Purwakanti Sastra

Purwakanti Sastra

Oleh Dheka Dwi Agusti N.

Purwakanti sastra adalah salah satu jenis perulangan bunyi alias repetisi yang terdapat dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Istilah purwakanti sastra diungkapkan oleh Satjadibrata dalam bukunya yang berjudul Rusiah Tembang Sunda pada tahun 1951. Satjadibrata mengungkapkan bahwa di tanah Sunda purwakanti tersebut digunakan untuk menghapal lagu. Sebuah cara menghapal yang berbeda dengan cara menghapal ala Belanda yang menggunakan aturan si-do-sol (do-re-mi-fe-so-la-si-do). Yaitu kata yang menjadi penutup kalimat sebelumnya, menjadi kata pembuka dalam kelimat selanjutnya. Salah satu contoh aplikasi purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh kinanti dan sinom, yaitu :

Kinanti

Sok emut jaman kapungkur

Kapungkur nalika abdi

Abdi nuju dipiara

Dipiara dipupusti

Dipupusti ku indung bapa

Bapa nu kalangkung asih.

Sinom

Ti barang engkang paturay

Paturay jeung buah ati

Ati teu weleh nalangsa

Nalangsa anu nunggelis

Nunggelis tur prihatin

Prihatin taya nu nulung

Nulung ngahegar-hegar

Hegar saperti bihari

Bihari mah asa kumpul lelembutan

Meskipun purwakanti sastra ini terdapat dalam pupuh, tetapi menurut Muhammad Moesa purwakanti seperti ini hanya dipakai dalam kakawihan Ayang-ayang gung.

Purwakanti sastra tersebut memang sangat nampak dalam lagu Ayang-ayang Gung. Adjan Sudjana dalam tulisannya yang berjudul Ayang-ayang Gung, Gasibu Bukan Gazebo memaparkan bahwa lagu ini merupakan lagu zaman perjuangan melawan Belanda. Adanya irama lagu dan susunan kata yang mudah dinyanyikan serta diingat, efektivitas lagu itu menjadi wahana protes dan pendidikan kesadaran politik rakyat. Sementara itu lagu Oyong-oyong Bangkongpun memiliki latar belakang kesejarahan yang mirip dengan Ayang-ayang Gung. Seperti yang diungkapkan oleh oleh Nandang Rusnandar dalam Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda (Makna Pendidikan di Balik Permainan Anak tahun 2000, nyanyian ini merupakan wujud rasa kecewa orang Baduy terhadap kompeni Belanda yang datang ke daerah Jawa Barat.

Purwakanti dalam kedua lagu tersebut menjadi sebuah media khas dalam sebuah proses pendidikan, yaitu melalui efektifitas yang muncul dari pola purwakanti tersebut. Purwakanti sastra yang diungkapkan oleh Satjadibrata ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa sebagai repetisi anadiplosis, yaitu berupa perulangan bunyi, suku kata, kata, atau frasa terakhir dalam suatu lirik atau baris menjadi kata atau frasa pertama pada larik selanjutnya. Dalam kesusatraan moderen repetisi anadiplosis ini sering juga disebut epanadiplosis atau epanastrofa.

Dalam permainan anak-anak Sunda atau yang lebih dikenal dengan istilah kaulinan budak, repetisi ini ternyata cukup banyak terkandung dalam lagu yang biasa mereka nyanyikan ketika permainan tengah berlangsung. Permainan paciwit-ciwit lutung misalnya, di mana saat anak-anak bermain dengan saling mencubit punggung tangan temannya mereka menyanyikan menyanyikan lagu

Paciwit-ciwit lutung

Si Lutung pindah ka luhur.

Permainan lainnya yang juga masih menggunakan media tangan dan jari serta lagu berpurwakanti sastra adalah Cingciripit.

Cing ciripit tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu paré,

Bulu paré seuseukeutna,

jol padalang mawa wayang,

Jrék jrék nong

Permainan lainnya adalah Caca Burange dan Leho Sapi yang masing-masing lagunya adalah

caca burange

burange tali gobang

gobang pancarange

anak gajah papayungan

boti botem..

boti botem..

Lého sapi pi,

Pindang gobang bang,

Bangkong hejo jo,

Jolijopak jojoli ong

Adapula lagu-lagu yang dinyanyikan oleh ibu kepada anaknya yang masih bayipun mengandung purwakanti semacam ini. Pada usia 4-5 bulan, bayi dapat seuri ngabarakatak (tertawa) jika diajak bercanda. Candaan tersebut biasanya dengan dikauk-kauk. Ketika Ibu menyanyikan lagu kauk-kauk, sang Bayipun memperhatikannya seakan ia mengerti. Di akhir kalimat yang juga menjadi akhir lagu sang Ibu lalu pura-pura mencari sambil menggelitiki anaknya.

Kauk-kauk

Kauk-kauk si julang

Si julang ka mana enteupna

Enteupna… kadieu

(bari ngélékéték budak)

Di samping kauk-kauk, ada permainan lain yang juga dimainkan oleh orang tua yaitu sursar. Dalam permainan ini, si anak diajak duduk berjajar dengan orang tuanya sambil kaki diselonjorkan (nanghunjar), sambil bernyanyi tangannya silih berganti mengusap-usap kaki mulai dari pangkal paha hingga mata kaki dan terus dilakukan bolak-balik, sambil melagukan:

sur sar sur sar,

angeun kacang atah keneh,

disuluhan ku baketes,

baketes meunang meulahan,

meulahan ku peso raut,

peso raut gagang tanduk,

ari gog-gog cungunguk

Ketika si orang tua menyebutkan kata-kata ari gog-gog cungunguk, dengkul si anak seolah-olah dipijit-pijit oleh orang tuanya, dan si anak akan tertawa karena kegelian.

Lagu-lagu kaulinan budak tersebut memiliki pola yang estetis, juga menunujkkan sebagai alur yang saling berkait tanpa putus yang memuat tekanan terhadap sebuah konteks. Pangeran Djatikusumah di sela hari-hari menyambut upacara Seren Taun 1940 Saka yang di gelar di Cigugur, Kuningan, Januari 2008 kemarin, mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan Siloka yang mengandung panganteb yang juga dapat mencerminkan bagaimana cara karuhun Sunda dalam mendidik anak.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, purwakanti tersebut merupakan sebuah media untuk mempermudah seorang anak dalam menghapal dan menguatkan ingatan. Hal ini sejalan dengan banyaknya penelitian yang mengungkapkan bahwa perulangan dapat mempercepat terhubungnya milyaran sambungan otak anak. Melalui purwakanti ini pula seorang anak belajar berbicara (capetang). Dalam tradisi Baduy, seperti yang dituturkan oleh Jaro Sawitri dan Aki Darseuni, sesepuh masyarakat Baduy Luar, biasanya ketika anak-anak mulai bisa berbicara mulut si Anak dimantrai terlebih dahulu. Kemudian mantra ini diajarkan untuk dihafalkan dan dilafalkan sedikit demi sedikit oleh si Anak. Masyarakat Baduy menyebutnya sebagai poko jampé atau mantra pokok, yang berbunyi:

Capit cuit cangkorélang

Manuk daun mobok liang

Liang keuyeup

Keuyeup sekar

Sekar cai

Cai haneut

Haneut kuku

Kuku peusing

Peusing cala

Cala bunar

Bunar ropoh

Ropoh jalan

Jalan gedé

Gedé bulan

Bulan silih

Silih ogan

Ogan kotok

Kotok hurik

Hurik amis

Amis gula

Gula léngkét

Léngkét dagé

Dagé dungkuk

Dungkuk lutung

Lutung puntang

Ountang dahan

Dahan peucung

Peucung céléng

Céléng bonténg

Bonténg lilin

Lilin odéng

Odéng paré

Paré konéng

Konéng tinggang

Tinggang anak

Anak buwu

Buwu séksék

Séksék nombék di karéés

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: