam perjalanannya atau prosesnya mampu membuat kunci untuk membuka mimpi yang tertutup.

Sebutlah drama, salah satu cara berkesenian yang oleh sebagian orang dianggap murah tetapi oleh sebagian orang dianggap bisa menjadi alat untuk membuka ruang mimpi lain, karena drama diyakini sebagai miniatur kehidupan.

Idealnya memang untuk berdrama kita harus memiliki teknik dasar. Seperti keaktoran, pemahaman tentang pemeranan, atau hal teknis lain; seperti artistik atau proses produksi. Bagaimana menghadirkan properti, tata lampu, kostum, yang ideal untuk sebuah pertunjukkan drama. Tapi dalam hal ini, kami bertujuan untuk memberi semacam motivasi bahwa ada hal dalam drama yang bisa merangsang narapidana anak untuk merancang mimpi yang mereka miliki.

Untuk pemula hal yang paling mendasar dan yang paling mungkin dihadirkan adalah motivasi bahwa sebagai aktor kita bisa menjadi siapa saja, apa saja, yang terpenting adanya kemauan dan totalitas dalam mencapai apa yang diharapkan. Pengalaman setiap orang berbeda maka cara menginterpretasinya pun akan berbeda. Hal ini tentunya baik karena bisa merangsang pikiran kreatif meraka.

Terdapat beberapa proses yang kami yakini bisa dijadikan media dasar para narapidana anak agar mereka mulai menumbuhkan mimpi mereka lagi. seperti proses bedah naskah yang harus dilakukan, aktor, penata kostum, penata lampu, properti, dan tentu saja sutradara. Di dalamnya para narapidana anak dipaksa untuk merekonstruksi pikiran mereka menjadi bagian dari naskah drama. Setelahnya dilakukan pula pendalaman tokoh dan karakter.

Hal ini lebih menarik lagi, karena kami mempunyai tujuan untuk memotivasi mereka, maka tokoh dan karakter yang dihadirkan pun haruslah tokoh dan karakter yang bisa menghadirkan spirit atau motivasi untuk bisa diteladani oleh mereka. Drama adalah salah satu cara untuk membangun rasa percaya diri, kerjasama, dan imajinasi ataupun mimpi-mimpi para narapindana anak. Narapidana anak akan belajar mengembangkan potensi diri, emosi, dan perasaannya dalam berdrama.

Bandung, 5 Juni 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: